
Di Hotel C.
Hari perjamuan makan tiba. Lalita dan Armand menyambut kedatangan Johan. Mereka membawa Johan ke restauran di dalam hotel itu yang sudah di reservasi.
Tempat sudah disediakan untuk mereka bertiga. Pelayan restaurant menyambut mereka dan mengantarkan mereka ke meja nya.
Johan duduk berhadapan dengan Lalita dan Armand. Meja dihias dengan nuansa romantis.
Lalita pamit sebentar untuk mengontrol dapur. Kesempatan ini digunakan Lalita untuk memberikan sebuah botol kecil kepada seorang pelayan pria di dalam dapur.
Tindak-tanduk Lalita dengan pelayan pria itu tak luput dari pengamatan seorang pelayan wanita yang sudah dimintai pertolongan nya untuk bekerja sama dengan Johan dan Danu.
Lalita memberikan sebuah botol kecil dengan sembunyi-sembunyi, kemudian membisikkan sesuatu ke telinga pelayan pria itu.
Setelah selesai Lalita buru-buru balik ke meja restauran dimana Johan dan Armand tampak sedang berbincang.
Lalita kembali duduk dan ikut terbawa dalam obrolan dengan Armand dan Johan.
*
*
Di dalam dapur, pelayan wanita yang mau bekerja sama itu tetap mengawasi dari jarak tidak terlalu jauh.
Minuman sudah disiapkan di atas nampan. Pelayan pria suruhan Lalita itu melihat kiri kanan dan aman. Buru-buru dia mengeluarkan sebuah botol kecil dan membuka tutupnya.
Pelayan itu memberikan dua tetes pada gelas yang posisi nya paling pertama. Setelah itu dia menyimpan botol kecil itu dalam saku celana nya dan mencuci tangan.
Kemudian pelayan pria itu pergi meninggalkan dapur. Buru-buru pelayan wanita yang mau bekerja sama itu menukar gelas nya dengan yang kedua.
Pelayan wanita itu langsung keluar dari dapur dan berpura-pura seperti tidak ada apa-apa.
Pelayan pria yang tadi keluar, akhir nya masuk kembali ke dapur. Bersiap untuk mengantarkan minuman.
*
*
Di meja reservasi tampak beberapa hidangan sudah tersaji. Lalita dan Armand mempersilahkan Johan untuk mulai menyantap makanan tersebut.
Pelayan pria yang membawa minuman segera menghidangkan minuman nya. Gelas pertama diberikan pada Johan, gelas kedua pada pak Armand dan gelas ketiga untuk Lalita.
Lalita tersenyum pada pelayan pria itu. Seakan mengucapkan terimakasih dengan senyumnya.
Johan pun menyantap makanan yang telah dihidangkan. Diikuti Lalita dan Armand.
"Masakan restauran nya enak! " ucap Johan sambil membersihkan mulutnya.
Armand tersenyum nenanggapinya. Dia menengguk minumannya.
Johan pun seraya meminum minuman yang sudah tersedia.
Lalita yang melihat Johan sudah meminum minuman tersebut, bersorak dalam hatinya.
"Semoga cepat bereaksi! " doa Lila dalam hatinya.
Pak Armand kembali menengguk minumannya lagi sampai habis.
Johan memandang pak Armand dan melihat mulai ada sedikit gejala yang timbul.
__ADS_1
Lalita tidak menyadari jika minuman yang sudah diberikan itu sudah ditukar.
Sedangkan pak Armand mulai merasa badannya gerah. Dia membuka kancing bajunya yang bagian atas sehingga menampakkan dadanya.
Kemudian pak Armand memanggil pelayan untuk menurunkan suhu ruangan karena dia merasakan kurang dingin.
Johan tersenyum melihat pak Armand sudah bereaksi.
Lalita menelan ludahnya melihat pak Armand membuka kancing kemejanya sehingga menampakkan dadanya yang kekar dan sedikit berbulu.
"Bapak kenapa? " tanya Lalita sambil memegang tangan pak Armand. Lalita yang gampang tergoda pun tidak lepas pandangannya dari dada berbulu itu.
Armand yang sudah mulai bereaksi matanya memandang Lalita dengan mata memerah. Mata yang memancarkan birahi.
Dihentakkannya tangan Lalita sehingga badan Lalita jadi condong ke dada Armand.
"Aahkk bu Lalita..... " ucap pak Armand dengan *******.
Dirangkulnya bahu Lalita. Sementara Lalita seakan baru tersentak dalam pikiran nya.
