
"Mas?"
Zia paham ini tidak beres, Mikhail menatap bayangan dirinya di cermin seraya mengelap sudut bibirnya dengan tisu. Kedatangan Zia juga tak dia gubris kini, mungkin hatinya masih terbawa emosi.
"Kenapa? Kok bisa luka?"
Zia mencoba menyentuhnya, tidak salah lagi itu memang benar-benar luka. Entah bagaimana kronologinya hingga bisa seperti itu. Mikahil hendak menolak kala Zia mengambil alih tisu di tangannya, namun Zia bergerak lebih cepat sebelum Mikhail sempat menolak.
"Jangan ngeyel, dimarahin Papa ya?"
"Hm."
Sudah tahu masih saja bertanya, pikir Mikhail kesal luar biasa. Ibra yang menghantamnya dengan bogem mentah tanpa aba-aba membuat tubuhnya bahkan membentur tembok dan jangan ditanya bagaimana rasanya, jelas saja sakit.
"Papa kalau marah serem ya?"
Mikhail menghela napas pelan, dia mengangguk dan belum berani banyak bicara karena memang perih. Masalahnya sederhana, Mikhail tak terima kala Ibra menyebutnya pendusta.
"Maaf ya, Mas begini pasti karena aku."
Sebagaimana penuturan Kanaya yang sempat dia dengar, mertuanya memang takkan begitu peduli jika Mikhail masih sendiri. Hanya saja, status dia yang sudah memiliki istri membuat Kanaya maupun Ibra khawatir, itu saja.
"Bukan salah kamu. Mas yang salah, Sayang."
Meski pelan dia berusaha untuk menjawab, jika hanya sekali hantam mungkin Mikhail takkan tersiksa ini. Akan tetapi, pukulan Ibra memang berkali-kali lantaran Ibra tak terima pernyataan Mikhail yang meminta sang papa untuk tidak lupa berkaca.
"Kalau dinasehatin itu dengerin, bukannya bantah ... apalagi ngelawan, namanya orangtua ya pasti marah."
Dia paham watak Mikhail, perkenalan mereka cukup singkat namun memahami sikap Mikhail tidak begitu sulit. Sejak awal dia mengenalnya, sudah ketahuan jika sang suami adalah pria manja dan egois yang selalu ingin menang sendiri.
"Tapi Papa juga sama-sama suka bohong, Zia! Mas nggak salah, Papa aja baperan," ucap Mikhail sama sekali tak merasa salah.
"Jadi bener bibirnya jadi begini karena ngelawan Papa?"
Ingin mengelak tapi sudah terlanjur Zia ketahui, toh faktanya memang demikian dia yang berontak. Meski Mikhail hanya berani melawan Ibra dengan ucapan, tetap saja itu bukan hal yang dibenarkan.
"Mas cuma bela diri, bukan ngelawan."
Lihatlah, betapa dia begitu membela dirinya dan enggan dinilai salah. Lagi dan lagi Mikhail memperlihatkan watak buruknya pada sang istri.
"Hm, sama saja, Mas."
"Aaaww!! Pelan-pelan, Zia!!"
__ADS_1
Setelah cukup lama dia berbicara sebegitu pelannya, kini suaranya meninggi kala Zia menekan lukanya dengan sedikit kekuatan sebagai luapan amarah juga.
Mikhail lupa jika Zia juga wajar marah sebagai pihak yang sama-sama dia tipu. Hanya saja, demi menjaga hati Mikhail wanita itu memilih untuk memperkecil masalah dan tidak begitu memusingkannya.
"Nggak sengaja," ucap Zia menarik sudut bibir, mata Mikhail yang kini berair sepertinya menunjukkan jika dirinya benar-benar tersiksa akan rasa sakit.
"Punya istri tegaan, kamu kenapa ikut-ikutan Mama?"
Semudah itu Mikhail menyimpulkan jika Zia juga berniat menyakitinya, padahal memang. Luka sekecil itu tapi ekspresinya persis habis ditusuk senjata tajam.
"Tega gimana? Marah sama Mas aja aku nggak."
Aneh sekali memang, sejak tadi hanya Zia yang memakluminya. Mungkin seisi dunia hanya Zia yang tidak marah meski Mikhail menguji kesabarannya.
"Tetap saja ... hati-hati, Zia ini benar-benar sakit. Mas nggak bohong," tutur Mikhail berharap Zia benar-benar mempercayainya, meski memang dia sedikit membuat drama karena pada faktanya tidak sesakit yang Zia bayangkan.
-
.
.
.
