
"Kenapa lama, Khail?"
Baru masuk beberapa langkah, Kanaya sudah melemparkan banyak pertanyaan pada putranya. Mungkin dia sedikit heran lantaran pulang dalam keadaan rumah begitu sepi, tidak ada Syakil maupun Ibra menyambutnya.
"Tadi harus ke bengkel sebentar, Ma. Sekalian neduh dulu."
Mikhail belum selesai bicara sementara Zia sudah berlari ke arah Kanaya. Ada yang lebih menarik di mata Zia hingga dia melarikan diri dari pelukan Mikhail segera.
"Ma, ini buat aku semua kan ya?"
"Iya ... udah Mama kupasin tuh, makan sepuasnya," tutur Kanaya seraya mengembalikan pisau kecil yang sebelumny dia gunakan untuk mengupas jambu kristal itu.
"Ck, kalian berdua mengabaikanku?"
Mikhail berdecak kesal akan tetapi tetap bergabung dan duduk di sisi istrinya. Secepat itu Zia melupakan kehadirannya hanya demi buah menyebalkan itu, pikir Mikhail.
"Apasih, Khail ... Mama masih dengerin."
Mudah sekali putranya ambil hati, wajahnya yang cemberut halal untuk diparut. Melihat pasangan di hadapannya ini Kanaya merasa mereka masih terlalu kecil untuk membina rumah tangga.
Selain karena Zia masih begitu muda di matanya, usia mental Mikhail belum sedewasa umur aslinya. Putranya memang sudah 29 tahun, tapi bagi Kanaya untuk beberapa hal putranya masih kerap seperti anak-anak.
"Apa enaknya, Zia?"
"Enak, ini cobain dikit aja."
"Takut," jawabnya pelan.
Mikhail menggeleng cepat, dia memang pemilih dan sejak kecil apapun jenis jambu dia memang tidak suka. Dia memang trauma jambu biji, menurut Mikhail biji jambu biji menakutkan.
"Ini bukan jambu biji, Mas ... beda."
"Tetap saja mereka sekeluarga, jangan paksa Mas, Zia," tolak Mikhail benar-benar memohon, pria itu memang sedikit sulit ditebak dan ada saja hal mengejutkan tentangnya.
"Memang sulit meyakinkan monyet bahwa apel lebih manis dari pisang, Zia."
Kanaya juga heran sebenarnya, putranya memang berbeda sendiri. Selain semua sifat Ibra dia ambil, dalam diri Mikhail juga tersimpan hal-hal yang Kanaya sendiri bingung diturunkan dari siapa.
__ADS_1
"Apasih, Ma ... apel ya apel, pisang ya pisang! Tidak ada hubungannya sama jambu," omel Mikhail merasa tersinggung dan menganggap mamanya menyamakan dia dengan monyet.
"Mas nggak boleh gitu," bisik Zia mencubit pinggangnya. Bukan sekali dia temukan Mikhail yang kerap bicara dengan nada yang sedikit tidak sopan, meski sebenarnya itu hanya bentuk kekesalan saja.
"Aaww, kamu kenapa jadi bela Mama?"
"Kamunya nggak sopan," bisik Zia lagi dan terdengar jelas oleh Kanaya.
Kanaya hanya bisa tersenyum melihat mereka, berdebat kecil di hadapan mertua sepertinya menyenangkan. Pemilik wajah teduh itu merasa sedih lantaran dia tidak pernah merasakannya.
"Oh iya, Zia suka rumahnya?" Kanaya menghentikan perdebatan mereka dengan mencoba bertanya hal yang lain.
"Suka, Ma ... sukaaaaaa banget, nanti Mama sering-sering tidur di sana ya, Ma."
Mikhail menghela napasnya kasar, jika Kanaya mengiyakan maka habislah sudah rencananya. Gelagat Mikhail dapat Kanaya tangkap, dia tidak tersinggung akan tetapi lucu saja melihatnya.
"Mama tau isi otak kamu, Khail ... memang menikah itu lebih baik tinggal sendiri, dulu Mama sama Papa sejak menikah hanya berdua jadi Papa bebas mau peluk atau cium Mama pas lagi masak di dapur ... pasti Mikhail maunya begitu kan?"
Uhuk
"Hanya berdua? Terus Mbok Ningsih sama yang lainnya nggak Mama hitung?" tanya Mikhail basa-basi yang senenarnya hanya berusaha agar tidak terlalu malu, itu saja.
