
"Sabar dulu, astaga ... baru operasinya yang selesai, Syakil kenapa ikutan oon sih."
Zidny menyerah, kenapa mereka benar-benar sesinting ini. Syakil tidak mengetahui jika yang selesai baru operasinya saja, sementara Zia baru dipindahkan ke ruangan pemulihan.
"Oh belum?" tanya Syakil bingung sendiri, pertama kali dia menemani proses lahiran, mana tau dia bagaimana tahapannya.
"Kalian pikir ini tahu bulat, tunggu aja kak Mikhail sadar, lagian prosesnya ga secepat itu Mama Naya," tutur Zidny menghela napas kasar, sejak tadi dia hanya bisa menggeleng dengan aksi orang-orang di sini yang justru heboh sendiri.
"Oh iya ya?"
"Iyalah, Mama juga kayak nggak pernah lahirin," ujar Zidny menghela napas perlahan, Lorenza memang selalu tergesa-gesa dalam segala hal.
"Ya maaf, Mama lahirin kamu di Sumedang, bidannya yang ke rumah," jawab Lorenza apa adanya, memang putrinya lahir ketika dia dan Gavin berada di pernikahan Loenard, adiknya.
"Sama, Za, aku juga pas lahiran Laura di rumah mertuaku, mas Haikal panggil dukun belakang rumah deh, jadi nggak paham beginian."
Uhuk
Syakil mendadak tersedak mendengarnya, wajar saja Zidny dan Laura paling tidak suka membahas di rumah sakit mana mereka dilahirkan. Bukan menganggap remeh atau apa, hanya saja dia tidak menyangka jika mereka tidak lahir dirumah sakit.
"Jangan heran, Syakil ... Mamksy cuma ikut saran mertua," jelas Siska sebelum Syakil salah paham.
Wajar saja jika mereka keliru, lagipula mereka melahirkan sudah puluhan tahun lalu. Terlalu bahagia mungkin jadi faktornya juga. Saat ini, Syakil kecewa kehilangan kesempatan. Padahal, dia sudah sangat berharap bisa menjadi suara pertama yang didengar keponakannya.
Nasib baik masih berpihak pada Mikhail, setelah bangun dari pingsannya, Mikhail menghampiri sang Mama secara mandiri dengan wajah yang masih pucat pasi bagaikan tanpa darah.
"Mama khawatir sama kamu, Khail, apa mungkin kamu anemia?"
"Enggak mungkin, Ma ... cuma shock saja."
-
.
.
.
Cukup lama menunggu, hingga saat-saat yang sejak tadi mereka nantikan tiba juga. Mikhail bergetar kala dokter menyerahkan bayi mungilnya. Belum bisa Mikhail simpulkan dia mirip siapa, namun yang pasti malaikat kecilnya akan terlahir sebagai anak yang cantik di masa depannya.
"Pertamanya gimana?"
Mikhail ragu kala hendak memulai, dia gugup atau memang tidak berkonsentrasi hingga hal semacam ini bisa dia lupakan.
__ADS_1
"Astafirullahaladzim, Mikhail ... kamu nggak tau azan gimana?" tanya Kanaya tak habis pikir dan suaranya sedikit meninggi.
Sedikit malu namun kenyataanya dia memang lupa, Mikhail menatap Zia yang hanya menatapnya datar lantaran masih begitu lelah.
"Lupa, Ma, bukan nggak tau."
Terserah, apapun itu intinya Mikhail tidak bisa melakukannya. Kanaya sudah melirik Syakil sebagai kode dan Mikhail menggeleng cepat maksud tatapan Kanaya.
"Kamu jangan macam-macam ya, Syakil!! Ini bayiku, aku yang berhak ... katakan saja bagaimana awalnya, aku lupa."
Zia menarik sudut bibir, di antara sejuta kebodohan di dunia mungkin hanya kebodohan Mikhail yang dia sukai.
"Allahu akbar." Syakil menjawab singkat dengan nada datar dan sedikit malas.
"Ck, nadanya gimana ... aku lupa."
Dia ingat dengan lafadznya, akan tetapi beberapa menit yang lalu dia hanya mengingat irama takbir menjelang hari raya.
"Aku saja yang azani, lama sekali."
"Tolong contohkan awalnya saja, aku cuma lupa."
Miris sekali nasib putri Mikhail, terlahir sebagai putri dari pria yang memaksa ibunya hingga dia hadir ke dunia dan mengalami kesendirian ketika dalam kandungan. Kini, ketika tiba di dunia dia mendapati papanya tidak bisa azan.
Sudah Syakil contohkan, namun ynag terjadi justru Mikhail tetap diam sembari berpikir apa kelanjutannya.
