
Sisil berhenti di tempat satpam dan memesan taxi online. Taxi online agak sedikit lama baru datang, Sisil masuk ke dalam dan taxi mengantarkannya ke tempat kost.
Di dalam taxi, mata Sisil sudah berkaca-kaca. Dia menahan agar tidak menangis di dalam taxi. Tapi kesedihan hatinya tidak bisa diajak kompromi. Air matanya keluar tapi tanpa mengeluarkan suara.
Sisil menangis dalam diam. Dia sedih sekali. Sisil meratapi nasibnya yang seperti habis dilecehkan oleh pimpinan nya. Rasa sedih, sakit hati dan kecewa semua bercampur aduk jadi satu.
Sisil menghapus airmata nya dengan tissue. Dibuang juga ingusnya yang keluar dari hidungnya.
"Drrttt...... Drrttt...... Drrttt........ "
Ponsel Sisil bergetar, ada telpon masuk dari Pingkan. Sisil menekan tanda menjawab di ponselnya tapi dia tidak bersuara.
"Hallo Sil! Lu udah sampai kost belum? Gua mau mampir ke sana ya! " ucap Pingkan di telpon nya.
"Iya, Ping! Datang aja! Gua otw pulang! " sahut Sisil dengan suara serak.
"Lu kenapa, Sil? " tanya Pingkan disebrang sana. Pingkan merasa yakin jika sudah terjadi sesuatu pada sahabat nya itu.
"Oke, gua tunggu ya, Ping! sahut Sisil dengan suara serak. Tanpa menunggu jawaban dari Pingkan, Sisil langsung mematikan panggilan telpon nya.
Taxi yang mengantar Sisil memasuki halaman parkir kost nya yang luas dan berhenti dekat pintu masuk kost.
Sisil mengucapkan terimakasih pada supir taxi online nya, lalu membuka pintu dan keluar dari dalam taxi.
Sisil berjalan ke kamarnya yang letaknya paling ujung di blok A.
Sisil membuka pintu kamar nya dan masuk lalu menguncinya lagi dari dalam. Dia langsung merebahkan tubuhnya pada ranjang nya yang sempit itu. Sisil kembali menangis, kali ini dia bersuara.
"Huuuaaaaa...... huuuaaaaa........ "
Sisil menangis tersedu-sedu. Dia menumpahkan tangisnya yang tertahan selama perjalanan.
Sisil merasa geram dengan kehidupan nya. Kenapa begitu banyak kejadian buruk menimpa dirinya?
Sambil menangis Sisil kembali teringat kejadian demi kejadian yang menimpa dirinya.
Dari kejadian Handoko yang selingkuh dengan mantan nya dan hilang keperawanannya, penculikan yang di dalangi Handoko karena dendam, kejadian diusir Papa nya hanya karena wanita yang dinikahi Papa nya, dan sekarang pelecehan di kantor barunya.
Semua kejadian beruntun menimpa diri Sisil. Sisil kembali terisak sedih mengingat semuanya.
"Tok-tok-tok........ Sil....! "
Pingkan mengetuk pintu kamar kost dan memanggil nama Sisil.
Sisil yang masih menangis turun dari ranjang dan membuka pintu kamar kost nya.
Pingkan terkejut melihat Sisil yang menangis terisak-isak.
__ADS_1
"Huuuaaaa....... huuuaaaa...... "
Sisil kembali menangis tersedu-sedu dengan suaranya yang kembali terdengar.
Pingkan reflek memeluk Sisil dan mengusap punggung nya. Dibiarkan Sisil menangis sampai puas.
"Sudah.... jangan nangis terus! Mata lu udah bengkak, nanti jelek! " sarkas Pingkan supaya Sisil berhenti menangis. Diraihnya tissue kotak yang berada di atas TV dan diberikan pada Sisil.
Sisil mengambil tissue dan melap matanya yang masih basah dengan airmatanya. Dan membuang ingus nya juga dengan tissue.
Sisil mulai reda nangis nya, hanya tinggal ingusnya yang banyak. Tempat sampah sudah mulai penuh dengan tissue.
Mereka berdua duduk berdampingan di atas ranjang. Pingkan masih mengelus punggung Sisil, supaya Sisil merasa tenang dan nyaman.
"Lu udah makan belum, Sil? Kita makan keluar aja ya?! " tanya Pingkan menatap Sisil yang mata dan hidungnya masih merah.
"Iya, kita makan keluar aja, Ping! Makan ayam bakar aja, mau gak? " Sisil mengiyakan dan bertanya balik pada sahabat nya, Pingkan.
"Hayoo..... boleh! Lu gak ganti baju dulu atau begitu aja, Sil? "
"Gak usah, gini aja! Gua juga belum mandi! " sahut Sisil sambil merapihkan bajunya dan rambutnya.
Sisil mengunci pintu kamarnya. Mereka berdua berjalan beriringan ke depan menuju parkiran mobil.
