
Akhirnya Sisil memutuskan untuk pergi ke rumah Pingkan. Satu-satunya yang bisa Sisil minta tolong.
Sisil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menembus malam yang semakin malam.
Airmata nya tidak berhenti keluar. Meratapi hidupnya, meratapi nasibnya. Sedih dan pilu.
Tak terasa Sisil sudah sampai di depan rumah Pingkan. Dia masih duduk di belakang kemudinya.
Sisil menghapus airmatanya. Dia menelpon Pingkan.
"Drrttt....... Drrttt...... "
Agak lama baru diangkat Pingkan. Tertera nama Sisil di ponselnya.
"Hallo Sil... " Pingkan menjawab panggilan telpon Sisil.
"Ping.... " suara Sisil yang serak membuat Pingkan yang lagi rebahan di ranjang jadi heran. Sisil tidak bisa berkata-kata, matanya sudah basah lagi.
"Lu kenapa Sil? " tanya Pingkan dengan nada heran nya.
"Gua di depan rumah lu, Ping.... " akhirnya Sisil dengan suara paraunya karena menangis terus bisa memberitahu Pingkan.
"Apa? Tunggu sebentar ya..! " kaget Pingkan yang langsung bangun dari ranjang nya. Disambarnya kunci rumah yang tergantung, buru-buru dia jalan ke depan pagar rumahnya.
Dibuka nya pintu pagar rumahnya. Rupanya Sisil sudah berdiri di depan pagar, dia sudah mematikan mobilnya.
Begitu pintu pagar terbuka, Sisil langsung memeluk Pingkan dan kembali menangis terisak-isak dengan suara yang keras.
"Huuwaa....huuwaaa....."
Pingkan kaget bukan main. Dia reflek memeluk Sisil erat. Dielusnya punggung belakang Sisil.
"Nangis nya dipelankan dikit! Ntar tetangga datang! " bisik Pingkan di telinga Sisil.
Sisil langsung mengecilkan suara tangisannya. Pingkan membawa Sisil masuk ke dalam rumahnya setelah dia mengunci pintu pagar rumahnya.
Pingkan mendudukkan Sisil di sofa ruang tamu nya. Rumah Pingkan tampak sepi, karena Mama nya sedang keluar kota dalam minggu ini.
"Gua diusir dari rumah, Ping! " cerita Sisil di sela-sela tangisnya yang kembali keras.
"Huuwaaa........huuwaaa..... "
Pingkan kembali memeluk Sisil dan mengelus bahunya. Dia sengaja mendiamkan Sisil agar puas menangis nya.
Pingkan sudah menduga, pasti suatu saat hal ini akan terjadi. Tapi tidak secepat ini. Langkah mama tirinya Sisil ini terlalu cepat.
Tangis Sisil mulai mereda. Dia membuang ingus nya yang keluar dengan tissue yang ada di meja ruang tamu tersebut.
"Gua boleh nginap disini ya, Ping? Sampai gua dapat kost-kost an. " tanya Sisil menatap Pingkan dengan tatapan sedihnya.
__ADS_1
Sisil membersihkan sisa-sisa airmatanya. Kembali dibuangnya ingus yang masih ada di hidungnya.
"Boleh, sayang. Lu mau tinggal disini terus juga gak masalah, Sil! " sahut Pingkan pada Sisil yang tampak bengkak matanya.
"Gaklah. Nanti gua cari kost dekat-dekat sini atau dekat-dekat kantor aja, Ping! " ucap Sisil lagi. Kepalanya sedikit pusing, mungkin karena terlalu lama menangis.
"Lu udah bawa baju, Sil? " tanya Pingkan pada sahabat nya.
"Sudah, tapi belom semua. Rencana kalau gua udah dapat kost, baru gua ambil semua baju-baju dan barang-barang gua yang masih tersisa di kamar gua." jelas Sisil pada Pingkan.
"Kaya nya lu gak usah nunggu dapat kost, Sil! Besok aja lu ambil! Gua anterin kalau mau besok! Lebih cepat lebih baik! " tutur Pingkan mengutarakan pendapat nya.
"Lihat besok ya, Ping! Lihat mood gua ya! " jawab Sisil yang terlihat capek.
Pingkan mengambil piyama dari dalam lemari bajunya di kamarnya.
"Nih, lu pake piyama gua dulu! " Pingkan memberikan piyama nya pada Sisil.
"Lu malam ini tidur sama gua dulu ya, Sil! Besok baru lu tidur di kamar tamu. Belum diberesin kamar tamu nya! " ucap Pingkan pada Sisil.
