
Sehabis makan malam di rumahnya, Johan berniat ke kamarnya untuk mandi bebersih diri.
Setelah mandi dan bersih-bersih Johan keluar kamar, bergabung dengan kedua orang tua nya di ruang keluarga.
Papa Herry nampak serius membaca koran Kompas. Meskipun berita sudah banyak dan bisa di baca di online ataupun hape, tapi tetap yang namanya orang tua masih lebih enak baca koran.
Mama Wiwid juga gak mau kalah, dia lagi asyik membaca majalah Kartini kesayangan nya.
Johan duduk di ruang keluarga dengan membawa hape nya.
Bu Wiwid melirik ke arah anaknya yang baru duduk di ruang keluarga.
"Han, kamu ketemu Sisil dimana? " tanya Bu Wiwid yang ternyata masih penasaran bagaimana anaknya bisa bertemu Sisil.
"Kenapa, Ma? Penasaran ya?! " ledek Johan diiringi tawa khas nya. Bu Wiwid tersenyum menanggapi ledekan anak kesayangan nya. Pasalnya Bu Wiwid gak habis pikir Johan bisa bertemu Sisil, sebab Johan sibuk bekerja, sedangkan Sisil juga dulu kerja di Bank.
"Ketemu di Bank, Ma! " ucap Johan setelah tawanya reda.
"Ngapain kamu ke Bank, Han?" heran Mama nya. Sebab setahu Bu Wiwid ada bagian keuangan Johan yang biasa pergi ke Bank.
"Ambil kredit rumah lewat Bank, Ma! Kebetulan rumah yang Johan ambil ini bekerja sama dengan Bank tempat Sisil bekerja! " terang Johan pada Mama nya.
Bu Wiwid tersenyum mendengar nya.
"Mama juga kok bisa kenal sama Sisil? " tanya balik Johan yang dari tadi siang ingin bertanya pada Mama nya tapi tidak ada kesempatan.
"Penasaran juga kan?! " ledek Mama Wiwid pada anaknya yang disambut dengan tawa Johan.
"Iya sih! Sebenarnya bukan penasaran, tepatnya kaget aja! Kok Mama bisa kenal dan tampaknya dekat lagi! " jelas Johan pada Mama nya.
Bu Wiwid pun tertawa renyah. Lalu dia menceritakan awal pertemuan nya dengan Sisil dan pertemuan selanjutnya.
"Anaknya baik dan sopan, Han! Udah gitu cantik lagi! Mama suka dari pertama Mama kenalnya! " ucap Mama Wiwid di akhir ceritanya.
"Iya, Ma! " ujar Johan mengiyakan perkataan Mama nya. Sisil memang baik dan sopan pada semua orang, terutama dengan orang yang lebih tua dari nya.
Papa Herry yang lagi membaca koran Kompas, ternyata kupingnya tetap mendengar apa yang dibicarakan oleh istri dan anak nya.
"Wah..... Mama rupanya sudah kenal duluan sama calon mantu kita! Papa ketinggalan dong! " rengek Papa Herry yang maksudnya meledek istrinya.
__ADS_1
"Ah... Papa! " tawa Mama Wiwid pun pecah bersamaan dengan Papa Herry.
Johan pun ikut tertawa dengan ulah Papa dan Mama nya itu.
Bi Darmi masuk membawa camilan dan tiga gelas jus jeruk, lalu meletakkannya di atas meja.
"Gimana ceritanya itu Sisil bisa jadi sekretaris kamu, Han? Bukan nya Sisil tuh kerja di Bank? Kan kamu ketemu dua juga di Bank! " tanya Mama Wiwid sambil memakan camilan.
"Wah panjang ini ceritanya, Ma! " jawab Johan. Dilihatnya sang Mama sudah bersiap mendengar cerita Johan.
Akhirnya Johan menceritakan kejadian pelecehan seksual yang dialami Sisil sebagai seorang karyawan. Dan hal itu dilakukan oleh seorang pimpinan, tapi tak ada satu orang pun yang berani memberitahu pimpinan tersebut.
"Makanya Sisil keluar dari sana, Ma! Johan dengan segala upaya meminta Danu bikin selebaran lowongan kerja agar Sisil bisa melamar. Kalau dia tahu semuanya karena Johan, bisa-bisa dia gak mau melamar atau kerja di tempat Johan, Ma! " terang Johan panjang lebar.
"Oh, tadinya Sisil gak tahu kalau itu kantor kamu, Han? " tanya Mama Wiwid memperjelas.
"Iya, Ma! Gak tahu! Dia baru tahu pas Johan pulang kemarin. Kan yang interview dia kemarin itu Danu, jadi Sisil mengira Danu itu bos nya! " jelas Johan dengan senyuman menghias bibirnya.
