
Mereka berdua menggunakan mobil Pingkan menuju mal XX yang tidak jauh dari tempat kost Sisil.
Hanya butuh sepuluh menit mereka berdua sampai di mal XX. Setelah mengunci mobilnya, Pingkan dan Sisil berjalan sambil berangkulan menuju pintu masuk mal.
Mal hari ini tidak begitu ramai, mungkin sebentar lagi baru ramai. Mereka berdua langsung menuju restauran yang di maksud.
Mereka duduk saling berhadapan dan bersiap-siap untuk merebus sayur dan daging yang mereka ambil.
"Gua ada panggilan interview besok, say! " ucap Sisil sambil menyendok kuah ke mangkoknya.
"Akhirnya... hahaha.....! Ada juga yang manggil elu, Sil! " canda Pingkan masih dengan tawa nya. Sisil mencebik mendengar candaan Pingkan.
"Lamaran yang mana itu, Sil? " tanya Pingkan kembali.
"Yang di tempel di tempat kost gua! " sahut Sisil.
"Terus lu ngelamar bagian apa? Perusahaan kan? Bukan Bank? " tanya Pingkan lagi yang penasaran. Jiwa kepo nya lagi muncul.
"Gua udah gak mau ngelamar di Bank, Ping! Ini perusahaan. Gua ngelamar bagian finance! " sahut Sisil menjelaskan pada Pingkan.
Pingkan manggut-manggut. Mereka berdua merebus sayur, daging dan menyantapnya.
Puas banget makan All you can eat, tapi ambilnya harus secukupnya karena jika berlebihan kena denda.
Mereka berdua makan sepuasnya. Setelah kenyang mereka berdua jalan-jalan dulu memutari mal sambil cuci mata. Siapa tau ada yang nyantol. wkwkwk...
Puas mutar-mutar mal, Pingkan mengantar Sisil pulang ke tempat kost.
"Semoga bisa langsung di terima ya, Sil! " ucap Pingkan yang tidak turun lagi dari mobilnya.
"Amin! Semoga ya, say! Doain ya! Lu hati-hati di jalan! " sahut Sisil dengan senyum di bibirnya.
"Kebahagiaan menanti mu, sobat! " ucap Pingkan dalam hatinya.
Pingkan melajukan mobilnya. Sementara Sisil melambaikan tangan nya sampai mobil Pingkan tidak keliatan lagi.
**
**
Pagi menjelang.
Sisil sudah bangun pagi-pagi sekali. Seperti biasa dia akan menggerak-gerakkan jari tangan, kaki dan semua badannya. Lalu Sisil langsung mandi dan bersiap-siap dengan pakaian kantor nya.
Sisil mengunci pintu kamarnya dan berjalan ke depan menuju kantin kost nya untuk memesan indomie.
Setelah selesai sarapan pagi, Sisil kembali masuk ke kamarnya. Dia bersiap-siap kembali.
Pagi ini rasanya tidak seperti pagi-pagi sebelumnya. Hari ini Sisil lebih bersemangat.
Dari pagi bangun tidur, Sisil sudah langsung bersemangat. Hal itu dikarenakan adanya panggilan interview pagi ini.
Sisil sangat mengharapkan interview nya lancar dan bisa di terima, jadi dia tidak perlu untuk mengirim lamaran kerja lagi. Entah sudah berapa banyak yang dikirim nya.
Sisil memesan taxi online dari ponselnya. Dan hanya menunggu sepuluh menit saja taxi online yang di pesan nya datang.
__ADS_1
Sisil mengunci pintu kamarnya dan berjalan ke depan, dimana taxi online nya sudah menunggu di halaman kost.
Sisil masuk dan duduk di dalam taxi online yang sudah siap membawa dirinya menuju PT. Pratama Tehnical System.
Daerah yang dituju sudah berkurang macetnya. Dan akhirnya Sisil tiba di perusahaan yang memanggilnya interview.
Sisil keluar dari taxi online nya. Dia berjalan memasuki gedung tersebut. Dihampiri nya meja reception.
"Pagi, Mbak! " ucap Sisil memberi salam.
"Pagi juga, Mbak! Ada yang bisa dibantu? " jawab seorang recepsionis.
"Saya mau ke lantai delapan, ketemu Ibu Winda! " ujar Sisil kembali.
"Sudah ada janji, Mbak? " tanya recepsionis.
"Panggilan interview, Mbak! " sahut Sisil dengan tersenyum.
"Ohh oke..... mohon ditunggu ya, Mbak! " ucap receptionis itu ramah.
Tampaknya receptionis itu menghubungi seseorang, mungkin Ibu Winda.
