
Johan bangun pagi-pagi sekali. Entah kenapa tidurnya jadi tidak nyenyak. Kemarin dia membawa pulang berkas-berkas semua yang berhubungan dengan Sisil ke rumah. Untuk dia baca ulang lagi secara detail. Ada rasa yang mengganjal di hati dan pikirannya.
Johan merasa trenyuh dengan kenyataan dan keadaan yang Sisil alami. Tapi cukup salut juga terhadap gadis itu yang masih bisa kuat menghadapi kehidupan yang keras, ditambah menemukan cinta yang salah.
Johan berencana akan membiarkan Sisil sebentar rehat dengan permasalahan nya, tapi pada kenyataannya permasalahan dalam hidup gadis itu malah bisa bertambah.
Johan memutar otaknya semalam, makanya tidurnya jadi kurang nyenyak. Rupanya Johan sudah menyiapkan orang-orang suruhannya untuk selalu memantau keadaan gadis yang diam-diam sudah dicintainya dan melaporkannya.
Setelah siap dengan pakaiannya, Johan keluar dari kamarnya dengan menenteng tas kantornya. Dilihatnya di meja makan mamanya sedang menata meja makan bersama bik Darmi. Dan Papa nya masih asyik membaca koran di ruang tamu.
Johan meletakkan tas kantor nya di kursi meja makan, kemudian ditariknya kursi yang ada di sebelah nya.
"Tumben pagi ini lebih pagi dari biasanya Han... " bu Wiwid menyapa anaknya yang terlihat sudah rapih dan juga sudah duduk di meja makan.
"Iya Ma, mau pergi agak pagi. Ada kerjaan yang mau di periksa. " sahut Johan sambil minum jus jeruk yang sudah tersedia.
"Ohh.... " Bu Wiwid menyiapkan piring.
"Sarapan dulu......ini Mama ada buat nasi goreng! " bu Wiwid menyodorkan sepiring nasi goreng ke arah Johan.
"Ayo makan dulu Pa! " bu Wiwid meneriaki suaminya yang masih betah baca koran.
"Apa sih Mama pagi-pagi sudah olahraga suara yaa...?! " ledek pak Herry kepada istrinya sambil tersenyum. Ditariknya kursi makan nya dan duduk serta langsung menyantap nasi goreng yang dihidangkan istrinya.
"Pa... Ma....nanti Johan sabtu ini sudah tinggal di apartemen ya.. " Johan memberitahu kedua orang tuanya tentang rencana kepindahan nya. Nampak pak Herry, papanya menganggukkan kepalanya. Bu Wiwid yang duduk dekat suaminya tetap mengunyah makanan nya tanpa bersuara. Dia sudah merelakan anaknya yang mau tinggal di apartemen, dengan catatan harus sering-sering mampir pulang.
"Ntar siangan Mama ke kantor, Han. Sama teman Mama dan anaknya. Mereka ada waktu luang siang nanti. Kamu bisa kan? " Mama Wiwid bertanya pada anaknya.
"Siang bisa, Ma! Pokoknya jangan pagi deh, repot Johan kalo pagi! " Johan berkata sambil melap mulutnya dengan tissue.
"Johan pamit berangkat ke kantor Pa... Ma....! " pamit Johan setelah sarapan pagi nya selesai. Diambilnya tas kerjanya, dengan wajah ganteng dan badan yang tinggi tegap Johan berjalan santai menuju garasi rumahnya.
*
*
Johan mengendarai mobilnya dengan santai pagi ini. Jalanan juga belum terlalu ramai.
Setiba di pelataran parkir, Johan mengatakan memarkir mobilnya dan berjalan masuk kantor.
Seorang satpam yang berjaga menyambut Johan dan membungkukkan punggungnya.
"Selamat pagi pak Johan! "
"Pagi pak Dita! " Johan menjawab ramah sapaan satpam nya dengan tersenyum. Kemudian dia menuju lift yang menghubungkan ruangannya di lantai delapan.
Pintu lift terbuka di lantai delapan, Johan keluar dan berjalan menuju ruangannya.
Johan sudah terbenam dengan kesibukan nya. Dia tidak menyadari jika jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, sedikit lagi sudah waktu beristirahat. Setelah merasa matanya lelah, Johan mengakhiri pekerjaan nya. Dipanggilnya Danu ke ruangannya.
Danu yang dipanggil masuk ke ruangan Johan.
__ADS_1
"Ada apa bos? " tanya Danu duduk di depan meja Johan.
Johan mengeluarkan sebuah foto dari dalam amplop coklat. Diberikan foto itu kepada Danu.
"Coba suruh mereka cari tahu, siapa ini cewek!! " Johan menunjuk seorang cewek yang berada di sebelah cowok berkacamata. Foto rada buram, jadi wajah cewek tersebut tidak jelas.
"Lho....bukannya ini foto mantan nya Sisil, bos.?! Terus ini cewek siapa?! " ucap Danu sambil menatap foto itu. Sedikit banyak Danu jadi tahu tentang Sisil karena dia dan anak buahnya yang menyelidiki.
"Gue kalo tau juga gak nanya Danu!! " teriak Johan kesal. Danu, asistennya memang suka error. Tapi kerjaan bagus, bisa diacungi jempol dan bertanggungjawab.
"Mencurigakan bro!! Coba lu perhatiin deh! " Johan menyuruh Danu memperhatikan cewek yang difoto.
Danu kembali memperhatikan foto cewek itu dan tampak Danu menggaruk-garuk dahinya yang gak gatel.
