
Acara makan siang berganti menjadi makan sore karena ternyata panggang memanggang membutuhkan waktu yang banyak.
Tapi buat semuanya yang sedang berkumpul di rumah Papa Herry tidak menjadi masalah. Mereka semua tetap menikmatinya.
Keceriaan dan kehangatan sore ini menjadi event yang tidak tergantikan. Yang biasanya mereka jarang bisa berkumpul tapi pada sore ini semua bisa berkumpul. Dan hal ini menjadi moment yang tak terlupakan.
**
Hubungan Sisil dan Johan berjalan lancar tanpa hambatan yang berarti. Tanpa terasa sudah tiba saatnya untuk Johan meminta Sisil kepada orang tua Sisil.
Johan sama sekali belum pernah berjumpa dengan kedua orang tua Sisil. Sisil meminta kepada Johan untuk nanti saja yaitu pada waktu meminta saja.
Sisil tidak mau Johan menilai buruk Papa nya, dia takut juga jika Papa nya salah omong ataupun banyak permintaan lainnya sebab sekarang sang Papa dalam pengaruh Mama tiri nya.
Johan menuruti kemauan Sisil. Dan sekarang sudah waktunya Johan untuk meminta Sisil pada orang tuanya.
Johan meluangkan pada hari Minggu untuk mengunjungi rumah orang tua Sisil.
Sisil yang sudah tahu jika Johan akan mengunjungi rumah orang tuanya berusaha untuk menelpon Papa nya.
"Halo... " suara sedikit berat mengangkat telpon rumah orang tua Sisil.
"Halo..... Papa?! " sapa Sisil yang ragu-ragu menyapa Papa nya.
"Sisil? Apa kabar, Nak? " tanya Papa Ridwan di dalam telpon nya yang terdengar gembira.
"Baik, Pa! Papa gimana kabarnya? " jawab Sisil dan bertanya balik pada sang Papa.
"Papa juga baik-baik saja! " jawab Papa Ridwan.
"Papa hari Minggu ini ada di rumah? " tanya Sisil lagi.
"Ada. Kenapa, Sil? " sahut Papa Ridwan dan bertanya dalam telpon nya.
__ADS_1
"Sisil nanti mau main ya, Pa! " ucap Sisil yang cukup menyenangkan hati Ridwan sekaligus membuat sedih.
Senang mendengar anaknya mau datang, tapi juga sedih karena Sisil harus minta ijin dulu untuk datang ke rumah orang tua nya sendiri. Yang seharusnya buat seorang anak, kapan saja mau datang tidak jadi masalah. Tapi Sisil tidak bisa melakukan itu sebab dia sendiri sudah lama tidak pernah datang ke rumah orang tua nya.
"Iya, Sil! Datang saja! Pintu rumah ini terbuka buat kamu, Nak! " jawab Papa Ridwan di sana dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
"Oke, Pa! Sampai ketemu nanti ya! " Sisil mematikan panggilan telpon nya di ponselnya.
Sisil terdiam. Dia merasakan kalau Papa nya sedikit sedih nada suara nya. Sisil menepis pikiran nya. Dia tidak mau berpikiran macam-macam tentang Papa nya.
Sisil kembali menyibukkan diri nya pada pekerjaan yang masih harus dikerjakan nya.
Sekarang ruangan sekretaris terbagi dua karena diisi oleh Winda dan Sisil. Winda khusus mengerjakan urusan luar seperti rapat dengan pihak luar dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan bagian luar. Sedangkan Sisil mengerjakan urusan dalam perusahaan, termasuk urusan pribadi bos sekaligus kekasih hatinya.
Begitu sore tiba dan hampir semua teman-teman kantor sudah pada pulang, hanya tinggal Sisil yang masih sibuk di ruangan nya. Winda juga sudah pulang tepat waktu.
Sisil sedang merapihkan meja kerja nya dan bersiap-siap untuk pulang. Dia tidak menyadari jika Johan sudah berada dan duduk di dalam ruangan nya.
