
Sisil memijit kepala nya yang terasa pusing. Entah mengapa kepala nya berdenyut dari bangun tidur.
Biasanya kalau bangun tidur sudah sakit kepala, akan hilang sakitnya jika sudah sarapan pagi. Entah kali ini biarpun sudah sarapan, tetap saja masih terasa sedikit sakit kepalanya.
Yang tadinya Sisil sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor, dia membatalkan nya. Sisil sudah menelpon Mbak Winda untuk ijin tidak masuk kantor hari ini.
Sisil membuka setelan baju kantor nya dan mengganti dengan kaos dan celana pendek. Dia merebahkan badannya di ranjang nya.
Sisil menyetel AC di kamar kost nya agar tidak terlalu dingin. Dia memejamkan mata nya yang sudah mulai mengantuk.
Tidak pakai lama, terdengar dengkuran halus Sisil. Rupanya Sisil sudah tertidur pulas.
**
**
Sementara di kantor Pratama group, Winda sedang sibuk dengan pekerjaan nya.
Danu memanggil Winda untuk datang ke ruangan nya. Untuk sementara menggantikan Johan, maka Danu duduk di kursi kebesaran yang biasa Johan duduk.
Winda masuk ke ruangan bos nya.
"Ya pak, ada yang bisa dibantu? " tanya Winda pada Danu.
Danu mengangkat wajahnya dari berkas yang sedang dibacanya. Dia menatap Winda.
"Bagaimana perkembangan Sisil, Win? Apakah dia sudah mengerti dengan pekerjaan nya? " Danu bertanya pada Winda yang selama seminggu sudah mengajari Sisil.
"Anaknya cukup cerdas, Pak! Semua yang saya terangkan bisa dengan mudah diserapnya dan sudah mulai di praktekkan juga. " jawab Winda jujur.
"Yang penting dia bisa menghandle semua pekerjaan kamu, Winda. Apalagi nanti kalau kamu sudah cuti! Saya gak mau denger keluhan dari Pak Johan nantinya jika beliau sudah pulang! " ucap Danu tegas pada Winda.
"Memang kapan rencana nya Pak Johan balik, Pak? " tanya Winda yang pengen mencari informasi tentang bos nya yang sudah lama pergi.
"Ada kemungkinan dua bulan lagi, Win! " jawab Danu.
"Takutnya pas bos balik kamu masih cuti! Jadi usahakan dalam sebulan ini Sisil sudah bisa menghandle semua pekerjaan kamu ya! " sambung Danu kembali.
"Siap, Pak! Saya usahakan! " jawab Winda antusias.
"Hari ini Sisil minta ijin, Pak. Sakit kepala nya! " Winda memberitahukan keadaan Sisil.
"Oke, gapapa. Semoga besok dia sudah sehat kembali! " sahut Danu mengharapkan kesembuhan untuk Sisil.
**
__ADS_1
**
Sisil menggeliatkan badannya. Tangan dan kakinya masih memeluk guling kesayangan nya yang masih sempat dibawanya dari rumah.
Perlahan kesadaran Sisil mulai kembali dari tidurnya yang pulas sekali.
Sisil membuka sedikit demi sedikit mata nya yang masih mode mengantuk. Dia melirik jam dinding yang ada dalam kamar kost nya.
"Hah!? Cepat banget sudah jam satu siang lagi! " gumam Sisil dalam hatinya.
Sisil memiringkan tubuhnya ke arah kiri, kemudian dia menopang badan nya dengan tangan kanan nya lalu mendorong tubuhnya untuk bangun dan duduk di tepian ranjang nya.
Sisil duduk di tepian ranjang sebentar, dia mendengar perutnya sudah berbunyi pertanda lapar.
Tak lama kemudian terdengar bunyi hapenya. Sisil mengambil hape nya dan melihat apa yang masuk dalam hape nya.
Ada notifikasi pemberitahuan dari bank yang menandakan ada uang masuk dalam rekening Sisil.
Sisil membuka email yang di terima nya. Tampaknya jelas tertulis nominal yang masuk dalam rekening nya. Sisil mengerutkan dahinya.
"Siapa ya orang yang berbaik hati mengirimiku uang setiap akhir bulan? " tanya Sisil dalam hatinya.
Sisil tidak habis berpikir dengan orang yang mengirimi uang tiap bulan ke rekening nya. Dia sudah mengecek ke Bank untuk mengetahui nama pengirimnya, tapi pihak Bank bilang tidak tertera nama pengirim atau penyetor nya. Mungkin orang tersebut minta pihak Bank untuk merahasiakan nya.
Sudah empat kali Sisil menerima transferan dalam rekening nya dengan jumlah yang sama tiap bulan nya dan lumayan besar untuk ukuran seorang karyawan seperti Sisil.
