Gadis Yang Terbuang

Gadis Yang Terbuang
Bab 92. Kesiapan Sisil


__ADS_3

Pagi menjelang. Suara burung ramai berkicau menyambut pagi hari yang cerah.


Johan yang sudah bangun dari subuh, tidak dapat tidur kembali.


Dia mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Tapi yang pasti dia akan mampir ke tempat kost Sisil untuk menjemputnya.


Johan keluar dari kamarnya. Di dapati nya ruangan keluarga masih kosong dan ruang makan juga belum tersedia makanan.


"Pagi, Han! Kamu sudah mau ke kantor? Apa ini gak terlalu pagi? " sapa dan tegur Mama Wiwid yang lagi sibuk bolak balik ruang makan dan dapur.


"Iya, Ma! Mau jemput Sisil dulu sebelum ke kantor! " sahut Johan yang sudah duduk di bangku meja makan.


Johan mengambil roti selai coklat yang baru saja dibuat oleh Mama nya dan diletakkan di atas meja makan. Teh hangat manis menjadi minuman nya setiap pagi baik di kantor ataupun di rumah.


"Bawa ini, Han! Kasih ke Sisil ya! " ucap Mama Wiwid memberikan kotak makanan yang berisi roti selai coklat sebanyak dua tangkap.


"Kamu kalau mau lagi, makan aja Han! Ini Mama masukin dua tangkap! " lanjut Mama Wiwid memberitahu Johan.


"Makasih, Ma! " ujar Johan dengan mulut yang masih mengunyah roti.


Johan makan roti sembari menulis dan mengirim message pada Sisil, memberitahu jika nanti dia akan menjemputnya.


Johan meminum teh manis hangat nya yang sudah disediakan Mama nya.


Setelah selesai dengan rutinitas pagi nya, Johan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.


Johan bergegas mengambil kantong plastik yang sudah disiapkan Mama nya dan berjalan menuju parkiran mobil.


Ternyata mobil Papa Herry yang biasa dipakainya masih terparkir di tempat parkir. Mungkin Papa nya agak siang baru pergi ke kantor.


Johan memanaskan mobilnya terlebih dahulu, lalu perlahan menjalankan mobilnya keluar dari parkiran rumahnya.


Dengan di iringi lagu instrumental Johan melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan membelah jalanan di pagi hari yang masih belum terlalu ramai.


**


Sisil yang baru bangun belum lama, tiba-tiba menerima message WA dari Johan yang mengabarkan bahwa dia akan menjemputnya sehabis sarapan.


Dengan cepat Sisil langsung menyambar handuk nya dan mandi lalu bersiap-siap menunggu Johan untuk bersama pergi ke kantor.


Sisil tampak cantik dengan kemeja pink dan rok span nya yang berwarna hitam. Perpaduan warna yang kontras, cocok dengan kulitnya yang putih.


Tak lama berselang hapenya bergetar, Sisil membaca message yang di terima dari Johan bahwa dia sudah menunggu di parkiran.

__ADS_1


Sisil dengan cepat menyambar tas nya, lalu mengunci pintu kamar kost nya dan berjalan ke parkiran mobil.


Terlihat mobil sedan biru sudah menunggu nya. Dengan cepat Sisil membuka pintu mobil dan duduk di depan sebelah kemudi.


Johan tersenyum menyambut kedatangan sang pujaan hatinya yang nampak lebih cantik hari ini.


"Morning, sayang! " sapa Johan dengan mesra. Dan tanpa menunggu jawaban dari Sisil, Johan langsung mencium pipi kanan Sisil dari samping. Sisil yang kaget langsung menolehkan wajahnya ke arah Johan yang disambut dengan kecupan manis di bibir Sisil.


Walaupun cuma sebentar tapi ciuman dadakan itu sempat membuat wajahnya Sisil memerah karena malu. Johan tersenyum melihat nya.


Johan mulai melajukan mobilnya perlahan keluar dari parkiran kost nya Sisil. Dia membawa mobilnya dengan santai karena waktu masih agak pagi.


"Ini sarapan dari Mama! Makanlah! " ujar Johan memberikan kantong plastik yang dibawa nya dari rumah.


Sisil mengambil kantong plastik yang diberikan Johan pada nya. Di dalam nya terdapat tempat makan dari plastik yang berisi roti selai coklat.


"Kak Johan sudah sarapan? " tanya Sisil melihat ke arah Johan yang sedang menyetir.


"Sudah! Kamu makanlah! Mama khusus buatin buat kamu! " jawab Johan sambil tetap fokus menyetir mobil.


"Makasih Kak! Sisil nanti makan di kantor saja! " jawab Sisil dengan senyum manisnya.


"Kenapa gak dimakan sekarang? " tanya Johan kembali.


