
Pingkan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sisil duduk di sebelah nya.
Sisil merasa lega. Rasanya sebagian bebannya terangkat sudah.
"Harusnya tujuh tahun itu si Handoko, kalau lima tahun mah kurang! " Pingkan memecah kesunyian tapi tetap fokus menyetir.
"Gapapa Ping! Anggap saja itu pembentukan buat dirinya. Biar kapok! " sahut Sisil sambil melihat jam tangan nya.
"Kita makan dulu, Ping! Gua laper banget! " lanjut Sisil lagi.
"Siap bu Sisil! " kekeh Pingkan.
Pingkan tetap fokus menyetir sambil mikir restauran apa yang enak dan murah.
Akhirnya Pingkan membawa Sisil ke restauran seafood yang ada di daerah kota.
Biasanya restauran ini tidak pernah sepi pengunjung.
"Aiihh.... udah lama gue gak makan kesini! Tau aja lu Ping! " tonjok Sisil pelan pada lengan sahabat nya begitu mobil sudah terparkir di depan restauran tersebut.
"Gue tahulah makanan kesukaan lu ne..!" sahut Pingkan dengan senyuman nya.
"Ayo turun! " seru Pingkan bersemangat.
Pingkan dan Sisil turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam.
Tampak restauran yang sudah tidak seramai jika bertepatan dengan jam makan siang.
Mereka berdua mengambil meja yang agak di tengah. Kemudian seorang pelayan menghampiri dengan membawa sebuah buku menu.
Setelah selesai memesan makanan, mereka berdua sibuk dengan hape masing-masing.
Di dalam restauran tersebut ada seorang lelaki muda yang sedari Sisil masuk sudah melihat nya.
"Hai Sisil! " lelaki itu menghampiri dan menyapa Sisil.
Sisil mendongakkan kepalanya. Ditatap nya lelaki yang menegurnya itu. Seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Danny....! " teriak Sisil berdiri dan reflek memeluk lelaki yang bernama Danny itu.
Danny terhenyak kaget dengan refleknya Sisil yang tiba-tiba memeluk dirinya.
Pingkan yang duduk di hadapan Sisil pun dibuat kaget dengan kelakuan Sisil yang tak terduga itu.
Sisil yang tak menduga akan bertemu Danny lagi, hatinya senang bukan main bertemu teman masa kecilnya. Mungkin alam bawah sadarnya yang memberi respon berlebihan.
Sisil ketika mulai sadar merasakan keterkejutan Danny, dia pun melepaskan pelukannya.
"Maaf! Gue reflek, Dan! " Sisil meminta maaf.
"Lu sama siapa? Kalau sendiri, gabung saja dengan kita? Boleh kan Ping? Oya.... kenalin ini sahabat gue juga, Pingkan namanya! " cerocos Sisil panjang lebar tanpa memberi waktu untuk Danny menjawab.
"Masih tidak ada yang berubah! " batin Danny dalam hatinya.
"Danny! " ucap Danny sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Pingkan! " ucap Pingkan menyambut tangan Danny. Mereka berdua bersalaman.
"Berhubung gue datang cuma sendirian, jadi boleh gue gabung ya? " Danny melihat kepada Pingkan dan Sisil bergantian.
Sisil juga melihat pada Pingkan, minta persetujuan. Pingkan yang mengerti kode dari Sisil pun menganggukkan kepalanya.
"Boleh..... ayo gabung aja! " sahut Pingkan dengan tersenyum. Sisil tampak tersenyum senang.
Danny menarik bangku yang masih kosong dan langsung duduk.
"Kalian sudah pesan makanan? " tanya Danny lagi.
"Tadi sudah pesan. Kamu udah pesan belum? Kalo sudah pesan suruh antar ke sini aja! " sahut Sisil.
"Baiklah! " ujar Danny seraya tangannya melambai memanggil pelayan.
Pelayan pun datang, Danny dengan segera memberitahu pelayan itu untuk pindah pengantaran.
"Gimana kabar Papa dan Mama kamu Sil? " tanya Danny begitu pelayan sudah pergi.
"Mama sudah meninggal setahun yang lalu, Papa gua baru married lagi kemarin! " sahut Sisil enteng.
Danny menatap Sisil. Tidak banyak perubahan pada wajah Sisil. Masih tetap cantik. Tapi Danny yakin banyak masalah yang harus dilalui Sisil.
"Kalian berdua satu kantor? " tanya Danny lagi.
"Gak sekantor, tapi satu gedung! " sahut Pingkan menjawab pertanyaan Danny.
"Ohh.... " Danny menganggukkan kepalanya.
"Ohh..... " Danny kembali menganggukkan kepalanya.
"Kamu sendiri gimana Dan? Kerja atau usaha sendiri? " Sisil balik bertanya.
"Ohh... Gua skrg buka toko handphone! Kecil-kecilan! " sahut Danny merendah.
