
Mau tidak mau Mikhail harus mencoba, berbekal naluri dia melakukan sesuai dengan perintah Zia. Meski yang terjadi justru berbeda, punggung istrinya yang putih mulus mulai membuat Mikhail terbawa suasana.
"Aaaahhh pelan-pelan, Mas ... sakit!"
Damn it, Zia kesakitan lantaran uang logam itu menyentuh kulitnya. Namun, benak Mikhail justru berkata lain dan membuatnya menggeleng cepat demi menghilangkan pikiran kotornya.
"Begini?"
Mikhail kembali mencoba fokus, dari belakang begini bentuk tubuh Zia memang sangat menggoda matanya. Maklum saja, iman Mikhail tak setebal itu. Belum lagi malam ini sedikit dingin dan sebelum pulang yang dia lihat juga hal yang begitu.
"Terlalu pelan, nggak berasa juga."
"Mas cepetin mau ya?"
"Hah? Cepetin gimana?"
Salah lagi, otak Mikhail memang sudah kemana-mana sebenarnya. Jika saja istrinya tidak panas mungkin sudah dia hantam sejak tadi. Tubuh Zia membuatnya bergetar tanpa harus banyak ulah, bahkan tanpa dia memperlihat lekuk tubuhnya, Mikhail menginginkannya.
"Ku-kuat maksudnya, begini ... sakit nggak?"
Zia menggeleng, setelah sekian lama akhirnya bisa merasakan yang menurutnya benar. Sebelum menikah, biasanya Erika akan menjadi tabib yang selalu bersedia mengobati Zia. Kini, yang Zia punya hanya Mikhail, sangat disayangkan jika tidak dia pergunakan dengan baik.
Mikhail cukup repot malam ini, setelah selesai menggores punggung Zia dan meninggalkan tanda kemerahan di sana, pria itu mengganti sprei kemudian dengan telaten memijit kening sang istri sebisanya.
"Kamu belum makan kan?"
Sama-sama belum, dia juga belum sebenarnya. Makan sepiring berdua akan sangat cukup lantaran Zia memang tak begitu nafsu, hanya demi memastikan perut istrinya tidak kosong, itu saja.
__ADS_1
Malam ini dipastikan dia harus mengalah, merawat Zia sebagaimana merawat bayi yang tiba-tiba panas di malam hari. Ya, hitung-hitung latihan merawat anaknya nanti.
Kebahagiaannya hampir utuh, Mikhail tidak menerima gangguan sekecil apapun. Dia menghubungi Bryan untuk menyelidiki Edgard lebih dalam, jangan sampai salah langkah dan dia justru memanfaatkan keadaan.
"Kau yakin itu bukan anakmu?"
"Yakin, seingatku tidak pernah melakukannya sebagaimana aku menyentuh Zia, satu tahun terakhir adik kecilku hanya bertemu milik Zia saja sumpah, Bryan!! Mereka-mereka hanya pakai mulut."
"Hm, mengerti, Pak ... jangan diteruskan."
"Kau harus dengar penjelasanku agar percaya, Bryan! Lagipula ini fakta kenapa kau jijik sekali mendengarnya?"
Jelas saja geli, dia saja yang menganggap itu biasa. Bahkan jika dia bicarakan itu pada Ibra, bisa jadi pria tampan itu diamuk sang papa. Mikhail berbicara sedikit berbisik namun menekan setiap kalimatnya, takut sekali jika Zia mencuri dengar pembicaraannya.
"Sudah saya katakan jaga jarak dari Edgard ... dan Anda ingat apa yang Anda katakan pada saya beberapa bulan lalu? Nikmati hidup, Bryan agar kau paham nikmatnya jadi pria sejati. Saya harap Anda tidak lupa," tutur Bryan santai namun Mikhail tiba-tiba emosi hingga ubun-ubun.
Sejak dahulu Bryan sudah berusaha menjauhkam Edgard dari bosnya, namun yang terjadi justru kemarahan Mikhail yang tak terima jika Bryan ikut campur urusan pribadinya. Bahkan dengan lantang Mikhail mengatakan jika Bryan hanya berhak berperan dalam urusan pekerjaan, tidak lebih.
Kembali lagi, dia merepotkan Bryan padahal sejak awal sudah diminta untuk menjauh dan jaga jarak. Memang dasar Mikhail saja pembangkang, jika sudah tersandung masalah sudah pasti Bryan yang kena batunya.
"Baiklah, beri saya waktu dan Anda jangan gegabah!! Cukup jaga kepercayaan nona, dan pastikan Ergard tidak pernah berbicara dengannya."
Cukup mudah, tanpa Bryan beritahukan juga Mikhail sangat paham. Pria itu sedikit lebih tenang meski semuanya belum tuntas, Mikhail hendak bicara lebih banyak namun kemunculan Zia dari kamar mandi membuatnya menghentikan pembicaraan.
"Sini tidur, biar besok benar-benar sembuh."
Istrinya memang sedikit lebih baik, namun perutnya yang tiba-tiba sakit akibat panggilan alam membuat tidurnya tertunda. Zia berbaring di hadapan Mikhail, sengaja berjarak dan di antara mereka masih muat dua orang mengingat ukuran tempat tidur mereka yang cukup besar.
__ADS_1
"Kok jauh-jauhan ... sini, peluk Mas." Mikhail mengerucutkan bibirnya, tumben sekali Zia betah mengambil jarak sejauh itu.
"Nggak mau," tolak Zia cepat dan sontak membuatnya panik luar biasa.
"Nggak mau?!" tanya Mikhail tak percaya, istrinya berhasil membuat hati Mikhail terhenyak.
"Mas aja yang peluk aku sini, badanku keberatan kalau harus geser."
Ada-ada saja, Mikhail segera bergeser cepat dan menarik istrinya dalam pelukan. Tubuh bulat Zia semakin menggemaskan, jika Zia adalah makanan mungkin habis dalam waktu tak sampai satu jam.
"Aaakkh, jangan kuat-kuat ... dia kejepit, Mas."
"Hm, lupa dia sudah semakin besar ya." Mikhail mengelus perut Zia sebagai permintaan maafnya, dia masih kerap lupa jika istrinya sudah hamil 7 bulan, yang dia rasakan seakan pertemuan mereka baru kemarin dan 24 jam seakan kurang waktu untuk bersama istrinya ini.
"Zia."
"Hm, kenapa, Mas?"
Beberapa menit berlalu, situasi kian sunyi dan Mikhail tiba-tiba mulai bicara sembari menatapnya amat serius. Mikhail tersenyum hangat kala Zia mendongak demi bisa menatap matanya.
"Andai suatu saat kamu mendengar keburukan tentang Mas, Mas harap kamu nggak membenci Mas, Zia."
"Kenapa Mas bilangnya begini, kesambet ya di perjalanan pulang tadi?"
"Bukan begitu, Sayang ... Mas hanya takut, takut kehilangan kamu, takut dibenci kamu, takut semua pokoknya."
DUUUAAARRR
__ADS_1
"Aaaaaaaarrrrgggghhhhh!!! Ini takut beneran!! Kamu sih ngapain buat suasana jadi suram." Zia panik, petir yang menggelegar tiba-tiba bahkan membuat kepalanya terasa pusing hingga lupa apa yang Mikhail ucapkan sebenarnya.
Tbc