"Kenapa jadi pak Armand yang seperti ini? " geram Lalita dalam hatinya. Dilihatnya Johan tersenyum kearahnya.
"Sial!! " rutuk Lalita dalam hatinya.
Lalita berusaha melepaskan diri dari pelukan pak Armand. Tapi Armand malah mempererat pelukannya.
"Ayolah bu Lalita...... jangan jual mahal!! " ucap Pak Armand yang sudah mulai ngaco.
Pak Armand merasakan badannya panas sekali dan libidonya tinggi. Rasanya ingin dia ******* bibir tipis yang ada di hadapan nya.
Kembali Armand nempererat pelukan nya pada tubuh Lalita. Dia merasakan kehangatan, apalagi dia merasakan sesuatu yang kenyal menempel di dadanya.
Johan yang melihat hal itu langsung mengambil tindakan.
"Bawalah bu Lalita ke kamar 201. Dia jadi milikmu, pak Armand! " ucap Johan di telinga pak Armand.
Armand yang sudah dipenuhi dengan libido yang tinggi, tanpa pikir panjang lagi dia menarik Lalita dan menggendongnya masuk ke arah lift.
Lalita tidak bisa menolaknya karena kekuatan Armand melebihi dari biasanya. Semuanya karena pengaruh obat perangsang yang salah sasaran.
Johan tertawa kecil melihat kejadian di depan matanya.
Johan sudah memperkirakan hal ini dan sudah membooking kamar untuk persiapan.
Lalita yang ingin menjebak nya malah jadi terjebak sendiri.
Armand menggendong Lalita memasuki kamar 201 di lantai dua. Diletakkan nya tubuh Lalita yang sangat menggoda itu di ranjang.
Lalita yang sudah merasakan kepalang tanggung, akhirnya mengambil keputusan untuk melayani libido Armand yang tinggi.
*
*
Drrttt...... drrtttt......
Hape Johan berbunyi.
"Han.... lu dimana? Sisil diculik!! " teriak Danu di telpon begitu diangkat Johan.
__ADS_1
"What!! " pekik Johan kaget.
Belum kaget nya hilang, Tiba-tiba hapenya bergetar menandakan ada message masuk.
"Kak Johan, Sisil diculik. Tolong Sisil!! " inilah isi message yang dikirim Pingkan.
Johan buru-buru pergi dari restauran Hotel C menuju parkiran mobil. Dia menyalakan mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi ke markas.
*
*
Mobil yang dikemudikan oleh si botak membawa tubuh Sisil yang terkulai lemas tak berdaya.
Sisil masih belum siuman dari pengaruh obat biusnya.
Si tegap gondrong memberikan instruksi jalan mana saja yang harus ditempuh.
Matahari sudah tertutup awan. Sepanjang perjalanan mulai terasa gelap. Mereka menuju arah luar kota. Menghindari keramaian.
Akhirnya mereka memasuki pekarangan yang luas. Dimana sekitar nya adalah hutan dan kegelapan.
Dua mobil akhirnya berhenti. Si tegap menggendong tubuh Sisil yang masih tak sadarkan diri.
Disana hanya terdapat satu bangunan tua yang sudah usang dan terbuat hanya dari batu.
Mereka berdua membawa tubuh Sisil masuk ke dalam bangunan itu.
Di dalam sana terdapat satu buah ranjang ukuran kecil yang sudah usang. Ditemani lampu yang samar-samar kekuningan.
Dibaringkan tubuh Sisil disana. Diikat kedua tangannya ke kiri dan kanan. Kakinya juga diikat ke kiri dan kanan. Persis layaknya seperti orang di pasung.
Si tegap gondrong dan si botak menelan air liur mereka.
Mereka manusia normal yang melihat mangsa tidak berdaya tapi malah menimbulkan sensasi.
"Bening banget.... ckckckck....!! " ucap si botak sambil menelan air liurnya.
"Bisa aja si bos dapet bening gini!! " kekeh si botak lagi.
Si tegap gondrong memukul kepala si botak.
Mereka berdua duduk bersiap untuk menelpon seseorang.
Sementara anak buahnya yang lain berjaga diluar.
*
*
bersambung....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa komentar, like dan vote nya ya teman-teman 🙏🏻
Terimakasih buat teman-teman yang sudah mendukung dari awal sampai sekarang... dukungan kalian sangat berarti buatku 🤗😘
Luv u all... 🤗😘💞❤
__ADS_1