
Pagi-pagi sekali Sisil sudah tiba di kantor nya. Dia mampir ke ruangan marketing untuk meletakkan tas nya di dalam laci mejanya, sebelum nantinya dia kembali belajar ke bagian analis kredit.
Demikian lah Sisil menjalani rutinitas di kantor barunya sebagai marketing baru yang harus belajar banyak dari tiap-tiap bagian.
Hampir sebulan Sisil mendalami tiap bagian yang terkait.
Setelah program belajar di tempat dia bekerja, Pak Abdul ada menjadwalkan Sisil untuk mengikuti training di pusat selama sebulan juga. Ini akan dihadiri oleh perwakilan marketing dari tiap daerah.
Sisil menyambut baik training tersebut. Senang rasanya berkenalan dan mempunyai teman dari berbagai daerah nantinya.
Akhirnya training yang dinantikan itu pun tiba. Sisil setiap pagi langsung berangkat ke kantor pusat training. Selama sebulan rutinitas yang harus dijalaninya.
Sedangkan teman-teman yang dari berbagai daerah disediakan tempat tinggal semacam kost-kost an juga tapi hanya untuk sebulan saja yang letaknya tidak jauh dari kantor pusat training. Jadi mereka hanya jalan kaki saja, tidak perlu mengeluarkan uang lagi.
Sisil dengan antusias mengikuti training tersebut. Selain bertambah wawasan dan pengetahuan, juga bertambah teman.
Hari demi hari Sisil lalui dengan hati yang gembira. Dia senang dengan training ini. Sekarang dia punya enam orang teman yang dekat selama masa training ini.
Setiap malam minggu, mereka bertujuh termasuk Sisil akan menghabiskan bersama. Kadang hari biasanya pun, jika memungkinkan mereka pasti berkumpul meskipun kadang tidak lengkap.
Saat ini mereka lagi berkumpul di sebuah cafe yang cukup terkenal. Sisil duduk berdampingan dengan Diana, sedangkan lima lainnya duduk mengelilingi meja.
"Ayo pada mau pesan minum apa? " tanya Diana melihat satu per satu temannya.
"Gua Coke! " ucap Tjondro singkat.
"Gua Capucino! " ucap Hindra berbarengan dengan Budi.
"Gak ada yang mau pesan bir? " tanya Steven.
"Gaklah! Minggu ini kita libur dulu dari yang namanya bir! Gua Coke juga! " ucap Lingga yang agak diam hari ini.
"Baiklah. Kalau gitu gua sama aja dengan Hindra deh, Capucino! " ucap Steven.
"Gua smoothies alpokat! " ucap Sisil yang diikuti Diana.
Pelayanan yang mencatat pesanan mereka kembali ke dalam untuk menyiapkan.
Keadaan Cafe hari ini lumayan ramai, hampir full kursi-kursinya. Lagu-lagu top berkumandang dengan suara sedang.
"Gak terasa ya dua minggu lagi kita udah mau selesai training! " ujar Lingga tiba-tiba.
"Elu dari tadi banyak diem nya lagi mikir begitu ya? " Diana langsung menimpali omongan Lingga.
Mulutnya Diana gak berhenti mengunyah kacang yang diberikan di atas meja. Sedangkan Lingga menatap Diana dengan malas.
"Jangan menatap gua seperti itu, Ga! Ntar lu naksir lagi! Repot soalnya gua edisi limited! " ucap Diana tanpa malu-malu.
Sontak Sisil dan yang lain semua tertawa ngakak. Diana memang begitu pembawaannya, suka nembak dan ngomong tanpa malu-malu. Rada-rada somplak, begitulah julukan buat dirinya. Tapi tanpa dirinya terasa sepi.
"Amit-amit deh, Na! " mata Lingga melotot ke arah Diana.
__ADS_1
"Ihh..... takut! " ledek Diana pura-pura ketakutan.
Sisil dan semuanya kembali tertawa dengan ulah Diana yang ada-ada aja.
