
Canada.
Johan nampak termenung. Ditatap nya langit yang tampak berbintang. Salah satu bintang tampak lebih terang sinarnya dibandingkan yang lainnya.
Bintang terang itu mengingatkan Johan pada sosok Sisil, gadis yang telah mencuri hatinya.
Setelah bertahun-tahun menjomblo, akhirnya Johan bisa melabuhkan hatinya pada Sisil.
Johan sendiri tidak menyadari akan ketertarikan dirinya terhadap Sisil. Tapi takdir berkata lain, banyak dalam event-event tidak terduga dia bisa bertemu Sisil. Meskipun waktu bertemu nya boleh dikatakan tidak tepat.
Terbayang dalam benak Johan pertama kalinya dia bertemu dan melihat Sisil di bank tempatnya bekerja.
Kesan awal Sisil adalah gadis yang cuek dan rajin bekerja. Tapi setelah makin mengenalnya ternyata Sisil hangat dan perhatian. Dan satu hal yang Johan sangat mengetahui dengan pasti tentang Sisil adalah diluar tampak tangguh tapi sebenarnya rapuh.
Makanya Johan sangat menyayangi Sisil dan selalu ingin menjadi orang yang terbaik untuk Sisil. Walaupun sebagai manusia gak bisa seratus persen tapi Johan tetap berusaha yang terbaik untuk Sisil.
Angin berhembus perlahan tapi cukup membuat Johan sedikit kedinginan.
Dikarenakan udara yang mulai dingin, membuat halunya Johan terputus. Dia menutup jendela kamarnya. Tapi tetap duduk di dekat jendela menghadap keluar.
Kakaknya ada kemungkinan sudah tidur.
Johan menghela nafas nya. Betapa ingin dia melihat kakaknya, Caitlyn bahagia. Johan tidak mau kakaknya kesepian. Dia ingin kakaknya mempunyai pendamping hidup yang menyayanginya, perhatian dan bertanggungjawab.
Johan tidak yakin dengan Scott.
"Seandainya kak Caitlyn mau membuka hati dan menerima Prinanto... " gumam Johan dalam hatinya. Dia yakin Prinanto adalah sosok pria dewasa yang bisa membahagiakan, menyayangi kakaknya juga bertanggungjawab.
Kembali Johan menghela nafas nya. Kelamnya malam diterangi sinar bintang dengan hawa yang dingin. Johan kembali membayangkan Sisil.
Johan membayangkan senyum manis Sisil dengan bibirnya yang merah dan mungil.
"Sedang apa ya Sisil di sana? " tanya Johan dalam hatinya.
Johan menyayangkan kedekatan nya dengan Sisil yang baru terjalin tapi harus berpisah dulu selama enam bulan.
Johan berinisiatif jika pulang ke Indonesia nanti, dia akan menghabiskan waktu bersama Sisil. Apalagi sekarang Sisil telah bekerja di kantor nya.
"Oiya, sekarang dia sudah kerja di kantor ku! Bagus! Tapi apakah dia tahu ya kalau itu kantor ku? " ucap Johan dan bertanya sendiri di dalam hatinya.
"Semoga saja Sisil tidak tahu, jadi nanti aku bisa kasih kejutan ke dia! " doa dan rencana Johan dalam hatinya. Johan tersenyum-senyum sendiri membayangkan hal yang masih dalam rencananya.
__ADS_1
**
**
Kalau Johan yang berada nun jauh di sana sedang rindu. Di sini pun juga sama, seorang gadis yang nampak bete sedang mengaduk-aduk minuman yang berada di hadapan nya.
Jam makan siang, Sisil dan Winda makan siang bersama di kantin kecil yang terletak di belakang gedung kantor.
Kantin kecil ini memang sengaja dipersiapkan untuk karyawan Pratama group untuk memudahkan dalam mencari makanan.
Sisil mengaduk-aduk lemon tea nya. Hatinya dari semalam sedang gundah gulana. Semalam dia tidak bisa tidur dikarenakan benaknya dipenuhi dengan Johan.
Sisil sangat rindu dengan Johan. Rasanya rindu nya itu mungkin sudah sampai ke ubun-ubun. Menjelang subuh Sisil baru bisa tertidur pulas.
"Kamu kenapa? " tanya Winda menatap Sisil. Karena Winda melihat Sisil dari pagi tidak bergairah dalam bekerja, juga siang ini pas makan siang. Entah sudah berapa lama itu gelas diaduk-aduk terus.