Dibandingkan Kanaya, Ibra tidak begitu cepat marah. Dia bisa menguasai keadaan dan menerima kekhilafan Mikhail sebelumnya. Akan tetapi, untuk yang kali ini dia benar-benar tidak bisa memaklumi Mikhail sama sekali.
"Sudah berkali-kali aku tegaskan, jangan main tangan, Mas ... kamu kalau udah mukul keterlaluan."
Ini adalah hal yang Kanaya takutkan, suaminya benar-benar segila itu jika sudah berbuat tak peduli jika putranya mungkin saja bisa patah tulang.
"Khilaf, Nay."
Ibra menghela napas kasar, sebelumnya memang dia hanya menasehati Mikhail tentang sikapnya yang memang dirasa kurang sopan. Akan tetapi, situasi justru memanas kala Mikhail menjawab setiap ucapan Ibra dan mengulik kembali kesalahannya di masa lalu.
Hendak marah juga Kanaya tidak bisa, bagaimanapun Ibra adalah suaminya dan dia memiliki hak untuk memberikan pelajaran pada sang putra sesuai dengan caranya.
"Ya sudahlah, semua sudah terjadi ... mau bagaimana lagi?"
Kanaya kembali mengelus dadanya, menatap meja kerja Mikhail yang kini tak lagi tertata. Bisa dipastikan kemarahan Ibra kali ini benar-benar tak terbendung.
"Beresin, Mas."
"Hah? Kenapa jadi Mas yang beresin ... dia lah."
__ADS_1
Mana bisa begini, dengan jelas yang membuat meja kerjanya tak karuan lagi adalah Mikhail sendiri, jelas saja Ibra menolak.
"Ya Tuhan, kan Mas yang buat semuanya jadi begini."
"No, Mikhail yang berbuat kenapa Mas yang tanggung jawab."
Ibra berlalu dan tidak ingin berlama-lama terjebak di ruang kerja Mikhail. Meninggalkan Kanaya yang terpaksa menata kembali benda-benda yang tercecer di lantai .
Dia enggan jika harus meminta Rani ataupun Ningsih, hal semacam ini bisa dia selesaikan sendiri meski harus sembari meratapi dua pria penting dalam hidupnya.
"Syakil, Mama harap kamu jangan seperti ini nanti."
Bertahan dengan harapan yang masih menjadi tanggung jawab Syakil. Putra bungsunya memang berbeda, meski memang sikap Ibra masih menurun dalam diri Syakil, tapi tidak sepenuhnya seperti Mikhail.
Di ruang keluarga kini Ibra berdiam diri, duduk santai seakan tidak ada masalah sama sekali. Selesai mengelilingi kediaman Mikhail yang baru, dia merasa lelah.
Sejak tadi putranya belum keluar juga, mungkin memang benar-benar marah. Ibra peduli tentang itu? Sama sekali tidak. Jika hanya Mikhail dia tak begitu peduli, selagi Kanaya tidak ikut marah bagi Ibra semua baik-baik saja.
"Ck, menganggu saja ... sebentar!!"
Dia baru saja hendak menikmati acara televisi kesukaannya, suara bel membuat Ibra terpaksa berjalan ke depan demi membukakan pintu.
"Kenapa, Bas?"
"Bos muda dimana? Anjiing yang dia minta sudah tiba," ucap Bastian menunjuk ke arah pria bertopi yang juga Ibra kenali.
"A-anjiing? Dia beli anjiing?" Ibra menganga, dia memang menyukai binatang tapi tidak dengan makhluk penggonggong itu.
"Iya, Bos ... katanya buat jagain rumah."
"Berapa ekor dia beli hewan itu?" tanya Ibra mulai khawatir, pasalnya jika Mikhail bertindak kerap diluar nalar dan kerap berlebihan.
"Empat ekor, Bos. Semuanya jantan dan dijamin bos muda tidak akan kecewa!" seru Babas percaya diri sekali jika Mikhail akan bahagia dengan kabar ini.
Dasar sinting, untuk apa Mikhail membeli hewan itu hingga empat ekor. Putranya ingin berburu atau bagaimana, pikir Ibra bingung.
Guk guk
"Santai!! Dasar anj ... biasa saja kan bisa!!" bentak Ibra kaget kala hewan menakutkan itu mulai menggonggong dan menjulurkan lidahnya. Sungguh di mata Ibra ini terlalu menakutkan.
"Ya namanya anjiing memang begitu, Bos."
"Terserah!! Panggil Mikhail sana, dia di kamar," titah Ibra kemudian dan dia memilih kembali masuk karena enggan berurusan dengan makhluk itu.
__ADS_1
Tbc