
"Hallo... " suara Sisil mengangkat telponnya yang bunyi. Dia tidak melihat nama yang tertera di ponselnya. Matanya masih mengantuk. Kesibukan nya di kantor yang baru banyak menguras tenaga dan pikiran nya.
"Hallo Sil..... masih tidur ya? Sorry gua ganggu...hahaha.... " tawa Pingkan di dalam telpon.
Sisil yang masih mengantuk itupun membuka mata nya, mendengar tawa Pingkan membuat Sisil mau tidak mau membuka mata nya. Sisil menguap.
"Iya nih, mata masih ngantuk Ping! Kenapa lu pagi-pagi udah nelpon? " tanya Sisil pada Pingkan di telpon.
"Habis lu gak ada kabar seminggu! Kalau kenapa-kenapa ntar gua yang dicecar! " sahut Pingkan disusul dengan tawa khasnya.
"Temenin gua yuk....biasa ke supermarket, belanja! " sambung Pingkan lagi.
"Ayolah.... lu jemput gua ya! " minta Sisil pada Pingkan.
"Iyalah, ntar gua jemput! Nunggu nyokap dulu nih, mobil dipakai dia soalnya! " jelas Pingkan di telpon.
"Okay....nanti lu WA aja kalau sudah jalan ya! " sahut Sisil sambil menguap.
"Ya udah sana, mandi! Biar gak ngantuk lagi! " suruh Pingkan pada Sisil di telpon.
"Oke, sampai ketemu ntar ya! " Sisil langsung mematikan sambungan telponnya.
Sisil menggeliatkan badannya ke kanan dan kiri, kemudian dia bangun dan duduk di tepian ranjang.Rutinitas kebiasaan bangun tidur dilakukannya.
Setelah itu Sisil mengambil pakaian dalam dari lemarinya dan mengambil tumpukan baju kotor yang harus dicucinya.
Sisil membawa semuanya keluar kamarnya menuju kamar mandi. Rumah tampak sepi.
Sisil sebelum mandi menyempatkan dirinya untuk mencuci baju kotor nya. Dan setelah selesai dia baru mandi.
Setelah selesai mandi dan hanya menggunakan daster, Sisil menjemur pakaian nya di samping rumah. Kemudian setelah selesai jemur baju, Sisil kembali masuk dalam kamarnya untuk bersiap-siap.
Sisil hanya mengenakan celana tiga perempat nya dan kaos saja untuk pergi menemani Pingkan. Setelah memulas wajahnya dengan riasan tipis, Sisil keluar dari kamarnya.
Sisil melihat di meja makan ada bubur langganan dia. Dia tidak tahu siapa yang membeli atau memang sengaja dibeli untuk dirinya, yang Sisil rasakan adalah perutnya laper banget minta diisi.
Sisil akhirnya memakan bubur yang masih memakai stereofoam dengan lahap nya.
"Drrttt...... Drrttt....... "
Ponsel Sisil bergetar. Ada WA masuk dari Pingkan yang mengabari dia sedang dalam perjalanan menuju rumahnya.
Sisil segera bersiap-siap agar nanti Pingkan sampai jadi tinggal berangkat.
Tiga puluh menit telah berlalu, tak lama terdengar suara klakson mobil di depan rumah Sisil.
Sisil segera menyambar tas nya dan berjalan cepat menuju pintu pagar.
Sisil membuka pagar dan menutupnya kembali, tak lupa menguncinya.
Dia membuka pintu mobil Pingkan dan mendudukkan bokongnya pada bangku mobil yang di sebelah kemudi. Setelah memasang seat-belt, tanpa diberi aba-aba Pingkan melajukan mobilnya perlahan.
Sisil menyalakan radio, dicarinya lagu yang enak dengan suara yang kecil.
__ADS_1
"Gimana di tempat baru, Sil? " tanya Pingkan membuka pembicaraan.
"Biasalah, mesti penyesuaian lagi ne...! " sahut Sisil.
"Maksudnya? Penyesuaian kerjaan atau apa nih? " tanya Pingkan meminta lebih detail.
"Yaahh... semuanya deh kaya nya! Penyesuaian pekerjaan juga harus sebab banyak hal baru yang gua pelajari. Penyesuaian dengan lingkungan orang-orang sekitarnya apalagi. Masalahnya mereka cuek-cuek semua, terkesan gua-gua, elu-elu gitu deh! " jelas Sisil panjang lebar pada sahabat nya itu.
"Untungnya masih ada yang berbaik hati sama gua dari hari pertama, kalau gak gua gak tau deh! " lanjut Sisil lagi.
"Repot juga ya pindah tempat baru! Makanya gua malas pindah, ya gini nih! " seloroh Pingkan sambil tetap fokus nyetir.
"Begitulah suka-duka jadi anak baru! Dicuekin dan dikucilkan! Seakan-akan mereka yang lama yang berkuasa dan pintar! " ujar Sisil yang disusul dengan senyumnya.
Pingkan tertawa pelan. Perhatian nya tetap fokus menyetir.
