
Johan melajukan mobilnya dengan santai dan tidak terlalu cepat menembus ramainya dan padatnya jalan raya.
Hanya butuh empat puluh menit untuk Johan sampai di rumah nya, sebab jalanan tidak macet hari ini. Rumah yang besar dan megah, yang di dominasi warna putih itu tampak bersih dari luar.
Johan memarkir mobilnya di garasi rumahnya. Dilihatnya mobil Papa nya sudah terparkir sempurna, yang berarti Papa nya sudah ada di rumah dan tidak keluar lagi.
Johan mematikan mesin mobilnya. Lalu dilihatnya Sisil yang masih duduk di samping nya.
"Kita sudah sampai. Kamu gak mau turun?" tanya Johan menatap Sisil.
Sisil sejenak merasa ragu akan dirinya. Dia merasakan ketakutan di dalam hatinya. Apakah kedua orang tua Johan akan menerima dirinya, inilah yang ditakuti Sisil.
"Ayolah! Jangan takut! Ada aku di sampingmu! " ucap Johan seraya menggenggam tangan kanan Sisil.
Sisil yang mendengar perkataan Johan pun tersenyum dan mengangguk. Walau dalam hatinya ditempa rasa takut, tapi perkataan Johan cukup menenangkan dirinya.
Sisil pun membuka pintu mobil dan dia keluar, lalu kembali menutup pintu mobil. Johan yang sudah keluar dari mobil, langsung mengunci mobilnya dan menghampiri Sisil.
Johan menggandeng tangan Sisil untuk masuk ke dalam rumah nya. Mereka berjalan bergandengan tangan.
Ruang tamu tampak kosong. Johan mempersilahkan Sisil untuk duduk dulu, lalu dia masuk ke dalam untuk memanggil kedua orang tua nya yang berada di ruang keluarga.
Pak Herry sedang membaca sebuah buku dengan segelas teh hangat di atas meja. Tak lupa dengan camilan singkong rebus yang dibuat Bik Darmi.
Sementara itu Bu Wiwid sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malam.
"Pa...... ini Johan ajak Sisil kesini! " suara Johan sedikit berteriak. Pak Herry yang mendengar suara Johan, menurunkan bukunya.
"Kapan kamu ajak kesini, Han? " tanya Pak Herry yang kurang mudeng dengan omongan putranya.
"Ya ampun Pa...... itu orangnya udah ada di ruang tamu! " jawab Johan dengan ekspresi yang gak jelas.
"Oalah...... panggil Mama kamu tuh di dapur! " ujar Pak Herry cepat setelah menyadari omongan Johan.
Johan pun buru-buru menghampiri Mama nya yang sibuk di dapur. Bau masakan yang dibuat Mama nya selalu menggugah selera.
Johan memberitahu sangat Mama jika Sisil sudah diajaknya dan sekarang ada di ruang tamu.
"Oalah kamu tuh.... mbok kasih tahu dulu kalau mau diajak kesini! Mama tukaran baju dulu deh! " panik Bu Wiwid begitu mendengar Sisil datang.
__ADS_1
Johan menahan tangan Mama nya yang mau pakai acara tukar baju.
"Gak usah tukar lah, Ma! Mama udah cantik kok! Temui dulu aja, ntar kelamaan di tinggal! " ucap Johan sembari menggaet tangan Mama nya untuk dibawa ke ruang tamu.
Sisil duduk dengan hati gelisah di ruang tamu kediaman keluarga Johan. Tak lama terdengar suara kaki melangkah mendekat.
Lalu muncullah Johan dengan senyuman di bibirnya. Di belakang nya berdiri Papa dan Mama nya. Sisil langsung berdiri dan mengulurkan tangan nya pada Pak Herry.
Pak Herry dengan sigap menyambut uluran tangan Sisil. Mereka berdua bersalaman dan Sisil menyebutkan namanya.
"Saya Sisil, Om! " Sisil memperkenalkan diri nya.
"Saya Herry, Papa nya Johan! " jawab Pak Herry dengan senyum terukir di bibirnya.
