Gadis Yang Terbuang

Gadis Yang Terbuang
Bab 103. Acara Barbeque 2


__ADS_3

Mama Wiwid melongok sebentar ke halaman belakang, dimana dia melihat lelaki beda generasi itu sedang asyik memasang meja dan alat-alat panggang lainnya.


Senang hati Mama Wiwid melihat lelaki beda generasi itu yang memang selalu akur dan saling mendukung satu dengan lain nya.


"Met siang, Tante! " sapa Danu yang mengagetkan Mama Wiwid.


"Eh.... siang! Kamu.... bikin kaget aja! " rutuk Mama Wiwid yang sedikit kesal.


"Siang, Tante! Apa kabarnya? " sapa Vivian yang berada di belakang Danu.


"Siang juga, Vi! Tante kabar nya baik-baik aja! Kamu gimana? Udah lama gak main kesini. Ini yang kedua atau ketiga ya kamu datang kesini? " ucap Mama Wiwid pada Vivian ramah dan sekaligus bertanya.


"Ini yang ketiga, Tan! " jawab Vivian dengan tersenyum. Rupanya ingatan Mama Wiwid masih berfungsi dengan baik.


"Makanya kamu tuh kalau datang main kesini Vivian di bawa dong, Danu! " cerocos Mama Wiwid pada Danu yang sudah dianggap nya seperti anak sendiri.


"Sibuk wara-wiri gak jelas, Tan! " jawab Danu diiringi dengan tawa nya.


"Kamu itu, Mas! Ngeledek mulu! " kesal Vivian pada Danu yang masih tertawa.


Mama Wiwid yang melihat kelakuan Danu cuma bisa geleng-geleng kepala.


Sisil yang sedang berjalan ke halaman belakang dengan membawa nampan berisi udang dan cumi berhenti sejenak di dekat Mama Wiwid.


"Lho? Vivian? " heran Sisil menegur Vivian. Vivian pun gak kalah terkejutnya di sapa Sisil.


"Eh Kak Sisil! Kakak juga ada di sini? " sapa Vivian yang balik bertanya.


"Iya, Kakak lagi bantu-bantu di sini! Pingkan gak ikut kamu ya? " tanya Sisil lagi.


"Gak Kak. Vivian kan diajak Mas Danu kesini! " jawab Vivian tersenyum.


Sisil menganggukkan kepala dan tersenyum. Dia juga menyapa Danu dengan ramah.


Sisil membawa nampan berisi udang dan cumi itu ke halaman belakang dan meletakkan nya di atas meja yang sudah disiapkan Papa Herry dan Johan.


Danu menyapa Papa Herry dan Johan, juga dengan Vivian. Mereka mengobrol sebentar.


Sementara itu meja untuk bakaran sudah terisi penuh. Ada nampan berisi udang dan cumi, nampan ikan, nampan ayam, nampan sayur lalapan dan nampan buah-buahan. Untuk air minum sudah disediakan aqua di dalam dus, jadi tinggal diambil saja.

__ADS_1


Sisil meminta ijin pada Johan untuk mengundang Pingkan datang ke acara barbeque ini. Dan Johan mengijinkan nya, apalagi setelah mengetahui jika Vivian adalah sepupu nya Pingkan.


Meja yang disiapkan untuk meletakkan hasil bakaran hanya baru terisi nasi putih dan nasi uduk saja, sebab bakaran nya belum jadi.


Johan mengambil inisiatif untuk memulai bakaran. Dia mengoleskan udang-udang yang mau di bakar dengan bumbu dulu.


Tempat bakaran yang sudah dinyalakan dengan memakai batok kelapa sudah siap. Johan menyusun udang-udang yang sudah diberi bumbu di atas tempat pembakaran.


Danu juga membantu Johan karena ada tempat bakar yang masih belum di pakai. Danu mengolesi ikan-ikan yang mau di bakar dengan bumbu racikan Mama Wiwid. Lalu menyusun nya di atas panggangan yang sudah siap.


Sisil sudah mengirim pesan WA pada Pingkan, sahabat nya. Dan Pingkan yang menerima pesan dari Sisil langsung bertukar baju dan siap-siap berangkat menuju rumah orang tua Johan.


Pingkan membawa mobilnya cukup cepat dan hanya dalam waktu tiga puluh menit saja dia sudah tiba di depan rumah orang tua Johan yang megah.