"Mobil lu udah dikunci? " tanya Pingkan lagi. Dia takut Sisil lupa.
"Udah say. " angguk Sisil.
Pingkan mengunci pintu depan rumahnya. Kemudian mengajak Sisil masuk ke kamarnya di sebelah dalam.
"Lu tukaran dulu gih...! " suruh Pingkan pada Sisil sambil memberikan handuk.
Sisil mengganti pakaiannya dengan piyama yang diberikan Pingkan, terus mencuci mukanya.
Setelah selesai Sisil keluar dari kamar mandi dan duduk diatas ranjang, dimana Pingkan sudah duduk menunggu nya.
"Sekarang kan lu udah tenangan.....coba cerita in garis besarnya aja! " pinta Pingkan pada Sisil sewaktu Sisil sudah duduk bersama nya di ranjang.
Sisil pun menceritakan kronologis terjadinya pengusiran dirinya.
"Salut juga sama lu bisa nampar si Tante! " tawa Pingkan geli setelah dia selesai bicara.
"Ohh jadi yang ngusir lu bukan si Tante, tapi bokap lu ne? " tanya Pingkan seakan-akan gak percaya. Pantas Sisil merasa sakit hati dan sedih sekali.
"Ya. Pasti itu yang memang si Tante mau! Bahagia dia bisa ngusir gua, Ping! " ucap Sisil dengan sedikit emosi.
Kalau bercerita gini emosi Sisil kembali diungkit. Wajar saja, sebab luka hati yang di terima Sisil begitu besar dan berat.
"Terus siapa ya yang ngancam lu di telpon? " tanya Pingkan dengan mimik yang sedang berpikir.
"Antek-anteknya itu sih! Udah pasti! Masa dia bisa tahu nama gua langsung tanpa nanya dulu! " sewot Sisil.
"Oh ya?! " mata Pingkan melotot ke arah Sisil.
__ADS_1
"Sayang gua gak ada di rumah lu ya, Sil! Biar gua bantu maki-maki lelaki yang neror lu itu! " sesal Pingkan mengepalkan tangannya.
"Hahaha...... iya! " tawa Sisil membayangkan ulah Pingkan kalau dia ada tadi.
Pingkan tersenyum melihat Sisil sudah bisa tertawa meskipun belum ceria seperti biasanya.
Pingkan meraih ponselnya dan membuka WA. Kemudian terlihat dia menulis message di WA dan mengirimi nya.
"Sudah jangan terlalu dipikirin, nanti lu sakit lagi! " saran Pingkan pada Sisil.
"Iya, gak kok! " Sisil tersenyum getir.
"Udah nasib gua, Ping! " lanjut Sisil lagi. Dia masih bisa tersenyum pilu.
"Ya sudah..... sekarang kita tidur ya! Besok banyak yang harus kita lakukan! " ujar Pingkan sambil siap-siap untuk menarik selimut.
"Yap....kita tidur! Makasih banyak ya, Ping! " Sisil menatap Pingkan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sudah.....jangan nangis lagi! Itu mata lu udah bengkak, nanti tambah bengkak kalau lu nangis lagi! " cerocos Pingkan pada sahabat nya itu.
Sisil menganggukkan kepalanya. Pingkan memang sahabat terbaiknya. Jika tak ada Pingkan, entah mau kemana malam begini. Kalau ke rumah Bibi nya kejauhan banget.
Dilihat nya Pingkan, begitu rebahan langsung pulas tidurnya. Mungkin sudah ngantuk sekali.
Sementara Sisil belum bisa tidur, hatinya masih sedih. Tak terasa airmata nya keluar lagi membasahi bajunya. Dia tidak mau terlalu sedih menangis, takut Pingkan terbangun tidurnya.
Sisil berusaha memejamkan matanya. Badan nya terasa capek seharian ini. Diluruskan nya kedua kakinya. Dihapusnya airmata yang masih ada di pelupuk matanya.
Sisil berdoa dalam hatinya. Sisil tetap memejamkan matanya.
Akhirnya Sisil terlelap membawa segala kesedihan dan kepiluan hatinya.
*
*
bersambung.....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa komentar, like dan vote nya ya bestie... 🙏🏻
Dukung terus karya receh mommy ini 🤗
Terimakasih buat teman-teman semuanya yang sudah mendukung dan yang selalu mendukung karya receh mommy.
Dukungan teman-teman sangat berarti buat mommy 🤗
Luv u all 😘😍
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=