Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 48 - Bukan Pertama


__ADS_3

Setelah beberapa waktu selalu terhambat, bahkan harus curi-curi kesempatan agar bisa memeluk Zia, kini Mikhail memiliki kebebasan yang tidak bisa terbantahkan. Ya, Kanaya tidak lagi punya kuasa seperti kemarin-kemarin, mau bagaimanapun Mikhail pemenangnya.


"Kalau dia lelah jangan kamu paksa, kamu jangan lupa kalau Zia udah kamu cicil dari jauh hari, Mikhail."


"Kan dia istriku, Ma, bebas dong ... kenapa Mama larang?"


Mikhail memutar bola matanya malas, melihat kelakuan putranya yang menyiapkan susu, madu dan telur ayam kampung setelah makan malam jelas saja Kanaya khawatir.


"Tapi nggak gitu juga, Mikhail! Istri kamu lagi hamil, jangan samakan seperti malam pertama pasangan lain," tutur Kanaya baik-baik, lagipula kenapa harus dia melakukan itu padahal Mikhail sehat-sehat saja bahkan sangat amat sehat.


Mikhail menghela napas kasar, benar-benar mengganggu. Padahal sebelumnya dia sudah memastikan Kanaya sudah masuk kamar, kenapa juga sang mama masih bertemu dengannya di dapur kali ini.


"Apa bedanya? Lagipula apa salah kalau aku ingin memberikan pengalaman tak terlupakan untuk Zia? Mama masuk kamar sana, rayu Papa kalau dia masih kuat," ucapnya santai kemudian meneruskan kegiatannya, Kanaya yang mendengarnya bahkan tak habis pikir kini.


"Pengalaman apanya? Mama rasa kamu tidak sekali memaksa Zia, dan itu bahkan lebih dari tidak terlupakan!" Kanaya menekan setiap kalimatnya, melihat Zia dia sebenarnya kasihan.


Anak itu masih sangat-sangat muda, masa depan masih panjang namun rusak karena naf*su gila putranya. Andai saja dia pihak keluarga dari Zia, mungkin Mikhail akan dia penjarakan lebih dulu sepertinya.


"Hahaha siapa yang memaksa, kami melakukannya atas dasar suka sama suka ... udah sana, Mama masuk saja, ini demi kesehatan putra Mama yang paling tampan ini."


Kenapa demikian? Tentu saja rindunya Mikhail sudah menggunung. Terakhir dia merasakannya ialah satu minggu sebelum kecelakaan, dan setelah dia berhasil menemukan Zia pria itu memang bertekad takkan melakukannya sebelum Zia resmi jadi istrinya.


"Mama cuma khawatir, Khail, bukan melarang ... dia istri kamu loh, masa tega."


"Mama berpikir aku akan bagaimana? Tidak mungkin aku menghajarnya sampai kehabisan napas," ucap Mikhail membela diri, sedikit kesal lantaran Kanaya belum juga berlalu sementara ramuan andalan itu sudah hampir siap.


"Kalau dia sampai celaka kamu yang Mama siram air panas, Mikhail!!" ancam Kanaya setengah berteriak kala putranya berlalu dengan membawa segelas ramuan turun temurun yang dipercayai kaum laki-laki agar tahan lama.


Mereka yang pengantin baru tapi Kanaya yang ketar-ketir. Paham bagaimana putranya, dan itu jelas takkan berbeda jauh dari suaminya sendiri. Memikirkannya saja Kanaya sudah merinding.


-


.

__ADS_1


.


.


Meninggalkan Kanaya yang masih setia dengan kekhawatirannya, Mikhail kini tengah melangkah pelan menuju kamarnya. Sebenarnya ingin dia habiskan ketika di dapur, akan tetapi kehadiran Kanaya membuatnya memilih ke kamar lebih cepat.


Ceklek


"Kamu lama nunggunya?"


Istrinya belum tertidur, posisinya masih sama seperti ketika dia tinggalkan beberapa menit lalu. Zia terlalu penurut sepertinya, dia masih duduk di tepian ranjang dan memainkan jemarinya, entah kenapa sejak tadi dia sudah gugup dibuatnya.


"Nggak," jawab Zia singkat, matanya sudah tertuju pada gelas ukuran sedang yang Mikhail bawa.


"Kamu minum susu? Malem-malem begini?" tanya Zia memancing, berharap itu hanya susu biasa.


"Iya, kamu mau?" tawar Mikhail dengan seringai tipisnya.


"Enggak."


"A-aku boleh tidur sekarang?"


Zia yang merasa hidupnya terancam berusaha memperlihatkan lelahnya. Sayang sekali, Mikhail yang sudah merindukannya sebesar itu mana mungkin mengizinkan dia bebas malam ini.


"Siapa bilang? Setelah membuatku tersiksa berbulan-bulan dengan kerinduan ... kamu pikir bisa lepas malam ini, Zia? Jangan mimpi, Sayang."


