
Di sebuah cafe.
"Hahaha..... hahaha..... "
"Hahaha...... hahaha..... "
Tawa Caroline dan Chandra menggema keras. Tawa mereka mengundang pengunjung lainnya menengok ke arah mereka berdua.
"Jangan keras-keras, Chan! " Caroline menempelkan jari telunjuknya di bibirnya.
Chandra langsung terdiam. Dia melihat sekeliling cafe. Tampak olehnya pengunjung yang tadinya menengok ke arah nya sudah kembali seperti semula lagi.
Mereka berdua janjian untuk bertemu di cafe ini untuk merayakan keberhasilan Caroline dalam mengusir anak sambungnya itu.
"Gak nyangka, mbak hebat bisa ngusir dalam waktu secepat ini! " ucap Chandra penuh kekaguman pada kakak nya ini.
Caroline tersenyum bangga.
"Siapa dulu dong! " ujar Caroline dengan bangga.
"Caroline di lawan! " ucap Chandra menyambung perkataan kakaknya.
Mereka berdua kembali tertawa senang. Kali ini mereka berdua menjaga volume suara tawa nya.
"Padahal mbak cuma menggunakan omongan dia sendiri! " tutur Caroline pada Chandra.
"Oh ya? Berarti si Ridwan ini benar-benar cinta sama kamu Mbak! " sahut Chandra diiringi tawanya lagi.
Caroline tersenyum bahagia. Dia memang tahu kalau Ridwan sangat mencintai nya. Itu juga yang menjadi kelemahan Ridwan.
"Karena terlalu besar cinta nya, makanya dia bisa bertindak seperti itu, Chan! itu yang jadi kelemahan nya! " ucap Caroline mengatakan penilaian nya terhadap sikap Ridwan.
"Ternyata benar juga kata pepatah untuk laki-laki, carilah istri yang baik! Jika istri baik, maka suami juga baik. Kalau istri tidak baik, berdampak juga suami ikutan tidak baik. Walaupun pada kenyataannya tidak semuanya benar! " tutur Chandra panjang lebar.
"Hahaha.....udah kaya ceramah aja kamu, Chan! " ucap Caroline di sela-sela tawanya.
Hati Caroline sangat senang setelah Sisil pergi dari rumah. Serasa beban nya terangkat sudah. Sekarang dia bebas melakukan apapun.
Sewaktu masih ada Sisil di rumah, Caroline merasa gak leluasa. Pakai telpon kelamaan kena tegur, mau beres-beres gak enak hati, pokoknya mau melakukan sesuatu sudah gak enak duluan. Bergerak nya tidak leluasa.
"Mbak ada mau tambah makanan atau minuman? " tanya Chandra seraya mengangkat tangan nya memanggil pelayan.
Pelayan pun datang. Chandra memesan tambahan minuman, demikian juga Caroline menambah minuman juga.
"Apa rencana selanjutnya Mbak? " tanya Chandra kembali.
"Untuk sementara belum ada, Chan! Mbak mau menikmati dulu! " sahut Caroline sambil mengunyah kacang.
__ADS_1
"Jika ada perlu atau Mbak butuh bantuan, aku siap menolong Mbak! " ucap Chandra meyakinkan kakaknya.
Caroline menganggukkan kepala nya. Dia menyetujui apa yang baru saja Chandra omong. Selama ini memang lebih banyak Chandra yang bantu daripada kakak-kakak atau adik-adik nya yang lain.
Selama mereka berdua berbincang, mereka tidak menyadari ada seseorang yang selalu mengikuti gerak-gerik Caroline.
Jody yang ditugaskan Danu untuk mengawasi gerak-gerik Caroline. Dan mencari tahu siapa antek-antek yang sudah menolongnya.
Jody sudah mengambil foto Chandra dari jauh, foto yang di zoom dengan kamera khusus sehingga hasilnya memuaskan.
*
*
Di kediaman Pingkan.
Sisil terbangun dari tidurnya. Dikiranya hari sudah pagi, ternyata malam. Ternyata tidurnya pulas sekali.
Sisil bangun dan berjalan keluar kamar menuju ruang tamu. Lampu-lampu dalam ruangan semua sudah nyala, mungkin bi Inah yang menyalakan.
Dilihatnya Pingkan yang pulas di atas sofa. Sisil membangunkan Pingkan perlahan. Disentuhnya tangan Pingkan. Pingkan perlahan mengerjabkan matanya.
