
Sisil yang sepulang bekerja langsung tertidur, terbangun tidurnya. Perutnya terasa lapar. Dia melihat jam dinding yang sengaja di ****** di atas pintu masuk.
"Hah! Sudah jam sembilan lewat! Cepat amat sih! " kaget Sisil dalam hatinya.
"Duh makan apa ya malam-malam gini? " tanya Sisil lagi dalam hatinya.
Sisil membuka ponsel nya dan mencari makanan lewat Go-food. Akhirnya dia memesan mie goreng seafood dari restauran yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat kost nya.
Sambil menunggu mie goreng nya datang, Sisil mandi. Dia merasakan lengket pada seluruh badan nya.
Setelah selesai mandi, rasanya segar sekali badan Sisil. Tak lama ponselnya berbunyi.
"Hallo...! " sahut Sisil ketika menjawab telpon nya.
"Mau antar makanan bu, sudah di tempat kost ini. Kamar no berapa ya? " tanya pengantar makanan.
"Kamar 11A, Pak! " sahut Sisil cepat.
Gak pakai lama, pintu kamar Sisil diketuk dari luar.
Sisil membuka pintu dan mengambil makanan yang dipesannya serta tak lupa mengucapkan terimakasih.
Sisil makan mie goreng seafood nya dengan lahap saking sudah laparnya. Dia duduk di atas ranjang nya sambil menonton TV.
Setelah selesai makan, Sisil tetap lanjut menonton TV kembali.
Dikarenakan menonton TV sambil tiduran, membuat mata Sisil kembali mengantuk.
Sisil mematikan TV nya, lalu dia mengambil posisi tidur dengan memeluk bantal guling kesayangan nya yang sempat dibawa dari rumah.
Tak lama suara dengkuran halus terdengar. Sisil sudah di alam mimpi.
**
Pagi-pagi sekali Sisil sudah terbangun, sebab sepertinya ada keributan di tempat kost.
Sisil mengucek mata nya yang masih mengantuk. Dilihat jam dinding yang ada di atas pintu kamar kost nya.
"Astaga! Masih jam empat pagi! Siapa sih yang ribut-ribut, ganggu orang tidur aja! " sungut Sisil dalam hatinya.
Sisil membuka pintu kamarnya dan menutupnya kembali, lalu dia berjalan ke arah depan dimana terdapat suara yang ribut.
Tampak seorang lelaki yang sudah sempoyongan mabok sambil teriak-teriak memaki seorang perempuan.
Sisil tidak tahu siapa dan bagaimana cerita nya. Sebab dia orang baru di kost tersebut dan juga dia tidak mau terlalu banyak tahu.
Sisil buru-buru balik ke kamar kost nya dan mengunci pintu kamarnya. Rupanya Sisil takut sama orang mabok yang maboknya marah-marah gak jelas gitu.
Sisil kembali merebahkan badan nya yang masih mengantuk. Di pasang nya alarm untuk membangunkan dirinya setengah enam pagi.
__ADS_1
Sisil merasa baru tertidur sebentar, alarmnya sudah berbunyi. Sisil bangun dengan males.
Sisil memasang kupingnya, sudah tidak terdengar orang yang ribut-ribut tadi.
Sisil membuka pintu kamarnya dan mengambil handuknya di gantungan handuk yang diletakkan di depan kamarnya. Lalu kembali mengunci pintu kamar nya dan langsung mandi.
Sisil bersiap-siap dengan pakaian kantornya. Memakai pemulas wajah tipis untuk menutupi kantong mata nya karena kurang tidur.
Sisil hanya sarapan roti yang dibelinya kemarin. Selesai makan, Sisil memesan taxi online untuk pergi ke kantor nya.
Sepuluh menit kemudian taxi online sudah menelpon mengabari jika sudah berada di parkiran kost.
Sisil mengunci pintu kamarnya dan berjalan ke depan. Dia masuk ke dalam taxi online nya yang sudah menunggu dan siap mengantar Sisil ke kantor.
Sesampainya di kantor, Sisil absen dan langsung menuju ruangan marketing.
Begitu bel kantor berbunyi, Sisil langsung menelpon Rina, sekretaris nya Pak Harry untuk menanyakan berkas yang kemarin dititip apakah sudah di tanda tangani dan bisa diambil.
"Belum, Sil! Sore aja kamu langsung ambil di ruangan Pak Harry ya! " ucap Rina memberikan solusi.
"Oke, Rin! Sore aja! Siapa tahu ada yang mau ditandatangani lagi! " sahut Sisil diikuti kekehannya.
Kemudian Sisil tenggelam dalam rutinitas kantor nya.
Tak terasa jam makan siang sudah lewat. Sisil hampir saja melupakan makan siang jika Maria tidak mengajaknya.
"Untung lu ingetin gua, Mar! Kalau gak, makan bisa sendirian! " ucap Sisil diiringi tawanya.