Tebakan Zia benar, Mikhail menginginkannya dan apa yang dia ucapkan sebelum makan malam benar-benar dia tagih sekarang.


Mikhail menatapnya lekat-lekat, pria itu membuang selimut dan guling yang sekiranya akan mengganggu. Senyum liciknya sudah menjawab dengan jelas apa maunya, Zia yang bergetar dapat Mikhail lihat namun dia tidak peduli.


"Tapi kata Mama aku jangan sampai kelelahan, nanti kenap...." Belum selesai dia bicara, Mikhail menutup mulut Zia dengan jemarinya.


"Tidak akan, kita bukan berenang di lautan, Zia ... aku akan membawamu kembali terbang di atas awang-awang, jangan menolakku ... kamu juga merindukannya bukan?" Buas sekali rayuannya, suara lembut yang sudah lama tak Zia dengar, suara yang dulunya dia keluarkan ketika menginginkan Zia di malam hari, kini kembali dia dengar begitu mendayu.

__ADS_1


"T-tapi aku mau gosok gigi dulu ... mulutku bau ikan," tutur Zia sedikit mendorong tubuh Mikhail yang kian mendekat sejak tadi, sebuah pelarian sesaat tapi memang dia benar-benar ingin gosok gigi.


Mikhail tertawa sumbang, padahal sama sekali dia tidak mencium aroma yang aneh dari istrinya. Zia saja terlalu berlebihan, pikirnya.


Beberapa saat menunggu, dia masih sabar. Mikhail bahkan sudah menegak habis ramuan ajaibnya. Beberapa kali menatap bayangannya di cermin, Mikhail tengah mengagumi ketampanan dirinya.


Tak lupa dengan bibir yang senantiasa bersenandung seakan manusia paling bahagia, Mikhail juga menyemprotkan parfum di beberapa bagian tubuhnya demi membuat Zia terpesona.


Bukan yang pertama, tapi persiapannya lumayan juga. Dan kini ekor matanya tertuju ke arah kamar mandi, istrinya sudah selesai dan ini adalah waktu yang selalu dia nanti sejak lama.


Zia masih berada beberapa meter dari tempat tidur, dia sudah menyambutnya dan kini mengikis jarak tanpa aba-aba. Meraih tengkuk Zia hingga membuat wanita itu terperanjat kaget akibat serangan dadakan di bibir dari suaminya.


"Aku benar-benar merindukanmu, Zia." Pria itu menatap istrinya dengan mata yang sudah tertutup kabut asmara, segudang kerinduan ingin dia utarakan dan lepaskan malam ini.


Tidak begitu pelan namun berusaha hati-hati, Mikhail membopong tubh Zia kemudian melangkah ke tempat tidur. Tidak punya pilihan lain, menolak juga percuma dan kini sang istri pasrah memberikan ruang sebebas-bebasnya untuk Mikhail melakukan apapun pada dirinya.


"Jangan dibuka," tahan Zia kala Mikhail hendak melepaskan piyamanya, perutnya yang membesar dan tidak selangsing dulu membuat Zia malu seketika.


"Kenapa?" tanya Mikhail kemudian, gairrahnya sudah di atas ubun-ubun, dan Zia mempermasalahkan hal kecil semacam ini.


"Aku malu," jawabnya kemudian, dirinya yang begini belum pernah Mikhail lihat secara keseluruhan, dan bagi Zia ini sedikit memalukan.


"Aku ingin melihatnya, dia juga milikku, Zia."


Pria itu membungkam istrinya dengan membenamkan bibir ranumnya agar Zia tak bisa menolak lagi dengan kata. Tak lupa dengan jemari yang sudah menjammah ke bagian inti Zia, Mikhail tersenyum kala area itu sudah kian membassah.


Suara indah yang kerap lolos dari bibir istrinya makin membuat miliknya kian sesak saja, hingga pada akhirnya Mikhail tak mampu menahan lebih lama kala kerinduan sudah berada di puncaknya.


Sempit, Mikhail masih merasakan sensasi yang sama seperti yang pertama kalinya. Bisa dipastikan Zia hanya bermain dengannya, berpisah beberapa bulan dan diperlakukan baik oleh pria yang cukup tampan nyatanya tak membuat Zia tergoda dan masih memilih Mikhail sebagai pasangannya.


"Kamu masih sama, sulitnya, Zia." Mikhail memejamkan mata, racauan Zia di bawah sana semakin membuat batinnya tergila-gila.


Bukan penyatuan pertama, akan tetapi tidak ada yang berubah dan cinta Mikhail lebih dalam tercurah saat ini. Lenguhhan dan desahhan keduanya bersatu memenuhi suasana malam yang kini perlahan kian hening, langit-langit kamar yang kerap Mikhail tatap kala membayangkan Zia kini balik menatap Mikhail yang tengah menikmati madu cinta yang luar biasa candunya.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2