
Takut, kalut dan malu kini menjadi satu dalam diri Zia. Telapak tangannya terasa dingin dan dadanya berdegub cepat, semakin dekat semakin Zia takut. Meski setiap jam Mikhail selalu mengatakan hal yang sama, tetap tenang dan jangan terlalu dipikirkan.
"Jangan takut, semua akan baik-baik saja."
"Firasatku nggak enak, biasanya ini tanda-tanda aku bakal nangis setelah ini."
Pria itu menggeleng pelan, sesulit itu meyakinkan Zia bahwa semuanya memang baik-baik saja. Walau dia sendiri takut sebenarnya, dia pergi mejemput Zia saja tanpa izin lalu bagaimana jika dia pulang dengan membawa seorang wanita dalam keadaan hamil, pikir Mikhail.
"Nangis saja sekarang." Enteng sekali dia bicara, sejak tadi dia sedikit bingung lantaran Zia yang serba salah.
"Mama dan Papa juga pernah muda, Zia ... mereka akan paham, lagipula semua terjadi diluar kendali kita berdua."
Mikhail memang dewasa dalam hal ini, berusaha memberikan ketenangan pada Zia sesabar itu meski harus berulang-ulang. Dia tidak ingin menunda lebih lama lagi, mau menunggu kandungannya sebesar apa jika sampai kembali ditunda.
Dress coklat muda bermotifkan bunga lili itu begitu pas di tubuhnya. Menginjakkan kembali kakinya ke tanah air, ya Zia tak menduga jika dia akan kembali secepat ini.
Pergi sendiri, pulang bertiga. Zia menghela napas perlahan kala jemputannya tiba. Semakin terasa di sekecil itu ketika melihat bagaimana sosok Mikhail sebenarnya, kekayaan yang dia perlihatkan selama mengenal mungkin hanya beberapa persen saja.
Fasilitas yang dia miliki adalah sesuatu yang sejak dulu mnejadu khayalan seorang Zia setiap harinya. Dihormati, bahkan seseorang menunduk sebelum membiarkannya masuk mobil adalah bukti Mikhail bukan orang sembarangan.
"Aku tidak bisa bawa mobil sendiri, Papa yang larang ... kamu baik-baik saja, kan?"
Valenzia hanya mengangguk, dia paham maksud Mikhail. Tentu saja ini semua masalah kenyamanan, pria itu sangat takut Zia merasa terkekang dengan kehadiran Bastian saat ini, sopir pribadinya.
"Mama bagaimana?" tanya Mikhail kemudian, meski dia tahu saat ini mungkin saja sang mama tengah menyiapkan ramuan untuknya agar tidak membangkang seperti ini.
"Masih sama seperti dua minggu lalu, Nyonya selalu menunggu Anda."
Zia mengerutkan dahi kala medengar penuturan pria tampan berkumis tipis itu, jika memang dua minggu lalu artinya Mikhail sudah lama mencari keberadaannya. Akan tetapi, kenapa Mikhail tidak mengatakan hal itu, pikirnya.
"Dua minggu?"
"Hm, sulit ternyata menemukan anak kecil sepertimu ... temanmu juga sama, pelit sekali."
Zia semakin bingung, temannya yang mana dianggap pelit oleh Mikhail. Apa mungkin Erika? Karena memang hanya dia salah satu temannya yang kerap meminta dia pulang, dan beberapa minggu terakhir memang tidak ada yang Erika katakan selain meminta Zia pulang dengan alasan hidupnya dibuat sulit akan kepergian Zia.
"Temanku yang mana?" tanya Zia kemudian yang berhasil membuat Mikhail bungkam, gawat dia hampir saja keceplosan.
"Teman-teman yang pernah magang bersamanu, setiap aku tanya jawabannya selalu sama seakan-akan sudah berpisah dua abad lamanya, menyebalkan sekali."
"Bapak nggak macem-macem kan sama mereka?" tanya Zia kemudian, jujur saja dia sedikit takut jika jurus ancam mengancam milik Mikhail dia gunakan juga kepada orang lainnya.
__ADS_1
"Hahah mana mungkin aku tega macam-macam pada bocah ingusan seperti mereka, kamu ada-ada saja, Zia," ungkap Mikhail sembari mengecup punggung tangan istrinya.
"Tapi buktinya kepadaku Bapak tetap macam-macam, bukannya sama saja umurnya?" Mikhail terjebak kini, pertanyaan Zia memang benar adanya. Jika alasannya hanya karena umur sepertinya tidak masuk akal saja, pikirnya.
"Kamu berbeda, Zia."
Bukan itu alasannya, dia berbohong tentu saja. Yang sebenarnya terjadi bahkan lebih gila dari yang Zia alami. Mikhail bahkan meneror Erika sejak malam pertama dia bisa beraktivitas seperti manusia normal lainnya, tidak hanya sendiri dia membawa beberapa preman berbadan gempal dengan maksud membuat Erika mengaku tanpa dia harus bertanya dimana dan kenapa Zia pergi.
-
.
.
.
