Gadis Yang Terbuang

Gadis Yang Terbuang
Bab 93. Mantan muka tembok


__ADS_3

Hari ini Johan disibukkan mengontrol laporan kerjasama perusahaan yang sudah bekerja sama dengan perusahaan miliknya ini.


Dia juga mengecek sejauh mana kontribusi perusahaan nya terhadap klien nya.


Sisil pun juga sibuk di ruangan nya. Sibuk mengatur jadwal meeting untuk bos kesayangan nya. Sibuk membuat laporan karyawan yang dilimpahkan Johan pada dirinya kemarin ini.


Jam demi jam berlalu, tak terasa hari sudah siang. Jam makan siang pun tiba. Johan dan Danu pergi makan siang bersama, sedangkan Sisil lebih memilih makan siang dengan teman-teman lainnya di kantor itu.


Sisil makan dengan cepat dan setelah selesai dia langsung naik ke lantai atas.


Masih ada waktu tiga puluh menit untuk Sisil beristirahat.


Saat Sisil sedang bersantai melepaskan penat di badannya, telpon di meja nya berbunyi. Sisil mengangkatnya dan terdengar suara resepsionis.


"Mbak Sisil?! " tanya resepsionis dengan nada panik.


"Ya, kenapa mbak? " Sisil mengiyakan dan balik bertanya.


"Ada tamu belum buat janji, main langsung saja ke lantai atas mbak! Bilangnya mau ketemu Pak Johan! " terang resepsionis dengan terburu-buru.


Sisil sudah mendengar suara lift yang berdenting.


"Baik, mbak! Makasih ya! Biar saya yang handle disini! " jawab Sisil yang berusaha menenangkan mbak resepsionis. Sisil meletakkan gagang telpon dan bersiap-siap keluar ruangan.


Tap.... tap..... tap......


Suara sepatu seorang perempuan dengan pakaian kemeja yang ketat dan rok pendek nya berjalan keluar dari pintu lift.


Sisil menghampiri perempuan itu yang tampak modis dan percaya diri dengan penampilannya.


"Selamat siang! Ibu mau mencari siapa?" tanya Sisil sopan.


"Saya mau ketemu Johan! Apakah ada?"


jawab perempuan itu dengan sedikit ketus.


"Pak Johan gak ada, Bu! Sedang makan siang diluar! Apa Ibu sudah buat janji? Boleh saya tahu nama Ibu? " ucap dan tanya Sisil dengan nada sopan.


"Saya gak ada janji! Nama saya Audrey Pangestu! Johan kenal dengan saya! " jawab Audrey dengan nada ketus dan sombong.


"Baiklah, Bu! Silakan duduk dan ditunggu! " Sisil mempersilahkan Audrey duduk di sofa lantai delapan. Lalu Sisil masuk ke ruangan nya untuk memberitahu Johan.

__ADS_1


**


Johan yang masih berada di luar bersama Danu menerima message dari Sisil di hape nya.


Johan membaca nya. Geram hatinya sehabis membaca message dari Sisil.


"Brengsek! Ngapain sih pakai acara datang ke kantor segala! " maki Johan sehabis membaca message dari Sisil.


"Kenapa, Han! Ada apa? " tanya Danu kaget mendengar makian Johan.


"Lu udah batalin kontrak kan? " Johan malah balik bertanya pada Danu.


"Lintas Utama? Sudah gua batalin kontrak dari kemarin! Ada apa ini? " jawab Danu yang cepat tanggap dan bertanya heran.


"Audrey Pangestu datang ke kantor! Langsung main naik ke atas aja, gak ada sopan-sopan nya! " kesal Johan memberitahu Danu.


"Apa?! " kaget Danu sehabis mendengar perkataan Johan.


"Bener-bener deh tuh perempuan! Jangan bilang ada ulet keket lagi deh! Pusing gua! " ngedumel Danu.


Danu merasa kesal juga dengan ulah perempuan yang bernama Audrey itu. Boleh dibilang muka tembok juga tidak tahu malu. Dulu dia yang ninggalin Johan karena pindah ke lain hati, eh sekarang malah mau datang lagi ke kantor Johan.


"Awas aja kalau bikin gara-gara! " maki Danu dalam hatinya.


