
Malam semakin larut. Sisil yang sudah terbangun tetap memejamkan matanya. Dia males membuka matanya.
Di dalam ruangan yang penerangannya kurang hanya ada si tegap dan si botak saja.
Mereka berdua asyik merokok dan terlihat asyik juga dengan hape masing-masing.
"Si bos sedang menuju sini! " ucap si tegap gondrong pada si botak.
Sisil merasakan pengap, nafasnya agak sedikit tersengal. Hal itu dikarenakan udara di ruangan ini dipenuhi asap rokok.
Sisil pasrah dengan keadaan yang menimpa dirinya. Badannya sudah lemas tak bertenaga.
Rasa lapar yang diperdengarkan perutnya sudah tidak digubris lagi. Dia hanya bisa terbaring lemah tak berdaya.
Entah kapan dia masih bisa melihat matahari?
Entah kapan dia masih bisa melihat orang-orang yang disayang nya.
Sisil hanya bisa bermonolog dengan dirinya sendiri dalam diamnya.
Tap....
Tap...
Tap...
Derap suara sepatu terdengar memecah kesunyian malam. Seseorang berjalan mendekati ruangan ini.
Ceklek!!
Suara pintu terbuka. Terdengar suara sepatu yang semakin mendekat.
"Malem bos! " serentak si tegap gondrong dan si botak memberi salam pada seseorang yang baru masuk ke ruangan itu.
"Hmmm....! " yang dipanggil bos itu berdehem.
Dia berhenti di dekat ranjang, dipandanginya wajah dan tubuh Sisil. Dia menyeringai licik.
"Masih pingsan kah? " tanya si bos.
"Kita kurang tau bos! Dari tadi gak ada pergerakan bos!! " ucap si tegap gondrong menjelaskan kondisi Sisil.
"Byuuurrr.... "
Sisil kembali wajahnya disiram dengan seember air. Dan hal ini membuat nafas Sisil jadi terengah-engah.
Sisil membuka matanya. Dipandanginya wajah orang yang ada di dekatnya.
Deghh!!
Sisil seperti mengenali orang yang memakai masker tersebut.
"Handoko?!! " gumam Sisil dalam hati nya.
Sisil kembali memperhatikan orang tersebut. Apa dia gak salah lihat orang?
"Bagaimana tidurnya? Nyenyak? " tanya Handoko pada Sisil yang sedang menatap nya dalam diam.
"Kamu Handoko??!! " tanya Sisil pelan. Tapi Handoko masih bisa mendengar apa yang Sisil ucapkan.
Handoko tertawa keras. Dia membuka maskernya. Tampaklah serawut wajah yang dulu pernah mengisi hari-hari Sisil.
Sisil benar-benar terkejut begitu dia mengetahui kalau orang tersebut adalah Handoko.
__ADS_1
"Jadi kamu yang melakukan ini semua Han? " tanya Sisil pelan. Dia sudah tidak bisa teriak-teriak lagi sebab suara nya sudah serak dan badan juga sudah tak bertenaga.
Handoko masih tetap tertawa keras. Dia menyalakan rokoknya dan menarik bangku duduk di sebelah ranjang dimana Sisil terbaring.
"Yap betul! ' sahut Handoko.
" Untuk apa Han? Sekarang lepaskan aku, Han!! " pinta Sisil dengan memelas.
"Lepaskan kamu?! No way!! " seloroh Handoko dengan sinisnya.
"Tentu saja untuk balas dendam karena kamu sudah bikin malu saya!! " lanjut Handoko masih dengan nada sinis.
"Bikin malu apa Han? Saya gak pernah bikin malu kamu!! " pekik Sisil yang sudah mulai kesal.
"Gak pernah kamu bilang?! " teriak Handoko tinggi. Timbul rasa takut dihati Sisil.
"Kamu sudah mergoki saya! Kamu sudah menampar saya! Dan kamu sudah membuat asset saya sakit!! " teriak Handoko dengan nada tinggi.
"Tapi itu ulah kamu sendiri, Han! " Sisil berusaha menjelaskan.
Handoko yang memang sudah punya rasa benci terhadap Sisil tidak menggubris lagi yang Sisil bicara kan.
Handoko kesal dan benci terhadap Sisil yang menurutnya sudah mempermalukan dia di depan perempuan.
Handoko merasa harga dirinya terinjak-injak. Ditambah asset nya yang hampir seminggu lebih sakit, dan untungnya tidak patah.
Sisil menghela nafasnya. Dia tidak menyangka jika Handoko akan bertindak sejauh ini.
"Kalian berdua tunggu di depan pintu! " titah Handoko kepada dua orang anak buahnya itu.
"Siap bos! " sahut si tegap gondrong dan si botak berbarengan.
