Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 104 - Bukan Pengusik Biasa.


__ADS_3

Sudah dia wanti-wanti, bahkan sengaja membeli anjiing demi mengantisipasi kedatangan Zidny dan Laura sejak lama. Nyatanya dengan semudah itu mereka mampu menembus usaha Mikhail dengan bantuan Kanaya.


Ya, mereka tak kalah pintar dari Mikhail. Sadar betul jika penolakan yang dulunya pria itu katakan sedikit tidak masuk akal. Sengaja meminta Kanaya ikut agar Mikhail tak punya alasan untuk menolak kedatangan mereka.


"Katanya nggak ada signal ... ini lancar jaya, bahkan live ig masih mulus-mulus aja, bohong banget sih, Bang."


Sejak tadi Mikhail sudah memasang wajah masamnya. Akan tetapi tampaknya Zidany maupun Laura tak mengindahkaan perubahan diri Mikhail. Terserah, kalaupun mau marah juga mereka takkan peduli. Mana berani Mikhail mengusir mereka jika sudah berada di hadapan Kanaya.


"Iya, dari tadi juga nggak ada suara babii, tetangganya juga ada meski cukup jauh ... Bang Cio memang suka bohong ternyata, Kak," tambah Laura semakin membuat hati Mikhail bergemuruh.


Dia mencoba mengabaikan pembicaraan Zidny dan juga Laura yang kini sibuk sekali di rumahnya. Andai saja tidak ada Kanaya, mungkin Mikhail akan menendang mereka ke kandang hewan peliharaannya.


"Oh iya? Mikhail bilang begitu?"


Kanaya mulai bertanya, padahal sejak tadi Kanaya sibuk di dapur bersama Zia.


"Enggak, Ma! Mereka salah dengar aja."


Kanaya menghela napas panjang, sudah pasti yang bisa dipercayai adalah Zidny dan Laura. Kebiasaan Mikhail yang benar-benar pintar berbohong membuat Kanaya memilih tidak percaya pada putranya kali ini.


"Kamu tu ya, sejak kapan Mama ajarin jadi orang anti sosial begini ... masa Zidny sama Laura mau bertamu saja kamu larang? Itu nggak baik, Khail."


Semakin kesal saja MIkhail dibuatnya, sudah pasti Zidny dan Laura bicara macam-macam pada Kanaya tentangnya. Kemasan minuman di tangannya sudah mulai berubah bentuk akibat tangannya mengepal sembari menahan amarah.


"Sejak kapan aku anti sosial, Ma? Tapi sesekali aku juga butuh ketenangan, nggak selamanya aku betah sama pertujukan topeng monyet seperti mereka."


Lama kelamaan Mikhail tak lagi bisa menahan dirinya, sudah berusaha sebaik mungkin dia menerima kedua wanita itu baik-baik bahkan saat sarapan Mikhail memilih diam dan tidak peduli meski mereka bahkan seheboh itu mempertanyakan resep nasi goreng pada Rani padahal habis saja belum.


"Sama aja, nggak terima tamu, pakek beli anjiing segala buat bikin orang takut datang kemari ... kamu ingat ya, Khail, nanti kalau kamu mati yang nguburin kamu siapa kalau bukan orang lain?"

__ADS_1


Gawat, Kanaya mulai ceramah dan bawa-bawa maut. Semua terjadi karena dua manusia sinting tak punya etika itu, pikir Mikhail ingin sekali melempar botol minumannya tepat di kepala Zidny, sudah pasti Kanaya bisa berpikir kesana karena pengaruh mulu putri Lorenza.


"Nggak tau ni Bang Cio, lagian kan kita kesini niatnya baik."


"Hm, terserah kalian, aku mau ke kantor saja."


Ini hari libur, ke kantor siapa dia? Kanaya menarik kerah baju Mikhail agar pria itu mengurungkan niatnya.


"Jangan seperti anak kecil, Khail, tujuan mereka baik. Sebagai adik kamu, wajar saja mereka merindukan Zia."


Adik dari mananya? Hingga saat ini Mikhail geli sekali mendengar silsilah yang orang tua mereka ciptakan. Hanya karena persahabatan sejak masih muda bisa-bisanya Mikhail dipaksa punya hubungan sedekat itu.


"Adik apanya? Anak Mama cuma dua ... dan cuma Syakil."


Sudah biasa pernyataan seperti itu mereka dengar, Zidny dan Laura sama sekali tak sakit hati. Saat ini tujuan mereka mengunjungi kediaman Mikhail memang untuk bertemu Zia.


