
"Hallo... " Sisil menjawab hapenya yang berbunyi.
"Sil..... lu lupa ya kalo besok pagi lu harus ke pengadilan?! " teriak Pingkan di telpon mengingatkan Sisil.
"Oiya Ping... hampir aja gue lupa! Asli kalo lu gak ingetin, gue lupa! " pekik Sisil kaget sambil menepuk jidatnya.
Besok adalah persidangan Handoko, dimana Sisil harus hadir sebagai korban dan saksi.
"Semoga semuanya dilancarkan ya! Besok pagi gua jemput ya! " ucap Pingkan dengan harapan nya.
"Oke Ping. Sampai besok ya! " jawab Sisil sambil menutup hapenya.
Sisil hampir saja melupakan panggilan dari persidangan Handoko jika Pingkan tidak mengingatkan nya. Karena kehadiran Sisil sangat diperlukan.
*
*
Keesokan paginya, Sisil bangun pagi-pagi sekali. Dia langsung pergi ke kamar mandi untuk mandi dan sikat gigi. Setelah selesai Sisil masuk kamarnya untuk bersiap-siap.
Sisil memberitahu mbak Yanti jika dua hari ini ijin tidak masuk kantor karena ada urusan keluarga.
Sisil mengenakan setelan jas creamnya plus rok sepan nya dengan warna senada. Dia memulas dan merias wajahnya tipis-tipis saja.
Setelah selesai bersiap, Sisil memakan sarapan bubur yang sudah diantar abang langganannya.
Tante Caroline keluar dari kamar mandi. Dia baru selesai mandi.
"Tumben pagi sekali, Sil! Gak makan dulu? " tanya Tante Caroline sambil berjalan menuju meja makan.
"Iya, Tan, ada keperluan! Udah makan bubur, Tan! "'jawab Sisil singkat. Rada males jika harus menjelaskan, sebab orang rumah yaitu Papa nya tidak tau permasalahan Sisil diculik.
Sisil sekarang tinggal nunggu kedatangan Pingkan. Tadi Pingkan sudah memberi kabar jika dia sudah jalan dari rumahnya.
Perjalanan dari rumah Pingkan ke rumah Sisil biasanya memakan waktu tiga puluh menitan jika tidak macet.
Sisil menyiram bunga-bunga yang ada di pot di halaman depan. Dan memberi pupuk secukupnya.
"Tin-tin...... Tin-tin......! "
Terdengar suara klakson mobil dari depan rumah Sisil. Ternyata Pingkan sudah sampai.
"Tunggu yaa....! " teriak Sisil. Entah Pingkan bisa dengar atau tidak.
Sisil berlarian masuk ke dalam rumahnya. Dia menyambar tas nya yang ada di sofa, kemudian pamit pada Tante Caroline yang lagi menyusun sarapan pagi di meja makan.
Sisil kembali berlarian kecil menuju mobil Pingkan di depan rumahnya.
"Gak usah lari-lari kalee....! " ujar Pingkan ketika Sisil membuka pintu mobilnya.
__ADS_1
"Hehehe.....ntar lu lama nungguin gue! " kekeh Sisil.
"Daripada lu jatuh atau keseleo, gue lebih repot lagi nanti! " lanjut Pingkan sambil memonyongkan bibirnya.
"Hahaha....! " Sisil tertawa geli bukan karena omongan Pingkan tapi karena melihat bibirnya Pingkan.
"Kenapa lu ketawa? " tanya Pingkan heran.
"Gak usah dimonyong-monyongin deh tuh bibir! Kalo gue cowok, udah gue cium lu! " tawa Pingkan meledak lagi.
Pingkan cuma bisa geleng-geleng kepala saja melihat tingkah Sisil pagi ini.
Setelah Sisil duduk di sebelah Pingkan dan memasang seat-belt, Pingkan melajukan mobilnya perlahan.
Pingkan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang setelah keluar dari komplek perumahan Sisil. Mereka berdua menuju pengadilan negeri pusat.
Hampir sejam perjalanan, akhirnya mereka berdua tiba di parkiran pengadilan. Pingkan memarkir mobilnya dan mereka berdua turun dari mobil. Setelah mengunci pintu mobilnya, Pingkan mengapit lengan Sisil dan mereka berdua berjalan bersama menuju gedung pengadilan.
Pengadilan Handoko dimulai jam sembilan pagi. Masih ada waktu untuk Sisil merapihkan baju dan rambutnya.
Mereka berdua pergi ke toilet wanita untuk merapihkan baju dan rambut. Jantung Sisil berdegup kencang.
"Gak usah gugup, Sil! Tenang aja! " ucap Pingkan yang mengetahui Sisil sudah merasa gugup. Padahal persidangan masih lama.
Setelah selesai mereka berdua keluar dari toilet dan duduk di bangku yang tersedia di depan ruang sidang.
Sisil dan Pingkan reflek menengok ke kanan dan kiri. Mereka berdua mencari tahu siapa yang dimaksud wanita tersebut.
