Gadis Yang Terbuang

Gadis Yang Terbuang
Bab 26. Akal-akalan Ridwan


__ADS_3

Sisil yang terheran dengan sikap Papa nya kembali melanjutkan gosok bajunya.


Sementara Ridwan yang begitu pulang langsung masuk kamar tanpa menyapa Sisil menghempaskan bokongnya di sofa kamar.


Pikiran nya sedang kalut. Banyak pembicaraan dengan Caroline yang membuat nya banyak pikiran.


*


#Flashback on#


Sehabis beribadah Ridwan menyempatkan dirinya mampir ke kontrakan Caroline.


Sekalian membetulkan kran air di tempat cuci piring yang bocor.


Setelah semua selesai, mereka berdua makan bersama. Sehabis makan, mereka berdua duduk di ruang tamu.


"Bagaimana perkembangan Sisil, mas? Apa dia mau terima saya? " Caroline membuka pembicaraan.


Ridwan memandang Caroline dengan tersenyum. Ridwan gak mungkin menceritakan penolakan Sisil dan insiden penamparan yang terjadi. Ada keraguan dalam diri Ridwan terhadap Caroline. Dia kurang yakin dengan sikap Caroline sendiri. Karena Ridwan tau Caroline mempunyai sikap yang keras dan kurang baik.


"Saya yakin Sisil pasti bisa terima, sayang. " Ridwan membelai rambut Caroline dengan sayang.


"Tapi butuh waktu! " lanjut Ridwan dalam hatinya.


"Kamu juga harus bisa terima dia Lin! " ucap Ridwan menegaskan. "Harus timbal balik! ".


" Iyalah mas, pasti itu. Aku akan menyayangi Sisil seperti anakku sendiri! " ujar Caroline dengan tersenyum.


Jawaban Caroline membuat Ridwan tersenyum.


"Kontrakan saya sebulan lagi habis mas! " ucap Caroline memelas.


"Jadi gimana? Kamu mau perpanjang atau mau masuk rumah saya? " tanya Ridwan membuat pilihan.


"Kalau masuk rumah saya, gak perlu lanjut kontrak lagi sayang! " lanjut Ridwan.


Caroline tampak berpikir. Dia memang mengharapkan bisa tinggal di rumah Ridwan. Jadi gak perlu keluar uang lagi untuk bayar kontrak rumah. Karena saat ini Caroline lagi kesulitan uang. Uang untuk kontrak pun tidak ada.


"Sebenarnya saya sudah gak punya uang untuk kontrak rumah lagi mas! Jadi pilihan nya ya masuk rumah kamu mas! " Caroline berkata sambil menunduk.


"Pucuk dicinta ulam tiba! " pekik Ridwan dalam hatinya. Ini yang diharapkan nya.


"Ya dengan senang hati di terima sayang! " Ridwan mencium pipi Caroline.


"Tapi sebelum masuk rumah, saya maunya nikah dulu mas! Biar sah! " ucap Caroline lagi.


"Gini aja deh! Kita buat pesta syukuran aja di rumah, sesudah itu kamu bisa langsung tinggal di rumah. Urusan nikah atau surat kita ke catatan sipil aja langsung? Gimana? " tanya Ridwan meminta persetujuan Caroline.


Caroline terdiam. Tampak sedang berpikir. Dia menginginkan hidupnya menjadi istri sah Ridwan agar rumah Ridwan bisa jadi rumahnya untuk seterusnya. Dia gak mau luntang-lantung kontrak lagi.


"Boleh. Saya setuju mas! " Caroline mengganggukkan kepalanya.


"Dua minggu lagi kita buat acara syukuran di rumah, ya sayang... " Ridwan mencium bibir merah Caroline. Caroline membalasnya.

__ADS_1


Setelah pembicaraan mendapatkan kesepakatan, Ridwan pamit pulang.


*


#Flashback off#


*


Inilah yang membuat Ridwan pusing. Mau syukuran dua minggu lagi, sedangkan Sisil aja belum merestui nya.


"Bagaimana agar Sisil menyetujui nya? Apa yang harus kulakukan? " tanya Ridwan dalam hatinya.


Ridwan merasakan kekecewaan Sisil terhadap dirinya. Apalagi dia sudah salah malah menampar Sisil. Padahal Sisil adalah anak kesayangan nya.


Ridwan benar-benar harus memutar otaknya.Dia memejamkan matanya.


Triingg....


Tiba-tiba sebuah ide timbul di benaknya.


"Maafkan Papa yang terpaksa melakukannya! " ucap Ridwan dalam hatinya.


Ridwan membuka pintu kamarnya. Dilihat nya Sisil masih sibuk dengan gosok bajunya.


"Kamu sudah makan Sil? " tanya Ridwan.


"Sudah Pa. " Sisil menjawab singkat.