Sisil menyambut kedatangan Pingkan dan mengajaknya masuk ke dalam karena barbeque nya diadakan di halaman belakang.


Begitu sampai di halaman belakang yang sudah ramai, Sisil mengenalkan Pingkan pada Papa Herry dan Mama Wiwid mengulurkan tangan nya menyambut Pingkan.


Kedua orang tua Johan menyambut Pingkan dengan ramah. Dan menyuruh Pingkan untuk langsung bergabung.


Sisil, Pingkan dan Vivian membantu Johan dan Danu yang sedang mengipasi panggangan masing-masing.


Sementara orang yang lagi diomongin sedang asyik membantu Johan. Juga Pingkan yang sibuk mengatur piring-piring untuk hasil panggangan.


"Gua gak nyangka kalau Danu pacaran sama sepupu lu, Ping! " ucap Sisil pada Pingkan.


"Iya benar, Ping! Gua juga gak nyangka! " sambung Johan sambil tetap mengipas panggangan.


"Hahaha..... kalian gak nyangka nya si Vivian! Lha gua malah gak nyangka kalau pacarnya itu si Danu, asisten lu, Han! " celetuk Pingkan yang ceplas-ceplos. Begitulah gaya nya Pingkan.


"Masalah nya dia gak pernah cerita tentang pacarnya atau pacaran sama siapa ke gua! " sambung Pingkan lagi.


"Hahaha..... " meledak lah tawa Pingkan, Sisil dan Johan.


Papa Herry dan Mama Wiwid yang duduk di dekat meja hasil bakaran hanya bisa senyum-senyum saja melihat keramaian anak-anak muda yang berkumpul ini.


"Ada apa ini? Pasti habis ngomongin gua ya? " tanya Danu yang tiba-tiba menghampiri untuk mengambil bakaran lagi.


"Pede banget sih yang memang lagi diomongin! " celetuk Pingkan cepat.

__ADS_1


"Hahaha...... " kali ini mereka berempat tertawa ngakak. Hanya Vivian yang terdiam karena tidak bergabung.


"Lu tuh pacaran sama sepupu gua tuh, mbok ya kasih tahu dong! " sindir halus Pingkan.


"Lho? Gua kira lu udah tahu, Ping! Gua kira juga si Vivian udah ngomong atau cerita gitu! Eh... tahunya gak sama sekali! " tangkis Danu membela diri.


"Makanya jangan lama-lama kalian pacaran! Buruan married deh! " ketus Pingkan pada Danu.


"Iya..... ini juga lagi buat planning married! " jawab Danu terkekeh-kekeh.


"Hei..... gak ada deh! Gua yang mau married duluan! Lu nyusul habis gua nanti! " sentak Johan mengagetkan Danu, Sisil dan Pingkan.


"Walah........ ada yang ngebet mau cepat-cepat married nih! " ledek Pingkan diikuti dengan tawa semuanya. Termasuk Papa Herry dan Mama Wiwid juga ikut tertawa mendengarnya.


Buat mereka berdua selalu orang tua jika Johan ingin menikah cepat tidak jadi masalah. Justru mereka berdua senang dan bahagia.


Wajah Johan memerah malu, apalagi wajah Sisil sudah kaya kepiting rebus.


"Bener nih kamu mau cepat-cepat married, Han? " tanya Papa Herry memastikan.


"Iya, Pa! " jawab Johan singkat.


"Kapan niat nya atau rencana nya? " tanya sang Papa lagi.


"Johan sih mau nya akhir tahun atau awal tahun depan, Pa! Coba Papa dan Mama tolong carikan kapan yang bagusnya untuk Johan menikah sama Sisil! " pinta Johan pada Papa Herry dan Mama Wiwid.


"Oke.... Oke...... nanti Papa dan Mama carikan yang terbaik buat kalian! " sahut Papa Herry tersenyum penuh arti pada istrinya. Mama Wiwid pun tersenyum.


Acara panggang memanggang pun siap. Hasil bakaran sudah terhidang semua di atas meja. Lalu mereka semua duduk mengitari meja persegi panjang tersebut. Bik Darmi membantu membersihkan sampah-sampah yang berserakan.


*


*


*


bersambung.....


_______________________________________

__ADS_1


__ADS_2