
Johan membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Sementara Sisil masih belum sadar dan tergolek lemah di jok belakang.
Danu beserta anak buah nya yang berhasil meringkus anak buah Handoko, meninggal kan tempat kejadian sebelum polisi datang ke tempat itu.
Handoko yang terkulai lemas karena pukulan Johan, mulai menampakkan pergerakan.
Handoko membuka matanya. Dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya, terutama bagian wajahnya yang babak belur dihantam Johan.
Handoko berusaha untuk bangun dan berdiri. Dia berjalan tertatih-tatih menuju parkiran mobilnya.
Diabaikan nya rasa sakitnya. Yang lebih penting adalah keluar dulu dari tempat ini.
Akhirnya dengan susah payah Handoko sampai di tempat dia memarkir mobilnya.
Handoko duduk di belakang kemudi. Dia menyalakan mobilnya dan menjalankan mobilnya keluar dari tempat tersebut.
*
*
Johan tiba di apartemen. Diparkirnya mobilnya dekat dengan lift.
Kemudian Johan menggendong tubuh Sisil di pundaknya dan setelah mengunci pintu mobil, dia berjalan menuju lift.
Pintu lift terbuka, Johan keluar dari lift menuju apartemen nya.
Dibukanya pintu apartemen nya dan Johan langsung membawa Sisil ke kamarnya.
Dibaringkan tubuh Sisil dengan hati-hati diatas ranjang nya. Kembali dibenarkan baju Sisil yang berantakan.
Sisil menggeliat sedikit ketika Johan ingin menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Jangan pergiii..... " lirih Sisil pelan dengan tangannya memegang tangan Johan.
Johan menatap Sisil. Dilihatnya Sisil masih memejamkan matanya. Mungkin dia mengigau atau kenapa Johan tidak tahu.
Johan kembali menarik selimut menutupi badan Sisil. Dilepaskan nya tangan Sisil perlahan agar Sisil tidak terganggu.
Johan menukar bajunya dengan piyama nya. Kemudian dia membaringkan dirinya di sebelah Sisil.
"Tidaakk......jangan pergiii..... " kembali terdengar ******* Sisil pelan. Sisil bermimpi buruk.
Johan kembali menatap Sisil dengan sayang. Dielusnya rambut Sisil pelan.
"Aku gak pergi sayang...... " Johan berbisik pelan di telinga Sisil.
Yang tadinya Sisil pingsan dan tertidur seperti gelisah, setelah menerima bisikan Johan tampak mulai tenang. Pelan-pelan dengkuran halus pun terdengar.
Johan masuk ke dalam selimut. Kembali dia memeluk Sisil dan mengelus wajah Sisil.
Dikarenakan capek dan waktu yang sudah mau subuh, akhirnya Johan pun terlelap mengikuti Sisil.
*
__ADS_1
*
Matahari sudah bersinar. Burung-burung terdengar berkicau riang. Sepasang anak manusia masih terlelap dengan berpelukan.
Sisil mengerjapkan matanya yang terasa masih berat. Sinar matahari yang menerobos lewat celah-celah jendela membuat mata nya silau.
Sisil menggerakkan tangannya....
"Auuwww...... " Sisil meringis kesakitan.
Gerakan Sisil dan pekikan Sisil membuat Johan membuka matanya yang masih terasa berat.
"Morning sayang... " ucap Johan pelan dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Sisil yang mendengar ada suara pria pun kaget.
Degghh....
"Dimana ini? " tanya Sisil dalam hatinya. Reflek dia menggerakkan tubuhnya.
Johan semakin mempererat pelukannya. Sisil berusaha memberontak. Dia belum bisa berpikir jernih.
"Tenang, sayang..... tenang..... " ucap Johan pelan dengan mengelus kepala Sisil.
Sisil yang mendapat perlakuan seperti itu membuka paksa mata nya. Sisil terdiam. Ditatap nya orang yang mendekapnya erat ini.
Degghh.....
"Kak Johan..... " pekik Sisil kaget. Sisil menatap Johan yang masih memejamkan matanya. Dia kembali mengingat kejadian apa yang terjadi semalam.
Sisil tidak menyangka. Justru tadinya dia takut salah untuk menilai orang dibalik masker itu. Ternyata dugaan nya benar, memang Johan.
Johan membuka matanya. Mereka berdua saling menatap. Hanya kata-kata dalam hati mereka yang terucap. Senyum terlukis di bibir Johan.
"Cup..! " Johan mengecup bibir tipis Sisil yang tampak sedikit terbuka.
Wajah Sisil merona seperti kepiting rebus. Johan tertawa melihatnya. Gemes dia melihat tingkah Sisil.