Giliran Bu Wiwid, dia langsung memeluk Sisil. Sisil pun membalas pelukan Bu Wiwid dengan sedikit canggung.
"Akhirnya kita bertemu lagi ya, Sisil! " ucap Bu Wiwid setelah melepas pelukan nya. Wajahnya tampak berbinar bahagia.
"Iya, Tante! " jawab Sisil dengan senyum manisnya.
"Ayo.... duduk! Duduk! Tamu kok gak dipersilahkan duduk! " ujar Pak Herry dengan canda khas nya.
"Gak usah repot-repot, Tan!" tolak Sisil halus yang merasa sungkan.
"Gak repot kok! Udah biasa tiap hari juga gini! " sahut Bu Wiwid diikuti tawa renyah nya.
Bik Darmi yang mengetahui ada tamu datang, tanpa disuruh sudah membawa empat cangkir teh manis hangat ke ruangan tamu dan menghidangkannya di atas meja.
"Yuk diminum, Sil! " tawar Johan pada Sisil. Dia duduk di sebelah Sisil untuk menenangkan Sisil.
"Ayo, jangan malu-malu ya! Anggap saja di rumah sendiri! " ucap Pak Herry sambil meminum teh yang sudah dihidangkan.
"Orang tua Sisil masih ada? " tanya Pak Herry.
"Hanya tinggal Papa saja, Om! " jawab Sisil dengan suara pelan.
"Oh maaf, Om tidak tahu! " ucap Pak Herry cepat meminta maaf.
"Gapapa, Om! " sahut Sisil dengan tersenyum.
__ADS_1
"Kamu berapa bersaudara, Sil? " tanya Pak Herry lagi.
"Ini lagi interview, ya Pa?! " ledek Johan diikuti tawanya dengan mata melirik Sisil yang terlihat ikut tersenyum.
"Bukan! Cuma Papa pengen tahu aja, Han! Gak boleh ya? " jawab Pak Herry sambil tertawa juga.
"Boleh kok, Om! Sisil cuma sendiri, Om!" ujar Sisil cepat sebelum ada yang mendahului lagi.
"Wah.... anak tunggal! Pasti kamu di sayang dong! " lanjut Pak Herry lagi.
"Hahaha..... gak juga, Om! " jawab Sisil dengan diikuti tawa nya. Dia merasa geli kalau ada yang bilang dia disayang orang tua nya.
Johan yang takut pertanyaan Papa nya nyerempet ke hal yang buat Sisil sedih, langsung dia pura-pura memotong pembicaraan.
"Mama mana nih? Udah siap belum makan malam nya? Udah laper nih! " potong Johan tiba-tiba.
"Oiya, coba kamu lihat Mama kamu di dalam! " titah Pak Herry pada Johan.
Tanpa menunggu disuruh dua kali, Johan langsung pergi ke dalam. Dilihatnya sangat Mama lagi menata meja makan.
"Ayo Han, ajak Sisil dan Papa makan dulu! " ucap Bu Wiwid begitu melihat putra nya datang.
"Akhirnya makan juga.... udah laper soalnya, Ma! " ujar Johan sambil bergaya memegang perutnya. Bu Wiwid cuma ketawa melihat ulah Johan, anaknya. Dan Johan langsung pergi ke ruang tamu untuk mengajak Papa dan Sisil makan malam.
Mereka berempat duduk di meja makan dengan piring yang sudah terisi nasi.
"Silakan diambil lauknya, Sil! Yuk....mari makan! " ucapan Pak Herry untuk mengawali makan malam keluarga nya.
Dia langsung mengambil ayam goreng dan sayur asem yang sudah di sendok dalam mangkok kecil.
Bu Wiwid, Johan dan Sisil mulai mengambil lauk pauk yang sudah terhidang dan tertata rapih. Mereka berempat makan malam diiringi dengan senda gurau sekali-sekali.
Sisil tersenyum melihat keluarga Johan begitu harmonis dan hangat. Mereka tidak memandang status sosial seseorang. Sisil di terima baik dalam keluarga Pratama. Sisil merasa seperti menemukan keluarga baru dalam kehidupan nya.
*
*
bersambung.....
__ADS_1
_______________________________________