Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 70 - Jahatnya Hati Manusia


__ADS_3

Sudah lama mereka tidak merasakan hal semacam ini. Ternyata benar, setiap bencana pasti ada hikmahnya, dan saat ini mereka bisa dibuat berkumpul bersama dengan bencana yang menimpa Mikhail.


Usai makan malam yang berkesan itu, Mikhail belum diizinkan kembali ke kamar. Tentu saja dia masih harus mengikuti permintaan Ibra untuk berbincang-bincang lebih dulu. Sedikit perlu dipaksa, akan tetapi Ibra menekankan agar dia bisa menghargai tamu-tamu yang rela mengobrkan waktu untuknya.


Jauh dari pengawasan Mikhail, Zia kini tengah menjalani pendekatan lebih dalam bersama Laura dan Zidny. Meski keduanya sempat membuat Zia sedikit tegang, pada akhinya dia mulai bisa membiasakan diri.


"Santai aja, kami cuma ingin kita lebih dekat ... benar kan, Laura?" Zidny bicara serius sementara Laura justru fokus dengan setoples kue bawang yang Kanaya buat untuk stok makanan Zia beberapa hari kedepan.


"Ho-oh bener, jadi istri bang Cio gimana?" tanya Laura kemudian, nama itu terdengar aneh dan membuat Zia mengerutkan dahi sebentar.


"Mikhail maksudnya, kamu juga ngapain manggilnya begitu," ujar Zidny juga merasa heran kenapa Laura memilih panggilan itu untuk Mikhail.


"Kan bener namanya Mikhail Abercio ... kalau manggilnya bang Kai jadi nggak sopan, Kak Zidny!" jelas Laura yang seketika diangguki Zidny dengan polosnya.


"Ah iya benar juga, lanjut aja deh jawab, Zia."


Dia juga penasaran, beberapa tahun lalu dia sudah berada di langkah yang paling dekat untuk menjadi istri Mikhail. Sayangnya, rencana Tuhan begitu indah dan di hari H, Zidny hanya bisa menatap lemah cincin pertunangan yang kehilangan tuannya.


"Jadi istri mas Mikhail, rasanya seperti mimpi ... bahkan hingga detik ini," jawab Zia sejujur itu, meski sudah begitu banyak yang dia jalani tetap saja mendapatkan Mikhail dia berasa mimpi.


"Woah sama dong, aku juga sering rasain jadi istri bang Cio, tapi beneran mimpi kalau aku mah."


Dia terus mengunyah kue ternikmat sedunia itu, bagi Luara semua yang Kanaya buat memang seenak itu entah apa rahasianya.


"Yee itu mah ngayal, bukan mimpi, Maning!!" sentak Zidny dan membuat Zia merasa terhibur dengan keributan kecil mereka.


Sewaktu acara pernikahan, mereka belum sempat bicara banyak. Jangankan untuk berbincang, Zia saja bahkan belum sempat berkenalan dengan Laura kala itu.


Nyatanya, hal-hal yang Zia takutkan belum tentu benar. Sempat berpikir dengan keadaannya yang hamil besar dan masuk ke keluarga Mikhail akan mendapat sejuta cacian dari orang-orang yang mengenal sang suami, namun pada akhirnya masih banyak yang mau menerima Zia baik-baik.


Perbincangan mereka mulai merambat, tak butuh waktu lama untuk mereka semakin dekat. Meski Zia benar-benar menutup kemungkinan salah satunya berjodoh dengan Mikhail, kedua wanita ini begitu menghargai keputusan Mikhail untuk memilih jodohnya sendiri.

__ADS_1


Akan tetapi, mau berusaha sebaik apapun tetap saja yang namanya pembenci akan selalu ada. Sejak tadi tatapan tajam sudah mengarah ke arahnya, jauh sebelum Zia duduk bersama Zidny dan juga Laura.


Dia hanya sendirian, duduk sembari menikmati cokelat hangat. Mencoba menenangkan situasi namun ternyata sama sekali tidak ada pengaruh baiknya.


-


.


.


.


"Ck, dasar munafik ... kenapa orang-orang menyukainya?"


Dia bertanya-tanya dalam kesendirian, tidak ada yang mau mendekat sejak tadi. Bahkan Syakil memilih kembali ke kamar padahal sudah dia tahan, sungguh memuakkan.


"Ehm, mungkin karena dia cantik ... Sepertinya dia juga sangat baik."


"Basi, semua orang juga selalu mengatakan itu. Sampai Mama dan Papa juga membelanya dan mengatakan jika Zia itu baik, cantik dan blablabla ... cih, pelaccur seperti dia dimana baiknya, dasar menjijikkan."


Aleena membuang napas kasar, meski Adibah sudah berkali-kali menasihatinya tetap saja dia tidak bisa terima kehadiran Zia dalam kehidupan kakak sepupunya itu.