Tak lama mereka sudah memasuki parkiran mal XX dan memarkirkan mobilnya.
Setelah mengunci mobilnya, Pingkan dan Sisil berjalan beriringan memasuki mal tersebut menuju lantai bawah dimana supermarket berada.
Pingkan mendorong trolly nya, sedangkan Sisil hanya membawa keranjang saja.
Mereka berdua pergi ke bagian sabun dan shampoo. Sibuk melihat-lihat.
Karena asyik melihat-lihat, Sisil tidak berhati-hati dan menabrak seseorang.
Brugghh....
"Ehh..... maaf! " pekik Sisil kaget.
Seorang ibu-ibu itupun langsung menjawab dengan ramahnya.
"Ohh....tidak apa kok! " sahut Ibu yang ditabrak itu.
Sisil menatap Ibu yang ditabrak nya, walaupun sudah setengah baya tapi kecantikannya masih terpancar jelas. Mata Sisil seakan tidak percaya melihat Ibu itu.
"Tante Wiwid??! " tanya Sisil untuk meyakinkan.
"Iya! " sahut Ibu itu yang sudah kembali memilih barang belanjaan.
Yang dipanggil Tante Wiwid pun berhenti memilih dan kembali menatap Sisil, gadis cantik itu sedang tersenyum kearahnya.
Ibu Wiwid mengernyitkan dahinya. Dia mengingat-ingat siapakah gadis cantik yang ada di hadapan nya ini.
Setelah kembali teringat, langsung senyum merekah di wajah Tante Wiwid.
"Ahh.... Sisil, bukan? " tanya Bu Wiwid menyakinkan, takut salah.
"Iya, Tante! Tante apa kabar? " jawab Sisil sekaligus bertanya dengan sopan dan ramah.
"Baik, sayang. Kamu sendiri, apa kabarnya? Sama temanmu juga ya? " tanya balik Bu Wiwid.
"Saya baik juga, Tan. Iya sama teman yang sama, Tan! " jawab Sisil ramah.
__ADS_1
"Maafin Sisil yang tadi nabrak ya, Tan! Keasyikan lihat-lihat barang jadi gak fokus ada orang di sebelah! " jelas Sisil dengan meminta maaf kembali.
"Ohh....gapapa kok, sayang! " sahut Bu Wiwid tersenyum.
"Oiya....kita makan siang dulu yuk! Ajak teman kamu itu! Ini kan udah siang, kalian pasti juga belum makan kan? " ucap Bu Wiwid mengajak Sisil makan siang.
"Memang belum sih, Tan! Tapi kita baru sampai, Tan! " ujar Sisil untuk menolak secara halus.
"Gapapa, sayang! Belanjaannya titip di kasir aja dulu! Kita makan dulu, terus nanti kalian habis makan bisa lanjut lagi. Tante habis makan mau langsung pulang. " ucap Bu Wiwid membujuk Sisil.
Membuat Sisil jadi tak enak hati.
"Tunggu ya Tan, saya panggil teman saya dulu!" ucap Sisil minta ijin ke Bu Wiwid. Dan Bu Wiwid menganggukkan kepalanya.
Dilihat nya Sisil yang berjalan meninggalkan nya untuk mencari temannya. Bahagia hati Bu Wiwid bisa bertemu Sisil lagi.
"Seandainya Sisil bisa jadi menantuku?! Nanti mau ku kenalin ke Johan jika sudah balik! " batin Bu Wiwid dalam hatinya. Bibirnya tersungging senyuman.
Tak lama berselang, nampak Sisil dan Pingkan berjalan ke arah Bu Wiwid. Begitu sampai di tempat Bu Wiwid berdiri, Pingkan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan Bu Wiwid menyambutnya. Mereka berdua bersalaman.
"Yuk kita makan dulu! Kalian pasti lapar! " ajak Bu Wiwid sambil menggandeng tangan Sisil. Pingkan mengikutinya.
Mereka memasuki restauran Satay House Senayan dan mengambil meja agak ke pinggir.
"Ayo mau pesan apa? Sop buntut nya enak lho! " Bu Wiwid menyodorkan buku menu ke Sisil dan Pingkan.
"Bolehlah cobain sop buntut nya, Tan! " ucap Sisil.
"Sama, Tante. Saya sama dengan Sisil! " ucap Pingkan.
"Minumnya apa? " tanya Bu Wiwid lagi.
"Es Lemon Tea, Tan! " sahut Sisil.
"Sama dengan Sisil, Tan! " sahut Pingkan.
"Es Lemon Tea tiga, sop buntut tiga, nasi putih tiga. " pesan Bu Wiwid kepada pelayan yang sudah menunggu di dekat meja mereka.
*
*
bersambung.....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa komentar, like dan vote nya ya bestie 🙏🏻 jika berkenan kasih juga bintang lima ya bestie... 🤗
Dukung terus karya receh mommy yaa..
Terimakasih buat teman-teman yang sudah mendukung dan selalu mendukung mommy 🙏🏻😘
Dukungan kalian sangat berarti buat mommy...
__ADS_1
Luv u all 😘🤗❤💞
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=