
Tidak ada keramahan di sana, meski Abygail masih menerima lain halnya dengan Adiba. Wanita itu menatap tajam penuh kebencian, bukan hanya pada Mikhail melainkan Zia juga. Dia marah dan memang benar-benar marah sepertinya, bahkan wanita itu tak menggubris kala Zia hendak mencium tangannya.
"Mau apa? Kalau hanya ingin menyakiti putriku lebih baik kalian pergi dari sini."
Tidak ada toleransi, bagi Adiba putrinya adalah nomor satu. Jika saja Mikhail melakukannya tidak dihadapan mereka, kemungkinan putri pendek umur sangat besar sekali.
"Ma."
Abygail menegur sang istri agar tidak lagi terpancing emosi, hadirnya Mikhail dengan niat baik untuk meminta maaf sudah membuatnya luluh. Paham sekali jika dalam hal ini yang salah memang putrinya, dan dia mengingat bagaimana dulu Ibra menghajar Adrian kala Kanaya diperlakukan hina. Untuk kasus ini, sebagai orang yang mengenal Mikhail sedari bibitnya dahulu, dia memaklumi.
"Tapi, Mas!!"
"Ma, jangan usir Kak Mikhail."
Sempat terkejut, Zia bahkan tak habis pikir kenapa wanita itu masih menerima Mikhail sebaik itu. Tak hanya Zia, Adiba pun sama. Alih-alih trauma putrinya justru berharap Mikhail ada di sisinya.
"Kamu apa-apaan, Aleena? Dia hampir buat kamu mati, jangan lupa itu."
Terserah, Aleena nampaknya tak peduli meski memang demikian. Dengan hadirnya Mikhail di sini sana dia sudah merasa lebih baik, setidaknya Mikhail kembali memiliki empati padanya, pikir Aleena.
"Paham, tapi buktinya tidak kan? Lagipula mana mungkin Kak Mikhail sampai hati membunuhku, Ma."
Baiklah, sepertinya di sini Aleena memandang kesalahan Mikhail dengan perasaan. Bukan logika seperti sang mama, dia bahkan tidak takut kala Mikhail mendekatinya.
Tak hanya itu, dia seolah lupa dengan rasa sakit yang pernah ada. Entah apa alasannya sebagai orangtua, Adiba hanya merasa Aleena benar-benar bodoh dan otaknya tidak berfungsi dengan baik lagi.
Merasa jika Adiba hanya membuat situasi semakin panas, Abygail menarik istrinya agar menjauh. Sejak tersadar yang Aleena cari memang hanya Mikhail, dia terpaksa memenuhi kemauan Aleena untuk membuat Mikhail datang menjenguknya.
Meninggalkan mereka bertiga saat ini, Aleena bersikap sebagaimana pasien biasa yang merasa bahagia Mikhail datangi kali ini. Lebih bahagia lagi kala pria itu menanyakan bagaimana keadaannya, semua Mikhail lakukan demi memenuhi permohonan Mikhail yang seakan hilang harapan.
Mogok makan padahal tidak baik-baik saja, sudah Abygail coba untuk memanjakan putrinya namun yang terjadi justru berbeda. Zia hanya diam sejak tadi, berbicara sedikitpun dia enggan sebenarnya.
"Seharusnya Kakak datang sendiri, kasihan istrimu lagi hamil besar ... kalau ada apa-apa bagaimana?"
__ADS_1
Itu sebuah kepedulian atau sebaliknya, senenarnya Zia juga tidak paham. Meski cara bicara dia juga berbeda dan nampak tulus, entah kenapa dia sama sekali tak tersentuh.
"Sekalian cek kandungan. makanya disempetin jenguk kamu."
Raut wajah Aleena sedikit berbeda kala Mikhail berkata demikian. Ini seakan penjelasan jika dia bukanlah tujuan utama bagi Mikhail. Meski sedikit kecewa dia mengangguk pelan, memberikan pengertian jika memang dia paham.
"Maafkan aku, Zia ... semua perkataanku pasti menyakitimu," tutur Aleena membuat Zia terkejut, dia mendongak menatap mata Aleena yang masih terlihat sayu.
Senyuman itu kerap dia perlihatkan jika bicara di hadapan Mikhail dan juga Kanaya, akan tetapi yang kali ini Zia sendiri tidak paham karena dia tak sepeka itu memahami isi hati orang.