"Boleh juga Ga! Hitung-hitung memperbaiki keturunan! Hahaha.....! " ucap Tjondro dengan logat Jawa nya yang kental diikuti ketawanya sehabis berbicara.
"Pala lu peang, Dro! Boro-boro memperbaiki keturunan, yang ada malah makin somplak nanti! " sahut Lingga dengan mimik lucunya dibarengi ketawa ngakak nya.
Pada somplak semua memang kalau sudah kumpul, terutama Diana dan Lingga.
"Ssttt......jangan keras-keras ketawanya! Tuh pada nengok semua kesini! " ucap Sisil pelan dengan jari telunjuk di bibirnya sebagai kode jika tidak terdengar.
Tjondro dan Hindra melihat sekeliling yang dekat dengan meja mereka, tampak beberapa meja orang-orang yang duduknya pada nengok ke arah mereka, ada pula yang bisik-bisik gak jelas.
"Cuek aja. Toh kita gak ngomongin mereka! " celetuk Hindra yang memang bawaannya cuek. Masih lebih perhatian Budi walau cuek juga.
Begitulah mereka bertujuh jika sudah kumpul. Ada-ada saja ulah dan kelakuannya, terutama Diana dan Lingga yang sudah seperti kucing dan anjing tapi kompak.
Tak terasa waktu bergulir dengan cepatnya. Training yang cuma sebulan hanya tinggal menghitung hari saja.
Dan hari ini adalah malam minggu terakhir untuk mereka habiskan bersama. Dan kali ini mereka memilih untuk pergi clubbing.
Khusus Sabtu terakhir ini Sisil membawa mobilnya dan di parkir di tempat kost teman-teman nya dan bawa baju ganti serta kosmetik nya. Dia meletakkan nya di kamar Diana, karena Sisil mau menumpang mandi.
Sehabis selesai training, mereka mencari makan dulu dekat-dekat tempat kost yang banyak menjual makanan pakai gerobak dorong.
Malam pun tiba, setelah puas makan dan beristirahat mereka pun bersiap-siap dan berdandan untuk clubbing bersama.
"Udah cantik dan sexy, sayang! " jawab Sisil tersenyum melihat Diana bergaya seperti anak kecil memutar bajunya. Diana memiliki tubuh yang tidak terlalu tinggi tapi padat. Dan sekarang dia memakai celana panjang jeans ketat sehingga lekuk tubuhnya terutama bagian bokong nya nampak jelas. Kaos gombrongnya menutupi dadanya. Kesannya cantik dan sexy, Sisil menyukai penampilan Diana.
Sedangkan Sisil sendiri memakai celana jeans sebetis yang stretch dan kaos gombrong yang modelnya agak panjang jadi menutupi bokongnya. Dan make-up tipis untuk mempercantik penampilan nya.
Teman-teman cowok sudah pada berkumpul di depan kamar Diana. Mereka sudah siap. Diana dan Sisil pun akhirnya keluar.
Sisil memberikan kunci mobilnya pada Tjondro, agar supaya dia yang menyetir.
Dan semuanya naik ke dalam mobil.
Mereka pergi clubbing di daerah Pusat, tempat yang ramai pengunjung nya. Lingga sudah membooking tempat dari satu minggu dimuka.
Mereka duduk dalam satu room yang lumayan besar. Di dalam sini bisa karoke dan joget-joget. Tapi kalau mau lebih ramai bisa keluar ke balkon dan berjoget disana. Karena dari room ini bisa langsung melihat ke arah hall nya, jadi lebih leluasa.
"Pinter lu nyari tempatnya, Ga! Strategis cuy! " ucap Diana sambil joget-joget di balkon depan. Mereka semua ternyata lebih menyukai duduk-duduk di balkon, denger music langsung dari hall.
"Lingga gitu lho! " kekeh Sisil.
