Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 96 - Memang Malaikat


__ADS_3

Satu minggu berlalu sejak pertemuannya dengan Zidan. Banyak hal berubah, meski memang antara Zia dan Zidan akan benar-benar berbatas tapi tidak dengan Mikhail. Pria itu tak hanya mendatangi Zidan saja, melainkan Marisa juga, mama dari Zidan.


Syakil bahkan bertanya-tanya maksud sang kakak, apa karena kasihan hingga Mikhail justru rela direpotkan dan mengorbankan banyak waktu untuk Zidan dan keluarganya.


"Terima kasih, Nak ... semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu."


Dengan sejuta perasaan bersalah, Marisa benar-benar merasa tak enak hati lantaran sempat menilai buruk Zia. Wanita itu seakan tertampar keadaan kala Mikhail sebaik itu meski caci maki sempat dia lontarkan ketika baru mengenal Mikhail.


"Saya yang berterima kasih. Anda dan Zidan sudah menerima Zia dengan baik sebelum saya mengenalnya."


"Kamu memang benar-benar baik, orang tuamu tidak salah memberikan nama sebagus ini."


Setelah sekian lama dia hidup, baru kali ini ada seseorang yang memuji seperti ini. Mikhail terharu? Jelas saja, mungkin saat ini hatinya tengah menari-menari mendapati pujian sebaik ini.


"Terima kasih, Bu Marisa ... saya jadi malu dipuji seperti ini."


"Memang benar begitu, Nak Mikhail, semoga suatu saat nanti Zidan Tuhan pantaskan manjadi pria tampan, mapan, gagah dan berhati mulia sepertimu," tutur Marisa penuh harap putranya yang kian kurus itu bisa segagah Mikhail.


Perbincangan singkat yang begitu berkesan antara Marisa dan Mikhail sebelum wanita paruh baya itu terbang ke singapura beberapa hari lagi. Jika Mikhail tidak berperan, harapan untuk bisa membuat Zidan sembuh sebenarnya sudah tidak ada lagi.


"Baru begitu saja sudah salah tingkah, dasar haus pujian."


Memang selalu berusaha merusak kebahagiaan, Syakil tiba-tiba bersuara datar kala Marisa kian menjauh. Sejak tadi dia sudah merasa geli dengan cara Mikhail yang berbicara sesopan itu pada Marisa, pintar sekali meraih simpati, pikir Syakil.


"Ck, ternyata benar kata pepatah ... iri tanda tak mampu."


"Dih ... memang berlebihan, dan anehnya kenapa banyak sekali perempuan yang menyukai laki-laki sepertimu."


Irinya Syakil sepertinya keterlaluan, Mikhail tidak meminta disukai banyak wanita. Akan tetapi, takdirnya sudah begitu mau bagaimana lagi. Syakil belum merasakan saja bagaimana diserbu banyak wanita padahal mengenalnya saja tidak.


"Jika kamu berpikir Kakak aneh, maka kesalahannya ada padamu sendiri, Syakil."


Pria itu berlalu meninggalkan Syakil yang melongo usai mendengar jawaban kakaknya. Kenapa justru Mikhail memutarbalikkan fakta, pikir Syakil. Padahal, sudah jelas-jelas yang aneh adalah Mikhail, bahkan ketika Mikhail SMA begitu banyak perempuan yang rela menguntitnya sampai ke rumah, dan ini sudah diluar nalar menurut Syakil.

__ADS_1


"Padahal mukanya biasa aja, cakep dari sudut mananya?"


Bertahun-tahun mengenal Marisa, dia tidak pernah dipuji seperti Mikhail tadi. Apa mungkin ketampanannya dibanting habis-habisan oleh Mikhail, pikir pemilik mata bulat itu. Jika benar demikian, orang tuanya pilih kasih dan tidak adil dalam membagi kadar ketampanan.


-


.


.


.


Meninggalkan Syakil yang sibuk meratapi dimana kekurangannya hingga Marisa berkata demikian tentang sang kakak. Saat ini Mikhail kembali ke ruangan rawat Aleena. Ini adalah hari terakhir dia dirawat dan sudah diizinkan pulang kemarin sebenarnya.


Suasana tak lagi sepanas dahulu, Mikhail yang memilih mengalah dan menurunkan sedikit ego untuk meminta maaf sedalam-dalamnya serta mengaku salah sebagaimana permintaan Kanaya ternyata membuahkan hasil.


"Bagaimana? Apa sudah siap, Tante?" tanya Mikhail pada Adiba yang sedang menyisir rambut panjang Aleena.


