Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 95 - Tanggung Jawab


__ADS_3

"Masih sedih?"


Zia menggeleng, sudah hampir larut namun Mikhail belum tidur demi menemaninya tenggelam dalam lamunan. Keadaan Zidan juga membuat batin Mikhail terkoyak rasanya, jika dia ingat-ingat alangkah kejamnya merebut kebahagiaan orang secara paksa dan tanpa aba-aba.


"Mas akan tanggung jawab untuk pengobatan Zidan, jika hanya di sini-sini saja, kemungkinan dia sembuh sangat kecil, Zia."


Dapat ditebak alasan Zidan menetap di rumah sakit tersebut karena apa, jelas saja karena biaya. Hal itu sudah dia sampaikan pada Syakil juga, meski adiknya mengira jika itu hanya bercanda dan dianggap bentuk tidak sabarnya Mikhail, putra sulung Ibra itu tak peduli.


"Kenapa Mas bilang gitu?"


Tidak banyak yang perlu Zia tahu tentang bagaimana Mikhail bisa menyimpulkan hal ini. Jelas saja dia mencaritahu sendiri dari dokter yang memang menangani Zidan, dan semua dipaparkan pria itu menunjukkan jika memang Zidan terhambat finansial sehingga pengobatan dengan hasil menjanjikan belum bisa dia jalani.


"Ya faktanya begitu, andai nanti dia sembuh ... kamu nggak akan sesedih ini lagi kan?"


Zia mendongak menatap mata tajam Mikhail, pria itu tersenyum dan memperlihatkan betapa teduhnya dia malam ini. Tidak ada lagi Mikhail yang kerap marah, cemburuan dan kesal tanpa alasan seperti biasanya jika menyangkut pria lain.


"Aku ...."


Bukan sedih yang berlarut dengan alasan hari ini kemungkinan akan jadi pertemuan terakhir mereka. Namun, yang membelenggu Zia adalah rasa bersalahnya. Bersalah karena sempat mengkhianati Zidan sedalam itu, meninggalkan dia tanpa kabar dan sedikitpun tidak mengetahui kesakitan Zidan sejak lama.


"Paham, Mas sudah bilang hari ini boleh menangis untuknya, Zia ... jangan ditahan," tutur Mikhail mengelus wajah mungil Zia begitu lembut, ini bukan tipuan, bukan pula cara Mikhail ingin dianggap pria berhati emas malam ini.


Zia dibuat terheran dengan perubahan sikap Mikhail yang memang sedewasa itu sejak berjumpa Zidan. Sempat berpikir suaminya akan melarang ini dan itu setelah pertemuan mereka, nyatanya tidak sama sekali.


"Mas kenapa jadi nyuruh nangis terus?"


"Bukannya begitu, Sayang ... kalau memang ingin jangan ditahan hanya karena takut Mas marah, besok-besok kalau kamu nangis karena Zidan baru Mas larang."


Bagaimanapun Zidan saat ini, hancurnya tentang masa depan, hilangnya semangat untuk hidup serta kekosongan hati adalah beberapa dampak buruk akibat ulahnya. Ya, Mikhail sadar 100 persen tanpa perlu dijelaskan lagi.


"Menangis juga nggak akan bisa merubah apapun, Mas ... semua sudah terjadi, aku cuma kecewa saja sama diriku sendiri." Zia menghela napasnya perlahan, kesalahan memang terletak dalam dirinya.


"Kecewa kenapa?"


"Kecewa saja, aku tanpa sadar membuat hidupnya sekacau itu," tutur Zia pelan khawatir jika Mikhail akan berpikir yang lainnya usai mendengar kalimat ini.

__ADS_1


"Itu bukan salah kamu, semua yang terjadi adalah garis takdir yang tidak bisa kita hindari sebagai makhluk hidup, Zia ... berhenti menyalahkan diri, tanpa kamu di hidupnya, Zidan juga akan berada di posisi ini."


Benar kata Syakil, suaminya dewasa berkali lipat kali ini. Entah karena dia tertampar keadaan Zidan atau memang dirinya merasa bersalah atas apa yang telah dia lakukan. Yang jelas, saat ini Zia merasakan suaminya sebagai sosok yang berbeda.


"Tidurlah, mata kamu sudah mengecil begitu," ucapnya kemudian mengecup kelopak mata Zia, belum terlalu larut tapi nampaknya pertahanan sang istri sudah melemah. Baru saja diizinkan tidur, beberapa saat kemudian dia sudah mandengkur.


Hanya malam ini, benar-benar malam ini dan besok Mikhail tak lagi menerima kesedihan Zia karena pria lain. Tak peduli, meski sudah tak cinta atau apapun itu yang Mikhail inginkan berhenti bersedih esok hari titik.


-


.


.


.


Jika di kediaman Mikhail tengah berbalut kehangatan. Lain halnya dengan pasangan yang satu ini, bukan pasangan, tepatnya partner ranjang. Suasana semakin panas kala Edgard mengetahui Jenny datang sendirian ke kantor Mikhail.


"Dasar boddoh!! Kau mendatanginya dalam keadaan begitu? Kau cari mati atau bagaimana, Jenny?" tanya Edgard berang, jika sampai Jenny benar-benar datang dan tidak mengenakan silikon agar perutnya kelihatan semakin besar sebagaimana yang Edgard ajarkan habislah dia.


