Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 38 - Titik Temu (Akhir)


__ADS_3

Terbiasa ditempah, Zia mampu bertahan hidup kala takdir membawanya ke negeri Paman Sam. Dipertemukan dengan orang baik yang mau memberinya pekerjaan di sebuah Coffee shop saat ini.


"Astaga, kenapa bisa lupa lagi ... otakmu kemana, Zia."


Zia mengutuk dirinya, ini sudah semakin malam dan terpaksa harus kembali ke Kafe tempatnya bekerja lantaran tasnya tertinggal, entah apa yang dia pikirkan hingga salah begini.


Langkahnya terburu, Zia sedikit berlari dengan alasan sederhana. Takut, ya jelas saja itu alasannya. Baru jalan beberapa menit saja dia sudah berkeringat, wanita itu tersenyum lega kala dia menyadari tas kecil yang berisi seluruh hartanya itu masih ada di salah satu meja di sana.


"Kau lupa lagi, Valen?"


"Hahah iya, akhir-akhir ini aku memang pelupa, Ken."


Kenny, sang pemilik tempat itu hanya tersenyum tipis melihat tingkahnya. Sudah kesekian kali dan dia masih saja mengulangi hal konyol itu, beruntung saja dia belum benar-benar pulang malam ini.


"Perlu kuantar?" tanya Ken mendekatinya, tampaknya wanita itu sangat lelah.


"Tidak, aku bisa sendiri ... lagipula ini belum terlalu larut," jawabnya kemudian, dia tidak ingin menjadi sebab kericuhan untuk kedua kalinya dalam hidup pria itu.


"Tapi ini sudah malam, seharusnya wanita sepertimu sudah tidur, Valen."


Perhatian sekecil itu seharusnya membuat wanita senang, sayangnya itu tidak berlaku bagi Zia. Dia justru takut akan pria yang mulai baik meski hanya sedikit, terutama ini malam hari dan ada banyak alasan kenapa dia menolak tawaran bosnya.


"Tidak perlu, terima kasih niat baikmu."


Dia berlalu, meninggalkan tempat itu dengan langkah pastinya. Namun, baru saja beberapa langkah, Kenny menahan kepergiannya. Tampaknya saat ini dia tidak suka ditolak, Zia menatap sekelilingnya, berharap tidak ada orang lain yang akan memukulnya tiba-tiba seperti kemarin.


"Kau mau apa? Lepaskan aku, Ken."


"Wanita sepertimu memang tidak tau terima kasih sepertinya ya ... beberapa bulan lalu aku memungutmu, setidaknya berterima kasih walau sedikit, Nona."


Untuk pertama kalinya seseorang yang dia anggap baik bersikap seperti ini, Zia terdiam dan bingung maksud Kenny apa. Jika hanya perkara dia yang menyelamatkan Zia kala itu, bukankah dengan bekerja di tempatnya ini sudah termasuk kategori terima kasih, pikirnya.


"Maksudmu?"


"Cih, kau jangan lupa prinsip hidup di dunia ... Give and take ... aku sudah sabar memberikan segalanya yang kau butuhkan, tapi sepertinya kau tidak berpikir sebaliknya untuk memberikan sesuatu yang kau miliki padaku."

__ADS_1


Kenny menatap Zia dari ujung rambut hingga ujung kaki, sudah lama sekali dia mencoba agar wanita ini luluh dengan kebaikannya. Namun sepertinya, Zia tidak mengerti apa yang dia maksudkan selama ini.


"Kau mengharapkan balasan dari semua kebaikanmu?" tanya Zia seakan tak percaya, pada akhirnya semua pria sama saja sepertinya.


"Hahah tentu saja, coba pikirkan ... dengan keadaanmu sekarang siapa yang mau memberimu pekerjaan? Aku bahkan tidak memecatmu setelah mengetahui kau hamil tanpa suami. Sekarang ... kau masih terus menolakku?"


Tidak ada yang setulus Zidan dalam mengulurkan tangannya, mata Zia memanas mendengar ucapan Kenny. Sakit sekali rasanya, seseorang yang menjadi pelingdungnya akhir-akhir ini nyatanya sama saja.


"Memangnya kau mengharapkan apa dariku? Tidak ada yang bisa kuberikan untuk membalas semua kebaikan yang kau maksud," tutur Zia kemudian dan membuat Kenny tersenyum puas.


"Aku menginginkanmu malam ini, Valen," bisiknya begitu pelan, tanpa peduli jika kini mereka berada di tepian jalan raya.


Sejurus kemudian, Kenny melingkarkan tangan di pinggang Zia hingga membuat wanita itu terperanjat kaget. Ya, seperti dugaan Zia sebelumnya yang dimaksud pria ini jelas saja tubuhnya.


"Tolong lepaskan, aku bukan wanita murahaan!!"


"Bisakah mulutmu ini diam!! Hanya sebentar, Valen dan aku tidak akan menyakitimu."