"Tapi Mama jangan ngomong-ngomong lagi sama Sisil kalau ada campur tangan Johan tentang kerjaan dia yang sekarang! Takut Sisil kecil hati! " pesan Johan pada Mama nya.
"Tenang saja! Mama gak akan ngomong! Mama juga gak mau calon mantu Mama sedih! " ucap Mama Wiwid sambil tersenyum.
Papa Herry juga nampak bahagia. Walaupun beliau pintar menutupinya tapi tak bisa dipungkiri raut wajahnya yang tampak bahagia.
Johan sangat merasakan atmosfir bahagia yang melanda rumahnya ini. Dia pun tersenyum-senyum sendiri, merasakan dan menikmati nya.
Mereka bertiga berbincang-bincang ringan tentang pekerjaan di kantor, sambil memakan camilan yang sudah disediakan Bik Darmi dan meminum jus jeruk.
"Oya Han, bagaimana dengan Caitlyn? Apa kamu bertemu dengan boyfriend nya? " sang Mama kembali bertanya perihal anak perempuan nya itu.
Johan pun menganggukkan kepala nya.
"Bagaimana menurutmu, Han? " tanya Mama Wiwid kembali. Dia ingin tahu bagaimana penilaian Johan terhadap teman dekat anak perempuan nya itu.
"Kalau dari segi penampilan sih okelah! Baik juga orangnya! Pekerjaan juga okelah! Tapi sayang nya mereka berhubungan sudah cukup lama tapi Scott belum juga mengenalkan pada orang tua nya! " papar Johan satu per satu tentang pribadi Scott yang dapat dia nilai selama di Canada.
"Kakak itu perempuan, jadi bagaimana pun juga hubungan itu harus yang jelas arahnya mau kemana? Juga harus ada kepastian! " lanjut Johan lagi dengan pemikiran nya.
Papa Herry langsung bertepuk tangan dan tertawa senang. Mama Wiwid juga tersenyum lebar.
__ADS_1
"Papa gak nyangka, anak Papa ternyata sudah dewasa, ya Ma?! " ucap Papa Herry dengan bangga.
"Iya, Pa! Mama juga bangga! " sahut Mama Wiwid dengan senyum yang mengembang.
"Ah Papa.... Mama.... Johan kan hanya menilai saja! Sebab Kakak juga harus memikirkan dirinya sendiri! " ucap Johan yang merasa sedikit jengah dengan pujian dari Papa dan Mama nya.
"Iya betul, harusnya kakak mu itu sudah married! " lanjut Mama Wiwid pelan.
"Sudahlah, Ma! Kita do'akan saja yang terbaik buat anak-anak kita, Ma! " potong Papa Herry yang tidak ingin mendengar curahan kesedihan dari istrinya.
Biar bagaimana pun mereka sebagai orang tua sangat mengharapkan anak-anaknya bisa menemukan jodohnya dan berbahagia.
Johan merasakan juga kegelisahan kedua orang tua nya terhadap kakak satu-satunya itu.
"Johan punya kenalan sewaktu di Canada, dan kebetulan sebenarnya dia itu seangkatan dengan kakak, Pa Ma! Sebenarnya dia mencintai kakak dari jaman kuliah dulu, tapi gak bersambut karena kakak gak kasih jawaban dan orang tua nya menjodohkan nya! Sekarang dia sudah cerai dengan istrinya! " papar Johan pada Papa dan Mama nya.
"Dan dia masih mencintai Kakak! Mudah-mudahan saja mereka berdua ada jodoh! Sekarang dua udah sukses pegang hotel di kota M dan ada cabang juga di Canada. " lanjut Johan menjelaskan.
"Rasanya Papa tau deh siapa yang kamu maksud, Han! Itu kalau gak salah anaknya teman Papa, si Willy! " ucap Papa Herry sambil menepuk dahinya.
"Oh Papa kenal? Johan sih cukup lumayan dekat dengan anaknya, Pa! Kan kemarin ini sempat ketemu juga di Canada! " sahut Johan memberitahu sang Papa.
"Semoga saja mereka berjodoh, ya Pa! " doa Mama Wiwid.
"Kamu kapan mau ajak Sisil ke rumah? " tanya Mama Wiwid menatap Johan.
"Secepatnya, Ma! " jawab Johan tersenyum.
"Jangan lama-lama! Papa juga mau kenalan! " pesan Papa Herry pada anak nya.
"Ya, Pa! " jawab Johan kembali dengan senyum di bibirnya.
Setelah bincang-bincang keluarga selesai, Johan masuk ke kamarnya. Demikian juga Papa Herry dan Mama Wiwid.
*
*
bersambung....
__ADS_1
_______________________________________