
Tak terasa seminggu telah berlalu. Dalam seminggu itu pula Sisil sibuk setiap harinya mengirim surat lamaran kerja. Tapi sampai sekarang belum membuahkan hasil.
Belum mendapat kerjaan, hanya di tempat kost atau ketemu Pingkan dan teman lainnya, hal itu membuat Sisil jenuh juga.
Sisil bertekad dia harus cepat-cepat mendapatkan pekerjaan baru.
"Drrttt...... Drrttt...... Drrttt....... "
Ponsel Sisil bergetar dan terlihat nomor tak dikenal. Sisil menekan tanda jawab.
"Hallo.... " sapa Sisil ketika menjawab panggilan telponnya.
"Hallo... dengan Ibu Sisil? " tanya seseorang di telponnya.
"Ya, saya sendiri Bu! " jawab Sisil.
"Sehubungan dengan lamaran Ibu, kami dari PT. Pratama Tehnical System mengundang Ibu untuk interview hari Kamis, apakah bisa Ibu? " ucap orang yang ada di telponnya Sisil.
"Oh bisa Bu, Kamis besok kan? " sahut Sisil dengan bertanya untuk memastikan.
"Iya benar, besok Ibu Sisil! Nanti Ibu langsung naik ke lantai delapan, ketemu dengan Ibu Winda ya! " terang orang yang ada di telpon itu lagi.
"Baik, Bu! " sahut Sisil.
"Oke Ibu, selamat siang! " pamit orang yang di telpon Sisil.
"Terimakasih, Bu! " jawab Sisil diiringi senyuman di bibirnya.
Setelah menutup panggilan telpon tersebut, Sisil langsung mengecek lamaran mana yang dipanggil ini.
"Ohh..... ternyata yang dipanggil ini lamaran dari selebaran yang di tempel di tempat kost! " gumam Sisil.
Senang rasanya hati Sisil, ada sedikit kelegaan dalam hatinya.
"Semoga saja bisa di terima! " doa Sisil dalam hatinya.
Sisil sungguh mengharapkan sekali interview bisa langsung di terima, jadi tidak perlu datang berulang-ulang tapi ujung-ujungnya tidak di terima.
Sisil juga harus memikirkan keuangan pribadi nya yang belum ada pemasukan selama dia belum bekerja lagi.
Dia juga tidak mau menggunakan uang yang masuk ke rekeningnya tiap akhir bulan. Entah siapa yang mengirimkan nya. Dia berencana akan dimasukin deposito saja nanti.
**
__ADS_1
**
"Kamu tuh ribut nya uang mulu! Uang....! Uang...!! " gerutu Ridwan yang sangat kesal dengan Caroline.
"Habis gimana dong, Mas?! Memang kita butuhnya uang kok! " sahut Caroline membela dirinya sendiri.
"Ya tapi gak usah tiap hari diomongin! Pusing tau! " gerutu Ridwan.
"Kamu sih jadi lelaki kere, gak ada duit! " sindir Caroline kesal.
"Lah.... dari awal juga saya udah bilang kalau gak punya duit! Semua anak saya yang biayain! Kenapa masih mau juga sama lelaki kere?! " jawab Ridwan panjang lebar.
"Anak saya malah diusir! Dia itu ibarat dewi fortuna, Lin! Gak ada dia tambah pusing kan?! " sindir Ridwan pada Caroline.
"Bukan nya kamu sendiri yang ngusir, Mas?! Kok nyalahin saya! " serang Caroline memutar balikkan.
"Memang saya yang ngusir, tapi itu adalah kemauan kamu! Hayo ngaku saja! " serang Ridwan kembali. Rupanya Ridwan sudah menyadari kebusukan Caroline.
Wajah Caroline sudah tak sedap dipandang. Sifatnya yang jelek kembali kumat. Ridwan cuek saja, terkadang malas dia melayani Caroline.
"Makanya pake telpon itu dibatasi, Lin! Apa yang dibilang Sisil semua benar kok! Kamu nya aja yang gak bisa terima kalau di tegur! Sekarang pusing sendiri kan bayarnya! "'ledek Ridwan.
Caroline yang di ocehin Ridwan hanya diam saja, cemberut. Memang benar apa yang Sisil bilang, terlalu boros pake telpon nya. Tapi Caroline gengsi mengakuinya.
