Gadis Yang Terbuang

Gadis Yang Terbuang
Bab 63. Geramnya Johan


__ADS_3

Canada.


Pagi-pagi Johan sudah tiba di kantor. Dia berusaha untuk memperbaiki system secepatnya. Agar bisa pulang ke Indonesia secepatnya.


Diutak-atik nya komputer yang berada di ruangan system. Kerusakan kali ini cukup parah, makanya Johan tidak bisa memperbaiki nya secara cepat, harus satu per satu.


Ketika sedang asyik-asyiknya mengutak-atik komputer, ponsel yang dibawanya dari Jakarta pun bergetar. Menandakan sebuah message di WA masuk.


"Drrttt...... Drrttt....... "


Johan langsung mengambil ponselnya dan membuka aplikasi WA nya. Tampak Pingkan yang mengirim message.


Johan membuka dan membaca message yang dikirim Pingkan. Johan mengepal kedua tangan nya.


"Kurang ajar! " geram Johan dalam hatinya.


Hati Johan dipenuhi rasa geram dan amarah terhadap ibu tirinya Sisil.


Johan mencari nomor telpon Danu dan menelponnya.


"Drrttt....... Drrttt....... Drrttt....... "


"Hallo bro... " suara Danu mengangkat telponnya.


"Hallo Dan.... help me, please! " pinta Johan pada Danu. Sebenarnya Johan enggan meminta tolong pada Danu sebab pasti Danu juga repot karena semua pekerjaan Johan dipegang olehnya. Tapi apa boleh buat, terpaksa bikin susah sedikit.


"Ada apa, bro! Katakan saja, gak usah sungkan! " ujar Danu disebrang sana.


"Tolong cari info tentang mama tirinya Sisil! Siapa orang yang diajak kerjasama? Everything about her! " ucap Johan pada Danu.


"Okay, siap! Ada lagi yang lain, bro? " tanya Danu kembali.


"Untuk sementara belum ada yang lain, bro! Oiya, lu udah tahu kan Sisil diusir dari rumah sama bokapnya? " Johan balik bertanya.


"Baru tadi pagi anak buah kita laporan! " sahut Danu.


"Okelah kalau begitu, Dan. Terimakasih banyak ya. " ucap Johan tulus.


"Sama-sama, bro! " sahut Danu di sebrang sana.


Johan memutuskan panggilan telponnya. Pikiran nya jadi bercabang.

__ADS_1


Dia memikirkan kondisi Sisil. Pasti sedih sekali. Sisil sangat menyayangi Papa nya, begitu juga dengan Papa nya. Mungkin sudah tidak ada jalan lain, sehingga Papa nya mengambil keputusan seperti itu. Dan semua itu tak luput dari ulah mama tirinya. Johan punya keyakinan dalam hal ini.


Johan mengetik message untuk Sisil di aplikasi WA nya. Dia ingin menguatkan Sisil, gadis yang dicintai nya supaya jangan sampai salah langkah.


Setelah selesai mengetik message dan pesan-pesan, Johan mengirim message tersebut.


Message sudah di terima tapi belum dibaca.


"Mungkin sudah tidur! " gumam Johan dalam hatinya.


"Paling besok pagi baru dibacanya. Yang penting Sisil tahu kalau saya selalu ada buat dia. Selalu perhatian! " ucap Johan dalam hatinya.


Caitlyn membuka ruangan Johan dengan tergesa-gesa. Dia menaruh berkas-berkas di atas meja dalam ruangan itu.


"Kakak mau keluar makan. Kamu mau nitip makanan, Han? " tanya Caitlyn pada adiknya, Johan.


"Biasa kak, spaghetti dan burger saja! " sahut Johan cepat.


"Belum bosan ya? " ledek Caitlyn dengan tersenyum.


"Belum kak." sahut Johan tersenyum juga.


Caitlyn berjalan tergesa-gesa sebab dia ada janji dengan Scott untuk makan siang bersama.


Johan gak habis pikir dengan mama tirinya Sisil yang sudah bertindak cepat dan semua untuk kepentingan dirinya pribadi.


Johan berusaha untuk konsentrasi kembali sambil menunggu kakaknya balik dari makan siang nya.


"Drrttt...... Drrttt...... "


Ponsel nya Johan kembali berbunyi. Dilihat nya nama yang tertera di layar ponselnya. Dia tersenyum.


"Hallo bro! "'ucap Johan ketika menjawab telpon tersebut.


" Hallo, Han! " sahut lelaki yang disebrang sana.


"Gimana? U jadi datang gak? " tanya Johan.


"Ini gua mau ngabarin bro! Besok pagi gua berangkat! " sahut lelaki yang tak lain adalah Prinanto.


"Oke, besok gua jemput di bandara! " ucap Johan.

__ADS_1


"Gak usah bro! Besok ada orang dari pihak hotel yang jemput gua! " sahut Prinanto.


"Oke..... kalau gitu lu kabarin aja kalau dah sampai hotel! Nanti gua datang ke hotel! " ucap Johan lagi.


"Oke..... sip lah! " sahut Prinanto.


"Oke.... sampai ketemu yaa...! " salam Johan nenyudahi panggilan tersebut.


Ada sedikit rasa senang menyelimuti hatinya yang geram terhadap mama tirinya Sisil.


Tak lama kemudian, Caitlyn balik dari makan siangnya. Di tangannya menenteng dua kantong asoy. Caitlyn meletakkan nya di atas meja ruangan tersebut.


Johan duduk di sofa, dan membuka makanan nya.


"Prinanto besok jadi berangkat kesini, kak! " ucap Johan memberitahu kakaknya karena Prinanto teman sekelas Caitlyn.


"Hmm.... " Caitlyn menganggukkan kepala.


Johan hanya menatap kakaknya sambil mulutnya tak berhenti mengunyah.


Johan selalu mengharapkan yang terbaik buat kakaknya, dan ingin melihat nya bahagia.


Setelah makan, Johan kembali berkutat dengan komputer. Sekarang dia sudah bisa fokus.


Tak terasa sudah menjelang sore. Johan teringat sesuatu yang harus dia tanyakan ke Pingkan. Langsung diambil ponselnya dan mengetik message untuk Pingkan kemudian mengirimnya.


Johan tak menunggu balasan langsung, karena tidak urgent banget. Kembali dia fokus dengan komputer nya.


*


*


bersambung....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa komentar, like dan vote nya ya bestie.. 🙏🏻


Dukung terus karya receh mommy yaa.. 🤗


Terimakasih buat teman-teman yang sudah mendukung dan yang selalu mendukung karya mommy.... dukungan kalian sangat berarti buat mommy🤗

__ADS_1


Luv u all 😘🤗❤💞


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2