"Gapapa tokonya kecil, asal omsetnya gede! Ya gak, Ping?! " ucap Sisil tertawa sambil menaik turunkan alisnya ke Pingkan.
Pingkan terkekeh geli melihat tingkah Sisil yang meledek Danny. Danny tersenyum.
"Rumah lu masih sama ditempat dulu Dan? " tanya Sisil.
"Masihlah! Orang tua gua masih belum pindah! " sahut Danny terkekeh.
"Oya Sil, bagi nomor WA lu dong! " ucap Danny sambil menyodorkan hapenya.
"Ahh... gue gak ngerti pake hape mahal, lu aja langsung masukin nomor gue! " sahut Sisil sambil menyebutkan nomor handphone nya kepada Danny. Danny langsung mengetik dan menyimpannya. Kemudian Danny langsung WA ke Sisil agar nomornya tertera dan bisa disimpan Sisil.
"Itu nomor gua ya Sil! " ucap Danny dengan dagunya menunjuk ke arah hape Sisil yang terletak diatas meja.
"Oke, thanks Danny. Gua simpan ya! " sahut Sisil senang. Dian menyimpan nomor Danny.
Dua orang pelayan datang membawa pesanan mereka. Pelayan meletakkan makanan yang dipesan diatas meja. Mereka bertiga lantas langsung mulai untuk menyantap hidangan yang sudah tersedia. Saking perut sudah lapar, mereka asyik makan tanpa banyak bicara.
Setelah selesai makan, Danny langsung pamit. Dia terburu-buru sepertinya.
__ADS_1
"Gua pamit duluan ya Sil.... Pingkan! " pamit Danny pada Sisil dan Pingkan.
"Oke Danny! Jangan lupa kontek-kontek ya! " sahut Sisil menirukan gaya orang yang sedang nelpon.
"Siap, Sil! " Danny tersenyum
Kemudian Danny berdiri dan berjalan ke tempat parkiran mobilnya. Sisil menatap punggung Danny dari belakang.
Sisil sedikit melamun. Dulu dia begitu dekat dengan Danny. Danny akan selalu ada untuk mengajak dia pergi jalan-jalan, pergi makan, ataupun kemana tempat yang Sisil mau pergi pasti Danny jika bisa akan mengantarnya.
Sisil menghela nafasnya kasar. Ditepisnya bayangan masa lalunya. Setelah tiga tahun lamanya Sisil kehilangan jejak Danny, sekarang tampak ada perubahan dalam diri Danny. Entah apa, Sisil tidak tahu.
Sisil membayar tagihan makanan dengan kartu kreditnya. Setelah selesai semua, mereka berdua berdiri dan berjalan menuju parkiran mobil.
Pingkan kembali melajukan mobilnya dengan perlahan. Kali ini mobil melaju ke arah rumah Sisil.
"Keliatannya lu dekat ya sama Danny? " tanya Pingkan nemecah kesunyian.
"Bukan dekat lagi, Ping! Nempel kali! " tawa Sisil pecah sehabis menjawab pertanyaan Pingkan.
"Maksudnya? " Pingkan menautkan alisnya.
"Maksudnya dulu gue sama Danny tuh deket banget! Dia yang selalu ngajak gue jalan-jalan, ngajak gue makan, atau kalau gue mau pergi kemana pasti dianterin dengan catatan kalau dia bisa!" jelas Sisil.
"Ohh.... " sahut Pingkan tetap fokus nyetir.
"Tapi sepertinya sekarang doi banyak perubahan, Ping! Tiga tahun lebih gue kehilangan jejaknya! Makanya tadi gue senang banget bisa ketemu dia lagi! " jelas Sisil lagi.
"Apa sekarang doi udah punya pacar kali ne? Makanya jadi jaga jarak! " tanya Pingkan lagi.
"Gua gak tahu, Ping! Kan baru ketemu lagi tadi! " Sisil menghela nafasnya.
Mobil yang dikendarai Pingkan akhirnya memasuki komplek perumahan Sisil. Tak lama mereka berdua tiba di depan rumah Sisil.
"Makasih banyak ya Ping! Mau masuk dulu gak? " Sisil mengucapkan terimakasih nya pada Pingkan dan menawari Pingkan singgah di rumahnya.
"Gak usah Sil! Gua langsung pulang ya! Salam buat bokap lu ya! Bye.... " ucap Pingkan cepat.
"Bye.... Hati-hati yaa...." Sisil melambaikan tangannya. Ditunggunya mobil Pingkan hilang dari pandangannya, kemudian Sisil masuk ke dalam rumahnya.
*
*
bersambung......
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa komentar, like dan vote nya ya bestie 🙏🏻 dukung terus karya receh mommy yaa....
Terimakasih buat teman-teman yang sudah memberikan dukungan dan tetap memberi dukungan sampai sekarang.. 🙏🏻🤗
Dukungan teman-teman sangat berarti buat mommy....
Luv u all 🤗😘❤💞
__ADS_1