"Dro, lu jangan minum banyak-banyak ntar mabok gak bisa bawa mobil! " pesan Sisil di telinga Tjondro. Sisil memang dekat dengan Tjondro selama training ini, selain Diana. Dengan ke empat lainnya juga dekat, tapi dengan Tjondro dan Diana dia bisa lebih terbuka.
"Siap Sil! Gua memang ndak kuat minum lho! " jawab Tjondro di telinga Sisil.
Rajanya minum disini Lingga dan Steven. Entah jurus apa yang mereka berdua pakai bisa kuat minum dan tidak mabok. Selebihnya yang lain tidak kuat semua.
__ADS_1
Suara musik hingar bingar terdengar, kadang ada lagu yang enak buat joget, kadang kagak. Kalo pas kedapatan lagu enak pasti Sisil dan Diana joget.
Budi dan Hindra baru minum dua gelas saja wajahnya sudah merah. Mereka berdua yang paling tidak kuat. Akhirnya mereka memesan Coke dan Aqua.
Kita semua bertujuh ini sudah tidak ada rasa sungkan lagi. Mau joget-joget tidak ada larangan, mau cuma duduk-duduk sambil minum dan merokok saja silakan, semua bebas asal tidak ada yang memakai obat-obatan terlarang.
Mereka semua menikmati saat-saat terakhir kebersamaan. Dan waktu bergulir dengan cepat, tak terasa sudah pagi saja.
Tepat pukul dua dinihari mereka bertujuh pun membayar tagihan ruang dan minuman. Steven mengeluarkan kartu kredit nya untuk membayar semuanya.
"Kita patungan saja, jangan lu semua, bro! " ucap Lingga pada Steven.
"Iya, gua bayarin dulu pakai kartu gua. Nanti lu orang pada transfer aja ke rekening gua. Yang cewek gak usah bayar, kita aja yang cowok. Jadi dibagi lima. Setuju? " tutur Steven pada teman-teman nya.
"Setuju! Pake banget! " sahut Lingga berbarengan dengan Tjondro. Hindra dan Budi manggut-manggut saja tanda setuju.
Pelayanan datang dengan membawa tagihan dan mobile kartu kredit untuk langsung digesek.
Lingga mencium pipi Sisil dan memeluknya sebentar.
"Sampai ketemu lagi ya, Sil! Jangan lupa pertemanan kita! Jika ada waktu, calling-calling ya! " ucap Lingga menatap Sisil.
"Lu kaya gak ada waktu besok aja! " tukas Diana.
"Takut gak keburu pamit, Na! Gua pesawat jam sebelas siang, jam delapan gua harus udah jalan. Mending kalo udah pada bangun kalian! " terang Lingga.
"Gua juga pamit sama lu ya, Na! Jangan somplak mulu ya! Calling-calling ya jika sempat! " Lingga juga mencium pipinya Diana. Diana jadi terharu. Tenan somplaknya pamitan.
Akhirnya yang berangkat agak pagi dari kost pada ber cipika-cipiki semua. Sedangkan besok Sisil masih bertugas mengantar Diana dan Tjondro ke airport sebab mereka pesawat sore. Jadi pagi ini Sisil tidur di tempat Diana.
Selesai acara cipika-cipiki yang membuat haru, mereka semua keluar berjalan ke tempat parkiran. Tjondro kembali mengambil alih untuk mengemudikan mobil Sisil hingga pulang ke tempat kost mereka.
Lingga, Steven, Hindra dan Budi berpamitan lagi ketika berpisah untuk ke kamar masing-masing. Ini adalah saat-saat terakhir mereka bertemu. Besok mereka berempat lebih dulu meninggal kan tempat kost ini untuk balik ke daerah masing-masing.
*
*
bersambung....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa komentar membangunnya, like dan vote nya ya bestieπ
Dukung terus karya mommy ya....
Terimakasih buat teman-teman yang sudah mendukung dan yang selalu mendukung karya mommy.... dukungan kalian sangat berarti buat mommy π€
Luv u all ππ€β€π
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1