Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 27 - Berakhir


__ADS_3

Baca pelan-pelan dan nikmati, posisikan diri sebagai Zia maka kalian akan merasakan hal berbeda ketika selesai membacanya.


*****


"Baik, kita buktikan setelah kamu melihat ini ... apa pendirianmu akan tetap sama."


Tidak ada jalan lain, selamanya memang Zidan akan begini. Sepertinya melindungi harga diri di depan Zidan tidak penting sekarang, karena sampai kapanpun cinta pertamanya ini memang takkan pernah memberikan izin dia melepaskan diri.


"Apa?"


Dia menunjukkan foto yang selalu Mikhail gunakan sebagai ancaman kala Zia membuatnya kacau. Keegoisan Mikhail memang segila itu, meski pada akhirnya jika bertemu dia akan bersikap manis tetap saja cara itu menekan batin Zia.


"Maksud kamu apa?"


Berkali-kali dia memastikan, Zia menunduk dan hanya berharap Zidan tidak menamparnya malam ini. Pria itu nenggeleng pelan seraya tertawa sumbang, hatinya menolak jika wanita di foto itu adalah kekasihnya.


"Zia? Kamu bercanda kan? Ulang tahun aku udah lewat, jangan begini tolonglah."


Jemarinya bergetar memegang ponsel itu, hampir terjatuh namun sebisa mungkin Zidan mengatur napasnya lebih dulu. Dia bukan pria pemarah yang apa-apa langsung meledak.


"Ini bukan hal lucu untuk dijadikan candaan, Zidan."


Zia menggeleng berkali-kali, sampai diperlihatkan bukti nyata pun Zidan seakan menolaknya. Pria itu masih menatap Zia bingung sembari sesekali kembali melihat detail foto itu.


"Siapa yang kurang ajar edit foto kamu begini, Sayang? Hm? Katakan, Zia."


Logikanya percaya dan foto itu benar-benar nyata, akan tetapi hatinya tak bisa. Zia tidak mungkin senakal ini, mana mungkin ini kekasihnya. Zidan menghela napas yang kian terasa berat.


Dadanya terasa sesak, oksigen di ruangan ini seakan tak cukup baginya. Untuk pertama kali dalam 2 tahun hubungan, Zia membuat matanya mengembun. Bukan karena terharu, melainkan ini luka pertama yang Zia torehkan dalam benaknya.


"Itu bukan editan, Zidan! Itu memang aku." Suaranya bergetar, Zia tak memiliki keberanian untuk menatap mata Zidan saat ini.


"YA TUHAN, ZIA!!"


Untuk pertama kalinya Zidan membentak kekasihnya. Suaranya menggema dan pria itu menggebrak meja sebagai pelampiasannya. Lembut bukan berarti tidak bisa marah, Zidan juga manusia biasa yang tentu saja bisa kecewa.


"Kamu sadar yang kamu lakukan hah? Apa yang dia berikan sampai kamu rela melakukan hal segila ini?" tanya Zidan mengguncang pundak Zia kuat-kuat.

__ADS_1


Demi apapun rasanya jiwa Zidan terguncang luar biasa. Wanita itu selama ini dia jaga, pakaian sedikit terbuka saja Zidan tak suka. Jangankan menginginkan keperawaran, mencium pun tidak pernah.


"A-aku terpaksa ... jika ayahku baik-baik saja waktu itu mungkin hal semacam ini tidak akan pernah terjadi!" jelasnya meminta Zidan bisa mengerti, wajahnya sudah membasah dengan air mata yang mengalir di deras di kedua pipinya.


"Uang? Kamu jual diri, Zia?" tanya Zidan bahkan hampir tak percaya, pria itu mengacak rambutnya frustasi kala Zia menganggukkan kepala sebagai jawabannya.


"BEGOOK!! TOLLOLLL!! OTAK LO DIMANAAAAA VALENZIA?!!"


Zidan mulai kehilangan dirinya, pria manis yang selalu mengutamakan wanita bukan berarti tidak bisa marah. Bukan hanya merasa dikhianati, akan tetapi marahnya Zidan karena wanita itu merusak dirinya sendiri.


*****


"Siapa? Sekaya apa dia dan berapa kamu dibayar, Zia?" tanya Zidan kini mencengkram dagunya, kesalahan sebesar apapun mungkin bisa dia terima. Akan tetapi tidak dengan hal ini.


"Lepas, Zidan ... sakit!!"


"Berapa kali?"