"Ayo, kapan lagi, Mikhail? Anak kamu pegel lama-lama."
Kanaya kesal sendiri lantaran Mikhail belum juga beruara. Padahal Zidny dan Laura sudah menyiapkan kamera untuk mengabadikan momen indah ini.
"Nggak tau nih Bang Cio, buruan kenapa sih?" lanjut Laura juga gemas sendiri.
"Setelah itu gimana? Contohkan seluruhnya, Syakil aku masih lupa."
Syakil menghela napas perlahan, pada nyatanya Mikhail bukan hanya lupa awal. Akan tetapi lupa keseluruhan. Kembali dia mengulang dan memulai dari awal agar Mikhail tak lagi banyak tanya.
Begitu syahdu terdengar azan yang Syakil lantunkan, bahkan Zia dibuat terpesona dengan adik iparnya itu. sebuah bakat yang baru Zia ketahui hari ini, tidak kalah dari Zidan.
"Laailahaillallah ...."
"Sudah." Tanpa dia sadari jika Syakil sudah mengazani buah hatinya beberapa detik lalu.
"Sudah, itu azannya sudah sah ... nggak perlu diulang," tutur Kanaya merasa Syakil bukan lagi mengajari sang kakak, melainkan sengaja mencuri kesempatan yang Mikhail ciptakan sendiri.
__ADS_1
"Enak aja, nggak!! Harus papanya," tutur Mikhail kemudian menjauh dan mengambil napas dalam-dalam.
"Ya sudah terserah kamu saja, sudah cepat Mama mau gendong, Mikhail."
Mikhail tak lagi menjawab, dia mulai fokus dan kembali menarik napasnya dalam-dalam. Masih terasa mimpi, jantung Mikhail berdenyut tak karuan kala menatap wajah mungil sang buah hati yang masih begitu merah.
Sempat dibuat kagum dengan lantunan azan dari Syakil, pada kenyataannya suara Mikhail mengalahkan segalanya. Zidny yang mengetahui Mikhail sebagai pria rusak kini dibuat bungkam kala suara indah itu terdengar di telinganya.
Beruntung sekali Zia mendapatkan Mikhail dengan versi terbaiknya. Hingga mata Zia kini mengembun kala tanpa dia sadar, berada di titik ini tidaklah semudah itu bagi Zia.
Selesai diazani mana mungkin dia berikan kesempatan untuk Kanaya bisa memeluk putrinya. Yang ada pria itu justru meminta mereka keluar dengan alasan ingin bersama Zia dan putrinya saja.
"Dasar tega!!"
"Terserah, sana keluar."
Tidak peduli dengan alasan Zidny yang mengutarakan jika dirinya hanya ingin menjadi panitia dokumentasi. Mikhail tak butuh itu untuk saat ini.
Mikhail tersenyum hangat menghampiri istrinya, setelah berjuang cukup lama kini mereka diizinkan untuk benar-benar merasakan kebahagiaan sempurna. Bukan hanya berdua, tapi ada individu lain yang akan terus mengikat batin antara Mikhail dan juga Zia.
"Lebih tenang kan," tuturnya pelan.
Sejak tadi mereka memaksa masuk tak peduli meski tidak diperbolehkan sebanyak itu berada di ruangan Zia. Hendak melarang sudah terlanjur dan Mikhail hanya bisa pasrah, memang sulit sekali sebenarnya hidup di antara pembangkang seperti itu.
"Iya, tapi kenapa harus diusir, Mas?"
"Kan memang harusnya nggak boleh, mereka makan tempat."
"Hm, Mas aku mau lihat dia."
Zia menampilkan gigi-gigi rapihnya di hadapan Mikhail. Dia ingin kembali memeluk putrinya, akan tetapi karena ketakutan Mikhail dia belum dizinkan jika harus melakukannya sendiri.
"Cantik, dia mirip aku kan?" tanya Zia meminta validasi, ingin sekali mendapat pegakuan jika sang putri mirip dirinya.
"Mana ada, mirip Mas 100 persen."
"Ih, kok gitu?"
"Iihat aja kalau nggak percaya, bibirnya seksi mirip Mas dong."
Baru sekecil itu, mana tau seksi atau tidaknya. Zia tidak boleh tertawa lebih dulu sebagaimana anjuran dokter. Akan tetapi, sejak tadi tingkah suaminya selalu memancingnya untuk tertawa.
Tbc
__ADS_1
Hai, maaf aku upnya malem. Telat lama banget kan, aku kesulitan dan beberapa kali ngetik hapus ngetik hapus karena takut cacat logika. Maaf ya sekali lagi✨