Selesai makan, mereka berdua berjalan bersama dengan tujuan lantai yang sama sebab customer dan marketing bersebelahan hanya dikasih pembatas saja.
Sisil kembali disibukkan dengan pekerjaan nya. Dia harus membuat penilaian tentang customer yang mau mengambil kredit sebelum semua berkas diberikan pada analisis kredit.
Dan ini merupakan hal baru buat Sisil. Makanya Sisil mengerjakan nya dengan teliti dan hati-hati.
Menjelang sore Sisil baru menyelesaikan tugasnya. Dan Pak Abdul juga ada menitipkan dua buah map untuk minta tanda tangan Pak Harry.
Waktu bergulir dengan cepat. Jam pulang kerja hanya tinggal sebentar lagi.
Sisil membereskan meja kerjanya. Dia memisahkan pekerjaan dan map-map yang mau dibawa ke atas.
Setelah meja nya rapih, Sisil bersiap-siap menuju ruangan Pak Harry yang berada di lantai dua.
Sebelum ke lantai dua, Sisil naik dulu ke lantai tiga dan memberikan berkas-berkas pengajuan kredit beserta penilaian nya kepada Junaedi langsung, sebab anak buahnya sudah pada pulang.
"Lembur, Jun? " tanya Sisil basa-basi. Padahal sudah tahu Junaedi nya masih ada, berarti ya lembur. Wkwkwk....
"Iya, Sil! Biasa kuli! " jawab Junaedi yang langsung tertawa. Sisil tersenyum, lalu pamit pada Junaedi.
Sisil lanjut turun ke lantai dua dengan membawa dua map lagi di tangan nya. Begitu sampai di depan ruangan Pak Harry, Sisil tertegun sebentar. Ada sedikit keraguan dalam hatinya. Masalah nya ini sudah bukan jam kantor, sekretaris juga sudah kosong.
__ADS_1
Sisil menepiskan keraguan nya. Dia melangkah masuk ke dalam ruangan Pak Harry.
Sisil meletakkan dua buah map di atas meja Pak Harry.
"Sekalian sama yang kemarin Pak! " ucap Sisil memberitahukan tentang map yang kemarin.
Pak Harry hanya diam saja. Tapi dia langsung memeriksa map yang baru diberikan Sisil dan menandatangani nya.
Sisil nampak gelisah. Pak Harry menatap Sisil.
"Kenapa kamu? " tanya Pak Harry heran.
"Saya kebelet mau pipis. Saya tinggal dulu, Pak! " sahut Sisil sambil membalikkan badan nya.
"Mau kemana kamu? Itu di toilet saya saja! " suruh Pak Harry cepat sebelum Sisil berlari keluar.
Tanpa babibu Sisil langsung masuk ke dalam toilet pribadi Pak Harry yang ada dalam ruangan nya.
Sisil menutup rapat pintunya. Di dalamnya baru terdapat toilet kecil lagi untuk buang air kecil. Sisil masuk dan menguncinya dari dalam.
Begitu selesai dan merapikan bajunya serta rok nya, Sisil membuka pintu toilet kecil itu.
Sisil terkejut karena di dalam toilet sudah ada Pak Harry.
Belum sempat terkejutnya hilang, Pak Harry sudah langsung memeluk Sisil. Pak Harry berusaha mencium bibir Sisil dan menyudutkan Sisil sampai ke tembok.
Sisil berusaha memberontak. Sementara tangan Pak Harry sudah menjelajah untuk menyingkap rok sepan Sisil.
Sisil bingung dan takut. Berteriak pun sudah pasti tidak ada yang dengar. Sebab ini toilet di dalam ruangan Pak Harry dan karyawan-karyawan sudah pada pulang.
Sisil merasakan sebuah batang keras mengenai pahanya. Sisil masih berusaha sekuat tenaga tapi kalah jauh dengan tenaga seorang lelaki. Apalagi lelaki yang sudah dipenuhi hasrat begini.
"Brugghh...! "
"Auuww.....! "
Akhirnya ada kesempatan buat Sisil untuk menendang ******** Pak Harry dengan sekuat tenaganya.
Pak Harry reflek memegang ***********. Dia kesakitan luar biasa. Atau mungkin patah. Sisil tidak mau tahu.
Buru-buru Sisil berlari membuka pintu toilet dan berlari keluar ruangan. Tak lupa disambar nya map-map yang ada di atas meja Pak Harry. Sisil berlari menuruni anak tangga. Dia menaruh map-map itu di atas meja Pak Abdul. Dan Sisil langsung menyambar tas nya dan berlarian ke arah pintu depan.
Sisil berhenti di tempat satpam dan memesan taxi online. Taxi online agak sedikit lama baru datang, Sisil masuk ke dalam dan taxi mengantarkan nya ke tempat kost.
*
*
bersambung...
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=