Gadis Yang Terbuang

Gadis Yang Terbuang
Bab 25. Hasrat Lila dan Halunya Sisil


__ADS_3

Sisil masih menggeliat kan badannya di ranjang. Rasanya malas sekali untuk bangun tidur.


Buat seorang pekerja jika hari libur pengen nya bangun siang dan leha-leha di rumah. Sisil pun demikian.


Sisil kembali memejamkan matanya. Dia meregangkan tubuhnya dan bergulir ke pinggiran ranjang kemudian duduk di tepi ranjang.


Seperti biasa tiap bangun tidur Sisil akan menggerakkan jari jemari tangan, leher dan kaki.


Sisil keluar dari kamarnya. Rumah tampak kosong. Biasa Papa nya kalau pagi pergi beribadah.


Dengan masih mengantuk Sisil duduk di meja makan. Dia melihat pesan yang ditempel di pintu kulkas.


"Hari ini Papa pulang agak siangan! " itu isi pesan yang ditempel Papa nya.


"Ahh....paling juga ke kontrakan tante Caroline! " cibir Sisil dalam hati.


Sejak Sisil tau Papa nya berhubungan dengan tante Caroline, intensitas kepergian Papa nya jadi semakin sering.


Sisil memasak indomie plus nasi untuk dirinya, sekaligus makan pagi rangkap siang.


Setelah selesai sarapan plus rangkap makan siang, Sisil mulai disibukkan dengan urusan rumah tangga.


Dia menyapu, ngepel dan cuci piring. Terus setelah jelang siang, Sisil menyempatkan waktu untuk mengurus kebun kecil Mama nya. Ada yang dipangkas dan tak lupa dikasih pupuk.


*


*


Di rumah dinas Handoko tampak bersama Manto sedang santai di ruang tamu. Asap rokok mengepung ruangan itu.


Sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah. Seorang gadis bertubuh mungil, berambut panjang dan pakaian minim turun dari mobil itu. Dan memasuki pekarangan rumah Handoko.


"Jiiaahh nenek lampir datang! " sungut Manto dalam hati.


Sedangkan Handoko melihat kedatangan gadis itu langsung tersenyum bahagia. Sudah dua minggu dia tidak bertemu, rasanya sudah seperti setahun lamanya.


Lila dengan langkah kecilnya memasuki rumah Handoko. Dia tersenyum pada Handoko dan Manto. Kemudian tanpa disuruh lagi, Lila langsung menduduki bokongnya di sofa.


"Tumben..... udah gak sibuk? " Handoko pura-pura bertanya. Sebab selama ini alasan Lila bilangnya sibuk kerjaan.


"Kan hari libur jadi nyempatin kesini! " sahut Lila tersenyum genit.


Manto yang masih ada disana merasa risih.


"Gue keluar dulu Han... Lila.. ! " pamit Manto untuk pergi ke rumah temannya.


"Oke To! " Handoko mengiyakan. Dia memandang punggungnya Manto yang berjalan ke arah parkiran motornya. Tak lama motor yang dikendarai Manto pergi.

__ADS_1


Lila atau bernama lengkap Lalita yang merasa sudah aman, pindah duduk ke sebelah Handoko. Dia langsung menyenderkan kepala nya di bahu Handoko, memegang lengan Handoko manja.


Lila mendongak kan kepala nya, menatap Handoko yang juga sedang menatap nya. Pandangan mereka bertemu.


Handoko dengan perasaan rindunya yang menggebu, Lila dengan hasrat nya yang sudah tidak bisa ditahannya.


Entah siapa yang memulai dulu, keduanya berciuman dengan mesra. Dari awal yang lembut hingga tampak lebih menuntut dan menggebu.


Tanpa melepas pagutan nya Handoko membopong tubuh Lila masuk dalam kamarnya.


Direbahkan tubuh Lila diatas ranjang. Handoko mengukung badan nya diatas Lila dengan tangannya sebagai penopang agar tubuh Lila tidak tertindih.


Lila menggunakan kesempatan itu dengan menarik Handoko lebih dekat dan kembali ******* bibirnya.


Entah siapa yang melepas pakaian lebih dulu, yang pasti saat ini hanya terdengar ******* dan lenguhan dari kamar itu.


Handoko dan Lila seperti kerasukan, mereka melepaskan hasrat mereka dengan menggebu.


Akhirnya lenguhan panjang pun terdengar keluar dari kedua mulut mereka, petanda hasrat mereka telah terlepaskan.


Begitulah setiap pertemuan Handoko dan Lila hanya dihabiskan untuk melepaskan hasrat keduanya.