"Selain mereka maksudnya," jelas Kanaya kemudian.
-
.
.
.
Sebenarnya berat sekali melepas keduanya, bukan hanya karena dia menyayangi Mikhail, akan tetapi Zia juga. Rasanya begitu singkat dia merasakan nikmatnya masakan menantu dan pemandangan indah dimana wanita mungil itu mengacaukan dapurnya.
Akan tetapi, keputusan Mikhail sudah lebih tepat dan memang sudah hak putranya menentukan jalan hidup sendiri. Dia bebas membangun keluarga dan Kanaya tak ingin menjadi pihak ketiga yang turut campur rumah tangga anaknya.
"Sesekali boleh ya, Khail ... Mama masih pengen serumah sama Zia sebenarnya." Dia berusaha merayu, lagipula kasihan menantunya terancam kesepian.
__ADS_1
"Kan memang seharusnya begitu, Ma, kalau aku kerja Mama yang temenin Zia bolehlah sesekali."
Mikhail tak sejahat itu, pisah rumah bukan berarti dia membatasi kedekatan antara Zia dan Kanaya. Hidup mandiri bersama sang istri adalah cita-citanya sejak lama, dan bersyukur sekali kala dia mendapatkan istei seperti Zia yang juga menginginkan hal yang sama.
"Rani sama Babas ikut kalian ya? Tapi Mbok Ning jangan."
Belum apa-apa mereka sudah berbagi siapa yang boleh ikut Mikhail dan siapa yang harus menetap bersama Kanaya di rumah utama. Ningsih adalah sepuh yang tidak bisa Kanaya lepaskan, sementara Rani adalah orang baru yang cukup berpengalaman untuk menemani Zia.
"Iya ... Om Axel sama Om Jackson bolehlah ikut kami," Mikhail asal meminta, mereka adalah orang kepercayaan Ibra, mana bisa dia ambil semua.
"Salah satu saja, Axel atau Jackson?"
"Dua-duanya, Zia hamil jadi harus dijaga."
"Ya nggak bisa lah, yang jagain rumah ini siapa kalau mereka kamu ambil semua?"
Memang pada awalnya Kanaya merasa risih selalu dijaga Axel dan Jackson. Akan tetapi, lama kelamaan memang dia merasakan dampak positifnya hingga wanita itu menjadi terbiasa. Peran Axel dan Jackson begitu besar, mulai dari menjaga Kanaya, Mikhail dan juga Syakil ketika masih keduanya masih remaja dan kini menetap menjaga keluarga Ibra seutuhnya.
"Ck, Mama pelit."
"Mama bilang pilih salah satu, berbagi, Mikhail ... jangan maruk kamu."
"Rumahnya besar, Ma, kalau Om Axel atau Om Jackson sendirian nanti kewalahan."
Mereka masih berdebat memperebutkan antara Axel dan Jackson. Entah sampai kapan pertarungan sengit itu berakhir dan siapa yang menjadi pemenangnya, Zia juga tak terlalu peduli. Saat ini, dia tengah menikmati segarnya jambu kristal yang dibawakan sang mama.
"Terus gimana sama rumah ini, Mikhail? Mikir dong, kalau ada maling gimana," cecar Kanaya sudah sedikit kesal lantaran putranya benar-benar enggan mengalah.
"Aduh, Mama ... ya cari security lain, tuh Om Adrian nganggur," ucap Mikhail asal jeplak, dia benar-benar tak menganggap Adrian sebagai kakak kandung sang mama sepertinya.
"Sembarangan, mana boleh begitu." Entah mau bagaimana caranya agar Mikhail bisa sopan pada Adrian, sebesar itu kemarahannya hingga tak peduli bagaimana hubungan Adrian dan Kanaya.
"Om Gibran saja kalau begitu, biar Mama sekalian bisa selingkuh!" seru Mikhail berhasil membuat Zia dan Kanaya membeliak, dia mengutarakannya tanpa dosa dan sama sekali tak merasa salah.
"Hahahah kenapa? Kan bener, itu ide bagus, Ma ... pasti Papa ketar ketir." Mikhail terkekeh dan terus saja membahasnya tanpa tau saat ini Kanaya sudah diam kala menyadari siapa yang masuk bersama Syakil di depannya.
Tbc
__ADS_1