Sisil berpikir untuk memasukkan dalam deposito saja jika nanti tidak ada orang yang mencarinya.
"Apa ini ulah kak Johan? Tapi kan kak Johan lagi di luar negri. Ahhh..... " Sisil menggelengkan kepala nya.
Entah mengapa Sisil tiba-tiba teringat Johan. Cowok tampan yang sangat baik terhadap dirinya. Dan selalu ada di saat-saat genting dan siap menolong Sisil.
Rasa rindu menyergap di relung hatinya. Sisil membayangkan senyuman kak Johan yang membuat diri cowok itu semakin tampan jika tersenyum.
"Sedang apa ya kak Johan di sana? Adakah dia mengingat diriku ini? " tanya Sisil dalam hatinya. Masih banyak pertanyaan lainnya yang mengganjal dalam hatinya.
"Kapan kak Johan pulang? Aku kangen kak! " Sisil memejamkan matanya dengan bibir menyunggingkan senyuman.
Sisil membayangkan wajah Johan yang diam-diam sudah mengisi relung hatinya.
Ya... Sisil sudah berusaha untuk membuka pintu hatinya untuk Johan. Dan sekarang Johan sudah mengisi relung hatinya. Kegigihan dan cinta Johan sudah berhasil membuat Sisil menerima kehadiran nya.
"Tok-tok-tok..... "
Terdengar suara pintu kamar kost Sisil diketuk dari luar.
__ADS_1
"Siapa? " tanya Sisil dari dalam kamarnya.
"Gua, say! " terdengar suara Pingkan.
Sisil langsung membuka pintu kamarnya. Tampak Pingkan berdiri sambil bertolak pinggang dengan raut wajah cemberut.
"Lu kenapa? " tanya Sisil heran dengan wajah Pingkan.
"Elu tuh ya! Senang amat bikin khawatir orang! Gua message gak dibaca, gua telpon gak diangkat! " gerutu Pingkan dengan kesalnya pada Sisil.
Sisil tertawa bahagia melihat Pingkan yang lagi ngedumel.
"Senang ya? " sindir Pingkan masih dengan mood kesal.
"Iya dong! Berarti lu sayang sama gua! " jawab Sisil dengan tertawa kecil. Sisil langsung memeluk sahabat nya itu. Pingkan juga membalas pelukan Sisil.
Pingkan memang sangat menyayangi Sisil. Dia tidak mau sahabat nya sedih atau kenapa-kenapa, karena dia tahu Sisil hidupnya sudah sangat susah selama ini.
Dikarenakan terlalu sayang maka beginilah jadinya jika message gak di baca ataupun telpon gak diangkat, rasa khawatirnya timbul berlebihan.
Sedangkan Sisil yang sangat mengetahui sahabat nya itu merasa sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti Pingkan yang selalu penuh perhatian padanya dan membuat Sisil terharu dengan perhatian yang selalu diberikannya.
"Maaf ya bikin lu khawatir! " Sisil meminta maaf pada Pingkan, sahabatnya yang masih memeluknya.
Pingkan melepaskan pelukannya, lalu duduk diatas ranjang Sisil. Matanya menatap Sisil yang masih berdiri, seakan meminta penjelasan nya.
Sisil tersenyum manis dengan perlakuan sahabat nya. Dia mengambil hape nya yang diletakkan di meja kecil dekat TV nya. Dilihatnya message Pingkan dan panggilan Pingkan dan semuanya itu pas Sisil lagi tidur dan hape di silent.
"Gua tidur, Pingkan sayang! Kepala dari pagi pusing jadi tidak masuk kerja hari ini! " jelas Sisil pada Pingkan yang masih menatap nya.
"Elu kenapa sampai datang ke kost gua? Gak kerja juga? " tanya Sisil heran dengan wajah polosnya.
Pingkan menghela nafas nya kasar. Kadang dia harus bersabar dengan Sisil yang lemot nya suka kambuh kaya begini.
" Gua khawatir, nek! Dasar lemot! Dari tadi juga gua udah bilang! " sahut Pingkan dengan kesal.
Sisil tertawa. Dia menyadari dirinya yang kadang suka lemot, lupa kalau tadi Pingkan udah bilang khawatir.
"Sorry...... sorry say...... nih minum dulu biar lu gak kesal lagi! " Sisil meminta maaf sambil memberikan pocari kaleng yang dingin dari kulkas kecilnya.
Pingkan mengambil dan meminum pocari kaleng yang diberikan Sisil. Hatinya lega melihat Sisil baik-baik saja. Dan mereka berdua lanjut mengobrol di kamar Sisil.
*
*
__ADS_1
bersambung.....
_______________________________________