Apa inikah yang dinamakan cinta? Mungkin buat Handoko ini adalah cinta nya, tapi tidak untuk seorang Lila. Dia hanya butuh untuk melampiaskan hasrat nya. Ini diluar pengenalan Handoko terhadap seorang Lila.


Lila melepaskan pelukan Handoko. Dia bergegas memakai pakaian nya dan merias wajahnya sedikit. Sore ini dia akan menjemput seseorang di bandara.


"Besok ada waktu say? Kita jalan-jalan yuk..... " ajak Handoko ketika melihat Lila sudah rapih, terlihat cantik dan sexy.


"Terus ini mau kemana? " Handoko balik bertanya heran.


"Jemput tamu kantor di bandara, sayang! " Lila mencium bibir Handoko sekilas. Lila tersenyum dalam hatinya.


"Maaf Handoko, aku harus menjemput seorang yang lebih special dari kamu! " gumam Lila dalam hatinya.


Kemudian Lila pamit pada Handoko. Dipeluknya Handoko dan diciumnya sebentar supaya Handoko tidak berpikiran nacam-macam. Handoko mengantarkan Lila sampai depan pintu. Dan setelah Lila pergi, dia pun kembali masuk kamarnya untuk tidur siang.


*


*


Kembali ke rumah Sisil.


Sehabis beres-beres di kebun kecil peninggalan Mama nya, Sisil beristirahat sambil menyalakan TV.


Diputar-putar chanel TV untuk mencari acara. Dipilihnya acara kocak untuk menghilangkan rasa capeknya.


Sisil merebahkan tubuhnya di sofa. Suara TV masih menggema, dipejamkan matanya.

__ADS_1


Dengan maksud hanya untuk menghilangkan rasa capeknya, tapi malah bayangan seseorang hadir dalam benak Sisil.


Sisil terbayang sosok tampan nya Johan. Wajah tampan, tinggi tegap, dada bidang, tangan kekar, kulit putih, hidung mancung..... duuhhh. Merona wajah Sisil membayangkannya.


"Sedang apa ya kak Johan? " tanya Sisil dalam hati.


Sisil kembali teringat waktu di tembak Johan.


"Apa benar itu keluar dari hatinya? Apa dia cuma ingin meledek aku aja? " unek-unek Sisil dalam hatinya.


"Seandainya memang itu benar, alangkah bahagia nya aku! " Sisil tersenyum kecut.


Sisil takut jika pada kenyataannya nanti Johan hanya meledek atau cuma mengolok-olok nya saja.


"Kalau dia tau keadaan ku, apa dia bisa menerima nya? " tanya Sisil lagi dalam hatinya.


Terbayang senyuman dan tawa Johan dalam benak Sisil. Sisil tersenyum dengan mata tetap terpejam.


"Ahhh sudahlah.....kok jadi halu gini!! " Sisil menepuk dahinya pelan.


Sisil bangkit dari tidurannya di sofa. Dia duduk sambil senyum-senyum sendiri. Rasanya senang bisa membayangkan hal-hal yang membuat bahagia. Daripada mumet mulu.


Sisil berdiri dan menggoyang-goyangkan pinggulnya yang terasa pegal.


Kemudian Sisil melanjutkan pekerjaan rumahnya yaitu menggosok baju. Biasanya di kumpulin dulu sehabis dicuci. Hari Sabtu atau Minggu baru bisa digosok. Itupun dengan catatan jika tidak ada halangan.


Papa nya Sisil gak mau pake ART. Padahal Sisil sudah menyuruh untuk mencarinya.


Ditengah-tengah keasyikan nya menggosok baju, Sisil mendengar suara mobil Papa nya masuk ke garasi. Mobil Papa nya adalah mobil tua. Jarang dipakai jadi mesin dan cat body nya semua masih bagus.


Ridwan masuk ke dalam rumah tanpa menyapa Sisil. Dan Sisil pun juga malas menyapa. Walau itu hanya sekedar basa-basi saja.


Papa nya langsung masuk kamar. Entah mengapa Papa jadi begitu.


"Apa ribut sama tante? " Sisil jadi kepikiran juga dengan sikap Papa nya.


Pengennya mendiamkan tapi tetap saja gak bisa karena Sisil merasa orang tuanya tinggal satu-satunya yaitu Papanya.


*


*


bersambung....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa komentar, like dan vote nya yaa teman-teman..... 🙏🏻

__ADS_1


Terimakasih untuk yang sudah dan selalu mendukung saya baik dalam komentar, like dan vote. Dukungan kalian sangat berarti buat ku.


Luv u all.... 😘🤗💞


__ADS_2