Mau bagaimanapun reaksi Mikhail, selagi Zia dan Kanaya menerima maka bagi mereka tidak masalah. Mata Mikhail yang menatap mereka dengan aura permusuhan sama sekali tidak membuat mereka takut, yang ada justru terlihat lucu.


.


.


.


"Eh bentar, Bang!! Sahabat karib Abang masuk berita ... mana babak belur lagi, kasian banget loh."


Mikhail kali ini menatap mereka berbeda, penuh tanya dan ini sedikit mengejutkan baginya. Dalam hitungan detik ponsel Zidny sudah dia kuasai demi memastikan berita yang bagaimana yang terkuak ke media. Sempat berpikir itu akal-akalan Zidny namun ternyata benar Edgard yang dimaksud. Dia tidak bertindak, sudah pasti ini adalah ulah Bryan, pria itu membuat Edgard benar-benar habis sepertinya.


"Siapa, Khail ... mana, Mama mau lihat juga."

__ADS_1


Penganiayaan, kekerasan dan percobaan pembunuhan. Kanaya dibuat melongo kala membaca headline tentang Edgard. Wanita itu mendadak merinding dan dia menatap wajah Mikhail penuh kelegaan.


"What? Babang buleku kriminal? Omo-omo!! Aku nggak nyangka." Laura menutup mulutnya, sungguh berita yang mengejutkan.


PLAK


"Halah udah deh, bentukan begitu jadi tukang kebon ai Amerika juga banyak."


Di antara banyak kesamaan, antara Zidny dan Laura sangat berbeda dalam hal mengagumi Edgard. Pria tampan itu berhasil menghipnotis Laura, bahkan dia bahagia kala mengetahui kekasih Edgard memiliki nama yang sama dengannya. Akan tetapi, bagi Zidny mau setampan apapun jika kerjaannya main wanita dan tidak punya penghasilan tetap tidak ada gunanya.


"Ck, Kak Zidny sewot banget jadio rang heran."


Jika Laura merenungkan ketampanan Edgard yang terbuang sia karena hal ini, lain halnya dengan Kanaya. Wanita itu tiba-tiba memeluk Mikhail erat, seakan merasakan sebuah mukjizat lantaran Tuhan melindungi putranya dari pria sebeejat Edgard yang dahulu sempat dia percaya seagai penjaga Mikhail.


"Sudah Mama katakan, sebaik-baiknya orang pasti ada rusaknya, Khail."


Ya, Mikhail paham maksud sang mama, sejak awal dia mengenalkan Edgard sebagai sahabatnya, Kanaya sudah mengatakan untuk jangan dekat berlebihan. Apalagi Edgard adalah orang asing yang benar-benar seasing itu bahkan dari mana asalnya Kanaya sendiri tidak tahu.


"kamu tidak ada hubungannya dengan masalah dia yang kali ini kan?" tanya Knaaya sangat-sangat berharap Mikhail tidak terlibat sama sekali.


"Bisa dikatakan iya, tapi juga bisa dikatakan tidak ... dia menipuku, dan juga berusaha menjebakku. Beruntung kali ini Bryan bertindak cepat, ternyata Papa benar, terkadang orang yang sebelumnya kita anggap membual, dia lah yang paling benar," tutur Mikhail sadar betul akan kesalahan akibat dia tidak mempercayai Bryan selama bertahun-tahun.


"Ya sudahlah, yang terpenting saat ini kamu tidak lagi berteman dengannya." Kanaya berucap pelan sembari tersenyum lega dari kejadian ini. Berbeda halnya dengan Laura dan Zidny yang justru berdebat masalah pantas atau tidaknya Edgard dipenjara.


"Lihat, Mama bilang mereka datang kesini untuk Zia, buktinya mana?"


Mikhail tersenyum tipis kemudian memilih menghampiri Zia di dapur. Sepertinya seru sekali hingga dia bisa betah tidak bertemu Mikhail sejak sarapan hingga kini hampir siang.


"Valenzia ... kamu lagi ngapain, Sayang." Suara Mikhail terdengar lantang dan sepertinya akan mengganggu sang istri.

__ADS_1


"Heeh, Mikhail!! Jangan ganjen kamu ya, nanti donatnya nggak jadi kalau kamu ikutan ke dapur!!" cegah Kanaya namun sepertnya sudah terlamba.


TBC


__ADS_2