
Detik dan menit berjalan begitu cepat, sebagaimana Mikhail yang selalu setia menanti kelahiran buah hatinya, begitupun dengan Erika. Menempatkan diri sebagai sahabat dari Zidan, wanita itu rela meninggalkan kuliahnya demi bisa menemani Zidan selama pengobatan.
Pria itu perlahan mulai membaik, wajahnya kian manis dengan senyum yang selalu dia perlihatkan terhadap orang-orang di sekelilingnya. Mungkin Zidan sempat kehilangan tujuan untuk bertahan hidup, akan tetapi setelah berbicara empat mata bersama Mikhail, dia percaya bahwa semua sudah Tuhan berikan sebagaimana porsinya.
Jika dia yang mendampingi hidup Zia, belum tentu bisa sebaik Mikhail. Ya, dengan memberikan pemahaman seperti begitu dalam benaknya, sakit yang Mikhail rasakan takkan separah itu.
"Jangan melamun, nanti kesambet."
Zidan tersenyum simpul, entah kenapa Erika sangat amat melarangnya menatap tanpa arah begitu. Padaha, banyak yang dia pikirkan dengan menatap langit biru nan jauh di sana.
"Kebiasaan, aku jantungan gimana?"
"Ya jangan, masa baru mau sembuh sakit yang satu nambah yang lain."
Candaan mereka terasa gelap, Zidan hanya tertawa sumbang mendengar penuturan Erika. Selama menjalani pengobatan, Erika benar-benar mengutamakan Zidan dalam segala hal. Dia tidak akan tidur sebelum memastikan Zidan terlelap, menemani Zidan agar pria itu tidak bosan dengan segala hal yang bisa dia bahas dan menurutnya menyenangkan. Meski, sesekali hati Erika terhenyak kala Zidan kerap meminta Erika menceritakan tentang Zia.
Begitulah cara Erika menghabiskan harinya, Marisa benar-benar berterima kasih dengan kebaikan Erika yang rela mengorbankan banyak waktu dan tenaga untuk mendampingi putranya.
"Erika, boleh aku tanya?"
"Apa?" tanya Erika pean, sebenarnya dia sudah bisa menebak apa yang akan dia tanyakan kali ini.
"Kamu pernah bilang, kalau bang Mikhail kasar, tapi buktinya enggak."
Erika membuang napas kasar jika dia mengingat pria itu. jujur saja, meski suami Zia sudah berbaik hati membayai pengobatan Zidan, akan tetapi di matanya yang namanya Mikhail tetap pria gila yang berani memaksa anak kecil sepertinya.
"Karena kamu nggak rasain, sekarang aja dia baik ... kalau dulu persis preman pasar senin tau nggak."
Rasa sakitnya bahkan masih terasa, Mikhail benar-benar tidak ada otaknya. Bahkan hingga saat ini, Erika sengaja menghindar untuk menemui Zia karena dia yakin dimana ada Zia maka disitu akan ada Mikhail.
"Haha memangnya dia gimana, Ka?"
Zidan mulai terpancing, beberapa pernyataan dari Syakil juga seakan menunjukkan bahwa Mikhail memang tidak sebaik yang dia kira. Wajah Erika mendadak berubah dan gurat kekesalan begitu jelas di matanya. Ya, Erika masih trauma karena Mikhail sempat mengikatnya di kursi belajar akibat tutup mulut terkait keberadaan Zia.
"Ka, cerita coba."
Malas sekali, mengingatnya saja dia enggan. Sungguh, Mikhail bahkan lebih kejam dari mafia yang kerap dia bayangkan. Sengaja membawa dua orang pria berkulit hitam bertubuh kekar dan mengobrak abrik kamar kost Erika.
Persis korban penganiayaan, bentakan Mikhail bahkan masih terbayang. Dua jam Mikhail menyekap Erika, dengan segala cara dia memaksa Erika bicara hingga wanita takut keluar rumah hampir satu minggu.
__ADS_1
"Serius? Kamu dipaksa ngaku sama bang Mikhail, Ka?"
"Iya!! Kamu udah deh bangga-banggain dia, mungkin memang sudah tobat, tapi dulu dia memang persis preman, Zidan."
"Masa iya bang Mikhail setega itu, lagian kan kamu perempuan, Ka."
Jika berikir ke arah sana memang sangat aneh kenapa MIkhail tak pandang bulu padanya. hanya karena kehilangan Zia, pria itu benar-benar marah dan mengusik kehidupan Erika separah itu.
"Entahlah, mungkin dia cuma halus sama Zia, di matanya aku bukan perempuan kali."
Kemungkinan paling besar, karena seingat Erika cara Mikhail memperlakukan wanita memang berbeda-beda. Erika ingat betul bagaimana cara Mikhail memperlakukan wanita, memang berbeda-beda dan tisak bisa ditebak.
"Dia begitu pasti ada alasannya, Ka ... kalau saja kamu katakan sedari awal dimana Zia berada pasti dia nggak akan sekasar itu."