**


Audrey melirik jam tangan nya. Dilihat nya jam sudah menunjukkan setengah dua siang.


"Pergi makan atau kemana sih?! Makan saja lama banget! " gerutu Audrey dalam hatinya.


Johan dan Danu yang sudah sampai di kantor, langsung berjalan menuju lift yang menghubungkan dengan lantai delapan.


Begitu pintu lift terbuka, Johan dan Danu keluar dari dalam lift. Johan berjalan dengan langkah tegap dan pasti diikuti Danu di belakang nya.


Audrey yang melihat Johan keluar dari lift, segera berdiri menyambut kedatangan Johan.


Johan berjalan lurus seakan tidak melihat ada orang di sofa. Wajahnya datar dan dingin, sama sekali tidak ada senyum di bibirnya.


Sisil yang keluar dari ruangan nya menghampiri Johan dan memberitahu bahwa ada tamu yang sedang menunggu nya.


"Saya gak punya janji temu hari ini kan, Sil?! " tanya Johan pada Sisil.

__ADS_1


"Maaf, Pak Johan! Hari ini memang kosong gak ada janji dengan siapa pun! Ibu ini main langsung naik ke lantai delapan! " terang Sisil dengan sedikit kikuk. Sisil merasa tidak enak hati, takut salah omong.


"Suruh pulang! Suruh dia bikin janji dulu!" titah Johan dengan tegas. Johan bersiap jalan menuju ruangan nya.


"Begitu ya cara nyambut tamu? Apa kamu tidak mengenaliku, Johan? " tanya Audrey sedikit berteriak untuk menahan Johan yang sedang berjalan menuju ruangan nya.


Johan membalikkan badan nya. Dia memandang Audrey tanpa ekspresi. Tatapan mata nya dingin.


"Saya tidak punya tamu hari ini! Dan maaf, saya tidak kenal dengan anda! " ucap Johan ketus dan dingin.


"Saya Audrey Pangestu dari Lintas Utama! " ucap Audrey penuh penekanan pada setiap perkataan nya.


"Oh..... silakan bicara dengan asisten saya. Danu... tolong handle! " tegas Johan dengan wajah dingin nya.


"Saya datang mau ketemu kamu, Han! Bukan Danu! Saya ini pacar kamu, teman kamu, Johan! " teriak Audrey yang sudah mulai kesal.


"Pacar?! Teman?! Maaf, anda salah alamat. Saya gak punya pacar atau teman seperti anda! " tegas Johan dengan wajah dingin.


"Jika sudah tidak ada urusan lagi, silakan tinggalkan kantor ini! " lanjut Johan dengan tegas lagi.


Audrey menatap Johan dengan penuh amarah. Dia tidak menyangka Johan bersikap dingin terhadap diri nya dan sudah tidak mau mengenal dirinya.


"Saya mau tanya, kenapa kerjasama dari perusahaan saya di tolak?! " tembak Audrey langsung tanpa basa-basi lagi.


"Kami memutuskan tidak akan bekerja sama dengan perusahaan anda! Silakan anda mencari perusahaan lain saja! " tukas Johan dengan tegas.


"Jika sudah tidak ada urusan di kantor saya, silakan pergi! " titah Johan dengan wajah dingin nya. Lalu dia berbalik dan berjalan menuju ruangannya.


Sisil yang menyaksikan semua nya hanya bisa diam dan menahan helaan nafasnya.


Danu juga yang berdiri tidak jauh dari Sisil hanya menganggukkan kepala nya dan berjalan juga masuk ke dalam ruangan nya.


Sementara Audrey yang sudah kesal, marah dan malu semua bercampur jadi satu. Dia langsung meninggalkan lantai itu dengan lift.


Sisil pun masuk ke dalam ruangan nya. Dia duduk dan menghela nafasnya. Dia baru melihat Johan dari sisi yang lain. Wajah datar dan dinginnya. Sikap Johan yang tegas menghadapi persoalan pribadi dan kantor. Sisil sedikit bergidik membayangkan wajah Johan yang datar dan dingin tadi. Sisil memutuskan untuk kembali melanjutkan pekerjaan nya.


*


*


bersambung.....

__ADS_1


_______________________________________


__ADS_2