"Hm, sudah ... kalian pulang saja nggak apa-apa, ada Mas Aby kok nanti."


Pernyataan Kanaya yang memohon agar dia tak membuat masalah semakin rumit dan memikirkan nasib Zia yang tengah hamil membuat Adiba mengurungkan niat untuk membawa kasus ini ke pihak berwajib, belum lagi Aleena yang meminta untuk tidak memperpanjang masalah lantaran ini memang salah dia menjadi pertimbangan juga bagi Adiba.


"Nggak masalah, sekalian kami pulang ... kan searah," jawab Mikhail santai.


Pria itu menatap singkat adik sepupunya yang kini sudah memoles wajahnya secantik mungkin. Bukan hal yang aneh dan itu sudah jadi kebiasaan Aleena jika pulang dari rumah sakit, penampilan harus secetar mungkin padahal dia hanya pulang ke rumah, bukan tempat pesta.


"Tapi Zia kelamaan nunggu, lihat udah ketiduran begitu."


Mikhail menghela napas perlahan, baru ditinggal menemui Marisa, Zia sudah terbaring di ranjang tempat Aleena dirawat selama satu minggu terakhir. Dia anggap kamar tidur atau bagaimana hingga bisa senyenyak itu, pikir Mikhail.


"Astaga, bisa-bisanya dia tidur di situ," ungkap Mikhail hendak menghampiri sang istri dengan maksud membangunkan tidurnya.


"Jangan diganggu, Kak ... dia tidur belum lama, mungkin terlalu lama nunggu kak Mikhail," ucap Aleena usai menempelkan bulu mata anti badainya.

__ADS_1


"Menunggu kalian berdua lebih tepatnya, sudah biarkan saja, Khail, kalau dipaksa nanti kepalanya pusing."


Kanaya yang baru saja masuk usai ke toilet angkat bicara terkait menantunya. Sudah sejak tadi Zia bertanya apa masih lama dan kapan pulang, pertanyaan berulang layaknya anak kecil karena memang dia bosan menunggu.


"Kamu juga dari mana? Pamitnya sebentar taunya hampir satu jam ... ini lagi, pulang dari rumah sakit harus dandan segala, yang kamu goda di rumah sakit ini siapa sebenarnya?"


Jika Adiba tak berani cerewet pada Aleena, lain halnya dengan Kanaya. Dia bingung sendiri kenapa Aleena bahkan rela berjam-jam duduk untuk menghias diri padahal tidak sedang ada acara.


"Hahaha entahlah, Nay ... Mba juga nggak paham isi otak Aleena sebenarnya."


"Biar nggak kelihatan pucat, Tante, masa gini aja kalian berdua masih nanya."


"Heh, Aleena sopan sedikit," sergah Mikhail tak suka dengan cara Aleena yang bicara tanpa sopan pada mamanya.


"Iya maaf."


Setelah merasakan bagaimana marahnya Mikhail, wanita itu benar-benar memiliki ketakutan tersendiri pada kakak sepupunya. Malam itu mungkin akan menjadi malam terakhir dia berani menilai buruk Zia.


Saat ini, di matanya Mikhail lebih menyeramkan dari Ibra, lebih galak dari sang papa dan lebih kejam dari pada Adrian. Demi apapun bicara pada Zia saja dia harus hati-hati, kecemburuan Aleena kala Mikhail memiliki istri adalah salah besar.


"Khail!! lihat ke belakangmu!!" teriak Kanaya mengejutkan seisi ruangan hingga lispstik Aleena keluar jalur hingga pipinya.


"Eeeh-eeh-eeeh, Khail awas Zia hampir jatoh!!" tambah Adiba tak kalah paniknya dengan suara yang juga memekkan telinga Aleena.


"Astaga, Zia!!"


Panik sepanik-paniknya, kebiasaan Zia yang menguasai tempat tidur dengan berbagai posisi brutalnya membuat wanita itu hampir saja terjatuh. Beruntung Mikhail cepat bertindak menahan tubuh sang istri, dalam satu detik darah Mikhail dibuat berdesir kali ini.


"Ya Tuhan, Sayang ... kamu tidur atau sedang apa sebenarnya."


"Haaah? Gulingku mana, Mas?" tanya Zia setengah sadar kemudian tidur lagi tanpa peduli mereka semua panik akibat ulahnya.


"What? Tidur lagi? Semudah itu dia tidur lagi?" Mikhail bertanya-tanya menatap sang istri tak percaya, sungguh ini benar-benar diluar logika.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2