"Adikku si Chandra kan sudah tiap bulan kasih lima juta ke kita, Mas! Masa minta lagi, kan malu! " sungut Caroline.
"Lah.... tahu malu juga kamu ya?! Mestinya uang lima juta itu cukup buat kita berdua saja di rumah ini, Lin! Coba mulai sekarang kamu kurangi main telpon, kurangi keperluan yang gak jelas lainnya! " sindir dan saran Ridwan.
Ridwan sangat tahu jika Caroline sangat boros dengan uang. Bayar telpon saja bisa satu juta lebih. Belum beli keperluan lain-lain yang gak jelas. Seharusnya jika bisa berhemat, uang lima juta itu masih bisa di tabung. Ini pemikiran Ridwan, karena dia sendiri gak pernah minta macam-macam sama Caroline.
Akhirnya Caroline menelpon adiknya, Chandra untuk minta tambahan uang sebanyak dua juta.
Awalnya Chandra enggan untuk memberi tambahan pada kakaknya ini yang boros. Akhirnya dia memberikan dengan wanti-wanti.
"Ini yang pertama dan terakhir ya Mbak! Saya harap ke depannya dengan uang yang ku kirim tiap bulan itu cukup Mbak! Mbak mesti belajar hemat, jangan boros! " wanti Chandra yang cukup kesal dengan Caroline, kakak nya.
"Iya, Chan! Maafkan Mbak ya! " Caroline meminta maaf. Ada perasaan gak enak dalam hatinya. Dia bertekad untuk mengatur keuangan nya nanti.
"Saya harap Mbak juga harus mengerti, pengeluaran saya juga banyak, belum untuk anak-anak sekolah. Jadi Mbak mesti belajar berhemat, misalnya suatu saat saya gak bisa lagi kirim uang buat Mbak, gimana? Semua harus dipikirkan, Mbak! Jangan boros! " pesan Chandra panjang lebar di telponnya.
"Iya, Chan! Mbak mengerti! Mulai sekarang Mbak mau belajar berhemat! " sahut Caroline dengan menganggukkan kepala nya.
"Oke, Mbak! Nanti sore saya transfer ya! Udahan dulu ya, Mbak! " ucap Chandra yang jauh di sana.
__ADS_1
"Oke, Chandra! Terimakasih banyak ya! " sahut Caroline.
Caroline merasa lega dalam hati nya, adiknya Chandra masih berbaik hati memberikan tambahan keuangan untuk bulan ini.
Ridwan yang melihat Caroline sudah senyum-senyum hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala nya.
"Semoga saja kamu bisa berubah, Lin! " gumam Ridwan dalam hati nya.
**
**
Pingkan sehabis pulang kerja langsung menuju tempat kost Sisil. Tadi siang dia sudah menerima pesan Sisil untuk mampir dan makan malam bersama.
Pingkan memarkir mobilnya dan menguncinya, lalu dia berjalan masuk je kamar Sisil yang terletak paling ujung.
"Tok-tok-tok...... Tok-tok-tok..... "
Sisil membuka pintu kamarnya ketika mendengar bunyi ketukan.
Mereka berdua saling bercipika-cipiki layak nya dua sahabat yang sudah lama tak bertemu, padahal hampir tiap hari ketemu semenjak Sisil jadi pengacara.
"Yuk.... kita mau makan apa nih? " tanya Sisil.
"Kita makan shabu-shabu aja yuk! Yang all u can eat! Mesti pergi sekarang, biar nyantai makan nya! " usul Pingkan.
"Ayolah! Emang ada dekat-dekat sini? " tanya Sisil.
"Ada di mal XX. Yuk buruan tukar baju, say! " sahut Pingkan langsung menyuruh Sisil tukar baju.
Sisil dengan cepat mengganti celana pendek rumahnya dengan celana pendek jeans.
Sisil masih santai. Dia benar-benar menggunakan harinya dengan bersantai. Pergi kemana pun juga selalu berpakaian santai.
Biarpun hanya memakai kaos dan celana pendek jeans saja, Sisil sudah cantik. Tapi Sisil tidak menyadari nya. Dia hanya berpikir kapan lagi bisa jalan-jalan dengan pakaian santai jika tidak sekarang pas lagi jadi pengacara.
Mereka berdua menggunakan mobil Pingkan menuju mal XX yang tidak jauh dari tempat kost Sisil.
*
*
bersambung....
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=