"Kok sepertinya pernah lihat ya bro!! " ujar Danu lagi.
"Yap.... gue juga merasa begitu. Makanya penasaran siapa sebenarnya tuh cewek!! " Johan membereskan mejanya, bersiap-siap untuk makan siang.
"Yuk makan bro! " ajak Johan.
"Sekarang? " tanya Danu menaikkan alisnya. Heran.
"Tahun depan!! Ya sekarang lah Danu! Ntar siangan Mama gue mau datang sama temannya! " terang Johan.
"Ngomong dong bro! " kekeh Danu. Johan cuma geleng-geleng kepala jika Danu lagi korslet.
Johan dan Danu pun pergi makan. Mereka mencari rumah makan yang tidak terlalu jauh dari kantor.
*
*
Bu Wiwid membuka pintu ruangan Johan setelah dia mempersilahkan temannya bu Rani dan anaknya duduk di sofa yang ada di tengah ruangan.
"Mama udah datang. Mana teman Mama? " tanya Johan ketika melihat Mama nya masuk ke ruangan nya sendirian.
"Ohh....mereka berdua ada di depan Han! Yuk... Mama kenalin!! " ajak bu Wiwid pada anaknya.
"Bentar Ma.... " sahut Johan sambil mematikan laptopnya.
Bu Wiwid mengapit lengan Johan. Digandeng nya Johan keluar ruangan.
Di sofa depan sudah menunggu tante Rani dan anaknya. Bu Wiwid membawa Johan mendekati mereka berdua.
"Hallo tante Rani... " Johan menyapa bu Rani, teman Mama nya sopan. Bu Rani tersenyum dan berdiri.
"Waahh....nak Johan tambah ganteng sekarang! " bu Rani menyambut uluran tangan Johan.
"Oiya.... kenalin... ini anak tante, Tamara! " ucap bu Rani lagi mengenalkan anaknya.
"Haiii kak Johan...... saya Tamara!! Senang berkenalan dengan kakak! " ucap Tamara dengan ceria sambil mengulurkan tangannya berjabatan dengan Johan.
__ADS_1
Tamara adalah seorang gadis yang selalu ceria, cantik dengan lesung pipitnya dan baik hatinya. Sesedih apapun masih bisa ditutupinya dengan tertawa.
"Senang juga berkenalan dengan Tamara.. " Johan tersenyum.
"Aiisshh kak Johan ganteng banget!! " gumam Tamara dalam hati mengagumi ketampanan Johan.
Johan memang memiliki wajah yang tampan, berbadan tinggi tegap dengan dada bidang, berambut ala-ala oppa korea dengan sedikit pony, hidung mancung dan mata yang tajam. Siapa yang gak naksir coba, ditambah masih muda sudah sukses. Gadis manapun pasti akan menyukai nya.
"Isshh..... gak boleh yaa... kan aku sudah punya ayang Jody.... hehehe.... " kekeh Tamara dalam hatinya. Dia jadi membayangkan kak Jody nya.
Johan bertanya ke tante Rani dan Tamara mau minum apa, dia mau menyuruh karyawan nya untuk mengambil minuman.
"Gak usah repot-repot nak Johan! " ucap bu Rani sungkan.
"Gak repot tante....tunggu bentar yaa... " Johan berjalan masuk ke ruangan nya. Dia mau mengambil minuman kaleng yang di simpan di kulkas kecilnya. Begitu Johan berbalik hampir saja menabrak seseorang yang mengikuti nya.
"Aaagghh.... " pekik Johan kaget. Dilihatnya Tamara berdiri di depannya. Kaya hantu aja jalannya sampai tidak terdengar.
"Maaf kak.... kaget yaa?! " Tamara tertawa.
"Ada apa Tamara? Ada yang kamu butuhkan? " tanya Johan menghilangkan rasa canggung nya.
"Cuma pengen lihat ruangan kakak aja, sekaligus mau ngomong! " Tamara memandangi ruangan Johan yang lumayan besar.
"Mau ngomong apa? Hmm... " tanya Johan jadi curiga.
"Kak Johan pasti sudah punya pacar kan? Tamara juga udah punya gebetan. Jadi maksudnya, kita kalau di depan orang tua kita pura-pura dekat aja kak.... biar mereka gak neko-neko. " Tamara berterus terang sama Johan.
"Emang sih kakak ganteng banget....tapi Tamara udah naksir orang lain. Udah gak bisa pindah laen hati deh! Jadi kakak tenang aja yaa!! " Tamara menjelaskan ke Johan, takut nanti Johan salah paham dengan kedatangan nya dan mamanya.
Johan menyukai sifat Tamara yang terbuka dan berterus terang.
"Oke.... oke..... aku setuju! " Johan menganggukkan kepalanya.
"Biar afdol kak.... " Tamara membuat perjanjian dengan kelingkingnya yang disambut Johan dengan tertawa.
Tamara ini menggelikan. Sifatnya masih seperti kanak-kanak, polos.
"Yukk... kita keluar lagi. Tolong bantu bawa minuman ini, Tamara! " Johan menyerahkan dua kaleng minuman ke tangan Tamara. Dan dia sendiri membawa dua kaleng juga di tangannya. Kemudian mereka berdua berjalan balik ke depan ruangannya.
*
*
bersambung...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa yaa teman-teman dukung selalu... dalam komentar, like dan vote.
Terimakasih buat teman-teman yang sudah memberikan komentar, like dan vote. Dukungan kalian semua sangat berarti.
__ADS_1
Luv u all 😍😘🤗