"Jangan, tolong izinkan aku pulang sekarang!!" Zia meraung dengan air mata yang kini bercucuran membasahi wajah, berharap hati Kenny akan luluh dengan tangisnya.


"Memohonlah, aku suka melihatmu begini."


.


.


.


Semua terasa menakutkan, Zia hanya berharap seseorang akan datang malam ini. Hingga perasaannya baru sedikit tenang kala bentakan dari pria di belakangnya terdengar memekakkan telinga.


"Ck, mengganggu saja ... kau siapa? Mau jadi pahlawan rupanya?" Kenny melepaskan Zia untuk sementara, pria yang kini di hadapannya sedikit merusak suasana hatinya.


"Tidak punya tempat lain? Lagipula jika dia tidak suka kenapa kau memaksa?"


Suara itu, Zia menoleh dan jantungnnya dibuat berdegub dua kali lebih cepat kali ini. Butuh beberapa waktu untuk Zia memahami keadaan, dia tidak bermimpi. Yang dia lihat benar-benar pria yang membuatnya berada di tempat ini.

__ADS_1


"Dia kekasihku, terserah aku mau melakukan apapun padanya," ungkap Kenny sekenanya, Mikhail sontak tertawa sumbang mendengar bualan pria di hadapannya.


"Benarkah? Apa benar dia kekasihmu, Nona?"


Zia mengepalkan tangan, Mikhail seakan tak mengenalnya sebagai Zia saat ini. Pria itu kemudian mengeluarkan ponselnya, cukup mudah membuat Kenny takut hanya dengan ancaman asal dari Mikhail.


"Pergilah, aku tidak ingin menggunakan kekerasan dengan orang baru." Mental penakut Kenny sangat-sangat menguntungkan baginya, pria itu tersenyum tipis kala pria berambut ikal itu memutuskan pergi dengan langkah panjangnya.


Meninggalkan dirinya dan Mikhail saat ini, pria yang mengubah hidupnya 180 derajat ini kembali Tuhan hadirkan di hadapannya. Mikhail menatapnya teliti dari atas hingga bawah, ada sedikit perubahan dalam tubuh Zia.


"Kenapa kamu tutupi? Bukankah aku berhak melihatnya?"


Gerakan Zia yang spontan membenarkan jaket untuk menyembunyikan perutnya Mikhail sadari dan itu membuatnya tersenyum tipis. Kerinduan yang membelenggunya membuat Mikhail tidak bisa marah ketika dia berhasil menemukan Zia malam ini.


Meski drama untuk membuat Erika mengaku cukup panjang hingga membuat gadis itu bahkan takut keluar kamar setelah Mikhail menekannya mengaku. Iya, dia terpaksa jahat karena tidak punya cara untuk menemukan Zia lebih cepat.


Masih bertahan di tempat yang sama, Zia menunduk dan hatinya sedikit bertanya kenapa Mikhail tidak segera memeluknya seperti dulu. Walau memang ada sedikit kekesalan pada pria yang menempatkannya di posisi sulit ini, akan tetapi melihat wajahnya semuanya hilang begitu saja.


"Mendekatlah, kamu tidak merindukanku, Va-len-zia?" tanya Mikhail membuka tangannya lebar-lebar, senyumnya tak luntur sejak tadi. Padahal, sebelum dia menemukan Zia, jangankan senyum, bicara saja dia enggan.


Beberapa saat Zia masih bertahan dengan posisinya, hingga pada akhirnya wanita itu menghambur dalam pelukan Mikhail dengan tangis yang kemudian pecah bahkan membuat telinga Mikhail sakit rasanya.


Dia yang pergi, dia yang meninggalkan namun dia pula yang menangis ketika ditemukan. Mikhail mengelus pundaknya lembut, dengan kecupan di keningnya yang begitu dalam.


"Kenapa lama." Zia memukul dada pria itu hingga membuat Mikhail kesal dan tertawa bersamaan.


"Seharusnya aku yang bertanya, kamu benar-benar menyiksa, Zia."


Mana mungkin dia tega marah pada pemilik mata seindah ini, walau jauh dari dalam lubuk hatinya ingin sekali menghukum Zia yang pergi sejauh ini tanpa berniat kembali padanya di saat Mikhail mengalami titik terendah.


"Apa yang kamu cari hm? Dilecehkan seperti tadi? Memangnya kurang pelecehan dariku?" tanya Mikhail menatap ke arah perutnya. Zia menunduk, menyembunyikan wajah yang kini memerah mendengar candaan sarkas pria itu.


............ Mikhail menatapnya lekat-lekat, wajah itu selalu dia rindukan bahkan mengusik dalam tidurnya, mengeratkan pelukannya seraya berkata "Besok senin, jangan lupa berikan votenya."


Tbc

__ADS_1


Rekomendasi Novel By Nophie



__ADS_2