"Gak! Baru datang kok! " jawab Johan yang berusaha menenangkan Sisil. Johan tersenyum. Begitulah Sisil kalau sudah sibuk dan konsentrasi penuh, dia bisa tidak mendengar keadaan sekitarnya.
Johan menggandeng tangan Sisil menuju lift kantor dan turun ke parkiran mobil.
Sekarang Johan dan Sisil sudah tidak menutup-nutupi lagi hubungan mereka karena satu kantor sudah mengetahui nya, termasuk juga di kantor Papa nya.
Setelah mengantar Sisil pulang ke kost nya, Johan pun pulang ke apartemen nya.
**
Minggu pun tiba. Sisil sudah bangun dari pagi dan bersiap-siap. Hati ini dia akan ke rumah Papa nya bersama Johan.
Sisil hanya mengenakan celana panjang jeans dan kaos longgar berwarna coklat. Sisil juga sudah menyiapkan oleh-oleh camilan untuk Papa nya.
Sisil tinggal menunggu di jemput Johan saja. Dalam waktu cuma lima belas menit Johan sudah memarkir mobilnya di parkiran kost Sisil dan menunggu Sisil datang.
__ADS_1
Sisil langsung menyambar tas nya dan satu kantong plastik oleh-oleh buat sang Papa. Dia mengunci pintu kamarnya dan berjalan ke parkiran dimana mobil Johan sudah menunggu.
Selama perjalanan ke rumah orang tua nya Sisil hanya diam saja di dalam mobil. Johan melirik Sisil dan tersenyum dalam hatinya.
Johan mengerti kekhawatiran Sisil terhadap Papa nya, terutama Mama tiri nya. Tapi buat Johan semua bisa diatasi nya.
"Jangan banyak pikiran gitu, sayang! " ucap Johan sambil tangannya mengambil tangan Sisil dan menggenggam nya. Memberikan kehangatan dan ketenangan di hati Sisil.
Sisil menoleh ke arah Johan dan tersenyum.
Akhirnya mobil yang dibawa Johan memasuki komplek perumahan orang tua Sisil. Dan Johan memarkir mobilnya di sebrang rumah orang tua Sisil. Lalu Sisil menggandeng Johan menuju rumah Papa nya.
Sisil mengetuk pintu pagar rumah Papa nya yang ternyata sengaja tidak di kunci. Sisil membukanya dan mempersilahkan Johan masuk.
Papa Ridwan menyambut kedatangan Sisil dengan tersenyum di bibirnya. Papa Ridwan menyuruh Sisil dan Johan masuk dan duduk di ruang tamu.
Sisil lalu mengenalkan Johan kepada Papa nya. Pada saat Sisil mengenalkan Johan, Mama tiri nya datang dan bergabung duduk di ruang tamu itu. Kembali Sisil mengenalkan Johan pada Mama tiri nya.
Johan menyalami Papa Ridwan dan Mama tiri Sisil. Lalu kembali mereka duduk.
"Sisil udah lama gak datang! Gimana kabarnya? " ucap Tante Caroline yang tampak seperti basa-basi saja.
"Iya, Tan! Baik kabar nya! " jawab Sisil singkat. Sisil tidak mau banyak omong sama Tante Caroline, takut ujung-ujung nya malah ribut.
Tante Caroline bangkit dari duduk dan masuk ke dalam, tak lama dia keluar lagi dengan membawa minuman dalam nampan dan menghidangkan nya untuk semuanya.
"Nak Johan sudah lama berhubungan dengan Sisil? " tanya Papa Ridwan membuka percakapan.
"Oh belum terlalu lama, Om! Sudah memasuki bulan ke tujuh, Om! " jawab Johan sopan.
Tante Caroline mempersilahkan Johan dan Sisil minum. Juga dengan dirinya sendiri dan Papa Ridwan. Sepertinya Tante Caroline bersikap baik pada kedatangan Johan dan Sisil.
"Sebenarnya maksud kedatangan saya ke sini adalah mau meminta ijin dan restu dari orang tua Sisil untuk meminta Sisil menjadi istri saya, Om dan Tante! " ujar Johan menyampaikan maksud kedatangan nya.
__ADS_1