Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 114 - Pengasuh (Anak/Istri)


__ADS_3

Kesalahan besar bagi mereka yang berani-beraninya kerja sama membuat Mikhail meradang dan menjadi awal semakin tinggingnya dinding pembatas ada Mikhayla dengan mereka.


Mikhail benar-benar menjadikan hari itu sebagai pelajaran akan tidak mempercayai mamanya lagi. Kini Zia sudah diperbolehkan pulang, tentu saja pasukan perusak suasana hati Mikhail itu turut serta. Tak hanya Zidny dan Laura, melainkan Zico yang biasanya pendiam turut mengantar kepulangan Zia.


Sepanjang perjalanan hingga tiba di rumah, Mikhail sama sekali tak menganggap mereka hidup. Sibuk sendiri dengan Mikhayla yang kini dalam pelukannya, Zia bahkan harus meminta pengertian pada yang lainnya karena khawatir sikap Mikhail akan membuat mereka terluka.


"Berlebihan, biasanya juga kamu bohong Mama maafin terus."


Kanaya mencoba menghampiri Mikhail setelah beberapa saat membiarkan putranya menikmati waktu sendiri. Mikhail pendendam, pria itu mudah sekali mengingat kesalahan orang dan melupakan jika dirinya juga pernah bersalah.


"Tapi kemaren keterlaluan, Papa pakek ikut-ikutan ... kasihan Mikhayla baru lahir sudah bertemu banyak makhluk astral itu."


Sepertinya memang marah besar, bahkan tatapan Mikhaill tidak bersahabat sejak tadi. Jika ditanya seberapa marahnya Mikhail jelas saja sangat marah sekali.


"Jangan begitu, Khail, lagipula mereka belum menikah, wajar saja jika kelahiran Mikhayla begitu mereka nantikan."


Ya, benar sekali memang. Mereka semua adalah anak tunggal, meski sempat ada Syakil sebagai yang paling kecil, akan tetapi saat itu ketiganya juga belum mengerti.


Belum aqiqah, Zia hanya baru pulang dari rumah sakit tapi kediaman Mikhail sudah seramai itu. Bisa dikatakan ini seperti syukuran dadakan atas kelahiran Mikhayla. Semakin menangis Mikhayla, maka semakin mereka bahagia. Itu memang sebuah hal aneh yang hanya bisa dipahami orang dewasa. Wajar saja, setelah puluhan tahun akhirnya terdengar suara tangisan bayi, sebagai manusia biasa jelas saja mereka merindukan kehadiran malaikat kecil itu.


"Gantiin popoknya, Khail ... udah bisa kan?"


"Bisa."


Pria itu mengangguk pasti, meski Kanaya sendiri bingung kenapa dia bisa melakukannya secepat itu. Entah apa yang Mikhail pelajari di belakang layar sehingga kemampuannya melebihi Zia.


Jika sudah begini sepertinya tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk mengasuh bayinya. Sigap, cepat namun penuh kehati-hatian dan itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, terutama bagi laki-laki.


"Bayinya sudah beres, sekarang kamu urus mamanya," tutur Kanaya pintar sekali memutar otak.


Selain menjadi pengasuh anak, Mikhail juga merangkap sebagai pengasuh istrinya. Semua dia lakukan dengan ikhlas tanpa mengomel sedikit sedikitpun.


"Hati-hati, Ma," tutur Mikhail lembut, meski tanpa Mikhail pinta sekalipun Kanaya jelas akan melakukan hal itu.


"Tentu saja, Mama sudah khatam, Mikhail ... kamu dan Syakil juga pernah bayi," tutur Kanaya lantaran merasa Mikhail meragukan dirinya.


Kali ini dia membawa Mikhayla dengan izin Mikhail, tentu saja dengan syarat tidak boleh jadi piala bergilir dan tidak semua bibir boleh mengecupnya. Hingga hanya meninggalkan Mikhail dan Zia di kamar utama mereka.

__ADS_1


"Kamu mau mandi sekarang?" tanya Mikhail lembut sekali, yakin jika istrinya sangat-sangat ingin berjumpa dengan air.


"Iya, badanku sudah lengket semua ... dilap-lap sedikit nggak puas, Mas."


Satu minggu pasca operasi Zia sudah benar-benar resah dan tubuhnya mulai tidak nyaman. Meski dokter memang sudah memberikan izin sejak hari keempat dan melindungi luka bekas sayatannya dengan plester waterproof tetap saja Mikhail merasa itu belum saatnya.


"Ya sudah, mumpung belum terlalu sore, takutnya kamu kedinginan."


Dia mengalah kali ini, meski masih sedikit tak dia izinkan Mikhail memberikan kelonggaran dengan catatan harus didampingi olehnya. Pria itu memapah Zia begitu pelan ke kamar mandi, istrinya hanya melakukan operasi caesar tapi diperlakukan seperti seorang pasien stroke ringan.


