
Johan disibukkan dengan pemeriksaan keuangan nya. Dia sangat teliti jika memeriksa laporan keuangan.
Seorang wanita setengah baya dengan pakaian sederhana, rapih dan tampak cantik dan anggun berjalan memasuki kantor Pratama group.
Pak satpam menunduk dan mengangguk hormat karena dia sangat mengenal wanita itu. Demikian juga dengan para receptionist tersenyum dan mengangguk hormat.
Wanita paruh baya itu langsung menuju lift yang bisa langsung menuju lantai paling atas.
Begitu sampai di lantai delapan, pintu lift pun terbuka dan wanita paruh baya itu berjalan keluar lift dan melangkah dengan anggun menuju ruangan Johan.
"Eh... Tante! Apa kabar, Tan? " sapa Danu yang mendadak keluar dari ruangan nya dan melihat wanita anggun itu.
"Baik, Danu! Johan ada di ruangan nya? " jawab dan tanya wanita anggun itu bersamaan.
"Ada, Tan! " jawab Danu singkat.
Tanpa bertanya lagi dan tanpa berbicara lagi wanita paruh baya yang anggun itupun langsung berjalan lagi menuju ruangan Johan.
Wanita itu mengetuk pintu ruangan Johan dan tanpa nenunggu suruhan dari dalam, wanita itu lansung membuka pintu dan masuk ke dalam.
Johan yang tengah serius memeriksa laporan keuangan pun tersentak kaget begitu mendengar pintu terbuka.
Lebih kaget lagi Johan melihat Mama nya berjalan masuk ke dalam ruangan nya.
Bu Wiwid melangkah masuk ke dalam ruangan Johan dengan langkah anggun nya. Dia langsung menghampiri Johan.
"Aduuhhh......! Sakit, Ma! " teriak Johan ketika telinga nya langsung dijewer oleh Mama nya.
"Oh begini ya.... punya anak laki pulang gak bilang-bilang! Main selonong aja! " maki Bu Wiwid yang kesal anaknya pulang gak ada setor muka ke rumah nya.
"Ampun, Ma! Sakit, Ma! " teriak Johan minta ampun pada Mama nya.
"Kenapa pulang gak kasih kabar Mama sama Papa? Kenapa gak pulang ke rumah, hah?!" kesal Bu Wiwid yang masih menjewer telinga Johan.
"Lepas dulu, Ma! Sakit! Nanti Johan jelasin! " rengek Johan pada Mama nya.
Akhirnya Bu Wiwid melepaskan jeweran nya. Tapi wajahnya masih tampak kesal.
"Mama gak pernah ngajarin begitu ya! Coba jelasin pada Mama! " kesal Bu Wiwid menyambung ocehan nya.
__ADS_1
"Iya, Ma! Sini...... Mama duduk dulu! " ujar Johan sambil menarik tangan Mama nya untuk duduk di sofa.
Setelah Mama nya duduk, Johan pun ikut duduk di samping Mama nya.
"Maafin Johan ya, Ma! Johan pulang gak kasih kabar sebab mendadak, Ma! Disana kerjaan Johan selesai sebelum waktunya, jadi Johan langsung pulang. Dan juga Johan mau kasih kejutan buat seseorang, Ma! " terang Johan panjang lebar pada Mama nya.
"Mau kasih kejutan buat siapa? " tanya Bu Wiwid penuh selidik menatap anak nya.
"Ada deh! Nanti Johan kenalin sama Mama! " senyum Johan tersungging di bibirnya.
Pintu ruangan Johan diketuk dan dibuka, lalu masuklah Sisil ke dalam ruangan Johan dengan membawa dua amplop coklat besar.
"Ada kiriman paket buat Bapak! Saya letakkan di meja ya, Pak! " ucap Sisil sembari dengan sigap meletakkan dua amplop coklat besar itu diatas meja kerja Johan.
Sisil tidak terlalu memperhatikan Bu Wiwid yang sedari Sisil masuk terus memandang nya.
"Kamu Sisil kan? " tanya Bu Wiwid ketika melihat Sisil sudah mau pamit keluar.
"Iya, betul! " jawab Sisil langsung menengok ke arah yang menyebut namanya. Dalam sekejap mata Sisil langsung berbinar.