Zidan melepas cengkaramannya, pria itu kembali menatap ponsel yang masih memperlihatkan foto Zia dalam pelukan pria yang hanya terlihat bagian dadanya itu.


"Satu kali? Dua kali? Tiga kali? Empat kali?" Zidan berdecak tak percaya, bahkan kala dia menyebutkan empat kali Zia masih menggeleng.


"Terpaksa tapi lebih dari satu kali ya, Zi?"


Seperti ejekan tapi Zia tak bisa melawan karena memang benar adanya yang Zidan katakan. Sekalipun dicaci dan dianggap murahan, Zia takkan menyangkal karena faktanya demikian.


"Maaf, Zidan."


Hanya itu dia ungkapkan, karena hendak menyalahka Mikhail rasanya tidak adil. Dia menerima bahkan paham apa yang Mikhail inginkan jika tengah bersamanya, seakan hal itu menjadi candu yang juga dia inginkan pada akhirnya.


"Aaarrrggghhhh!! Zia!! Jadi selama ini, kamu sulit dihubugi karena ini? Tidur dengan pria lain?!!"


"Iya ... aku membohongimu, sekarang kamu pahamkan kenapa aku berbeda dan bahkan lupa tanggal jadian kita?"


Dia Menatap mata Zidan yang kini memerah, meski sebelumnya Zia takut jika Zidan akan membencinya, akan tetapi mempertahankan Zidan sama halnya dia menyiksa pria itu perlahan.


"Kita akhiri sekarang saja, pelacuur sepertiku tidak pantas kamu jadikan tujuan lagi, Zidan."

__ADS_1


PLAK


"Tutup mulutmu," sentak Zidan kemudian, pengakuan Zia lebih menyakitinya lagi.


Tamparan itu terasa pedas, sakit dan bahkan pipinya sedikit kebas. Tamparan pertama dan mungkin terakhir dari Zidan akhirnya dia rasakan. Zia tidak marah, dia bersyukur dan merasa lebih baik karena dengan begini artinya Zidan akan menerima keputusannya.


"Pulanglah, hari sudah malam dan aku butuh istirahat. Kemarin malam dia membuatku sampai tidak berjal..."


"ZIA, STOP!!"


Zidan menutup telinganya rapat-rapat, ucapan Zia seakan benar-benar menunjukkan dia wanita nakal. Pria itu berlutut dan berharap Zia berhenti mengatakan omong kosong itu.


"Stop, jangan mengatakan omong kosong yang begitu lagi ... aku tau kamu tidak akan segila ini."


"Tau apa kamu tentang sek*s? Hal semacam itu bukan omong kosong, Zidan."


Jujur saat ini dia benar-benar tengah membenci dirinya sendiri. Zia terpaksa mengarang cerita demi membuat dirinya semakin terlihat buruk dan Zidan pergi setelahnya.


Keduanya terdiam, Zidan masih menggenggam jemari Zia. Berharap sekali ini hanya mimpi belaka.


"Zidan."


"Diam, Zia ... biarkan aku tetap di sini sementara."


Susah payah Zia menahan air matanya, setelah Zidan benar-benar pergi mungkin itu akan jadi terakhir kali. Kenangan manis terhapus begitu saja dan kalah dengan pria yang datang membawa harta dalam hidup Zia.


Tidak ada cinta tanpa luka, sesempurna apapun hubungan tentu ada cacatnya. Zidan terlalu sempurna untuk Zia, pria baik dan penyabar seperti Zidan berhak mendapat wanita yang seribu kali lebih baik darinya.


"Hati-hati."


"Hm, tutup pintunya ... sudah larut," jawab Zidan sebelum berlalu keluar. Bagaikan mimpi buruk dalam hidupnya, tak pernah Zidan duga malam ini dia akan mendapat kecewa.


Air mata itu menetes setelah beberapa menit menatap es krim yang tadi Zidan bawakan untuknya.


"Cair," tuturnya menggigit bibirnya kuat-kuat, setelah kepergian Zidan barulah dadanya terasa luar biasa sesak. Lebih sesak daripada ketika menangis di hadapan Zidan beberapa saat yang lalu.


Jika ditanya apa dia siap kehilangan? Jelas saja tidak. Cintanya pada Zidan sedalam itu, pria pertama yang membuatnya mengerti betapa berartinya dunia. Dan kini, Zia harus rela kala sebagian hidupnya benar-benar pergi karena mau sedalam apapun cintanya tetap saja dia pengkhianat.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2