"Jangan takut, aku akan melindungimu sepenuhnya ... ayo, Mama sudah lama menunggu."
Sepuluh menit rasanya tak cukup untuk Zia bisa tenang, mereka sudah memasuki kediaman Megantara dan demi Tuhan semakin dalam Mikhail membawa Zia dalam hidupnya semakin Zia merasa dirinya begitu kecil tak berharga.
Berjalan dengan Mikhail yang selalu menggenggam tangannya. Dia hanya bisa menunduk, mengikuti langkah Mikhail yanh sengaja diperlambat demi menyesuaikan langkah Zia.
"Mama."
"Dari mana saja kamu, Mikhail?"
Kanaya yang sudah dibuat tak bisa tidur oleh putranya hampir setiap malam ini jelas saja menghela napas begitu lega kala suara Mikhail kembali terdengar di telinganya. Tapi tunggu, Mikhail tidak sendirian kali ini, untuk pertama kali putra sulungnya membawa seorang wanita setelah sekian lama.
"Jemput Zia ... wanita yang selalu Mama anggap halusinasiku."
Kanaya sejenak terdiam, bukan karena kalimat Mikhail melainkan perut wanita yang berada dalam genggaman putranya. Kanaya tak salah lihat, berkali-kali dia pastikan dan memang sepertinya tengah berbadan dua.
"Khail? Dia siapa, kenapa? Kamu ... apa yang kamu lakukan, Khail?!!"
Trauma masa lalunya kembali terbayang, sejak dahulu Kanaya sangat takut jika putranya mengalami hal yang sama ketika dewasa. Salah satu alasan Kanaya tak ingin menerima tanggung jawab Ibra dan lebih memilih Mikhail yang dulu dalam kandungan adalah hal ini.
"Calon istri Mikhail, Ma," jawab Mikhail mantap, dia sudah mengatakan akan menjadi pelindung Zia. Andai kata nanti Kanaya marah besar maka yang seharusnya menerima amukan Kanaya adalah dia, bukan Zia.
"Calon istri? Mikhail kamu ... astaga, dia hamil? Mama tidak salah lihat kan?" Kanaya menunjuk Zia dengan telunjuknya yang bergetar hebat, kakinya terasa lemas dan tenaganya seakan habis terkuras.
"Tidak, dia calon menantu Mama ... dan sekalian Mikhail bawakan calon cucu untuk Mama. Bukankah sejak dulu Mama selalu meminta Mikhail membawakan calon istri secepatnya." Penjelasannya memang paling mantap, bahkan Zia dibuat ternganga dengan kalimat Mikhail yang tersusun rapi itu.
__ADS_1
"Ya Tuhan, Khail."
"Buy 1 Get 1 ... apa salahnya? Bukankah itu lebih baik, Ma?"
"ASTAGA MIKHAIL!! MAMA TIDAK PERNAH MENGAJARKAN KAMU MERUSAK ANAK GADIS ORANG!!"
Teriakan Kanaya menggema bahkan mungkin sampai ke dapur. Siapa yang memberinya konsep hidup seperti itu, Kanaya merasakan sakit dibagian kepala belakangnya.
"Ada apa ini?!" Belum selesai perkara sang mama, kini Ibra keluar masuk dan sama terkejutnya.
"Mas," panggil Kanaya lemas, Mikhail hanya terpaku dan mengeratkan genggaman tanganya, paham sekali Zia saat ini setakut apa.
"Khail apa terj..."
Sama seperti sang mama, Ibra bahkan lebih terkejut lagi. Hendak menolong Kanaya namun dia justru berhenti dan kini terpaku menatap wanita cantik di sisi Mikhail, dan mirisnya anak magang yang sempat Ibra selamatkan dari terkaman putranya itu kini tengah hamil dan sudah terlihat begitu jelas.
"MIKHAIL???!!" teriak Ibra marah besar, dia menghampiri Mikhail dan mendaratkan tamparan keras di wajah mulus putranya.
PLAK
"Ulahmu begini? Hm?"
"Maaf, Pa ak ...."
PLAK
Belum sempat menyelesaikan pembicaraannya, Ibra kembali mendaratkan telapak tangannya di pipi sebelah kirinya. Tamparan kedua sisi yang luar biasa kuatnya bahkan Mikhail sakit kepala.
"Kamu benar-benar badjingan, Mikhail ... kenapa kesalahan Papa kamu ulang?!!"
"Mas!! Cukup, jangan menyiksanya." Kepala Kanaya kian sakit dan berakhir kehilangan keseimbangan.
"Kanaya!! Lihat ulah kamu, Mikhail ... buka matamu!!" Andai saja Kanaya tidak tumbang, mungkin sudut bibir Mikhail akan berdarah dibuatnya.
Tbc
Mohon doanya ya, hari ini aku akan melewati hari bersejarah dan merupakan perjuangan terakhir. Aku up tiga. Ini tabungan Bab dari kemarin, kalau ga tembus 400 like besok-besok upnya 1 ajah.š
Rekomendasi Novel Hari iniā£ļø
__ADS_1