"Ck, tapi kan tetep aja aku begitu juga atas permintaan pacarmu itu!!" kesal Erika kala Zidan justru membela Mikhail tiba-tiba.
"Mantan, Erika ... bukan pacar lagi."
Selembut itu Zidan bicara, selama mengenal Zidan dia belum pernah menyaksikan bagaimana pria itu marah. Cara bicaranya yang lembut dan benar-benar halus adalah nilai plus yang tak semua pria miliki.
Bagaikan langit dan bumi, jujur saja saat ini Erika tengah membayangkan bagaimana sulitnya jadi Zia yang menjadi istri dari pria sekasar Mikhail.
"Kenapa mukanya jadi jutek gitu? Kamu nggak nyaman ya kalau aku bahas Zia mulu?"
Sudah tahu dia masih bertanya. Sepertinya naluri laki-laki memang begitu. Harus dengan cara apa Erika memperlihatkannya kalau dia memang sekesal itu perihal membahas Zia dan Mikhail tanpa jeda.
"Nggak, bu-bukannya gitu, Zidan ... tapi, alangkah baiknya kalau kita nggak bahas masa lalu kamu terus," ucapnya tanpa berani menatap mata Zidan sama sekali,
"Lalu kita harus bahas apa? Masa depan kita?"
Pertanyaan sederhana yang berhasil membuat Erika salah tingkah. entah belajar dari mana hingga Zidna bisa melontarkan pertanyaan seperti itu.
"Ka, woey jawab ... aku nanya jangan dicuekin."
"Apaan dah, kamu kenapa jadi ketularan bang Juki?"
Zidan terkekeh melihat sahabatnya ini semakin tak karuan arah, hanya sebuah pertanyaan sepele Erika sampai tak kuasa menatapnya lagi.
-
__ADS_1
.
.
.
Jika di sana Erika mulai lega lantaran keadaan Zidan yang perlahan membaik, kini di tempat yang berbeda Mikhail justru tengah dibuat cemas lantaran kelahiran buah hatinya tinggal menghitung hari.
Perut istrinya kian membesar saja, bahkan berjalan saja terlihat sulit. Mikhail sudah tidak masuk kerja sejak beberapa hari ini, sudah dipastikan Zia tidak bisa melahirkan secara normal. Maka dari itu, semua sudah Mikhail siapkan, perlengkapan Zia, perlengkapan bayinya dan semua hal lain yang nantinya dibutuhkan Mikhail siapkan dengan matang.
Dia sendirian? Jelas saja tidak, ada Rani dan juga Babas yang rela membantunya. Demi tambahan gaji mereka jelas saja tidak menolak, lagipula tugas semacam ini tidaklah begitu sulit untuk dijalanim
"Kamu sudah telpon ibu, Zia?"
"Udah, Mas."
Zia tersenyum getir, dia malu mengutarakannya pada Mikhail. Sesulit itu Zia untuk mendapat doa restu, hanya doa tanpa mengharapkan kehadiran akan tetapi kenapa sesulit itu dia dapatkan.
"Nggak diangkat?" tanya Mikhail lembut, jawabannya sudah bisa ditebak dari sorot mata Zia.
"Hm, enggak, Mas."
Mikhail menghela napas perlahan, pria itu menepikan anak rambut yang mengganggu wajah cantik istrinya.
"Mas jemput ibu buat kamu, mau ya?"
"Enggak usah, Mas ... jangan, mungkin memang Ibu sibuk, Ricko juga nggak angkat."
Mulutnya bilang tidak tapi Mikhail yakin hati Zia tidak demikian. Dapat dia tangkap kekecewaan di sana, sebagaimana yang Mikhail pahami bahwa memang ketika melamarnya dahulu, calon mertuanya mengatakan untuk tidak melibatkan mereka dalam hal apapun tentang Zia.
"Zia jangan sedih, kamu nggak sendiri ... ada Mas, ada Mama sama Papa juga." Mikhail menarik sang istri dalam pelukan, kekhawatiran mereka sama saja, baik Mikhail maupun Zia sama-sama takut namun berusaha tak terlihat panik demi bisa membuat pasangannya tenang.
Tbc
Maaf kalau ceritaku dinilai sudah kepanjangan dan idenya kemana-mana. Beberapa eps yang nggak ada kaitannya dengan konflik kaya part Zidny dan Laura serta lainnya itu hanya sebagai pemanis. Aku nggak lupa ide ceritanya, dan aku ciptakan hiburan itu dengan harapan pembaca nggak tegang disuruh mikir mulu.
Terkhusus yang komentar begini, jika memang nggak suka bisa tinggalkan tanpa harus banyak omel yang buat penulisnya sakit hati.
__ADS_1
Bagus cerita ini dimana? Mungkin versi bagus menurut Kakaknya berbeda, tapi dari kemaren aku liat isi komennya ngomel mulu. Kalau nggak suka dan nggak ada bagusnya tinggalin, ngapain sampe baca di eps 103 an.