"Kau memang benar-benar wanita paling tollol yang pernah aku temui, Jenny."


"Apa salahnya, Edgard? Bukankah sebentar lagi artinya dia akan menikahiku?" tanya Jemny bingung kenapa Edgard semarah ini padanya.


"Otakmu kemana? Jika Mikhail sadar kehamilanmu baru 15 minggu bagaimana? Jangankan dinikahi, bisa jadi dia takkan peduli denganmu, Jenny," tekan Edgard sembari menatap tajam ke arah Jenny.


"Ya Tuhan, aku benar-benar lupa tentang ini," lirih Jenny baru sadar akan semuanya, dia terlalu bahagia sehingga tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi.


"Damn it, sudah aku katakan jangan pernah menemuinya jika tanpa izinku, Jenny!!" sentak Edgard kesal luar biasa.


"Sekarang aku butuh tanggung jawabnya, Edgard!! Jika bersamamu aku hanya kau jadikan pemuas tanpa bayaran sama sekali!! Dan juga, Mikhail memberikan uang padaku lewat dirimu ... mana uangnya? Kau selalu mengatakan sabar-sabar, 1M pun akan Mikhail berikan padaku tapi mana? Kau tidak berikan padaku sementara tubuhku kau pakai hampir setiap hari sampai aku lupa kapan aku beranjak dari tempat tidur!!" Suara Jenny bahkan sedikit melemah, dia mengepalkan tangan kala mulai sadar jika dirinya diperalat untuk memenuhi hassrat sekssual Edgard semata.


Siapa yang salah di sini, Jenny hanya butuh kepastian tentang jalan hidupnya. Dia hamil anak siapa juga bingung sendiri, akan tetapi di antara pria yang pernah dia kenal, dia menginginkan Mikhail sebagai ayah dari anaknya.


"Aku lelah jadi pelampiasan pria tidak bermodal sepertimu!!"

__ADS_1


PLAK


"Katakan sekali lagi!!" sentak Edgard mencengkram dagunya kasar setelah mendaratkan telapak tangan sebegitu kuatnya hingga wajah Jenny terasa kebas.


Edgard benar-benar murka lantaran Jenny menyebutnya tidak modal, mata Jenny yang mulai mengembun tak membuatnya empati sama sekali. Wanita itu berusaha melepaskan cengkraman Edgard, akan tetapi tenaganya kalah dan hanya bisa pasrah ketika tubuhnya membentur tembok.


"Kau lupa dimana kau sekarang, Jenny? Apartemenku!! Kau pikir gratis? Cih, tidak ada yang gratis di dunia ini, Honey ... kau jangan lupa itu." Suara Edgard terdengar begitu menyayat, Jenny dibuat bergetar seketika malam ini.


"Licik sekali, kau yang membuatku terpaksa harus mendekam di sini. Jika saja aku tidak mendengarkanmu dan tetap menggugurkan bayi ini maka aku yakin hidupku takkan sesulit ini!!" ungkap Jenny menatap tajam mata Edgard.


Perseteruan mereka kian panas, sudut bibir Jenny bahkan berdarah kala Edgard menamparnya sekali lagi. Jenny yang berlari berusaha meraih handle pintu agar bisa keluar dari apartemen Edgard karena pria itu tak lagi seperti Edgard yang biasanya.


"Mau kemana? Hm? Kita belum selesai," ucap Edgard membalikan tubuh Jenny hingga menghadapnya, pakaian Jenny yang terbuka dan wajahnya yang kini terlihat tersiksa membuat hassrat Edgard kian memuncak dalam waktu singkat.


"Stop, Edgard!! Jangan menyiksaku, aku lelah." Dia memohon, sadar jika pria itu kembali menginginkan tubuhnya tak peduli bagaimanapun keadaannya.


"I don't care, hari ini kita belum bercinta sama sekali ... ehm sepertinya akan menyenangkan jika kita bercinta dengan cara yang sedikit berbeda," ucap Edgard dengan mata yang kini sudah dipenuhi kabut, dia tak lagi melihat jika wanita yang di hadapannya merasakan sakit. Semakin lirih Jenny, semakin tersiksanya wanita itu gairrahnya kian menggelora dan sejak lama dia mencari hal-hal baru seperti ini.


Edgard meraup bibir Jenny begitu kasar dan rakus, tak peduli darah Jenny yang dia hisap. Sungguh, hassratnya benar-benar terpacu, jeritan Jenny lebih merdu daripada desa han di telinga Edgard. Shitt ini menyenangkan, dan Edgard menyukainya.


"Aaarrrggghhh!! Kau bisa membunuhnya, Edgard," lirih wanita itu kala Edgard memaksakan senjatanya masuk dengan sekali hentakan sekasar itu.


"This is your punishment, Honey!!"


(Ini adalah hukuman untukmu, Sayang)


Tbc


Jangan lupa sesajennya pasukan Zimi✨ Jempol digoyang vote dilempar yuhuu ... Sayang Mikel Sayang Mikel!!


Oh iya bestie, mo tanya ... apa aku up itu rada kepanjangan? Komen ya semisal nggak nyaman, thor kepanjangan ... nggak sukaaaa, nanti aku perbaikišŸ¤—


Rekomen Novel By Mak Yayuk Triatmaja, Happy Reading.


__ADS_1


__ADS_2