"Mbak, silakan naik ke lantai delapan ya! Lift nya yang sebelah sana ya, Mbak! " ucap receptionis itu dengan menunjukkan arah lift ke Sisil. Sisil melihat ke arah yang ditunjuk.
"Oke, Mbak! Terimakasih ya! " sahut Sisil dengan senyum manisnya.
Sisil berjalan ke arah lift yang ditunjuk receptionis tadi. Dan memencet lift tersebut.
"Ting...... "
"Ting...... "
Pintu lift kembali terbuka. Dan ini sudah di lantai delapan, tempat paling tinggi. Sisil melangkah kan kakinya keluar dari lift.
Sisil melihat ke sekeliling ruangan, dia sedikit bingung. Matanya menangkap seorang gadis yang sedang duduk di sofa juga.
"Maaf tanya.....apakah kamu interview juga? " tanya Sisil menghampiri gadis itu.
"Oh iya, Mbak! Tunggu aja disini, Mbak! " sahut gadis itu.
Sisil duduk di sebelah gadis yang sudah menunggu terlebih dahulu.
Tak lama Winda keluar dari ruangan nya menghampiri Sisil dan gadis itu.
"Ini dengan Sisil? " tanya Winda melihat pada Sisil.
"Iya, Bu Winda, saya Sisil! " sahut Sisil tegas dan ramah.
"Sisil dan Anita....harap isi formulir ini dulu ya! " Winda menyerahkan formulir untuk diisi oleh Sisil dan Anita.
Mereka berdua langsung sibuk mengisi formulir yang diberikan Winda.
Setelah selesai, formulir tersebut diambil Winda untuk diserahkan pada Danu.
Danu membaca silsilah dan riwayat kerja Sisil dan Anita.
__ADS_1
Tak lama terdengar Winda memanggil nama Anita untuk masuk ke ruangan Danu. Langsung interview dengan atasan.
Ya kali ini Danu bertugas untuk mencari bagian finance, yang memang kurang personilnya.
Tapi untuk Sisil, ada tugas penting yang diemban Danu.
Anita memasuki ruangan CEO yang bersebelahan dengan ruangan Winda.
Danu memulai sesi interview nya. Anita menjawab semua pertanyaan Danu dengan baik. Seandainya di terima, Anita bisa bekerja secepatnya atau langsung karena dia sudah berhenti dari tempat kerja yang lama.
Selesai dengan Anita, Winda memanggil Sisil untuk masuk ke ruangan Danu.
Danu mempersilahkan Sisil duduk setelah saling berjabat tangan.
"Apakah Sisil punya pengalaman di bidang finance? " tanya Danu setelah membaca silsilah Sisil.
"Terus terang saya belum berpengalaman di bidang finance, Pak! Tapi saya bisa belajar, Pak! " sahut Sisil.
"Sebenarnya saja mencari staf finance yang sudah berpengalaman! " ucap Danu kembali.
"Seandainya kamu di terima disini tapi bukan di bagian finance, apakah kamu bersedia? " tanya Danu menatap Sisil.
"Kalau boleh tau, di bagian apa ya, Pak? " Sisil balik bertanya.
"Sekretaris direksi! " sahut Danu cepat.
Sisil berpikir sebentar. Bingung juga dia. Finance belum ada pengalaman, sekretaris juga belum berpengalaman. Tapi dia butuh pekerjaan. Sisil akan mencobanya.
"Baiklah, Pak! Gak masalah jika bukan finance tapi sekretaris direksi! Saya akan mencobanya! " jawab Sisil dengan pasti.
"Oke kalau begitu, saya terima kamu di posisi sekretaris direksi! Kapan kamu bisa masuk kerja, Sil? tanya Danu.
" Terserah Bapak, sebab saya sudah gak bekerja! " jawab Sisil santai.
"Kalau begitu kamu mulai masuk kerja Senin ya! " ucap Danu sambil nulis di agendanya.
"Baik, Pak. Terimakasih! " Sisil menundukkan kepalanya.
"Tapi kalau boleh tahu, gaji saya berapa ya, Pak! " tanya Sisil yang tiba-tiba teringat.
"Sesuai permintaan kamu di formulir! " jawab Danu tegas.
Sisil terkejut. Padahal dia menulis gaji yang diminta enam juta itu hanya asal saja. Apalagi dia belum ada pengalaman begini.
"Sampai ketemu Senin, ya! " Danu menjabat tangan Sisil kembali. Dan Sisil menganggukkan kepalanya.
Sisil keluar dari ruangan Danu dengan hati bahagia.
*
*
bersambung.....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1