"Selama ini kemana saja? Jika kamu meminta maaf sejak dulu padanya, mungkin nasibmu tidak akan begini, Aleena." Hingga detik ini Mikhail masih sangat menyayangkan sikap Aleena yang ternyata busuk di belakangnya.
"Aku paham, tapi untuk meminta maaf seharusnya tidak ada kata terlambat, benar kan, Zia?"
"Ehm, mungkin, Kak."
Tak ingin memberikan reaksi yang berlebihan, andai memang permintaan maafnya memang tulus Zia juga tak berharap akan menjadi teman baiknya di masa depan. Toh sekarang mereka juga kian berjarak, Aleena takkan mampu mendekatinya lagi karena Mikhail tak sembarang menerima orang di rumahnya.
"Aku mau makan, tapi tanganku kesulitan ... Kak Mikhail bisa bantu suapi aku?"
Zia mengangguk, memberikan izin jika memang harus begitu. Meski hatinya seakan tak ikhlas, akan tetapi mengingat permohonan Abygail sebelum mereka masuk ke ruangan Aleena membuat Zia mengalah sekali lagi.
"Aku ke toilet dulu, Mas kebelet," bisik Zia pelan, selain memang dia enggan melihat suaminya menyuapi Aleena, mendadak kandung kemihnya terasa mau pecah dan takkan bisa menahannya lebih lama lagi.
"Mas anterin mau?"Zia menggeleng cepat, dia benar-benar tidak butuh ditemani kali ini.
"Jangan lama, Sayang."
Mikhail masih sempat meraup bibir istrinya lembut, sengaja dia lakukan di hadapan Aleena yang kini menunggu hendak disuapi. Keahlian Mikhail dalam menghancurkan menta seseorang memang sangat mumpuni.
"Ehm, janji nggak lama."
Biasanya Zia tak membalas kecupan singkat begini, dan di hadapan Aleena dia membalasnya dengan sengaja. Prinsip hidup, buat seseorang yang iri semakin iri.
__ADS_1
-
.
.
Menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah pelannya, meski tanpa pengawasan Mikhail dia tetap berhati-hati. Ketika hendak kembali ke ruangan rawat Aleena, langkah Zia terhenti kala seseorang yang dia kenal berjalan dengan pakaian khusus pasien rumah di hadapannya.
"Dia sakit?"
Langkah pria itu sangat pelan, sepertinya pasca operasi Zia tidak paham juga. Hendak menghampiri tapi dia khawatir akan menjadi masalah nantinya, melihat dari kejauhan untuk sementara akan lebih baik sepertinya.
"Kenapa keluar? Kamu belum pulih, Zidan!!"
Dari kejauhan dia saksikan wanita paruh baya yang kini menghampirinya sedikit emosi. Cara marahnya masih sama, persis ketika dia marah lantaran Zia basah kuyup diperjalanan menuju rumahnya.
"Nggak betah, kita pulang aja, Ma."
"Jangan bercanda, Nak ... sudah cukup Mama turuti kamu selama ini. Sekarang sudah waktunya kamu nurut sama Mama, Zidan."
Aneh sekali, setau Zia yang sakit bukan Zidan. Pria itu kerap bolak balik ke rumah sakit dengan alasan ibunya sakit. Akan tetapi, kenapa yang kini dia lihat seakan bertolak belakang dari apa yang terjadi.
Hatinya penasaran, cukup lama menjalani hubungan kenapa dia tidak paham. Tanda-tanda Zidan sakit juga tidak begitu kentara, meski memang tubuhnya sedikit kurus tapi Zia berpikir itu normal-normal saja.
"Tapi di rumah sakit juga aku nggak sembuh, sama saja ... sama-sama sakit ngapain di sini."
Jarak mereka begitu dekat, namun untuk menghampiri rasanya sulit sekali. Bukan hanya karena dia sudah jadi istri orang, melainkan dia tidak memiliki kesiapan untuk memperlihatkan diri di hadapan mantan kekasihnya.
"Setidaknya usaha, Zidan ... hargai perjuangan Mama kali ini saja."
"Percuma, sembuh juga nggak buat Zia kembali, Ma."
PLAK
__ADS_1
"Jangan pernah sebut nama perempuan itu di hadapan Mama!"
Tbc