"Gapapa, mbak Winda! " jawab Sisil menatap gelasnya.
"Apa yang gapapa?! Wong kamu hari ini seperti gak ada tulang gitu! " ledek Winda. Ledekan Winda membuat senyum tersungging di bibir Sisil. Sisil merasa lucu dengan ledekan Winda terhadap dirinya.
"Kalau aku gak ada tulang, aku gak bisa duduk dong Mbak! " sahut Sisil diiringi tawa nya. Winda pun ikut tertawa.
"Ayo cerita sama Mbak, kamu kenapa lesu begini? " tanya Winda kembali yang penasaran.
"Putus sama pacar? " cecar Winda lagi dengan pertanyaan.
Sisil menggelengkan kepala nya. Agak sedikit ragu untuk Sisil bercerita pada Mbak Winda.
"Ayolah cerita! Aku janji gak akan cerita-cerita lagi! Rahasia! " ucap Mbak Winda seakan mengetahui kekhawatiran Sisil.
"Aku bukannya putus, Mbak! Tapi aku lagi kangen banget! " akhirnya Sisil memberitahu Mbak Winda.
"Kangen?! Emangnya pacar kamu kemana? Jadi ini pacaran jarak jauh, Sil?! " tanya Mbak Winda yang langsung mencecar dengan banyak pertanyaan.
"Gak juga sih, Mbak! Rasanya kurang cocok deh kalau dibilang pacaran jarak jauh! Cuma ditinggal karena kerjaan saja, Mbak! " ucap Sisil meralat omongan Mbak Winda.
"Lama ya? " tanya Winda lagi.
"Lumayan sih, Mbak! Enam bulanan kurang lebih! " jawab Sisil tersenyum.
"Itu sih bukannya lumayan lagi, Sil! Lama itu mah! Tapi ada komunikasi dong ya?! " tanya Mbak Winda yang semakin ingin tahu.
__ADS_1
"Gak ada, Mbak! " jawab Sisil dengan menunduk.
"Lho?! Jadi selama pergi ini gak ada komunikasi? Kamu percaya sama dia?! " tekan Mbak Winda dalam pertanyaan nya.
"Dia janji akan balik secepatnya, Mbak! " jawab Sisil lagi.
"Kamu percaya? Dia gak akan mengingkari janjinya?! " tanya Mbak Winda menegaskan. Gemes juga melihat Sisil yang terlalu percaya.
"Aku percaya, Mbak! " jawab Sisil yakin.
"Semoga keyakinanmu beralasan! Dan lelaki itu memang patut di percaya! " tegas Mbak Winda yang masih gemes dengan sikap Sisil.
"Amin! Makasih, Mbak! " jawab Sisil dengan tersenyum.
"Bukan apa-apa, Sil! Jaman sekarang lelaki itu jarang mulutnya yang bisa di percaya! Apalagi berjauhan begini! " terang Mbak Winda gamblang.
"Aku bukan nakut-nakuti ya, Sil! Banyak kejadian hubungan jarak jauh yang selingkuh! Yang dekat aja bisa selingkuh, apalagi yang jauh! Logikanya kan begitu! " terang Mbak Winda menatap manik mata Sisil
"Iya sih, Mbak! Sebenarnya aku juga takut! Apalagi di luar negri kan bebas! Semoga saja memang dia dapat dipercaya! ' ucap Sisil berharap keyakinan nya memang sesuatu yang bisa dipertanggung jawabkan.
" Semoga ya, Sil! " Mbak Winda mengamini perkataan Sisil.
"Jam istirahat sudah mau habis! Yuk kita balik, pekerjaan sudah menanti! " lanjut Mbak Winda yang kaget sehabis melihat jam tangan nya.
"Gak terasa ya! " ucap Sisil dengan senyuman manis nya.
"Iya, waktu berlalu sangat cepat! Lama-lama kita bisa cepat tua nih! " gumam Mbak Winda pelan hampir tak terdengar.
Setelah membayar semua makan nya, Mbak Winda dan Sisil berjalan masuk menuju lantai delapan dengan lift yang sudah ditentukan.
Sesampainya di lantai delapan, pintu lift pun terbuka. Mereka berdua keluar dari lift menuju ruangan sekretaris.
Pekerjaan sudah menanti. Mereka mau mengatur rapat bulanan yang akan disiapkan untuk bulan depan.
*
*
bersambung.....
_______________________________________
__ADS_1