
Pagi hari menjelang. Suara burung ramai berkicau menyambut pagi hari yang cerah.
Sisil dengan susah payah membuka mata nya yang terasa silau karena sinar matahari menerobos masuk lewat kisi-kisi jendela kamar.
Johan sudah bangun dari tadi dan dia sudah selesai push-up di ha l aman belakang rumahnya. Dan berniat masuk kembali ke kamarnya untuk mandi.
Ketika akan masuk kamarnya, pintu kamar tamu yang ditempati Sisil berbunyi.
"Ceklek! " pintu kamar tamu terbuka dan tampak Sisil keluar masih memakai baju tidur nya. Mata nya masih sedikit mengantuk. Dia bermaksud untuk mengambil segelas air putih hangat yang biasa diminumnya setiap bangun tidur.
"Met pagi, sayang! Baru bangun ya? " sapa Johan cukup membuat Sisil kaget karena dia sama sekali tidak melihat kehadiran Johan di dekat nya.
"Ehh... iya Kak, baru bangun! " jawab Sisil dengan gugup karena kaget.
Johan tersenyum lebar. Dia menghampiri Sisil dan mencium kening Sisil dengan sayang nya.
"Ih.... Kakak.... Sana ah jangan dekat-dekat! Sisil belum mandi, belum sikat gigi juga! Masih bau! " ucap Sisil sambil mendorong tubuh Johan dengan tangan nya.
"Lha sama dong! Kakak juga belum mandi kok! " sahut Johan diiringi tawa nya.
"Sisil mau ambil air putih hangat dulu ya Kak! " ucap Sisil yang merasa tidak enak hati.
"Yuk.... aku temani! " ujar Johan seraya menggandeng tangan Sisil membawa nya ke ruang keluarga dimana terdapat dispenser air panas dan air dingin.
Johan membantu Sisil menuangkan segelas air hangat untuk diri nya. Sisil meminum segelas penuh air hangat. Dan meletakkan gelas bekas minum nya di atas meja makan.
Sisil lalu pamit pada Johan masuk kembali ke kamarnya untuk mandi. Demikian juga Johan masuk ke kamarnya untuk mandi juga.
Setelah selesai mandi dan berpakaian sopan, Sisil keluar kamar dan menuju dapur.
Meskipun masih celingak-celinguk mencari jalan menuju dapur, akhirnya berhasil juga menemukan dapur yang lumayan cukup luas dan tertata rapih. Beda dengan dapur di rumah Papa nya yang versi kecil dan sempit.
Tampak Bik Darmi dan Mama Wiwid sudah sibuk di dapur.
"Pagi, Tante! Pagi Bik Darmi! " sapa Sisil ramah dengan senyum di bibirnya.
"Pagi juga, sayang! Baru bangun ya? " balas Mama Wiwid ramah.
"Pagi non Sisil! " balas Bik Darmi dengan ramah.
__ADS_1
"Iya, Tan. Tadi sudah bangun, terus mandi dulu! " sahut Sisil yang merasa sungkan.
"Ada yang Sisil bantu, Tan? " tanya Sisil melihat ke kanan kiri di dapur itu.
"Udah gak usah! Kamu duduk saja di meja makan atau di ruang keluarga! Tunggu Johan saja, Sil! " suruh Mama Wiwid pada Sisil.
Sisil menuruti kemauan Mama Wiwid yang menyuruhnya duduk di ruang keluarga.
Sesampainya di ruang keluarga, Johan juga sudah lebih dulu duduk di sana. Sisil langsung duduk di sebelah Johan.
Papa Herry baru keluar dari kamar dan bergabung duduk di ruang keluarga bersama Johan dan Sisil.
Mama Wiwid dibantu Bik Darmi sibuk di dapur. Dan ada beberapa makanan yang sudah siap lalu disusun di atas meja.
Sarapan pagi ini Mama Wiwid menyediakan nasi goreng petai, acara ketimun, ayam goreng bumbu, sambal terasi dan kerupuk. Dilengkapi dengan jus jeruk yang sudah disiapkan Bik Darmi.
Untuk barbeque siang nya Mama Wiwid menyediakan nasi uduk dan nasi putih. Dan bumbu-bumbu untuk bakaran yang diracik sendiri oleh Mama Wiwid.