Sisil tersenyum begitu Pingkan melihat ke arahnya.
"Bangun, Ping! Udah malam lho! Kita belom mandi, belom makan! " ucap Sisil sambil menguap.
"Lu juga baru bangun ya? " Pingkan balik bertanya karena melihat Sisil masih menguap.
"Pesan makan yuk! Laper gua! " lanjut Sisil seraya memegang perutnya.
"Sama. Cacing-cacing udah pada nyanyi nih! Hahaha...... " tawa Pingkan pecah disusul Sisil. Mereka berdua geli sendiri karena perut mereka bisa pada bunyi karena lapar.
Pingkan meraih ponselnya yang berada di meja. Dia memesan dua macam masakan plus dua bungkus nasi putih dari restauran yang berada dekat rumahnya, masih satu komplek.
Tak lama terdengar suara pintu di ketuk. Bi Inah dari dalam tergopoh-gopoh keluar.
"Siapa ya non? Malem-malem ada yang ketuk pintu pagar! " tanya bi Inah dengan nada khawatir.
"Bukan siapa-siapa bi! Mungkin itu pesanan makanan kita berdua kali! " sahut Pingkan cepat.
"Oh bibi kira ada siapa yang bertamu malem-malem. " ucap bi Inah dengan wajah yang menampakkan kelegaan.
"Bibi udah makan belum? Kalau belum pesan aja Bi! " ujar Pingkan melihat kearah bi Inah.
"Sudah kok non!" sahut Bi Inah sambil berjalan ke arah depan.
Bi Inah langsung membuka pintu pagar untuk mengambil pesanan makanan yang diantar. Kemudian menyodorkan uang yang tadi diberikan Pingkan. Setelah mengucapkan terimakasih, orang yang mengantarkan makanan itu pun pergi dan Bi Inah langsung mengunci kembali pintu pagar itu.
__ADS_1
Bi Inah berjalan masuk ke dalam, langsung membawa masakan tadi ke meja makan. Dikeluarkan semuanya dan ditempatkan pada wadahnya, kemudian disusun rapih di meja makan.
Pingkan dan Sisil sudah selesai mandi dan sekarang mereka berdua sudah duduk di meja makan.
Tanpa tunggu di perintah lagi keduanya langsung makan.
Dalam sekejap nasi plus masakan habis semua.
Mereka berdua masih duduk di depan meja makan.
"Sil, besok lu kerja? " tanya Pingkan sambil membersihkan mulutnya.
"Iya, kerjalah. Kenapa say? " heran Sisil dengan pertanyaan Pingkan.
"Gak papa, tanya doang! " kekeh Pingkan dengan tangan memegang gelas minum.
"Jadi gimana dengan tempat kost? Apa ada yang cocok, Sil? " tanya Pingkan lagi.
"Gua mau cari yang bisa keluar dua puluh empat jam, Ping! Berarti cuma ada dua tempat aja! Besok baru gua kasih tahu ya! " sahut Sisil tersenyum.
"Oke.... oke.... " Pingkan manggut-manggut.
Pingkan kembali menguap. Habis perut kenyang, rasa kantuk pun menyerang kembali.
"Gua udah ngantuk lagi! " celetuk Pingkan. Mungkin badan nya masih capai atau karena sudah malam.
"Sama. Gua juga ngantuk! Udah malam, kita aja yang makannya telat! " Sisil terkekeh. Dia membayangkan jika tiap malam makan jam segini terus langsung tidur, bisa gendut nih perut. Wkwkwkwk....
"Udah yuk tidur lagi, Sil! " ajak Pingkan. Lalu dia beranjak ke ruang tamu untuk mengunci pintu rumah dan mematikan lampu ruang tamu.
Pingkan dan Sisil masuk ke kamar Pingkan untuk tidur. Tidak sampai setengah jam mereka berdua sudah kembali terlelap.
*
*
bersambung.....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Maaf ya dua hari kemarin author gak bisa up sebab kurang enak badanππ»
Jangan lupa komentar membangun, like dan vote nya ya bestieπ
Dukung terus karya mommy ya.... π€
Terimakasih buat teman-teman yang sudah mendukung dan yang selalu mendukung..... dukungan kalian sangat berarti buat mommy π€
__ADS_1
Luv u all ππ€β€π
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=