
Hari demi hari berlalu cepat. Persiapan pernikahan Johan dan Sisil pun semakin matang.
Tanggal pernikahan mereka sudah ditentukan oleh kedua orang tua Johan. Gedung pernikahan, catering, dekorasi, salon, baju pengantin serta undangan semua sudah di handle oleh wedding organizer yang disewa Mama Wiwid.
Sekarang untuk melangsungkan pernikahan tidak perlu mengurus sendiri, semua bisa lewat wedding organizer. Sampai urusan catatan sipil pun sudah di atur. Tinggal terima beres saja.
Tiba hari ini untuk memilih gaun pengantin bagi pengantin wanita dan jas pengantin untuk pengantin pria nya.
Sisil sehabis mandi sedang bersiap-siap. Dia hanya mengenakan celana panjang jeans dan kaos coklat nya. Beruntung nya kerja di Pratama group yang setiap sabtu libur, jadi libur nya lebih terasa menjadi dua hari yaitu sabtu dan minggu.
Johan sudah sampai di parkiran kost Sisil. Sisil yang menerima message dari Johan langsung menyambar tas nya dan mengunci pintu kamarnya. Sisil bergegas menuju parkiran mobil.
Johan membuka pintu mobil dari dalam dan Sisil langsung naik dan duduk di samping kemudi dimana Johan tersenyum menatap nya.
"Kenapa, Kak? Ada yang salah? " tanya Sisil begitu duduk di dalam mobil Johan.
"Cantik! " ucap Johan singkat masih dengan tersenyum di bibir nya.
"Hah?! Hari ini dibilang cantik! Berarti kemarin-kemarin Sisil gak cantik dong ya? " ledek Sisil yang tertawa menanggapi omongan Johan.
"Siapa bilang? Tiap hari cantik dong! " jawab Johan cepat diiringi tawa nya.
Johan melajukan mobilnya keluar dari parkiran kost Sisil menuju salon yang sudah disewa oleh Mama Wiwid.
Salon yang disewa Mama Wiwid adalah salon yang cukup besar dan sudah punya nama. Sisil sebenarnya merasa risih dengan semua ini, rasanya menurut dirinya ini terlalu berlebihan. Tapi mau dibilang apa, mungkin juga ini karena anak lelaki kesayangan nya yang mau menikah dan anak lelaki satu-satu nya dalam keluarga Pratama.
Johan menggandeng Sisil memasuki salon tersebut. Mereka berdua disambut oleh seorang perempuan paruh baya yang tampak cantik dengan penampilan nya.
"Kenalkan saya Wike, teman Mama kamu! " Tante Wike pemilik salon tersebut mengulurkan tangan pada Johan.
"Saya Johan dan ini Sisil, calon istri saya! " ucap Johan seraya menjabat tangan Tante Wike.
__ADS_1
Tante Wike tersenyum senang memandang keduanya.
"Ganteng dan cantik! " ucap Tante Wike pelan tapi masih terdengar jelas di telinga Johan dan Sisil.
"Yuk... kita ke kamar pas untuk mencoba gaun dan jas mana yang cocok untuk kalian berdua! " ajak Tante Wike pada Johan dan Sisil.
Tante Wike menyerah kan pada asistennya untuk menghandle semua kebutuhan Johan dan Sisil.
Sang asisten membawa Johan dan Sisil ke salah satu ruangan yang lumayan besar. Di dalam nya banyak berjajar gaun-gaun pengantin yang pastinya cantik-cantik modelnya.
"Pak Johan dan Bu Sisil mau gaun dan jas yang masih baru belum pernah dipakai orang atau gaun dan jas yang tangan pertama (maksudnya yang sudah pernah dipakai satu kali)? " Lusi, sang asisten Tante Wike bertanya pada Johan dan Sisil.
"Yang masih baru aja, Mbak! " jawab Johan cepat. Sisil hanya terdiam. Buat Sisil tidak masalah jika ambil yang tangan pertama, tapi Johan mau nya yang baru. Sisil hanya ngikut keinginan calon suami nya.