"Sini gua yang bawa mobil lu, Ping! " ucap Sisil dengan menyodorkan tangan nya meminta sesuatu.
Sisil mengambil kunci mobil Pingkan dan membuka kunci mobil dengan remote nya.
Sisil duduk di belakang kemudi dan Pingkan duduk di sebelah nya. Mobil pun melaju pelan menuju tempat ayam bakar yang lumayan ramai di daerah tersebut.
Tempat ayam bakar ini tidak terlalu jauh dari tempat kost Sisil. Yang makan di tempat hari ini gak begitu ramai, lebih ramai yang bungkus. Banyak juga abang gojek yang menunggu pesanan.
Mereka berdua memesan ayam bakar madu, sayur asem plus nasi putih dan minumnya teh hangat.
"Sekarang udah bisa cerita dong kenapa elu tuh nangis sampai sedih begitu?! " todong Pingkan yang penasaran.
Sisil tersenyum. Kedatangan Pingkan membuat dirinya jauh lebih tenang dan tidak terlalu bersedih lagi.
"Gua dilecehkan sama pimpinan gua! " jawab Sisil pelan agar orang sekitar nya tidak mendengar.
"Apa lu bilang?! Kok bisa?! " teriak Pingkan yang rada histeris karena kaget dan tidak menyangka hal itu terjadi. Sisil menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana cerita nya, Sil? " tanya Pingkan yang jiwa kepo nya keluar.
Sisil menceritakan kejadian yang menimpa dirinya pada Pingkan.
"Jadi bagaimana? Apa yang mesti gua lakukan, Ping? " tanya Sisil meminta pendapat Pingkan.
__ADS_1
"Kalau gua di posisi elu sih, gua mengundurkan diri deh! " saran Pingkan.
"Gua sependapat sama lu, Ping. Gua sih rencana mau mengundurkan diri aja! Pasti sudah gak nyaman buat gua kerja disana! Pasti dia sebagai pimpinan akan mengucilkan gua! " ucap Sisil yang setuju dengan ide Pingkan dan mengutarakan pendapat nya juga.
"Iya, dia bakalan nindas lu, Sil! " sahut Pingkan manggut-manggut.
"Gua jadi teringat issue yang beredar. Ada wanita yang di selingkuhin dia juga dioper ke cabang pembantu yang kurang jalan, tapi memang jabatan naik jadi pimpinan! " cerita Sisil yang teringat issue yang beredar di kantor.
"Percuma jabatan naik tapi cabang pembantunya kurang jalan! Tambah susah lah dia! " komentar Pingkan pada cerita Sisil.
"Elu juga bisa dioper pindah, Sil! " lanjut Pingkan lagi.
"Iya, bener Ping! Tinggal tunggu waktunya aja cepat atau lambat! " sahut Sisil menimpali.
"Tapi gua sih rencana besok mau langsung ngajuin pengunduran diri gua, Ping! " lanjut Sisil.
"Lu gak nunggu dulu sehari atau dua hari? Nunggu perkembangan nya juga gitu! " tanya Pingkan menatap Sisil.
"Nunggu atau gak nunggu, sama aja buat gua mah, Ping! Ujung-ujungnya gua dioper juga! Apalagi kasarnya gua udah nolak dia! " sungut Sisil yang kesal dengan keadaan nya.
"Udah gak usah kesal gitu! Yang penting lu terbebas dari perlakuan dia yang gak senonoh! " ucap Pingkan menepuk bahu Sisil.
"Ada ya pimpinan kaya gitu! Bejat! Nafsu aja yang digedein! " rutuk Pingkan geleng-geleng kepala.
"Sudahlah! Gak ada gunanya juga merutuki tuh orang! " ucap Sisil tersenyum dengan ulah Pingkan.
"Lu juga! Jangan nangis lagi! Lu harusnya bersyukur gak kenapa-kenapa! " kesal Pingkan pada sahabat nya.
"Iya, Pingkan sayang! Tadi gua cuma sedih dengan nasib gua aja yang banyak ditimpa kemalangan! " sahut Sisil dengan senyum di bibir nya.
"Nanti kalau sudah waktunya, elu pasti bahagia, Sil! " ucap Pingkan menyakinkan sahabat nya.
"Amin! " Sisil menganggukkan kepalanya.
"Gua yakin kebahagiaan akan datang buat lu suatu hari nanti, Sil! Bersabarlah! " gumam Pingkan dalam hatinya.
Sisil dan Pingkan menyantap makanan yang sudah dihidangkan pelayan. Mereka makan tanpa bersuara karena sudah pada kelaparan.
Selesai makan, Sisil membayar tagihan makannya. Kemudian Sisil dan Pingkan balik ke tempat kost Sisil. Pingkan tidak masuk lagi, dia langsung pulang ke rumahnya.
*
*
bersambung.....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1