"Maafkan Papa ya, Sil! Papa khilaf kemarin sudah nampar Sisil! " Ridwan dengan nada sedih meminta maaf pada anaknya.


"Iya Pa, Sisil udah maafin kok! " sahut Sisil masih tetap dengan posisi gosok baju. Yang berarti Sisil membelakangi Papanya.


"Sil..... " ucap Ridwan nampak keraguan nya.


"Ya Pa..... kenapa? " tanya Sisil.


"Papa pengen ngomong soal tante Caroline. " lanjut Ridwan lagi.


"Apa lagi yang mau diomongin soal tante Caroline, Pa?! Kan kemarin ini udah! " Sisil menjawab rada ketus.


"Sisil kalau tidak menyetujui hubungan Papa sama tante Caroline..... lebih baik Papa bunuh diri aja!! " Ridwan berkata pelan. Dia duduk dan menuang baygon dalam gelas kecil.


Sisil yang mendengar Papa nya ngomong begitu, ditambah seperti suara menuang air langsung membalikkan badannya, menghadap Papa nya.


Buru-buru Sisil lari ke arah Papa nya dan mengambil gelas yang dipegang Papanya. Dan membuang isinya ke kamar mandi.


"Apa-apaan sih Papa?!! " marah Sisil kepada Papa nya.


"Papa gak bisa ninggalin tante Caroline. Papa sayang dia, Papa cinta dia, Sil!! " rengek Ridwan yang sudah meneteskan air matanya.


"Iya..... tapi bukan gitu caranya pake mau bunuh diri segala! " cibir Sisil.


"Habis Papa mesti gimana lagi? Sisil juga belom setuju..... Papa pengen hari tua Papa ada teman... " jelas Ridwan di sela isakannya.

__ADS_1


Hati Sisil luluh juga melihat Papanya yang meneteskan airmata. Dia juga gak mau kehilangan Papa yang disayanginya.


Dipeluknya Papa nya. Sisil pun menangis dalam pelukan Papa nya.


"Ya sudah kalo Papa bersikeras juga.... Sisil merestui Pa! " ucap Sisil disela tangisnya.


Ridwan memeluk Sisil erat. Mendapatkan restu dari anaknya adalah suatu kebahagiaan tersendiri. Walau dengan cara yang salah.


"Tapi Papa jangan bunuh diri yaa?!! " rengek Sisil manja pada Papa nya.


"Iya sayang... " Ridwan mengelus rambut Sisil.


Sisil melepaskan pelukan Papa nya.


"Memang kapan rencana nya tante mau tinggal disini Pa? " tanya Sisil sambil membersihkan airmatanya.


"Rencana nya dua minggu lagi mau buat syukuran disini Sil. Sederhana aja, paling cuma undang saudara, tetangga dekat dan teman-teman dekat aja. " jelas Ridwan.


"Terus Pa? " Sisil bertanya kelanjutan nya.


"Terus ya tante Caroline langsung tinggal sini, sayang! " jelas Ridwan dengan tersenyum.


"Tapi Sisil gak mau Papa bikin surat nikah yaa! " ucap Sisil ketus.


"Lho?! Kenapa? " Ridwan bertanya heran.


"Kan dulu Papa sama Mama gak bikin surat nikah! Jadi sekarang juga gak usah!" jelas Sisil ketus.


Sisil tau jika sampai Papa dan tante Caroline itu buat surat nikah, secara hukum mereka kuat. Sisil yang secara hukum gak kuat, karena anak diluar nikah. Ini yang memberatkan hati Sisil. Ditambah dengan ketidakyakinannya terhadap tante Caroline.


Dalam hal ini memang tidak bisa menyalahkan Papa nya juga, karena orang jaman dulu banyak yang menikah tanpa surat nikah.


"Kecuali Papa buat surat Pengakuan anak yang menerangkan jika Sisil anak Papa! " ucap Sisil menjelaskan supaya Papa nya mengerti.


"Ya ampun Sil.....ngapain bikin surat begituan.... lah kamu kan memang anak Papa, sayang! " pekik Ridwan tertahan. Dia tidak mengerti arah pikiran Sisil kemana. Sedangkan Sisil sudah mengantisipasi semua hal yang kemungkinan akan terjadi.


Tapi seperti nya Papa nya tidak menyetujui usulnya itu.


Kalau sudah begini Sisil hanya bisa berharap ke depannya adalah sesuatu yang baik. Dia tidak mengharapkan sesuatu yang jelek menimpa dirinya ataupun Papa nya.


*


*


bersambung.....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa komentar, like dan vote nya yaa teman-teman...


Terimakasih buat teman-teman yang sudah memberikan komentar membangun, like dan vote nya 🙏🏻


Dukungan teman-teman semua sangat berarti buatku 🙏🏻🤗

__ADS_1


Luv u all... 😍😘🤗💞


__ADS_2