Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 105 - Bukan Sembarang Donat


__ADS_3

Hendak mencegahnya sudah terlambat, Kanaya lepas kendali dan kini Mikhail sudah berada di dapur. Apalagi kalau bukan mengacaukan pekerjaan Zia, pria itu sibuk sendiri an meminta Rani menjauh karena dia ingin membantu sang istri dengan keterampilannya yang tidak seberapa itu.


"Mikhail, jangan ganggu Zia ... mending duduk di depan sana, sama om Jack atau Bastian kek, berbaur sana, jangan ngintil terus sama istri."


Zia memang tidak protes, namun Mikhail yang mulai ikut beraksi membuat Kanaya khawatir pria itu akan membuat pekerjaan Zia semakin runyam.


"Ya terserah, lagian sama istri sendiri apa salahnya, Ma."


Ya memang tidak salah, sama sekali tidak ada yang salah dan Kanaya menyesal mengatakannnya. Pria itu menjawab sekenanya dan tangannya mulai beraksi dan mengambil adonan yang sudah siap dibentuk.


"Mas, tangan kamu kotor," sergah Zia dengan maksud agar suaminya tidak ikut-ikutan.


"Bentar, Mas cuci tangan ... yang ini jangan dibentuk, biar jadi taggung jawabku."


Tanggung jawab apanya, yang ada Mikhail menghambat pekerjaan Zia. Begitu percaya diri dia mengambil hampir setengah bagian dari adonan yang Zia siapkan.


Kanaya mengikuti gerak-gerik Mikhail melalui ekor matanya, ingin marah namun Mihail bukan lagi bocah dua tahun yang tengah mengganggu di dapur. Akan tetapi jika dibiarkan sepertinya akan membuat huru-hara yang mungkin nanti akan membuat Zia naik darah.


"Sudah, tangannya sudah bersih."


Zia hanya menatapnya datar, entah kenapa perasaannya mulai tidak enak kala Mikhail menghampirinya di dapur.


"Yang rapi, aku nggak suka makan donat bengkak sebelah."


Sejak awal Zia peringatkan, jangan sampai Mikhail merusak moodnya dengan siang ini. Senyum tengil Mikhail kian membuat Zia berdesir tak nyaman, apa yang akan terjadi sebentar lagi hanya Mikhail yang memahami.


"Santai, Mas ahli dalam bentuk yang beginian ... tangan Mas ini mutli fungsi, Zia."


Terserah, mau mutifungsi, multitalenta atau apapun itu Zia tak peduli. Saat ini, yang dia inginkan hanya Mikhail pergi dan tidak mengusiknya lagi.


Beberapa waktu di awal semua berjalan dengan baik, Mikhail menuruti apa kata Zia meski satu donat dia selesaikan begitu lama karena sang istri tak menerima jika bentuk donatnya tidak sempurna.

__ADS_1


Kurang gendut, kegendutan, miring kiri, miring kanan sampai bolong tengahnya juga Zia atur dan itu membuat tangan Mikhail sedikit kaku sebenarnya. Pria itu tak menyerah sama sekali, meski dia bisa paham sebenarnya Zia yang begini hanya berusaha agar dirinya tidak betah membantu.


"Ehem-ehem."


Hingga, di pertengahan perjuangannya, tanda-tanda menyerah Mikhail mulai terlihat. Bukan menyerah benar-benar pergi melainkan menyerah menuruti kemauan Zia. Bentuknya mulai aneh dan tak lazim hingga Kanaya menoyor kepala Mikhail tanpa sadar.


"Ada mama loh, Khail ... bisa-bisanya buat bentuknya begitu," omel Kanaya menggema, benar sekali jika firasatnya di awal tidak pernah salah.


"Ck, apa sih, Ma!! Ini namanya donat laki-laki ... yang itu perempuan," jawab Mikhail sekenanya sembari terus membentuk adonan donatnya memanjang, benar-benar tanpa beban dan wajahnya tampak biasa saja.


"Donat laki-laki apanya, nggak ada bentuk donat begitu ... ubah!!" sentak Kanaya tak habis pikir kenapa putranya semakin tidak waras begini, bukan hanya tidak bisa diatur tapi justru sengaja menentang.