Mikhail menatap lekat-lekat sang istri yang kini perlahan membuka pakaiannya. Ujian? Bisa dikatakan hukuman dan hal ini bukan hanya beberapa hari melainkan lebih dari satu bulan.


-


.


.


.


"Bi-bisa, Mas ... jangan khawatir."


Bagaimana tidak khawatir, istrinya baru saja di operasi. Luka di perutnya bukan hanya goresan melainkan sayatan. Mikhail sudah katakan Zia tidak perlu mandi hingga dua minggu ke depan, sebuah perintah yang sama sekalli tidak mungkin Zia terima.


Mikhail terdiam, dia bungkam dan berusaha tak mengucapkan apa-apa. Membantu istrinya mandi dan Zia juga kaku luar biasa. Astaga, mereka pengantin baru atau apa sebenarnya hingga begini saja sama gugupnya.


Air membasahi tubuh Zia perlahan, pertemuan yang sungguh kulit Zia rindukan. Sejak kemarin tubuhnya bahkan terasa gatal dan rambutnya sudah terasa mengeras. Harus berapa kali keramas hingga berbusa maksimal, pikirnya.


Berat sekali jadi Mikhail, dia sudah puasa sejak bulan terakhir kehamilan sang istri. Kini, dia harus di uji dengan pemandangan yang seperti ini, pria itu bahkan berhenti sebentar dan menunduk menatap lantai kamar mandi yang membasah.


Kuatkan imanmu Mikhail!! Bisikan itu mengusik benaknya. Berusaha fokus dan segera menyelesaikan semuanya. Zia yang sejak tadi berpegang pada ujung kaos oblongnya, mengerti kenapa suaminya bereaksi begini.


"Masih licin, Mas. Masa udahan."


Buru-buru sekali, bahkan kulitnya belum bersih sempurna dan Mikhail sudah tidak sekuat itu lagi menghadapi tubuh polos istrinya. Suara lembut Zia serta gemericik air yang berpadu di telinga Mikhail membuatnya semakin menggila.


"Masih kurang?"

__ADS_1


"Bukan kurang, tapi memang belum selesai. Mas keluar aja, aku sudah bisa mandi sendiri, beneran."


Paham jika hal yang begini hanya membuat mental suaminya diuji. Zia meminta Mikhail untuk meninggalkannya. Akan tetapi, hanya dengan alasan sepele begitu, Mikhail takkan mau meninggalkan istrinya.


"Mas yang mandiin, jangan bantah, Zia."


Zia tersenyum, pria ini membuat lekuk bibirnya selalu tertarik. Sejak tadi Mikhail mengalihkan pandangan meski di hadapannya tersedia santapan lezat. Bukan karena dia tidak menyukainya melainkan hal itu belum boleh dia nikmati walau rindunya sedalam itu.


"Tapi muka kamu begitu? Mas kenapa? Sedih ya?"


Pakai dipertegas, jelas saja demikian. Pernikahan mereka baru berjalan tiga bulan, sementara Mikhail merasakan kehidupan pengantin baru hanya dua bulan saja. Jangankan merasa puas, yang ada ini sangat kurang baginya.


"Nggak, Mas bahagia masa sedih."


Mikhail menyentuh ujung hidung sang istri, dia memang tidak sedih. Hanya sedikit frustasi saja, membayangkan dia akan puasa dalam waktu yang lama adalah hal yang harus dia jalani meski teramat berat.


"Mas perutku jadi jelek begini, lihat kan?"


"Mana ada? Tetap cantik begitu, nanti sembuh sendiri, jangan dipikirkan."


Mikhail tengah menenangkan wanitanya, meski memang tidak terlalu parah. Akan tetapi Zia bisa menyadari jika perutnya tak lagi secantik ketika belum menikah. Sudah dia khawatirkan sejak kandungannya mulai membesar, dan kini kekhawatiran itu kian menjadi.


"Kata orang-orang, kalau sudah punya anak istrinya memang nggak akan secantik dulu ... Mas nggak apa-apa?"


"Pertanyaanmu kenapa, Zia? Kamu cantik dan perut kamu tidak ada kurangnya."


"Ck, curang sekali. Kenapa perut Mas tetap gini-gini aja, masa yang berubah cuma aku sendiri."


Belum waktunya saja, mungkin saat ini tubuh Mikhail masih begitu terjaga. Entah beberapa bulan lagi, bisa jadi dia akan mengembang dan kehilangan perut kotak-kotaknya sama seperti Bimantara.


"Kamu mau Mas gimana memangnya? Mau Mas segede Babas?" tanya Mikhail asal dan membuat Zia spontan menepuk dadanya.


"Ya jangan!!"


"Makanya, kalau sampai Mas sebesar Babas nanti tulang kamu patah kalau Mas timpa," tuturnya santai namun Zia tiba-tiba memerah.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2