
"Mas, masih ada kerjaan ya?"
"Hm? Enggak."
Sejak tadi Valenzia biarkan Mikhail fokus dengan ponselnya, sudah lebih dari satu jam dan Zia bingung sendiri apa yang sebenarnya tengah suaminya kerjakan.
Mikhail menyudahi kesibukannya, pria itu memang memastikan banyak hal di sana. Hanya saja dia tidak menduga jika Zia benar-benar dia buat menunggu karena ini. Sudah hampir larut, dan Zia juga sudah selesai menggunakan rangkaian skincare yang banyak itu. Mikhail terdiam kala istrinya hendak mematikan lampu, menandakan jika Zia ingin tidur.
"Sayang mau apa?" tanya Mikhail mennggigit bibirnya, kenapa secepat itu malam ini berlalu, pikir Mikhail.
"Matiin lampu, katanya nggak nyaman kalau lampunya nggak mati, Mas gimana sih."
Bukan itu maksud Mikhail, dia hanya terkejut saja kenapa secepat itu. Memang salah dia kenapa tidak menyadari sudah jam berapa dan asik sendiri dengan pekerjaannya.
"Kenapa cepat sekali, kita belum apa-apa kamu mau tidur?" tanya Mikhail seakan Zia meninggalkan hal berharga dan itu adalah kesalahan.
"Lalu mau ngapain lagi? Ini udah malem, jamnya tidur ... Mas dari tadi sibuk sendiri, apa nggak perih matanya maen hp mulu."
Istrinya kembali cerewet, sejak tadi dia biarkan Mikhail begitu tunduk dengan ponselnya bukan berarti dia biarkan begitu saja. Zia sengaja tak mengganggu karena raut wajah Mikhail serius sekali entah apa yang dia lakukan.
"Ya tapi kan, aarrgghh Zia masa tidur, Sayang."
Memang dasar pria sinting, sejak tadi dia dibiarkan sendiri lalu kenapa sekarang ketika Zia hendak tidur Mikhail frustasi sendiri. Tatapan Mikhail tak terbaca dan Zia masih bertahan di posisinya, belum apa-apa karena takut salah langkah.
"Terus maunya apa? Emang udah waktunya tidur kan, mata kamu juga lelah, Mas ... tuh merah warnanya," tutur Zia apa adanya, meski Mikhail menggunakan kaca mata tetap saja mata sang suami terlihat lelah.
"Sini, Mas kangen Zia sumpah."
Mulai, Mikhail kembali menunjukkan tanda-tanda gilanya kambuh. Pria itu mengacak rambutnya sedikit kasar kemudian menenggelamkan wajahnya di bantal sembari tak henti meminta agar Zia jangan tidur dulu.
__ADS_1
"Satu jam, boleh ya?"
"Satu jam apanya? Mas nggak lihat jam apa gimana? Tidur, besok kamu tu kerja ... ntar kesiangan lagi, jadi alesan lagi buat nggak masuk kayak yang udah-udah," celoteh Zia panjang lebar, dia paham apa yang Mikhail maksudkan sebenarnya, hanya saja ini sudah terlalu larut dan jujur saja dia mengantuk.
"Ya nggak masalah, kan Mas bosnya, Zia."
Bukan Mikhail namanya jika tidak seenaknya, memang benar dia bosnya dan benar mau dia datang sewaktu jam kerja sudah selesai juga terserah dia. Prinsip hidup suka-suka dia dan Mikhail tak peduli apa yang orang katakan tentangnya.
"Heleh bisa aja jawabnya, aku aduin Mama kalau kamu suka buat jam tidur aku berantakan ya, Mas."
"Hahaha Zia-zia, yang penting Mas nggak pernah buat jam tidur kamu berkurang kan ... kamu tetap tidur 8 jam dan Mas nggak pernah usik kamu kalau memang masih ngantuk," jawab Mikhail tak terima jika dikatakan mengacaukan jam tidurnya.
"Ya tuhan, tapi aku udah pakai skincare begini ... mubazir kalau kamu apa-apain."
Zia masih berusaha bertahan, meski kemungkinan dia menang sangat sedikit sekali. Bagi Mikhail selagi istrinya tidak terlalu lelah ataupun sakit maka dia tidak menerima penolakan dengan alasan apapun.
"Nggak ada yang mubazir, tanpa itu kamu tetap akan cantik, Zia."