"Ini lebih simpel, lagian makannya lebih kenyang."


"Kenyang gimana? Orang bahannya sama, donat normal juga bikin kenyang," pungkas Kanaya tak mau kalah, dia yakin menantunya yang terdiam bukan berarti menerima kelakuan Mikhail. Akan tetapi dia malu menegur pria itu di hadapannya.


"Mama lihat, bentuknya elegan dan nggak ada bolong tengahnya."


penjelasan paling masuk akal sekali, tapi percayalah penjelasan itu semakin membuat kanaya ingin membalurkan tepung terigu ke wajah mikhail. ya, setengil-tengilnya ibra, sepertinya baru seperempt tengilnya Mikhail.


"Donat Mikhail lonjong mama mau apa? Lagipula Zia nggak marah, iya kan, sayang?"


Mikhail menggerakkan alisnya, sudah Zia duga senyum tengil yang sejak awal dia perlihatkan adalah pertanda buruk di masa yang akan datang. Jika saja mereka hanya berdua, mungkin Mikhail akan lebih gila lagi dari kali ini.


"Terserah Mas, makan aja sendiri," tegas Zia tak terima penawaran.


-


.


.

__ADS_1


.


Hendak melarang juga percuma, Mikhail tetap akan jadi pembangkang dan mana peduli dia meski sudah dilarang. Meski dalam beberapa keadaan Mikhail amat penurut, namun untuk hal yang kali ini terlihat jelas pendirian Mikhail akan sangat kukuh mempertahankan mahakaryanya.


"Kok gitu? Mas sengaja buat ini supaya kamu nggak sulit gigitnya, sekali hap ... ini juga pas di mulut kamu."


Uhuk


Kanaya tersedak ludah, anak kecil yang dulunya kerap merengek minta waktu tambahan mandi bola kini sudah melewati batas kedewasaan. Kanaya tak sebodoh itu untuk menemukan makna tersirat dari balik ucapan dan ekspresi Mikhail yang sengaja menggoda istrinya.


"Mama kenapa? Istirahat kalau sakit, Ma, lagipula kasihan punggung Mama dipaksa kuat, biar Mikhail yang bantu Zia."


Tanpa Mikhail perintahkan Kanaya memang berniat untuk berlalu. Sepertinya kehidupan mereka sudah tidak sehat lagi. Semakin Kanaya di sini, semakin dia merasakan nostalgia tentang Ibra di masa muda.


"Mama ...." Zia panik kala Kanaya benar-benar berlalu, Mikhail yang begitu dia khawatirkan akan membuat batin sang mama terluka.


"Mas kamu apa sih, sopan sedikit kan bisa!! Mama bukan temen yang bisa kamu ajak becanda, ada batasnya, Mikhail." Zia bicara dengan nada serius seraya menatap Mikhail lekat-lekat, bingung harus dengan cara apa menegurnya.


"Mas nggak aja Mama bercanda, Zia, cuma jawab pertanyaan Mama apa salahnya?" Mikhail yang tak terima jelas saja membela diri, karena memang niatnya juga hanya menjawab pertanyaan bukan sengaja cariribut bersama sang Mama.


"Ya apapun itu, nggak semuanya bisa Mas jawab seenaknya seperti tadi. Lihat, Mama sampai pergi itu karena kamu nggak bisa dibilangin ... sama aja Mas nggak sopan," oceh Zia masih berapi-api, sejak tadi dia tahan dan memilih diam namun Mikhail bukannya sadar justru makin ngelunjak.


Dia berhenti? Jelas saja tidak. Memilih diam namun tangannya tetap melakukan apa yang ada dalam benaknya. Ya, Mikhail tetap melanjutkan rencananya.


"Mas!! Denger nggak?"


"Iya, denger, Zia ... Mas ngak tuli, Sayang."


Tidak tuli tapi sengaja pura-pura tiak mendengar uapan Zia. Pria itu kini selesai, bukan karena menuruti keinginan Zia melainkan bahannya sudah habis.


"Jangan diubah bentuknya, kalau nggak Mas hukum kamu."

__ADS_1


"Goreng sendiri, aku nggak suka bentuknya." Zia menolak sampai kapanpun tetap enggan, titik.


TBC


__ADS_2