"Oke.... yuk.... yang wanita masuk ke kamar ini, dan yang pria masuk ke kamar satu nya lagi! " Mbak Lusi memberi instruksi pada Johan dan Sisil. Mereka berdua masuk ke dalam ruangan kecil yang sudah ada dua atau tiga orang yang membantu memasangkan gaun-gaun percobaan di tubuh Sisil dan jas percobaan di tubuh Johan.
Akhirnya setelah empat kali mencoba gaun-gaun pengantin yang berbeda di pakaikan di tubuh Sisil, Johan dan juga Sisil memutuskan untuk memilih gaun pengantin yang nomor tiga, gaun pengantin yang seksi dengan tali satu berkesan sederhana karena hiasan dalam gaun itu dibuat sederhana tapi elegan.
Johan juga sudah memilih jas yang akan dikenakan nya nanti. Mbak Lusi mencatat semuanya ke dalam buku. Bunga tangan juga nanti dari mereka semua, biar sepadan dengan gaun pengantinnya.
"Nanti kita fitting baju dya kali ya! Dua minggu dari sekarang dan satu minggu sebelum pernikahan kalian! " terang Mbak Lusi pada Johan dan Sisil.
"Baik Mbak Lusi, kita dua minggu lagi kesini! " sahut Johan berbarengan dengan Sisil. Mereka berdua saling berpandangan dan kemudian tersenyum.
"Kami pamit dulu, Mbak Lusi! " pamit Johan dan Sisil berbarengan lagi. Kali ini mereka berdua tertawa.
Johan kembali menggandeng tangan Sisil berjalan keluar dari salon. Dan mereka berdua masuk ke dalam mobil.
"Kita makan dulu ya, sayang! Aku lapar banget ini, udah keroncongan! " ucap Johan sambil memegang perutnya.
"Iya, Kak! Sisil juga lapar! Gak nyangka cobain baju pengantin bisa berjam-jam gitu! Pegel jadinya badan Sisil! " keluh Sisil yang baru merasakan percobaan baju pengantin.
__ADS_1
Johan tertawa dan tangan nya mengelus rambut Sisil yang tergerai indah.
"Ini baru percobaan ya, gimana kalau pas hari nya ya! Bisa babak belur dong badan kita! " tawa Johan pecah bersamaan dengan Sisil.
"Mesti minum ginseng kita, Kak! " ujar Sisil di antara tawanya.
Johan masih tertawa pelan, dia melajukan mobil sedan nya ke arah restoran seafood yang berada di kota. Rupanya Johan tahu kesukaan Sisil terhadap seafood dan tahu juga kalau ini adalah restoran favoritnya untuk kumpul bersama teman-teman nya.
Johan mengajak Sisil makan di restoran itu yang sudah tidak terlalu ramai karena sudah lewat jam makan siang.
Selesai makan, Johan mengantar Sisil balik ke tempat kost nya. Malam minggu ini mereka tidak pergi kemana-mana, mau menghabiskan malam ini dengan kesibukan masing-masing. Besok pagi Johan baru menjemput Sisil untuk melihat dan membersihkan apartemen miliknya.
Sisil melambaikan tangan pada Johan yang sudah kembali melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah orang tuanya.
Johan merasakan badan nya letih. Begitu juga Sisil yang merasakan pegal-pegal pada badan nya. Sisil merebahkan badan nya pada ranjang nya di dalam kamar kost nya.
Sisil teringat jika dia belum membuat daftar siapa-siapa saja yang mau di undang dalam pernikahan nya. Lalu Sisil bangun dari rebahan nya, dia mengambil buku catatan untuk membuat daftar nama.
Dimulai dari keluarga, family dekat, family jauh, sahabat-sahabat nya dan teman-temannya. Untuk kali ini dia mencatat dulu semua nama yang diketahui nya, nanti setelah itu baru di periksa lagi.
Sisil merasakan badan nya semakin pegal, maka setelah selesai dia kembali rebahan.
*
*
*
bersambung.....
_______________________________________
__ADS_1