Papa Herry, Johan dan Sisil sudah duduk manis di meja makan. Mama Wiwid menyediakan nasi goreng ke dalam piring masing-masing. Lalu mereka berempat menikmati sarapan pagi bersama diiringi dengan obrolan-obrolan ringan.
Setelah selesai sarapan pagi bareng, Sisil membantu Mama Wiwid untuk merapihkan meja makan dan membawa piring-piring serta gelas-gelas kotor ke dapur.
"Iya, Bik! " jawab Sisil sopan.
Selesai membereskan meja makan, Sisil kembali duduk di ruang keluarga. Mereka berkumpul bersama. Benar-benar keluarga yang harmonis.
"Mama sudah siapkan apa-apa saja yang mau dibakar? " tanya Johan pada sang Mama.
"Ini Mama mau ke supermarket! Yuk Sil, kita ke supermarket! " ajak Mama Wiwid pada Sisil yang lagi tersenyum dengan interaksi ibu dan anak.
"Ayolah Johan antar! " potong Johan cepat dan langsung berdiri.
"Wah tumben anak Mama mau nemenin ke supermarket! " ledek Mama Wiwid dengan tertawa.
"Ah Mama....biasa juga Johan suka antar! " kilah Johan sambil tertawa.
"Antar doang! Bukan nemenin! " ledek Mama Wiwid lagi.
"Lha... ini kan tadi Johan bilang mau antar, Ma! Bukan nemenin! Mama salah dengar nih! " elak Johan dengan gigihnya.
__ADS_1
"Alah..... paling-paling ntar juga ikut nemenin! Kan ada Sisil ikut! " ledek Mama Wiwid lagi dengan tertawa. Geli dia dengan ulah anaknya.
Johan gak menanggapi. Dia cuma menggaruk kepala nya yang tidak gatal. Memang benar sih maksudnya mengantar sang Mama sekaligus nemenin juga sebab Sisil ikut nemenin Mama. Sudah kebaca oleh Mama Wiwid.
Johan mengantar Mama Wiwid dan Sisil ke supermarket yang terdekat dari rumah. Kali ini dia menemani sangat Mama untuk berbelanja keperluan barbeque.
Mama Wiwid memilih udang yang ukuran nya sedang, cumi-cumi yang ukuran sedang dan beberapa ekor ikan gurame dan baronang untuk di bakar.
Mama Wiwid juga membeli buah-buahan untuk acara barbeque siang nanti.
Setelah yang dibeli komplit dan selesai melakukan pembayaran di kasir, Johan dan Sisil menenteng masing-masing dya kantong plastik, sedangkan Mama Wiwid hanya menenteng satu kantong plastik.
Johan menyusun belanjaan Mama Wiwid di dalam bagasi nya. Dan mereka semua kembali ke rumah untuk mengeksekusi udang, cumi dan ikan, mempersiapkan nya untuk bakaran siang nanti.
Bik Darmi menyambut kepulangan mereka semua di depan dan membantu membawa kantong-kantong plastik ke dapur.
Mama Wiwid langsung ke dapur untuk menyiangi udang, cumi dan ikan. Sisil juga turut membantu. Sedangkan Johan kembali menemani sang Papa yang masih ada di ruang keluarga.
"Danu datang gak, Han? " tanya Papa Herry.
"Datang, Pa! Ada kemungkinan Vivian juga ikut, Pa! " jawab Johan sambil menuang air ke cangkir nya.
"Bagus dong, biar ramai! " ujar Papa Herry tersenyum.
"Yuk bantu Papa siapin alat-alat buat panggang di belakang, Han! " ajak Papa Herry pada Johan, anak nya.
"Siap, Pa! " sahut Johan sigap.
Papa Herry dan Johan langsung berjalan ke belakang rumah. Mereka mengeluarkan alat-alat panggang yang di simpan di dalam dus besar. Mereka memasang dua buah meja untuk memanggang dan meletakkan alat panggang nya dan satu meja besar untuk meletakkan hasil panggangan, nasi dan buah-buahan.
Dua lelaki gagah itu tampak asyik dengan pekerjaan mereka. Walaupun usia terpaut cukup jauh tapi Papa Herry masih tetap gagah.
*
*
*
bersambung.....
__ADS_1
_______________________________________