
Johan mengajak Sisil untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya. Sisil merasa malu dan sedikit canggung dengan sikap dan perhatian yang Johan berikan.
Setelah duduk, Johan memberikan aqua gelas yang sudah dikasih sedotan pada Sisil. Biar Sisil merasa lebih rileks.
"Bagaimana kabarmu, Sil? " tanya Johan membuka bahan pembicaraan.
"Baik, Kak Johan. Kapan kakak pulang? " jawab Sisil yang langsung balik bertanya.
"Baru semalam, Sil. Sebenarnya masih capek, tapi ada yang bikin kangen sih! " usil Johan sambil mengerlingkan mata nya pada Sisil.
Sedangkan Sisil wajahnya sudah memerah karena malu.
"Gimana kamu di sini? Kerasan gak kerja di sini? " tanya Johan kembali.
Sisil menatap Johan yang juga sedang melihat ke arah nya. Sisil sebenarnya sedikit bingung. Dalam hatinya bertanya-tanya, siapakah Johan sebenarnya. Apakah bos besar nya itu kak Johan? Jika kak Johan bos besarnya, berarti dia kerja di perusahaan kak Johan?
Mendadak hati Sisil resah jika memikirkan hal itu semua. Dia menundukkan kepala nya untuk menghindari tatapan Johan.
"Maaf, kak Johan.... boleh Sisil tanya?" ucap Sisil yang memberanikan diri nya untuk bertanya.
"Oh boleh.... dengan senang hati, sayang! " jawab Johan dengan senyum manisnya sehingga wajah tampan nya jadi semakin tampan. Hal itu membuat debaran di jantung Sisil kembali berdebar.
"Apakah yang dimaksud bos besar itu kak Johan atau kak Johan kerja juga di sini? " tanya Sisil dengan polos nya. Dia penasaran dan memutuskan untuk bertanya langsung pada yang bersangkutan.
Johan yang mendengar pertanyaan polos yang keluar dari mulut Sisil tampak tersenyum lebar. Ingin dia tertawa geli tapi ditahan nya. Johan tidak ingin Sisil malu atau pun berkecil hati.
Sebelum Johan sempat menjawab, pintu ruangan nya terbuka. Danu langsung menyeruak masuk ke dalam ruangan.
"Bro, nanti siang ada meeting dengan perusahaan Lintas Utama. Ini dadakan, gak ada dalam jadwal hari ini. Apa bro mau ikut atau gua aja yang wakilkan?" terang Danu langsung di depan Johan dan Sisil.
Sisil langsung mengecek jadwal bos nya untuk hari ini, tidak ada meeting. Berarti memang benar seperti yang Pak Danu bilang, dadakan.
"Kamu saja yang wakilkan dulu, bro! Kan lu yang handle waktu deal pertamanya! " jawab Johan tegas.
"Oke, bro! " Danu mengacungkan jempolnya.
__ADS_1
"Oiya, Sil..... kamu sudah kasih tahu bos kamu blom tentang jadwal kerja nya hari ini? Tiap pagi kamu mesti kasih tahu ya! Dan jangan lupa buat laporan enam bulan belakangan ini ya, Sil?! " jelas Danu pada Sisil.
"Baik, Pak Danu! Nanti saya buat laporan nya dulu ya! " jawab Sisil cepat menanggapi permintaan Pak Danu.
Sisil merasa gelisah dalam hatinya. Dia mengerti maksud ucapan Pak Danu. Berarti kak Johan memang bos nya di kantor ini.
Setelah Danu keluar ruangan, Johan kembali menatap Sisil yang tampak gelisah.
"Kamu kenapa, Sil? Ada yang salah? " tanya Johan pada Sisil.
Johan tahu sepertinya Sisil merasa tidak enak hati terhadap diri nya, apalagi Sisil sudah mengetahui jika dia adalah bos di tempat kerja nya.
Sisil menggelengkan kepala nya.
"Kalau sudah tidak ada yang lain, saya pamit dulu ke ruangan saya, Pak! " ujar Sisil sambil berdiri.
Johan mengerutkan dahi nya. Dia menyuruh Sisil untuk duduk kembali. Dia ingin menjelaskan agar Sisil tidak salah paham atau mempunyai rasa gelisah berlebihan.
