Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 88 - Jenguk Bayi


__ADS_3

Mungkin banyak alasan seseorang membencinya, tak masalah. Keputusan Zia yang tiba-tiba mengakhiri hubungan adalah hal yang menjadi alasan kenapa mama Zidan marah besar hingga tak mau mendengar namanya lagi. Masuk akal dan alasan itu sangat-sangat wajar sebenarnya, hari ini Zia hanya ingin bersikap bodo amat untuk sementara.


Seperti yang Mikhail bilang, saat ini mereka sudah hidup berdua yang artinya tidak boleh ada orang lain di antara mereka. Sama-sama memiliki masa lalu rumit, baik Zia maupun Mikhail adalah dua insan yang melarikan diri dari dekapan orang lain yang menginginkan mereka.


Terlepas dari apa yang terjadi, kini merka kembali pada tujuan awal. Kali kedua periksa kandungan, Mikhail paling menyukai hal ini. Dan dia bahkan akan datang sebelum Bimantara siap, salah satu teman dekat yang paling waras dalam lingkungannya.


"Ck, bisa kau biasa saja melihatnya?"


Zia mendongak, baru saja perutnya diolesi gel yang terasa dingin itu dan Mikhail sudah menabuh genderang perang. Salah terus, sejak tadi Bima meminta Zia menyingkap pakaiannya Mikhail sudah geram sebenarnya.


"Aku sudah biasa saja, memang mataku begini."


Hal seperti ini sudah biasa dia daptkan, berapa banyak calon papa posesif yang membuat tugasnya kian rumit. Istrinya dipegang salah, ditatap salah dan semuanya salah hingga Bima berniat ganti profesi lama-lama.


"Jangan kau pegang perutnya, minta dia saja bisa tidak?" Mikhail melihat ada perawat wanita di dalam ruangan ini dan sepertinya itu lebih baik daripada perut Zia tersentuh jemari pria lain.


"Mikhail ... kau mau ini cepat selesai kan? Diam sebentar! Istrimu saja tenang," kesal Bima muak dengan Mikhail yang setakut itu istrinya akan dia apa-apakan


"Teruskan, tapi bajunya turunkan sedikit. Jangan modus kau."


Takut sekali, padahal semua sudah sesuai dengan aturannya. Mikhail marah lantaran takut tangan Bima menjamah area lainnya. Memang otaknya sejahat itu, dia pikir semua pria sama seperti dia.


"Aku juga sudah punya istri, kau jangan berpikir macam-macam, Mikhail."


Memilih tak lagi peduli, terserah Mikhail mau apa lagi setelah ini. Dia harus benar-benar fokus kali ini, beruntung yang diperiksa penurut dan tidak banyak ulah.


Setelah melihat dengan jelas bagaimana kondisi calon buah hatinya barulah Mikhail bisa diam. Pria itu mendengar dengan seksama penjelasan Bima dan matanya tak berkedip menatap layar.


"Semua normal, pertumbuhannya juga sangat baik ... kau harus bersyukur istrimu pintar menjaga diri."


Mikhail mengangguk, tidak sia-sia dia melarang Zia ini dan itu, peraturan begitu banyak sejak menikah namun Zia taati demi menjaga kesehatan buah hatinya.


"Perempuan ya, Bim?" tanya Mikhail seidkit ragu, besar harapan yang nantinya lahir adalah anak laki-laki.


"Dari yang aku lihat calon bayimu perempuan, selamat ... tanggung jawabmu akan berat."

__ADS_1


Dia tersenyum, akan ada dua Zia dalam hidupnya. Meski sebenarnya Mikhail menginginkan seorang putra, tapi sekalipun Tuhan berikan perempuan dia tetap bersyukur.


Bimantara mengerti maksud senyuman Mikhail, apa yang terjadi pada Zia adalah sebab pria itu sudah ketar-ketir sebelum anaknya lahir. Pria senakal Mikhail mendapatkan seorang putri jelas saja yang ada di pikirannya adalah ketakutan tiada akhir.


Ada banyak hal yang Bima sampaikan pada pasangan ini, Zia yang masih muda dan tubuhnya yang kecil sudah membuat Bima mengutarakan hal terbaik yang nantinya akan dia ambil.


"Tapi kan sek*s saat hamil kemungkinan bisa membuat proses kelahiran semakin lancar, kau jangan membuat usahaku sia-sia, Bima ... kenapa harus dibelah perutnya?" tanya Mikhail tak terima jika Zia harus di operasi, tentu saja otaknya sudah berpikir macam-macam dan takut jika jahitannya lepas atau apalah pasca melahirkan nanti.