-
Rasa kantuknya sudah benar-benar terasa, akan tetapi Valenzia juga tak tega pada akhirnya pada Mikhail yang terus merengek persis anak TK. Dengan berat hati Zia mengikuti kemauan Mikhail hingga wajah pria itu berubah cerah seketika istrinya sudah berada di hadapannya.
"Zia kenapa cantik terus, jangan salahkan Mas kalau kita jadi begadang malam ini," tutur Mikhail tersenyum lebar sebagai tanda kemenangan, istrinya menyerah dan benar-benar mengikuti apa yang dia mau.
"Nggak usah senyum-senyum, memang dasar kamu aja yang mes*um!!" sentak Zia menepuk bibir Mikhail pelan namun dengan sedikit kekuatan.
"Me*sum sama istri itu wajib, Zia. Daripada mesum sama tetangga," jawab Mikhail sekenanya, Zia yang sedikit sensi dengan kata-kata tetangga sontak mencubit perut Mikhail hingga pria itu mengaduh sakit.
Mulutnya bicara, sementara tangannya sudah menarik Zia begitu eratnya dalam pelukan. Jarak di antaranya kian terkikis, Zia tak bisa lagi menolak ketika Mikhail membenamkan bibir tanpa memaksa setelahnya. Membuat seseorang yang awalnya menolak kemudian jatuh terbuai dengan sendirinya adalah kemampuan Mikhail yang tak dimiliki pria lain.
__ADS_1
Tatapan keduanya terkunci sesaat, Zia menarik sudut bibirnya tipis kala Mikhail menepikan anak rambutnya. Dibuat jatuh cinta berkali-kali pada pria yang memang sudah menjadi miliknya adalah level kebahagiaan yang berharga bagi Zia.
"Mas," panggil Zia sembari menelusuri wajah tegas Mikhail dengan jemarinya.
"Hm, apa, Sayang?" tanya Mikhail sebegitu lembutnya, bukan karena pria itu tengah menginginkan hal yang iya-iya, akan tetapi memang dia selembut itu pada sang istri.
"Anjiing kamu berisik banget, besok-besok kandangnya buat jauhan dikit, Mas ... aku takut denger suara mereka." Demi apapun lolongan peliharaan Mikhail itu benar-benar mengganggu bagi Zia, bukan hanya berisik melainkan dia takut jika sudah mendengarnya.
Benar-benar merusak suasana yang perlahan panas ini, Mikhail baru sadar jika hewan peliharaannya berisik. Cepat-cepat dia meraih ponsel dan meminta Babas untuk bertindak secepatnya.
"Udah, lanjutin yang tadi. Mas udah minta Babas buat cek mereka kenapa, jangan marah ya ... besok Mas pindahin kandangnya di belakang sana sekalian."
Itu adalah janji kilat agar Mikhail dapat kembali dengan bebas melanjutkan malamnya. Meski kemungkinan akan dia tepati cukup sedikit tentang ini, pasalnya kandang yang sudah Mikhail siapkan adalah tempat paling strategis dan sudah dia pertimbangkan agar memiliki manfaat sebagai anti maling.
Meninggalkan majikannya yang saat ini tengah melewati malam panas bersama sang istri, lain halnya dengan Babas yang malam-malam dibuat kesal lantaran ulah anjiing-anjiing Mikhail yang tak hentinya menggonggong entah apa yang dilihat.
"Ck ... dasar anj!! Bisa diam tidak? Kalian benar-benar mengganggu tidurku!!"
Orang waras mana yang memaki seekor anjiing selain Babas. Pria itu tak terima lantaran tidurnya dibuat terganggu hanya karena kericuhan yang diperbuat makhluk berkaki empat itu.
"Kalian diam!! Atau mau aku siram?"
Malam-malam begini, sudah tahu dia penakut. Babas kesal sekali dengan perintah Mikhail malam ini. Rintik hujan yang perlahan reda justru semakin membuat Babas takut, apalagi setelah dia ingat-ingat hewan peliharaan Mikhail ini bukan anjiing biasa.
Gonggongan mereka jelas ada sebabnya, dan di pos jaga sepertinya Jackson ketiduran bersama security usai main catur seperti biasa. Babas melihat teliti keluar pagar demi memastikan sebab anjiing itu terus menggonggong tanpa henti.
"Siapapun kau, tampakkan dirimu!! Jangan jadi pengecut!!" teriak Babas ngeri-ngeri sedap padahal dia sendiri pengecut, sembari mencari dia segera berlari membangunkan Jackson di post depan.
"Ealah kan benar, si Om botak malah turu ... bangun, Om!! Ada maling!!"
__ADS_1
Tbc