"Sil..... saya memang bos di sini dan saya juga kerja di sini. Kita sama-sama kerja untuk memajukan perusahaan. Tidak ada perbedaan mencolok antara bos dan karyawan nya, semua ada tugas dan kewajiban masing-masing. Jadi kamu jangan merasa sungkan ya?! " terang Johan secara panjang lebar pada Sisil.
Sisil menunduk mendengarkan semua penjelasan Johan.
"Terimakasih Pak! Ijinkan saya jika dalam bekerja memanggil Bapak dan saya juga mohon bimbingan nya jika masih ada kekurangan dalam pekerjaan saya! " ucap Sisil gak kalah tegasnya. Dia merasa lega, akhirnya bisa mengambil sikap terhadap dirinya sendiri.
"Oke..... oke....kamu juga jangan canggung dan sungkan terhadap saya ya, Sil! Rileks aja! Saya gak gigit kok, udah jinak! " canda Johan diiringi dengan tawanya. Sisil tersenyum dengan lelucon kekasih sekaligus bos nya itu.
"Oke, Pak! Saya balik ke ruangan saya dulu ya! Kalau butuh sesuatu atau ada perlu lain, katakan saja ya! " pamit Sisil pada bos nya.
Johan tersenyum manis dan menganggukkan kepala nya.
Setelah Sisil keluar dari ruangan nya, Johan duduk di bangku kebesaran nya. Dia mulai melihat komputer nya, mulai mengecek system, mengecek keuangan kantor, mengecek marketing atau pemasaran dan masih banyak lagi.
Selama hampir enam bulan Johan tidak mengikuti perkembangan perusahaan yang dipimpin dan di kelola nya. Maka dia akan di sibukkan dengan pengecekan semua bagian yang terkait.
Sisil pun kembali memasuki ruangan sekretaris yang berada di sebelah ruangan direksi atau bos nya.
__ADS_1
Sisil menghempaskan bokongnya pada kursinya. Dia menarik nafas nya dalam-dalam dan mengeluarkan nya perlahan. Diulang terus beberapa kali sampai hatinya merasa tenang kembali.
Sisil cukup terkejut mengetahui bahwa Kak Johan yang notabene sudah menjadi tambatan hati nya itu adalah bos nya juga di kantor.
Awalnya cukup membuat hati Sisil gelisah, bagaimana dia akan bersikap. Tapi setelah mendengar penjelasan dari kak Johan secara panjang lebar, kecemasan dan kegelisahan Sisil pun sirna. Sisil berusaha untuk tidak canggung dan kaku terhadap kak Johan. Dan selama jam kerja Sisil akan bertindak profesional terhadap Johan adalah bos dan karyawan dan memanggil Johan dengan sebutan Bapak.
Sebenarnya di sudut hati Sisil merasa ada secercah kebahagiaan yang tidak pernah dirasakan oleh dirinya. Dia bahagia mendapati dan menyadari jika tambatan hati nya adalah bos nya. Dan juga Sisil merasa kelegaan dalam hatinya sebab trauma kejadian di tempat kerja yang lama masih membekas. Setidaknya dengan Sisil bekerja di sini, dia merasakan kenyamanan dalam banyak hal. Itu yang tidak dipungkiri Sisil.
Sisil kembali menekuni pekerjaan nya yaitu membuat laporan selama enam bulan yang telah berjalan untuk diberikan pada bos nya.
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat dan hari sudah siang. Jam makan siang sudah menanti. Sisil sudah memesan makanan lewat mas OB yang menawari dirinya.
Sisil mengetuk pintu bos nya dan membuka pintunya.
"Ceklek..... "
Sisil melihat Johan masih sibuk berkutat dengan pekerjaan nya.
"Mau makan siang apa, Pak? " tanya Sisil pelan seakan takut mengganggu.
Johan mengangkat wajahnya dari lembaran kertas di atas meja nya. Dilihatnya Sisil dan tersenyum.
"Kamu sudah makan, Sil? Yuk makan bareng! " tanya dan ajak Johan langsung.
"Saya gak bisa, Pak! Kan kantor gak bisa di tinggal kosong. Lagipula saya sudah pesan makanan tadi! " sahut Sisil dengan tersenyum.
"Oke.... nanti saya makan sama Danu! Tolong kasih tahu Danu ya! " Johan tersenyum.
Sisil pun pamit dan keluar dari ruangan Johan untuk memberitahu Danu tentang makan siang bareng dengan bos nya.
*
*
bersambung.....
__ADS_1
_______________________________________