"Tidak ada yang sia-sia, ukuran janin dalam kandungan istrimu lebih besar dari bayi pada umumnya ... sementara tubuhnya, kau lihat sendiri dia sekecil apa."


" Jangan kau ragukan, dia kecil-kecil cabe rawit ... istrimu yang bohay itu saja kalah," ungkapnya membuat Zia semakin memerah, kerap sekali Mikhail menyebut dirinya kecil-kecil cabe rawit begini.


"Bukan masalah permainan ranjang, Mikhail. Yang kita pikirkan di sini keselamatan Zia nantinya, tolong pikiranmu itu dibenarkan sedikit."


Sejak awal Mikhail membawa Zia padanya, Bima sudah terkejut melihat postur tubuh Zia yang begitu mungil dibandingkan Mikhail. Jika saja Zia belum hamil sama sekali Bima tak percaya jika Zia adalah istri pria itu.


"Lakukan yang terbaik, selagi tidak menyakitinya." Mikhail percaya keputusan yang Bima ambil sudah lebih dari tepat, jadi tidak ada lagi keraguan tentangnya.


-


.


.


.


Hingga setengah perjalanan dia belum sadar juga. Sejak keluar dari rumah sakit Zia sudah kesal akibat Mikhail yang justru membahas hal yang iya-iya di hadapan Bima.


"Nggak ... cuma kesel aja dikit."


"Kesal kenapa memangnya?"


"Gini ya, sesekali bisa kan Mas nggak usah bahas kecil-kecil cabe rawit itu? Aku perhatiin setiap kali kita ketemu sama temen-temen kamu selalu begitu."


Lama diam, nyatanya Zia tak menyukai pembahasan pria dewasa tentangnya. Padahal tubuhnya normal-normal saja, Mikhail saja yang raksasa.

__ADS_1


"Oh marah? Masa karena itu marah, Sayang ... kan itu pujian karena kamu memang kecil-kecil cab...."


"Diam!! Ih jejelin sepatu nanti mulutnya baru diem ya," ancam Zia mulai kehabisan stok sabar, saat-saat begini Mikhail masih sempat membuat Zia naik darah.


"Boleh, aaaaa cepet jejelin ... Mas bales jejelin yang lain kalau berani." Mikhail menarik sudut bibir dan mulai memperlihatkan wajah mes*um seperti biasanya.


"Jejelin apa memangnya, Bos?" sahut Babas ikut-ikutan dari depan.


"Buah naga, Bas."


"Non Zia suka buah naga?" tanya Bastian bertanya serius dan berpikir maksud Mikhail memang begitu adanya.


"Suka dong, istriku memang suka semuanya ... diapa-apain juga dia suk..."


PLAK


"Aaaww Zia!!" sentak Mikhail kaget kala telapak tangan Zia mendarat sempurna di bibirnya, dan karena hal itu terjadi saat Mikhail bicara, bibirnya kini berdarah.


"Jaga tu mulut, Mas yang apa-apa mauan, akumah ogah!!" Fitnah sekali, Zia jelas saja tak terima.


"Berdarah, Sayang sumpah ... lihat, bibir Mas luka."


"Salah sendiri, ga semuanya boleh diungkapin ke orang lain, Mas."


"Ya salahnya dimana? Babas nanya kamu suka apa, ya Mas jawab buah naga." Mana mau dia mengalah, sudah jelas-jelas alur pembicaraannya kemana tapi Mikhail masih mampu ngeles kanan kiri padahal sudah tertangkap basah.


"Tisu, Bas," pinta Zia meski dia sekesal itu pada Mikhail, demi apapun dia tidak sengaja berbuat kurang ajar pada suaminya itu.


Dia terlalu kuat, Zia memang salah tapi jujur dia belum mau minta maaf. Pikirannya sedikit kacau hari ini ditambah Mikhail yang membuat emosinya terpancing, jelas saja dia kesal.


"Zia, tadi di rumah sakit Mas lihat temen kamu." Belum sembuh lukanya, Mikhail sudah membahas hal lain.


"Temen yang mana?"


"Erika, yang dulu kekunci di kamar mandi." Jawaban Mikhail sempat membuat Zia berpikir, dia tersenyum setelahnya.

__ADS_1


"Kok senyum? Temennya di rumah sakit malah senyam-senyum," tutur Mikhail heran sekali.


Tbc


__ADS_2