Gadis Yang Terbuang

Gadis Yang Terbuang
Bab 90. Kecurigaan Bu Wiwid


__ADS_3

Johan dan Danu pergi makan siang di luar bersama. Mereka berdua selalu tampak akur dan saling mendukung dalam memajukan perusahaan yang dipimpin oleh Johan, sahabat nya.


Danu sebagai seorang sahabat dan asisten Johan, sangat mengagumi kepiawaian Johan dalam memimpin perusahaan dan mengelola nya. Juga kepintaran Johan di bidang system teknologi komputer tidak perlu diragukan lagi.


Sisil diajak oleh Bu Wiwid untuk makan siang bersamanya. Bu Wiwid mengajak Sisil ke restoran seafood.


Bu Wiwid memesan ikan gurame asam manis, cah tauge ikan asin dan tahu kipas. Minum nya dua buah kelapa muda batok.


Mereka bercakap-cakap sambil menunggu makanan diantar.


"Sil, kamu sudah lama kerja di tempat anak saya? " tanya Bu Wiwid yang tiba-tiba tentang pekerjaan Sisil. Pertanyaan yang sama terlontar kembali karena Bu Wiwid yang penasaran.


"Sisil baru masuk belum lama, Tan! Baru mau tiga bulan! " jawab Sisil diiringi senyuman nya yang manis. Hal itu membuat wajah cantiknya jadi semakin enak dilihat. Gemas Bu Wiwid melihatnya.


"Memang nya kamu backgroundnya sekretaris? " tanya Bu Wiwid kembali.


"Gak ada sama sekali, Tan. Saya jebolan akuntansi, Tan! Saya kemarin melamar staf finance, tapi terus ditawari jadi sekretaris. Jd Sisil terima, sebab Sisil butuh kerja, Tan! " terang Sisil tanpa malu-malu dan gengsi.


"Winda nya kemana? " Bu Wiwid mengerutkan dahinya.


"Cuti, Tan! Sebelum cuti Mbak Winda yang training ngajarin Sisil. Mbak Winda dikasih cuti dua bulan oleh pihak perusahaan, Tan! " jelas Sisil pada Bu Wiwid.


Terlihat Bu Wiwid manggut-manggut. Ternyata anaknya pintar juga, gak mau kehilangan kesempatan menjadikan Sisil sekretaris nya. Bu Wiwid menyunggingkan senyuman di bibirnya.


Seorang pelayan datang dengan membawa nampan yang berisi kelapa batok dan meletakkan di atas meja.


Mereka berdua langsung minum air kelapa muda itu. Tak lama dua orang pelayan kembali datang dengan pesanan kita di atas nampan nya. Pelayan itu menghidangkannya di atas meja. Lalu Bu Wiwid mengajak Sisil untuk mulai makan.


Mereka berdua menyantap makan siang mereka. Sisil tanpa malu-malu menyantap makanan yang sudah tersedia di atas meja.


"Kapan-kapan main ke rumah, Sil! Nanti Tante suruh Johan ajak kamu ke rumah! " pesan Bu Wiwid di sela-sela makan nya.


"Iya, Tan! " Sisil menganggukkan kepala nya.


Bu Wiwid tersenyum. Rasanya dia mulai mencium sesuatu. Ada udang dibalik rempeyek.


Setelah selesai makan, Bu Wiwid kembali mengantarkan Sisil balik ke kantor. Dan Sisil mengucapkan banyak terima kasih pada Bu Wiwid.


Lalu mobil yang membawa Bu Wiwid kembali melaju meninggalkan kantor Pratama group.

__ADS_1


**


Waktu bergulir dengan cepat. Yang tadinya masih terasa siang, sekarang sudah menjelang sore.


Johan masih berkutat dengan pekerjaan nya memeriksa laporan keuangan enam bulan. Dia sudah menyelesaikan dua bulan awal, jadi tinggal empat bulan lagi yang tersisa.


Johan merapihkan meja kerja nya. Pintu ruangan nya diketuk dan masuklah langsung Danu ke dalam ruangan.


"Bro, lu pulang bareng gua atau gimana? " tanya Danu yang langsung duduk di depan meja Johan.


"Gak, bro! Gua pulang sendiri hari ini! Kan mau mampir ke rumah ortu! Bisa panjang kuping gua kalau gak datang sore ini! " jawab Johan sambil terkekeh geli membayangkan kuping nya panjang sebelah.


"Ha-ha-ha... " tawa Danu pecah.


"Senjata andalan si Tante itu! " ucap Danu masih dengan tawanya.


Setelah puas tertawa, Danu pun pamit pada Johan untuk pulang lebih dulu.


Demikian juga dengan Sisil yang sudah pamit lebih dulu pada Johan. Sisil menolak Johan untuk mengantarkan nya sebelum ke rumah orang tuanya.