"Eh Tante Wiwid! Apa kabar nya, Tan? Maafin Sisil ya.... tadi pas masuk Sisil gak merhatiin ada Tante disini! " ucap Sisil dengan ramahnya. Dia langsung menyalami Bu Wiwid.
Johan hanya bisa diam menatap kedua orang yang disayanginya sedang berinteraksi. Dia tidak menyangka Mama nya sudah mengenal Sisil.
Sisil pun mengangguk dan langsung duduk di sebelah Bu Wiwid.
"Tante sudah lama disini? Ada perlu sama Pak Johan, ya Tan? Atau ada yang bisa Sisil bantu, Tan? " tanya Sisil pada Bu Wiwid. Dia tidak mengetahui kalau Bu Wiwid ini Mama nya Johan.
"Kamu kerja disini, Sil? " tanya Bu Wiwid tidak menghiraukan pertanyaan Sisil.
"Iya, Tan! Baru mau tiga bulan, Tan! " jawab Sisil dengan tersenyum.
"Bagaimana bos nya disini? Baik gak? Kamu kerasan gak kerja disini, Sil? " tanya Bu Wiwid dengan banyak pertanyaan. Sisil tersenyum.
"Kerasan kok, Tante! Bos nya juga baik kok, Tan! " ucap Sisil berusaha meyakinkan Bu Wiwid.
"Kalau bos kamu jahat sama kamu atau semena-mena sama kamu, bilang sama Tante ya, Sil! " ultimatum Bu Wiwid.
"Apa-apaan sih, Ma! Ini kantor lho, Mama! Jadi jangan bawa urusan pribadi di kantor! " tegur Johan pada Mama nya.
__ADS_1
Alangkah kagetnya Sisil mendengar Johan memanggil Bu Wiwid dengan sebutan Mama.
"Eh..... maaf, Tan! Saya gak tahu kalau Tante Wiwid tuh Mama nya Pak Johan! " sesal Sisil yang baru mengetahui nya.
Bu Wiwid tertawa, demikian juga Johan tampak tersenyum. Tingkah Sisil begini ini yang membuat gemas Johan. Ingin rasanya mencium Sisil saking gemas nya.
"Yuk kita makan siang, Sil! " ajak Bu Wiwid pada Sisil. Sisil bingung menjawabnya, mau menolak rasanya tidak enak hati.
"Han, Mama pinjam sekretaris kamu sebentar ya! " ijin Bu Wiwid pada Johan. Bu Wiwid tahu pasti Sisil merasa tidak enak untuk minta ijin pada Johan.
"Iya, silakan Ma! Nanti balikin nya utuh ya, Ma! " ledek Johan pada Mama nya yang sudah mesem-mesem gak jelas.
"Saya minta ijin keluar sebentar ya, Pak! " ijin Sisil yang sekaligus berpamitan pada Johan.
"Oke, Sil! Hati-hati ya... " jawab Johan sambil menatap Sisil dan tersenyum.
Bu Wiwid menatap anaknya sebentar. Ternyata Bu Wiwid menangkap sinyal-sinyal perhatian yang diberikan anaknya pada Sisil.
Lalu tanpa segan Bu Wiwid langsung menggandeng tangan Sisil untuk berjalan dan pergi bersama nya.
Johan memandang kepergian Mama nya dan Sisil, keduanya adalah wanita yang disayang dan dicintainya. Dia tidak menyangka jika Mama nya dan Sisil sudah saling kenal.
Danu mengetuk pintu ruangan Johan dan masuk ke dalam. Dia duduk di sofa menunggu Johan menyelesaikan beres-beres nya.
"Nyokap lu udah pulang, Han? " tanya Danu sambil duduk menunggu Johan beres-beres.
"Pergi makan sama Sisil, Dan! " sahut Johan singkat.
"Wah..... udah kenal sama calon mantu rupanya! " ledek Danu sambil diikuti dengan tawa nya.
Johan cuma geleng-geleng kepala saja melihat Danu yang suka iseng ngeledek.
Selesai beres-beres Johan dan Danu langsung berjalan beriringan menuju lift, kemudian turun langsung ke bawah.
Mereka berdua menuju parkiran mobil, dan Johan memberikan kunci mobilnya pada Danu.
*
*
__ADS_1
bersambung.....
_______________________________________