"Hahah kasian sekali, adikku ini sepertinya cemburu kakaknya punya istri seperti Zia. Benar kan?" tebak Zico tertawa sumbang, berkali-kali dia perhatikan istri Mikhail memang secantik itu, meski perutnya kian membesar pesona kecantikan Zia benar-benar membiusnya.


"What? Cemburu? Untuk apa aku cemburu dengan gadis kampungan seperti dia ... mungkin sekarang saja dia cantik, beberapa tahun kemudian bisa jadi kak Mikhail buang seperti sampah," tuturnya santai dengan mata tajam yang terus melihat ke arah Zia.


"Hahaha dasar wanita, sudah jelas-jelas cemburu masih mengelak."


Zico tertawa sumbang, perseteruan ini tiada hentinya. Sejak dulu Aleena memang berusaha mendekati Mikhail bagaimanapun caranya. Bahkan kala Mikhail lari di hari pernikahan itu, Aleena benar-benar bahagia.


"Bukan levelku cemburu padanya, Zico!" desis Aleena dengan giginya yang kini bergemelutuk.

__ADS_1


"Kamu benar-benar masih menyukai Mikhail, Ale? Dia kakak sepupu kamu, sadar kan?" tanya Zico tak percaya dengan perasaan Aleena yang bertahan selama itu, meski dia mengelak dan selalu mengatakan tidak menyukai Mikhail tetap saja Zico paham gelagatnya.


"Ck, bisa berhenti menanyakan itu? Aku tidak menyukainya ... tapi aku tidak terima pelaccur itu jadi istrinya!" Bola mata Aleena seakan keluar, dia benar-benar marah dan tidak terima dengan pernikahan Mikhail sepertinya.


"Jaga mulutmu, Alee ... jika Mikhail mendengar ucapanmu ini apa dia tidak akan marah? Bagaimana dengan tante Kanaya dan om Ibra? Bahkan mungkin orang tuamu juga akan sama marahnya," tutur Zico dengan wajah datarnya, entah kenapa dia tidak bisa terima dengan julukan yang terus saja Aleena ucapkan tentang Zia.


"Kak Zico kenapa jadi begini? Atau Kakak juga suka perempuan munafik itu?" tuduh Aleena seraya menunjuk Zia dari jauh, dia menggeleng pelan dan benar-benar kesal malam ini.


"Apa Zia pernah mengusikmu? Apa salah dia sampai kamu sebegitunya dan menganggap dia sehina itu, Aleena!!" sentak Zico masih pelan, dia berusaha agar tidak terdengar yang lainnya.


"Dasar boddoh, buka matamu dan lihat fakta yang bicara ... dia menikah baru satu bulan dan lihat perutnya sudah sebesar itu? Kenapa bisa kalian menganggap pelaccur itu perempuan baik-baik?" Aleena bertanya serius dan kini mengusap wajahnya frustasi.


"Lalu menurut kamu itu hanya salah dia? Tidak pernah berpikir bagaimana cara Mikhail memintanya? Bisa jadi dia yang memaksa gadis sekecil Zia masuk dalam perangkapnya?" Ini mulai serius, Zico merasa dia perlu berperan di sini. Zico cukup mengenal bagaimana Mikhail di luar, dia juga berteman baik dengan Erdgard.


"Oh jadi Kakak benar-benar membelanya dan menuduh kak Mikhail yang salah? Di antara jutaan wanita untuk apa kak Mikhail memaksa gadis sok polos seperti dia?" tanya Aleena menatap tajam mata bulat Zico.


"Bukan membelanya dan aku juga tidak menuduh Mikhail, Aleena! Aku hanya menjelaskan jika ini bukan kesalahan Zia dan dia tidak seburuk yang kamu pikirkan, itu saja." Zico mengecilkan volume suaranya, dia bingung harus pakai cara apa untuk membuat Aleena mengerti.


"Dasar boddoh!! Wajar saja semua wanita tidak ada yang betah bersamamu, ternyata otakmu hanya berguna beberapa persen saja ... dengarkan aku, kak Zico! Perempuan manipulatif dan sok polos itu bertebaran dimana-mana. Salah satunya adalah dia, dan Kakak sadar apa yang dia incar hingga rela membuka selangkkangannya? Jelas saja harta!!" Aleena menjelaskan panjang lebar dengan hawa panas yang kini menjalar hingga ubun-ubun.


"Stop Aleena!! Mulutmu sudah keterlaluan," sentak Zico meninggi dan ternyata menyita perhatian seseorang yang tak begitu jauh dari mereka.


"Fakta, untuk apa Kakak membelanya ... sekali pelaccur tetap pelaccur!" Aleena menekan setiap kata-katanya.


"Kaa ...."


"Siapa yang pellacur, Aleena?" Suara itu mengejutkan keduanya dan Zico yang baru saja hendak membentak Aleena pun mengurungkan niatnya.


Tbc


Gaskeun, keluarkan unek-unek kemarahan dan sumpah serapahnya di episode ini, Bestie!!

__ADS_1


__ADS_2