Gadis Yang Terbuang

Gadis Yang Terbuang
Bab 60. Gadis yang terbuang


__ADS_3

Ridwan hanya bisa duduk diam. Caroline kalau sudah senio, sudah seperti orang gila. Susah diatasi. Ridwan menunggu polisi datang, mungkin ini jalan yang terbaik.


Tak lama berselang, seorang lelaki tegap datang tapi tidak memakai baju dinasnya. Hanya memakai kemeja dan celana panjang saja.


"Saya Frans. Saya polisi yang disuruh datang kesini! " ucap Frans memperkenalkan dirinya.


"Sekarang permasalahan nya apa? " tanya Frans pada Tante Caroline. Kemudian Tante Caroline bercerita jika dia sudah ditampar Sisil, dan mau Sisil ditangkap.


Pak Frans manggut-manggut tanda mengerti. Dia sebagai seorang polisi yang sudah berpengalaman dan sudah banyak permasalahan keluarga yang ditolong olehnya.


Pak Frans kemudian menjelaskan kepada Tante Caroline hal-hal apa saja yang bisa membuat seseorang itu di tangkap dan di penjara.


Tapi yang namanya Tante Caroline yang punya sedikit kelainan jika sudah marah atau senio nya kambuh, biar dijelaskan sedemikian rupa pun tetap pendirian nya kekeh. Dia tetap ngotot supaya Sisil di tangkap dan di penjara.


Rasanya Pak Frans mesti punya panjang sabar menghadapi orang seperti Tante Caroline.


Pak Frans yang masih bersabar kembali memberikan penjelasan pada Tante Caroline.


"Jadi orang yang bisa di tangkap dan di penjara adalah orang yang melakukan tindakan kekerasan dan menimbulkan akibat seperti misalnya berdarah atau yang kena pukulan itu berdarah sehingga menimbulkan efek samping, tangan atau kaki patah, gegar otak, dll sebagainya. " jelas Pak Frans panjang lebar.


"Apakah Tante sewaktu ditampar pipi nya berdarah? Ada gigi yang copot? Atau mulut Tante berdarah? " tanya Pak Frans menatap tajam ke arah Tante Caroline.


"Gak ada yang berdarah! Pokoknya saya di tampar. Saya gak suka! Saya pengen dia di tangkap! " ucap Tante Caroline yang tetap kekeh dengan argumen nya sambil matanya menatap Sisil tajam yang sedang duduk di ruang tengah.


Di ruang tengah ini semua berkumpul. Sisil, Ridwan, Tante Caroline dan Pak Frans. Di ruang tamu ada Pak RT dan sekretaris RT yang ikut mendengarkan.


Sebagai Pak RT di lingkungan rumah itu, dia sudah banyak mendengar tentang Caroline ini yang terang-terang an menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap anak sambung nya, Sisil.


"Jadi ini sebenarnya adalah masalah keluarga ya Tante, jadi harus dipecahkan secara kekeluargaan juga! " lanjut Pak Frans memberi penjelasan.


"Saya gak mau kekeluargaan! Saya maunya dia di tangkap dan di penjara! " auban Tante Caroline dengan geram nya. Rupanya dia masih tidak terima dengan perlakuan Sisil. Tapi dia sendiri tidak mau berkaca atau mawas diri kenapa hal itu sampai terjadi.


Pak Frans menghela nafasnya kasar. Dia minta jeda waktu untuk rileks sejenak. Sekaligus untuk merokok di depan.


"Pak Frans, mohon maaf. Kita selesaikan secara kekeluargaan saja Pak! " Ridwan angkat bicara. Dia sudah pusing dengan semua yang terjadi.

__ADS_1


"Caroline sayang, kita selesaikan secara kekeluargaan ya! " ucap Ridwan lembut pada Caroline. Tampak Caroline mulai tenang.


"Begini saja! Untuk baiknya, Sisil pergilah dari rumah ini! Biar Papa dan Tante bisa tenang dalam membina keluarga. " ucap Ridwan pada Sisil.


Sisil yang mendengar ini seperti di sambar geledek.


"Apa Sisil gak salah dengar, Pa? Papa ngusir Sisil? " tanya Sisil setengah berteriak seakan gak percaya dengan perkataan Papa nya.


"Iya, Sisil! Papa gak bermaksud ngusir, tapi mohonlah pengertian Sisil! Rumah ini jadi tidak tenang karena kalian berdua selalu ribut! " tutur Ridwan memberi penjelasan pada Sisil dengan berat hati.


"Baik! Sisil mengerti! Sisil akan pergi dari rumah ini malam ini juga! " sahut Sisil tegas.