Setelah meja kerja nya rapih, Johan pun bersiap-siap keluar ruangannya dengan mematikan AC dan lampu. Lalu dia berjalan menuju lift dan turun ke bawah menuju parkiran mobil nya.


Johan memanaskan mesin mobilnya dulu, lalu setelah panas dia melajukan mobilnya perlahan keluar dari parkiran kantor.


Untuk menghilangkan rasa penat di badan nya, dia menyalakan tape dan memutar lagu Chrisye. Mulutnya ikut bersenandung mengikuti lagu nya.


Hampir satu jam perjalanan ke rumah orang tua nya dikarenakan macet jam pulang kerja.


Johan memarkir mobilnya di tempat parkir. Halaman rumah nya cukup luas dan tempat parkir cukup untuk menampung empat mobil.


Johan memasuki rumah besar kediaman orang tua nya. Dilihatnya sang Mama sedang sibuk menyiapkan lauk pauk di meja makan dibantu sama Bik Darmi.


"Sore, Ma! " sapa Johan dengan mencium pipi Mama nya.


"Sore juga, sayang! " sahut Bu Wiwid sambil tetap merapihkan meja makan.


"Wah.... tumben anak Papa datang! Kapan kamu pulang nak? " tegur Pak Herry yang baru keluar dari kamarnya.


"Sore, Pa! Johan pulang tiga hari yang lalu, Pa! Maaf, belum sempat mampir ke rumah, Pa! " terang Johan pada Papa nya sekaligus meminta maaf.

__ADS_1


"Kalau Mama gak ke kantor nya tadi siang, mungkin juga sore ini dia gak datang kesini, Pa! " sindir Bu Wiwid sambil tersenyum.


"Ah Mama, pasti datang lah! Cuma kan waktunya aja yang belum tau kapan! " bela Johan menanggapi sindiran Mama nya.


"Ayo.... katanya mau cerita! Kasih kejutan buat siapa? " cecar Bu Wiwid yang teringat omongan Johan sewaktu di kantor siang tadi.


Johan jadi tidak enak dengan cecaran Mama nya. Akhirnya dia menceritakan kepulangan nya mendadak untuk membuat kejutan seorang gadis. Bu Wiwid mendengarkan dengan seksama.


"Siapa gadis itu, Han? " tanya Bu Wiwid langsung yang penasaran. Bu Wiwid sebenarnya sudah curiga terhadap Sisil tapi dia ingin anaknya berterus terang.


"Mama kok bisa kenal Sisil? Kenal dimana? " Johan malah balik bertanya tanpa menghiraukan pertanyaan Mama nya.


"Jawab dulu pertanyaan Mama! Siapa gadis yang kamu kasih kejutan? Apa itu Sisil? " perintah dan tanya Bu Wiwid tegas.


"Iya, Ma! Sisil! " jawab Johan dengan wajah malu-malu. Bu Wiwid tersenyum puas. Kecurigaan nya membuahkan hasil yang manis.


"Kenapa kamu gak kenalin Sisil sama kita, Han? Kenapa juga kamu gak cerita sama kita, Han?! " berondong Bu Wiwid dengan pertanyaan yang memojokkan Johan.


"Bukan gak mau dikenalin, Ma! Johan tuh jadian sama Sisil tuh pas Johan mau pergi ke Canada! Johan belum sempat cerita, baru mau rencana cerita.... ehh Mama sudah tahu duluan! " jelas Johan panjang lebar pada Mama nya biar tidak terjadi salah paham.


Bu Wiwid manggut-manggut tanda mengerti. Wajah Bu Wiwid tampak bahagia, senyuman menghias bibirnya.


"Mama senang banget keliatan nya! " ledek suaminya yang sedari tadi hanya mendengarkan saja omongan orang-orang yang disayanginya itu.


"Gimana gak senang, Pa! Dikit lagi kita bakalan punya mantu, Pa! " tukas Bu Wiwid yang tampak bahagia.


"Oya? Kapan kamu bawa calon mantu kita kesini, Han? Papa juga mau kenalan dong! " goda Pak Herry pada Johan, anaknya.


"Secepatnya ya, Pa... Ma! Biar nanti Johan ngomong dulu sama Sisil ya! " jawab Johan menyenangkan hati orang tua nya.


"Ayo kita makan! Perut Papa udah kukuruyuk nih! " ajak Pak Herry sambil bergaya memegang perutnya.


Dengan sigap Bu Wiwid menyendokan nasi pada piring Pak Herry dan Johan. Lalu Bu Wiwid mengisi sendiri piring nya dengan nasi juga.


Mereka bertiga makan dengan lahap sambil mengobrol ringan.


*


*

__ADS_1


bersambung.....


_______________________________________


__ADS_2