"Kamu! " teriak wanita itu lagi sambil tangannya menunjuk ke arah Sisil.
"Saya?! " tanya Sisil sambil tangannya menunjuk ke arah dadanya sendiri.
"Iya kamu! Sini! " teriak wanita itu lagi gak ada sopan-sopannya.
Sisil berdiri diikuti Pingkan. Mereka berdua berjalan menuju wanita itu. Padahal jaraknya dekat, tapi cara manggilnya teriak-teriak.
Sisil mulai teringat siapa wanita ini. Pakaian nya terlihat elegan, wajah juga masih terlihat cantik tapi kelakuannya tidak sebagus pakaian dan wajahnya.
"Ini Mama nya Handoko, Ping! " bisik Sisil pelan sewaktu berjalan menghampiri wanita itu.
"Mama nya aja kelakuan kaya gini, pantes nurun ke anaknya! " rutuk Pingkan dalam hatinya.
"Hei perempuan gak jelas! Kamu apain anak saya, hah?!! Lapor apa kamu sampai anak saya ditangkap?! " maki Meiske, mama Handoko dengan kasarnya.
"Ini Sisil Tante, namanya! Bukan perempuan gak jelas! " sahut Pingkan yang mulai kesal melihat Sisil dimaki seperti itu.
"Diam kamu!! Saya bicara sama perempuan ini! " bentak Meiske kasar.
Sisil menghela nafasnya kasar. Dia gak suka dengan perlakuan mama Handoko ini. Pingkan yang sudah tersulut kemarahannya, ditahan Sisil untuk tidak berbicara.
__ADS_1
"Nama saya Sisil, Tante. Bukan perempuan gak jelas! Saya gak apa-apain anak Tante dan saya juga gak pernah lapor apa-apa. Yang lapor semua orang lain Tante! Dan semua itu atas ulah anak Tante sendiri! " Sisil masih memberi penjelasan dengan sabar.
"Omong kosong apa ini?! Awas ya kamu kalau sampai anak saya kenapa-kenapa! " maki Meiske lagi dengan kasar. Dia tetep kekeh gak mau anaknya disalahkan.
"Kita lihat saja nanti bagaimana hukum bertindak, Tante! Tapi memang anak Tante mesti dapat pelajaran, biar kapok! " sahut Sisil gak kalah sengitnya meskipun dengan nada biasa tapi cukup nyelekit buat yang mendengarnya.
"Apa kamu bilang?!! Dasar perempuan brengsek! " Meiske mengangkat tangan kanan nya ingin menampar wajah Sisil.
Sebuah tangan yang kuat menahan pergerakan tangan Meiske.
"Tab!! "
"Hentikan! " suara seseorang menggelegar keras.
Tampak seorang lelaki dengan pakaian jas hitamnya menahan tangan Meiske.
Meiske menarik tangannya dengan kasar. Hatinya dongkol sekali.
"Perkenalkan.... nama saya Fuad Wongso! Saya pengacara nona Sisil, Bu!" ucap lelaki yang berjas hitam itu dengan menyodorkan kartu namanya. Tapi tidak ada reaksi dari Meiske untuk mengambil kartu nama tersebut. Akhirnya Pingkan yang mengambilnya.
Sisil dan Pingkan terlihat melongo. Masalah nya Sisil tidak pernah menyewa jasa pengacara, selain pembayaran nya besar juga Sisil gak tahu mana pengacara yang bagus dan cocok untuk permasalahannya.
"Dan Ibu tidak berhak memukul klien saya! Atau Ibu juga bisa dikenakan sangsi jika pihak kami melaporkan tindakan semena-mena yang Ibu lakukan! " lanjut Pak Fuad dengan tegas dan berwibawa.
"Huh!! Dasar brengsek!! " maki Meiske dengan kesal sambil berjalan meninggalkan tempat itu.
"Makasih banyak Pak Fuad! " ucap Sisil yang merasa lega Meiske sudah pergi.
"Sama-sama nona Sisil. Saya Fuad, pengacara anda! " sahut Pak Fuad kembali memperkenalkan dirinya.
"Oya..... tapi saya gak menyewa jasa pengacara lho Pak! Apa Bapak gak salah alamat? " tanya Sisil keheranan.
"Ohh tentu saja tidak, nona! Saya pengacara pribadi keluarga Pratama, tuan muda Johan yang menugaskan saya untuk membantu menangani kasus nona Sisil! " jelas Pak Fuad dengan senyum ramahnya.
"Ohh.... " Sisil menganggukkan kepalanya. Dia tidak menyangka jika Johan sudah menyiapkan segala sesuatu nya sebelum dia pergi keluar negri.
*
*
bersambung....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa komentar, like dan vote nya yaa bestie 🙏🏻 dukung terus karya recehan mommy yaa....
Terimakasih buat yang sudah mendukung dan selalu mendukung karya receh mommy ini 🤗 dukungan kalian sangat berarti buat mommy🤗
Lope.... Lope....semuanya 😘🤗❤💞
__ADS_1