
Pulang dengan membawa kabar bahagia, Mikhail mengecup kening istrinya cukup lama setelah selesai mengecup Mikhayla dan juga kedua putranya yang kini terlelap padahal belum begitu larut.
"Kok senyum-senyum terus, Mas kenapa?" tanya Zia lembut kemudian mengusap kening Mikhail yang sedikit keringatan, suaminya selalu pulang dengan sedikit berlari hanya demi bisa bertemu dengan para malaikat kecilnya.
"Mas ketemu calon besan, Zia ... mereka kaya raya juga, Sayang."
Zia sangat paham Mikhail perhitungan, namun sama sekali dia tidak sadar kapan suaminya jadi mata duitan. Pria itu terkekeh menatap wajah bingung istrinya, mungkin belum siap diterima akal, pikir Mikhail.
"Maksud kamu apa, Mas? Bilang yang jelas," ungkap Zia lembut, dia bingung juga sebenarnya Mikhail ini tengah kerasukan apa.
"Tadi di kantor, Mas sudah ketemu sama rekan bisnis yang kemarin Mas ceritain ...." Dia berhenti sesaat, napasnya tersengal dan tidak bisa terus bicara saat ini.
"Lalu?"
"Kami sepakat untuk menjodohkan putrinya dengan salah satu putra kita, antara Sean dan juga Zean setelah nanti dewasa," tutur Mikhail sukses membuat Zia tersedak ludah, ada-ada saja ucapan suaminya ini.
"Hah? Jodohin? Emang masih zaman jodoh-jodohan segala?" Zia tidak habis pikir dengan ide Mikhail yang luar bisa brilian hingga tak bisa dibayangkan lagi ini.
"Ck, itu lebih baik daripada Sean atau Zean ikut jejak kita, Sayang ... kamu mau putra kita cicil juga seperti papanya? Pasti nggak kan?" tanya Mikhail tanpa takut jika Zia akan marah dengan pertanyaan asalnya.
"Ih mulutnya, nggak boleh begitu!!"
__ADS_1
Andai saja sedang tidak bersama anak-anaknya, mungkin Zia akan berteriak sekuat tenaga lantaran suaminya ini memang membuat sakit kepala.
"Maaf, Sayang ... Mas cuma takut saja."
Ya sudah terserah Mikhail saja, toh itu rencana dia, keputusan dia dan yang jadi kepala rumah tangga adalah dirinya. Jadi, tidak mengapa jika Mikhail memikirkan hal-hal yang begitu.
"Hm, keputusan kamu pasti sudah terbaik ... aku percaya sama kamu kok," tutur Zia lembut sembari melonggarkan dasinya, melayani Mikhail meski matanya sudah terasa sedikit berat kali ini adalah sebuah keharusan.
"Terima kasih ya, maaf malam ini Mas pulang telat."
"Nggak masalah, yang penting tetap pulang," jawab Zia kemudian, ada saja jawaban atas ucapan yang keluar dari mulut Mikhail.
"Iya, Ibunya Bryan masuk rumah sakit, jadi Mas harus ke sana dulu baru pulang," jelas Mikhail meski sama sekali Zia tidak bertanya paxa sang suami.
"Terima kasih istriku, kamu baik sekali ... jadi pengen ajak bulan madu lagi," ungkap Mikhail dan membuat Zia memutar bola matanya malas.
Zia tak lagi menjawab, dia kembali fokus untuk melepas pakaian kerja suaminya. Untuk urusan ini tangan Mikhail memang sedikit manja.
"Mas? Kok punggung kamu pakai koyo begini? Pegel ya?"
Mikhail lupa melepasnya, dan ketika pulang suda terlanjur Zia ketahui hingga berhasil menciptakan huru hara saat ini.
__ADS_1
"Sedikit, tolong lepaskan, Zia ... panas lama-lama," tutur Mikhail meringis dan baru merasakan kembali efek panasnya koyo yang disarankan calon besannya tadi siang.
"Ini koyo apa sih, Mas? Kok merah banget begini? Cabe ya?" tanya Zia ketar lantaran khawatir yang kini Mikhail rasakan bukan lagi hangat melainkan pedas.
"Hm, katanya lebih manjur, Zia."
Zia berdecak bingung, mendengarnya saja sudah takut sementara Mikhail menempelkannya di beberapa tempat, sepegal itu hingga tidak cukup satu, pikir Zia.
"Ya, Tuhan ... panas nggak?"
"Sangat-sangat panas," tutur Mikhail kemudian, dia tersenyum getir dan baru sadar jika memang luar biasa panasnya.
"Lagian kenapa juga pakai yang ini? Pakai yang biasa aja udah panas, kamu aneh-aneh aja sih," gerutu Zia ingin marah namun tidak bisa, jelas saja alasannya hanya karena tidak tega.
.
.
.
.
__ADS_1
Mizi❣️