Kemudian kedua anak buahnya itu berjalan dan keluar dari pintu. Mereka berdua menunggu dibalik pintu.
"Lepaskan aku, Han! " lirih Sisil pelan.
Handoko tertawa senang. Dia seakan punya mainan.
"Kau tidak akan kulepaskan! Aku akan kasih yang enak-enak dulu! " tawa Handoko kembali memecahkan kesunyian.
Handoko mengelus kembali wajah cantik Sisil yang basah. Disibakkan anak rambutnya ke belakang telinganya. Dielusnya bibir merah Sisil pelan.
Sisil dengan sengaja menggigit jari Handoko yang sedang mengelus bibirnya.
"Auuwww...! " pekik Handoko kesakitan.
"Kurang ajar! " maki Handoko.
Ditariknya rambut Sisil, sehingga membuat wajah Sisil terdongak.
"Jangan kurang ajar! " maki Handoko ke Sisil.
"Kamu yang kurang ajar! Dasar cowok mesum! " Sisil memaki balik Handoko.
Handoko tidak dapat menahan amarahnya.
"Plakk...! "
"Plakk...!"
Ditampar nya pipi Sisil dengan keras. Sehingga darah keluar lagi dari sudut bibir Sisil.
Kemudian Handoko mencium bibir Sisil dengan paksa. Sisil berusaha tidak membuka mulutnya. Dan kembali menggoyangkan kepalanya ke kiri dan kanan.
__ADS_1
Tangan Handoko memegang kepala Sisil dengan kuat, sehingga tidak memungkinkan buat Sisil untuk menggoyangkan kepalanya.
Dengan kasar Handoko mencium bibir Sisil. Sisil tetap mengatupkan bibirnya.
Handoko mematikan lampu penerangan, hanya tertinggal lampu tembok yang kecil. Sehingga ruangan jadi semakin redup.
Jemari Handoko menelusuri tubuh Sisil. Dibukanya dengan paksa kancing kemeja yang masih terkancing.
Sisil berteriak memohon pada Handoko untuk menghentikan nya. Badan Sisil bergetar hebat. Rasa takut pun mencekam hatinya.
Handoko sepertinya sudah gak peduli lagi. Tangan nya tetap meraba-raba. Dan sampailah pada bukit kembar nya yang masih ditutupi kain busa. Diremas nya bukit kembar Sisil bergantian kiri dan kanan.
Sisil menangis dan memohon pada Handoko untuk berhenti. Sisil pasrah.
Handoko seperti sudah kerasukan setan apa jin ya....
Sewaktu Handoko ingin melucuti kain busa penutup bukit kembar Sisil, tampak sekelebat bayangan hitam.....
Bughh.....
Bugghh....
Handoko terpukul dan terpelanting kebawah. Kembali orang tersebut memukul wajah Handoko dengan gusar.
Tanpa bisa memberi perlawanan karena penyerangan yang tiba-tiba, akhirnya Handoko pun pingsan. Tak berkutik lagi.
Lelaki yang memakai masker itu segera melepaskan ikatan tangan dan kaki Sisil dan langsung membopong tubuh Sisil.
Sisil yang keadaan nya sudah lemah sekali masih bisa melihat orang yang menolongnya dan memakai masker tersebut.
"Kak Johan...... " lirih Sisil pelan sebelum akhirnya Sisil pun pingsan dalam gendongan lelaki bermasker ini. Yang tak laen memang Johan.
Johan dan Danu beserta anak buahnya sudah sampai dan serentak menyerbu ke dalam ruangan. Untungnya mereka datang tepat waktu sebelum Handoko melepaskan aksi mesumnya.
Johan membawa Sisil ke dalam mobilnya dan meletakkan Sisil dengan hati-hati di jok belakang. Dia menutupi tubuh Sisil yang terbuka kemeja nya dengan jaketnya.
Anak buahnya berhasil meringkus anak buah Handoko. Danu segera menelpon polisi dan memberitahu tempat kejadian.
Johan dan Danu beserta anak buahnya semua meninggal kan tempat kejadian. Biar nanti menjadi urusan polisi.
Johan membawa Sisil ke apartemen nya. Badai telah berlalu, trauma yang muncul.
"Semoga Sisil tidak trauma! " doa Johan dalam hatinya.
Johan sedih melihat keadaan Sisil. Tapi semuanya disimpan dalam hatinya.
*
*
bersambung.....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bagaimana ya nasib Sisil?
Yuukk ikuti terus yaa.....
Jangan lupa dukungannya dalam komentar, like dan vote yaa🙏
Terimakasih buat teman-teman yang sudah memberikan dukungan.... Dukungan kalian sangat berarti buatku 🤗😘
Follow IG saya : Mom Dhenok
__ADS_1
Luv u all.. 🤗😘💞❤