"Sudah ingat kejadian semalam? " tanya Johan. Sisil pun bangun dan terduduk di ranjang. Dia masih mengenakan baju yang kotor dari bekas kejadian itu. Sisil menutupi dirinya dengan selimut.
Sisil mengganggukkan kepala nya. Johan bangun dari tidurnya dan ikutan duduk di ranjang, berhadapan dengan Sisil.
"Makasih banyak, kak Johan! Aku gak kebayang gimana jadinya jika kakak gak datang nolongin aku.... " ucap Sisil dengan mata sudah berkaca-kaca.
"Sudahlah..... jangan dibayangin! " sahut Johan singkat. Tangan nya menghapus airmata yang sudah turun di pipi Sisil.
Sisil terisak-isak sedih. Bayangan kejadian semalam masih menghantuinya. Badannya bergetar hebat, rasa takutnya kembali mendera.
"Hiks..... hiks..... hiks..... " tangis Sisil pecah memecah kesunyian pagi.
Johan merengkuh tubuh Sisil ke dalam pelukannya. Dielusnya punggung Sisil untuk menghilangkan rasa takut dan cemasnya.
"Tenang yaa..... semua sudah berlalu...... semua sudah lewat..... " ujar Johan sambil tetap tangan nya mengelus punggung Sisil.
__ADS_1
Johan sangat mengerti ketakutan yang Sisil alami. Dielusnya kepala Sisil lembut.
Sisil memeluk pinggang Johan dan menyurukkan kepala nya di dada bidang Johan. Tangisnya mulai mereda.
"Maafkan aku yaa yang telat datang nya...! " ucap Johan sambil mengelus rambut Sisil. Sisil menggelengkan kepalanya.
"Gak kak....justru Sisil berterima kasih banget sama kak Johan! " Sisil mempererat pelukannya.
Johan dan Sisil saling berpelukan. Hanya terdengar suara burung bersahutan. Mereka berdua merasakan hangatnya tubuh mereka masing-masing yang mulai menjalar ke seluruh tubuh mereka dan hati mereka pun hangat.
Sisil mendongak kan kepalanya. Ditatap nya wajah tampan yang ada di hadapan nya.
Johan menundukkan kepalanya, menatap mata Sisil. Mata yang penuh kerinduan, mata yang sangat mendambakan kasih sayang.
Johan mendekati wajah Sisil. Diciumnya kening Sisil dengan sayang. Dari kening turun ke hidungnya yang mancung. Dari hidung turun ke bibirnya yang tipis merah ranum, sangat menggoda.
Johan mencium bibir Sisil dengan lembut. ********** dengan penuh kelembutan.
Sisil membalas ciuman Johan. Dikalungkannya kedua tangan nya di leher Johan. Sisil terbuai dengan ciuman Johan yang penuh kelembutan.
Lamanya mereka berdua bertukar saliva. Setelah merasa Sisil agak tersengal-sengal nafasnya, Johan pun melepaskan ciumannya. Kening mereka beradu, nafas mereka memburu.
Johan berusaha menetralisir suasana hatinya. Demikian juga Sisil. Jantung Sisil berdebar sangat kencang. Dia takut jantung nya copot tidak kuat menahan goncangan.
"Tawaran ku apakah diterima? " tanya Johan berbisik. Sisil bingung menjawabnya.
"Maukah kau menjadi orang yang kusayang dan kucintai? " tanya Johan lagi dengan lembut.
Ditangkupnya wajah Sisil dengan kedua tangan nya. Ditatapnya bola mata Sisil yang bulat.
"Tapi Sisil banyak kekurangan nya kak! Apa kakak bisa menerima nya? " Sisil malah balik bertanya.
"Tatap aku, Sil!! Jika aku sudah meminta mu berarti aku bisa menerima diri kamu seutuhnya!! " Johan menegaskan.
Sisil menatap mata Johan yang menyiratkan ketegasan dan ketulusan itu. Di dalam sana ada banyak cinta untuk dirinya. Hal ini membuat hati Sisil berbunga-bunga, bahagia. Tanpa disadari Sisil, airmata nya jatuh ke pipinya. Dia menangis dalam diam.
Rasa bahagia, terharu, sedih semua menjadi satu. Sisil mengerjapkan matanya yang basah karena airmata.
Johan menghapus airmata Sisil dengan jemarinya.
"Jangan menangis, sayang....! " lirih Johan pelan. Kembali dilumatnya bibir merah rasa madu yang sudah membuatnya candu itu.
"Love u honey.... " bisik Johan di telinga Sisil dengan mesra sambil memagut kembali bibir mungil Sisil.
*
*
bersambung....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Ini visual Johan Pratama..... meni ganteng pisan ya si abang.... ngehalu dulu ahh... 😄