Hati Sisil bergejolak antara marah, sedih dan kecewa. Dilihatnya Tante Caroline tersenyum tipis dengan keputusan Ridwan. Hal inilah yang sangat diharapkan nya akhirnya keberuntungan berpihak padanya.


Sisil bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah bagasi. Dia berpapasan dengan Pak RT dan sekretaris nya di luar. Mereka meminta maaf gak bisa membantu banyak sebab ini masalah keluarga. Sisil mengerti. Pak RT dan sekretaris nya pamit pulang.


Pak Frans pun ikut meminta maaf. Dia sangat kecewa dengan Tante Caroline yang benar-benar auban. Sudah tidak mau tahu mana yang benar dan salah. Tetap dengan pendirian salahnya yang egois.


Sisil sama sekali tidak menyalahkan Pak Frans. Dia sudah banyak membantu dengan memberikan penjelasan pada Tante Caroline.


Menang dasar Tante Caroline nya aja yang tidak mau terima pendapat orang lain, ego nya terlalu besar.


Selama membereskan baju-baju, hati Sisil begitu sedih. Sedih sekali. Dikuatkan hatinya agar tidak menangis di rumah ini.


Sisil memasukkan baju dan keperluan nya dalam koper. Kemudian dia membawa koper itu masuk ke dalam bagasi mobilnya.


Sisil masuk lagi ke dalam rumah. Dia mengunci pintu kamarnya. Dan memasukkan kuncinya dalam tas nya.


"Nanti Sisil balik lagi untuk ambil baju dan barang-barang Sisil, Pa! Sisil pergi dulu! " ucap Sisil pada Papa nya dengan mata berkaca-kaca. Dia menahan air matanya supaya tidak keluar.


Ridwan memandang anaknya dengan sedih dan pilu. Dia juga tidak bermaksud mengusir Sisil tapi gak ada jalan lain.


Sisil memandang pada Tante Caroline yang berdiri tidak jauh dari Papa nya duduk.


"Puas kamu, Tante?! Sudah bisa ngusir saya, puas?!! Ini kan yang Tante mau!! " maki Sisil sebelum dia pergi melangkah kan kakinya.

__ADS_1


"Pergi sana! Anak kurang ajar! " maki Tante Caroline kasar.


"Bilang ya sama antek-anteknya nya Tante itu! Yang maki-maki saya di telpon! Jadi laki jangan pengecut! Bisanya maki-maki di telpon! Maki-maki perempuan lagi, gak tau malu! " Sisil kembali memberikan ultimatum terakhirnya pada Tante Caroline karena rasa kesal dan amarahnya yang belum reda.


"Udah sana pergi! Berisik! " teriak Tante Caroline kesal.


Sisil melangkah kan kakinya menuju garasi mobilnya. Masuk ke dalam mobil, duduk di belakang kemudi. Dia mengeluarkan mobilnya dari garasi. Dia pamit pada Pak Frans yang masih berdiri menunggu dirinya.


Sisil mulai melajukan mobilnya perlahan. Airmata nya sudah tak dapat dibendungnya. Sisil menangis sambil mengemudikan mobilnya.


Hatinya hancur, sedih dan perih. Dia harus meninggalkan Papa nya yang sudah tega menyuruhnya pergi. Papa yang disayanginya. Papa yang sedari dia kecil selalu memanjakan nya, menjaganya, dan mengajarkan segala hal. Sekarang dia menjadi gadis yang terbuang. Gadis yang diusir oleh Papa nya sendiri.


Sisil teramat kecewa terhadap Papa nya. Yang sudah tega mengusir anaknya. Anak satu-satunya. Sisil menangis terisak-isak. Sakit hatinya dengan semua yang di terima nya.


Sisil tidak punya arah tujuan. Dia bingung harus pergi kemana. Mana sudah larut malam, sudah jam sepuluh malam.


Akhirnya Sisil memutuskan untuk pergi ke rumah Pingkan. Satu-satunya yang bisa Sisil minta tolong.


*


*


bersambung.....


_______________________________________


Author :


Kita sebagai orangtua, jangan memberikan rasa kecewa dan sakit hati terhadap anak. Sayangi anak kita sepenuh hati, didik dengan baik karena mereka titipan dari Allah 🙏🏻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa komentar, like dan vote nya yaa bestie 🙏🏻 Dukung terus karya receh mommy ya bestie...


Terimakasih buat teman-teman yang sudah mendukung dan selalu mendukung karya mommy🙏 Dukungan teman-teman sangat berarti buat mommy 🤗

__ADS_1


Luv u all 😘😍❤💞


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2