Johan hampir saja melupakan hal ini jika Sisil tak mengingatkannya.


Johan menghentikan mobil agak jauh sedikit dari kantor nya. Ini dilakukannya atas permintaan Sisil yang merasa belum siap jika orang-orang di kantor tahu hubungan diri nya dengan bos nya.


Sisil keluar dari mobil Johan dan menutup kembali pintu mobil. Johan kembali menjalankan mobilnya hingga tiba di kantor.


Sedangkan Sisil berjalan kaki sampai kantor. Dia merasa aman dengan turun agak jauh dari mobil Johan. Sisil tidak mengetahui jika sepasang mata melihat dirinya keluar dari mobil Johan dan berjalan kaki sampai kantor.


Sesampainya di kantor, Sisil langsung naik lift ke lantai delapan. Tiba di lantai delapan, pintu lift terbuka dan Sisil melangkahkan kakinya keluar dari lift.


Sisil merapihkan mejanya, lalu pergi ke pantry dengan membawa tempat makanan yang berisi roti selai coklat. Sambil makan Sisil membuat teh manis hangat untuk Johan dan berniat untuk mengantarkan ke ruangan Johan.


Dengan tangan membawa nampan yang berisi teh manis hangat, Sisil berhenti di pintu ruangan Johan yang terbuka. Dia mendengar percakapan antara Johan dan Danu.


"Bos nya Lintas Utama ingin bertemu elu, Bro! " ucap Danu yang duduk di sofa ruangan Johan.


"Kan sudah lu handle, bro! Ngapain juga ketemu gua? " sahut Johan yang merasa aneh.


"Masalahnya bos nya itu kenal lu dan tahu lu, bro! " ujar Danu penuh penekanan.

__ADS_1


"Kok bisa? " tanya Johan yang merasa aneh. Ketemu saja tidak pernah tapi kenal dan tahu.


"Bisalah, bro! Wong dia mantan lu! Audrey Pangestu! " jawab Danu yang sedikit kencang mengucapkan nama seseorang.


Johan terdiam. Dia nampak kaget. Dan tidak menyangka setelah beberapa tahun akan mendengar nama itu kembali.


"Batalkan saja kontrak kerja dengan perusahaan nya! Dan gua gak mau berhubungan lagi dengan dia! Jangan sebut namanya lagi, Danu! " tegas Johan dengan sedikit keras pada Danu.


"Tapi Han, lumayan besar lho jika kita terima perusahaan dia jadi klien kita! " terang Danu yang berusaha menjelaskan.


"Gak perlu! Kita bisa cari perusahaan lain! Lagi pula perusahaan kita gak bergantung sama perusahaan nya! Sudah tahu dari awal itu perusahaan dia, kenapa masih berhubungan Danu? " kesal Johan pada Danu.


"Gua juga baru tahu kemarin pas meeting. Pas lu baru balik kemarin! " terang Danu memberi penjelasan pada Johan yang sudah mulai kesal.


"Batalkan kontrak! Tidak ada kerjasama dengan perusahaan nya! " titah Johan tegas. Tampak aura kemarahan di wajahnya.


Danu tidak membantah lagi omongan dan keputusan Johan. Dia merasa menyesal dalam hatinya. Danu langsung keluar dari ruangan Johan. Dan dia berpapasan dengan Sisil di pintu masuk ruangan Johan.


Sisil mendengar semua pembicaraan Johan dan Danu. Sisil tahu saat ini situasi Johan sedang tidak baik.


Sisil mengetuk pintu dan berjalan masuk ke dalam ruangan Johan. Dia meletakkan segelas teh manis hangat di atas meja kerja Johan.


"Diminum dulu, Kak! Biar segala kekesalan dan kemarahan mereda! " ucap Sisil pada Johan.


Johan tersenyum mendengar ucapan Sisil.


"Lihat wajah kamu saja, kekesalan dan amarah ku langsung reda! " senyum Johan mengembang menatap Sisil yang tersipu malu. Gemas melihatnya.


"Oya, apakah kamu siap untuk bertemu Papa dan Mama, sayang?! " tanya Johan yang hatinya kebat-kebit menunggu jawaban Sisil.


"Siap, Kak! Kapan pun Kakak ajak, Sisil siap, Kak! " jawab Sisil cepat dan mantap. Ternyata ketakutan Johan tak beralasan, Sisil siap bertemu dengan kedua orang tua nya.


"Oke, sayang! Nanti ku atur ya! Makasih ya, sayang! " sahut Johan yang lega dengan jawaban Sisil.


Sisil pun pamit untuk kembali ke ruangannya lagi. Sebab pekerjaan sudah menunggu.


*


*


bersambung.....


_______________________________________

__ADS_1


__ADS_2